
Nayara berkeliling di luasnya mall lantai lima bersama Rey yang kini digandengnya. Rupanya kebohongannya menjadi berkah untuk Nayara. Secara tidak sengaja dia mengibuli Rey dengan mengatakan ingin pergi ke mall padahal tidak. Tapi sekarang? Sepertinya Nayara jadi ketagihan menghabiskan uang Rey.
" Naya lihat, bagus bukan? " Tunjuk Rey pada salah satu boneka kecil dengan tampang mewah nan elegan.
" Heem, " Angguk Nayara. " Itu buat aku ya? "
" Bukan. Ini buat pacar Kak Rey, "
" Ih.. Kak Rey.. " Rengek Nayara membuat Rey terkekeh.
" Lagian Kakak punya pacar dari mana coba? Gak percaya Naya. Kakak kan gak normal, " Celetuknya tanpa berfikir.
" Enggaklah! Kamu saja yang tidak tahu, "
" Ah.. Mau itu.. " Tunjuk Nayara manja.
Rey mengangguk, " Ayo! " Ajaknya setelah meminta boneka pilihannya dibungkus.
Mereka kembali mengelilingi mall tanpa peduli waktu. Nayara pun semakin menikmati suguhan barang-barang indah yang bisa dibelinya dengan menggunakan uang Rey. Jarang sekali bukan Nayara matre seperti ini? Tapi tidak apa, orang dia memakai uang Kakaknya yang kaya itu.
" Naya, " Panggil Rey ditengah perjalanan mereka yang masih mengobrak-abrrik seisi mall.
" Hem, "
" Kok matre sih? "
Nayara terkekeh, " Gak tahu aku juga. Pengen aja gitu, morotin Kakak. Sayang kerja terus yang habisin gak ada. Jadi Naya deh yang wakilin! "
" Cih, dasar. Lebih dari 5 juta Kakak suruh Daddy potong uang bulananmu selama lima bulan! " Ancam Rey.
" Ah.. Jangan, "
" Gak mau tahu! "
" Kak Rey jangan.. Ah... Kakak.. " Rengek Nayara menggerak-gerakkan lengan Rey yang pura-pura acuh.
" Eh eh bentar, " Nayara menghentikan langkahnya membuat Rey ikut berhenti.
" Kenapa? "
" Di sana ada toilet. Kakak tunggu di sini, pilih-pilih baju yang agak sexy buat Naya. Nayara mau nyelesain dulu panggilan alam, " Pesan Nayara menunjuk-nunjuk Rey seperti menasihati anak kecil.
" Hah, sexy apanya. " Dengus Rey.
" Okay? "
" Ck, iya iya. Sudah sana! "
" Iyadeh! Bentar ya, " Kata Nayara berlari kecil menuju tempat yang terhalang tembok besar.
Rey tersenyum kecil melihat punggung Nayara yang mulai menghilang dari pandangannya. Dia berbalik dan mulai memilih-milih pakaian dan segala barang yang ada di sana.
Sementara Nayara, setelah menyelesaikan urusan yang disebutnya panggilan alam gadis itu keluar dari salah satu bilik toilet dengan tangan masih membenarkan letak gaun putih selutut yang dikenakannya.
" Ini tadi airnya kena gak yah? Takut kena, kan malu. " Gumam Nayara menarik-narik bagian belakang gaun ke depan.
" Kayaknya enggak deh. Iya, enggak. " Nayara mendongak hendak melangkah pergi dari sini. Namun langkahnya yang bahkan belum selangkah itu terpaksa berhenti karena kehadiran sosok yang selama dua hari ini dia tinggalkan.
" K-kak David? " Nayara menatap David dengan tatapan terkejut sekaligus takut karena tatapan tajam yang diberikan suaminya itu.
Tanpa kata David mendekat dan mendorong Nayara sampai mereka masuk ke dalam bilik toilet yang baru saja ditinggalkan Nayara.
" Ka-k David, A-aku— "
David menghentikan ucapan Nayara dengan membungkan bibir pink itu menggunakan bibirnya. Ciuman David sangat mengebu dengan kepala balik kanan balik kiri dengan cepatnya. Bahkan sekarang kepala bagian belakang Nayara sudah ditekan David dengan pinggang yang dicengkram erat oleh sebelah tangan David yang lainnya.
Nayara sedikit kesusahan meladeni permainan suaminya. Kakinya setia mundur dan mundur sampai tubuhnya tidak lagi dapat memundurkan diri karena keberadaan tembok tepat di punggungnya.
Posisi ini semakin memudahkan David. Sebelah kaki pria itu menekan paha mulus Nayara membuatnya sedikit merenggang dan dengan satu kali tekanan agak bertenaga paha kiri David masuk di antaranya.
Dengan bibir yang masih bertautan, Nayara tersentak saat tangan kanan David yang semula berada di pinggangnya kini turun ke paha dan mengelusnya seakan hendak menelusup ke dalam.
" Eum! " Nayara mendorong kasar tubuh David membuat pangutan bibir mereka lepas begitupun dengan tubuh mereka yang kini berjarak.
" Jangan gitu! Kita di tempat umum! " Marah Nayara dengan nafas tersegal-segal.
" Lalu? "
" Ya di rumahlah Kak David. Aku malu jika— "
" Maka ayo pulang! "
Amarah Nayara sedikit meredup saat melihat wajah lelah David.
" Ayo pulang, Nayara. Ayo pulang dan kembali tinggal bersama! "
" A-ku— "
David berjalan cepat dan memeluk Nayara erat.
" Besok. Jika besok tidak juga kau katakan pada Kakakmu tentang hubungan kita, sorenya aku sendiri yang akan datang dan mengatakannya. "
" Kau yang memilih, Nayara. Katakan dengan lembut dan yakinkan dia bahwa kau bahagia bersamaku, atau aku yang datang dan membuat keributan di sana. "
" Pilihan ada ditanganmu, " Bisik David membuat Nayara memejamkan mata erat dalam pelukannya.
" Aku takut, "
" Aku tidak peduli, "
" Tidak bisakah jangan secepat ini? "
" Aku bukan orang sabar, "
" Tapi Kak David— "
" Tidak, "
" Jadi lakukan seperti yang kukatakan! "
🍃🍃🍂🍃🍃
Reyna menatap heran kedatangan Gavin dimalam hari begini. Posisi mereka saat ini adalah Reyna yang membukakan pintu dengan Gavin yang berdiri di balik pintu yang terbuka.
" Kak Gavin? Ngapain malam-malam ke sini? " Tanya Reyna tanpa sungkan.
" Gak mau disuruh masuk dulu gitu? "
" Eh, iya. Mari masuk Kak! " Seru Reyna semakin membuka lebar pintu membuat Gavin segera melangkahkan kakinya masuk.
" Mau minum apa? " Tanya Reyna pada Gavin yang baru mendudukkan dirinya disofa ruang tamu.
" Rasanya aku ingin mencicipi teh buatanmu lagi, Angel. Hari-hari terakhir selama kau cuti rasanya aku tidak bisa mencicipi teh senikmat buatanmu lagi. Tidak masalah bukan? " Pinta Gavin.
" Ah.. Tentu saja tidak! Kau ini seperti pada siapa saja. Aku buatkan ya? "
Gavin mengangguk dengan senyuman dibibirnya.
" Nak Gavin? "
" Ah, Lord. " Gavin bangkit dari duduknya dan sedikit membungkukkan tubuhnya pada Opa Alex yang datang bersama Marchel sepeninggalan Reyna ke dapur.
" Silahkan duduk! "
" Ah, iya. "
Ketiganya terduduk dengan posisi Marchel dan Opa Alex berada di depan Gavin.
" Apa kabarmu, Nak Gavin? Sombong sekali sampai jarang mengunjungi Saya, " Sinis Opa Alex dengan nada bercanda.
" Ah... Akhir-akhir ini Saya sibuk, Lord. Pembukaan perusahaan cabang lumayan pesat dengan banyaknya perusahaan-perusahaan besar yang menawari kerja sama maupun investasi, " Balas Gavin tersenyum ramah.
" Hem.. Selamat untukmu, "
" Ha ha.. Terima kasih, " Jawab Gavin tertawa pelan.
" Omong-omong siapa yang menjalankan perusahaan-perusahaan cabangmu yang lain? Bukannya itu lebih dari tiga? " Tanya Opa Alex lagi.
" Saya menempatkan orang-orang terpercaya untuk menanganinya, Lord. "
" Jangan terlalu percaya! Kau bisa saja ditusuk dari belakang, " Nasihat Opa Alex.
Gavin menunduk kecil, " Tentu, Lord. Setiap satu bulan sekali selalu Saya kontrol bahkan terjun langsung ke lapangan, "
" Bagus, "
Marchel berdehem.
" Belum ingin menikah, Gavin? Atau bertunangan mungkin. Usiamu sudah memenuhi untuk memiliki pasangan bukan? "
" Ah.. Untuk saat ini Saya tidak ingin terburu-buru, Mr. Saya memfokuskan diri Saya pada bisnis dulu. Untuk masalah pasangan, Saya yakin tidak akan lari ke mana jika itu memang jodoh Saya. " Jawab Gavin membuat Opa Alex dan Marchel mengangguk mengerti.
" Pemikiranmu dewasa sekali. Bagus, "
" Hem. Terima kasih, "
" Nak Gavin. Kau tahu alasan Saya memanggilmu ke mari? " Tanya Opa Alex.
" Tidak, Lord. Sepertinya ini bukan mengenai bisnis, " Terka Gavin.
" Cerdas sekali kamu, " Opa Alex terkekeh. " Ini memang bukan mengenai bisnis. Tapi mengenai masa depan kau dan cucu cantik Saya, "
Kening Gavin mengerut, " Angel? "
" Ya. Kau menyukainya bukan? "
Deg.
Gavin sedikit memundurkan tubuhnya dengan posisi masih terduduk.
" Ma-maksud Anda, Lord? "
" Saya ingin menjodohkanmu dengan cucu Saya. Itu pun jika kau memang mencintai Angel. Di sini Saya tidak akan memaksa, Saya hanya bertanya dan menawarkan perjodohan untukmu bersama cucuku, Reyna Angelica. " Jelas Opa Alex menatap Gavin serius.
Marchel memejamkan matanya erat mendengar perkataan Opa Alex. Tangannya tanpa sadar mengepal dengan helaan nafas panjang dan pelan dia keluarkan seiring kembali terbukanya matanya.
" Kau bisa memikirkannya dulu, Nak Gavin. Saya tidak meminta jawabanmu sekarang. Namun lebih cepat lebih baik, bukan? "
Gavin mengadahkan kepalanya setelah menemukan keputusan yang tepat.
" Saya bersedia, Lord. " Ucap Gavin tegas. " Itu jawaban Saya, " Lanjutnya mengangguk mantap.
Opa Alex menatap Gavin puas, " Bagus, " Katanya.
Sementara Marchel hanya mampu terdiam dengan otak berputar memikirkan langkah yang akan dilakukannya secepat mungkin sebelum Opa Alex mempercepat perjodohan mereka.
Tanpa mereka ketahui, Reyna mendengar percakapan mereka dari tawaran perjodohan yang Opa Alex lontarkan sampai persetujuan tanpa berfikir panjang yang Gavin katakan tanpa keraguan.
Nampan kecil ditangan Reyna agak gemetar dengan mata membola terkejut. Tanpa kata dia menyimpan nampan itu di meja yang berada di sampingnya dan lari menuju kamar dengan mata yang perlahan memanas.
Senyuman kecil terbit di ujung bibir Gavin dengan mata menatap tawa bahagia Opa Alex.
" Lihat Angel? Tanpa perlu berjuang lama aku akan segera mendapatkanmu. Jodoh memang tidak akan kemana, bukan? Dari sini aku semakin yakin. Bahwa kaulah orang yang Tuhan ciptakan untukku, " Batinnya menghela nafas dengan ekspresi bahagia.
_-_
TBC!