
" Kak Gavin? " Beo Reyna dengan mata setengah membulat.
Morgan melirik pria yang bersama Alex sekilas, lalu tatapannya teralih pada Reyna yang tampak terkejut.
" Siapa dia? " Batin Morgan kembali menatap pria itu tajam.
Gavin terdiam di tempat. Tatapannya tidak bisa lepas dari gadis cantik yang berada jauh di depannya. Hari ini Reyna sangat cantik, dengan balutan gaun berwarna biru senada dengan pakaian keluarganya. Gadis itu sungguh memesona, semakin membuat jantungnya berdebar saja.
" Angel, " Gumam Gavin.
Alex melebarkan senyumannya, sedetik kemudian dia tertawa pelan melihat sang cucu yang tidak berkedip menatap Gavin, begitu pula sebaliknya.
" Sepertinya kalian sudah saling mengenal. Oh lupa, kalian memang saling mengenal. Ha ha ha.. "
Di belakang mereka, Mikhael dan Mikhayla memperhatikan dengan diam. Ada rasa sedikit tidak rela dan takut saat melihat tatapan Alex yang tertuju pada Reyna dan Gavin secara bergantian seakan merencanakan sesuatu.
" Aku harap ini tidaklah buruk, " Ucap Mikhayla berbisik pada suaminya.
" Tidak buruk, tapi juga tidak baik. " Balas Mikhael menatap wajah tak enak dipandang putranya.
" Angel, kemari! Sapa tamu Opa, " Titah Alex setengah berteriak.
Reyna tersadar dari lamunannya. Dia mengangguk kecil dengan perasaan agak gugup.
Melihat Reyna yang berdiri dan mulai melangkah mendekati pria yang Morgan tidak tahu siapa, cepat-cepat Morgan pun bangkit dan ikut melangkah dibelakang Reyna.
Gavin tersenyum melihat Reyna yang kini berhadapan langsung dengannya. Tanpa canggung dia berkata:
" Hai. Boleh peluk? "
Mata Morgan hampir keluar dari tempatnya, dia menatap Reyna tajam seolah mengancam namun rupanya Reyna tidak sadar dan malah mengangguk hingga keduanya berhambur saling memeluk.
" Miss you, Angel. " Ucap Gavin mengeratkan pelukan mereka.
" T-too, Kak Gavin. " Lirih Reyna membenamkan wajahnya pada dada bidang Gavin.
" Uhuk.. Uhuk.. Ga-gavin? "
Moment saling melepas rindu itu terpaksa diakhiri karena suara keras Morgan. Gavin maupun Reyna saling melepas dengan semua mata yang menatap Morgan tajam.
" Apa? Kau, siapa kau? Kenapa memeluknya seperti itu? Kau mau ku hajar ya? "
" Morgan, jaga sikapmu! " Bentak Alex.
" Opa, siapa dia? "
" Ah, ini Gavin. CEO dari perusahaan baru yang Opa maksud kemarin. Jadi Angel, kau bekerja di sana mulai besok lusa. " Jelas Alex menepuk pundak Gavin.
" Apa?! " Bukan hanya Reyna, Morgan pun ikut memekik kaget.
" Opa, apa tidak terlalu cepat? Maksud Angel, Angel kan tidak tahu di mana letak perusahaan Kak Gavin. Dan lagi, kita saja baru bertemu setelah sekian lama. " Protes Reyna diakhiri cicitan.
Gavin tersenyum, " Bukan masalah. Kamu bisa menghabiskan waktu dua harimu dengan mengenal perusahaan bersamaku, " Ungkap Gavin.
Reyna tersenyum canggung, " Ba-baiklah, "
Alex tersenyum puas dengan jawaban yang Reyna beri. Begitupula Lyandra dan Bella yang memang ada di sana, di samping Alex.
" Baik apanya? Nana, kamu jangan baik-baik aja! Tolak! Lebih baik kamu kerja di perusahaan Saya! Mau gaji berapapun akan Saya kasih, "
Semua orang menatap jengah pada Morgan. Ayolah! Kenapa pria itu begitu menuntut dan.. Posesif?
" Morgan, kenapa kamu? Sudahlah, biarkan saja! Lagi pula bukannya kamu mendengarnya sendiri, Angel tidak mau bekerja denganmu? Sudah, biarkan saja. Perusahaanmu dan perusahaan Nak Gavin dekat kok. Jika ingin mengunjungi sepupumu, kamu bisa ke sana saat istirahat. Simple kan? " Ucap Lyandra pada cucunya.
" Tapi Oma— "
" Diem deh, " Kesal Reyna.
" Nana, kamu— "
" Sepupu, " Bentak Reyna.
Morgan diam. Dia beralih menatap tajam pada Gavin.
Karena tidak bisa mengalihkan pandangan dan fikirannya dari Reyna, sejak tadi Gavin setia tenggelam dalam pesona seorang Reyna Angelica tanpa menyadari apa yang mereka bahas dan tatapan seperti apa yang tertuju padanya.
Untuk Reyna sendiri, dia juga saling bertatapan dengan Gavin. Namun bedanya dia sadar akan apa yang mereka bahas dan kesal karena Morgan yang cerewet.
" Angel, Gavin, sudah dong tatap-tatapannya! Nanti juga kalian bisa melepas rindu bersama, " Goda Bella membuat dua sejoli itu saling memalingkan wajah dengan semburan merah di pipi.
" Ekhem. Lord, setelah pesta bisakah Saya membawa cucumu? " Gavin meminta izin pada Alex.
" Tentu saja! Sekalian kalian mengenang masa lalu. Siapa tahu kamu jadi menantuku, " Canda Alex yang membuat wajah keduanya semakin memerah saja.
" Opa, apa sih! " Kesal Reyna malu.
" Angel, merah tuh pipi. "
" Mommy, " Rengeknya.
Semua orang tertawa bahagia. Berbeda dengan Morgan yang cemberut dengan alis saling bertaut marah. Tanpa berkata apapun Morgan pergi dari sana membuat mereka terheran-heran.
" Biar Key susul Morgan, Dad, " Kata Mikhayla.
Mikhayla melirik suaminya sekilas dan pergi menyuaul Morgan saat Mikhael mengangguk.
Tidak sampai satu menit setelah Mikhayla pergi, Marchel datang dengan Aaron dan Kia digendongannya.
" Om, " Sapa Gavin.
Marchel mengangguk singkat, " Siapa? "
" Ini loh, Gavin. Temennya Angel yang dulu, " Bella yang menjawab.
" Ga..vin. Oh, CEO tempat putriku akan bekerja itu, right? "
Gavin mengangguk sambil tersenyum.
Marchel ikut tersenyum, " Jaga putriku, " Pesannya.
" Tentu, "
Reyna terus menatap Gavin. Temannya itu sangat beda sekarang, lebih gagah dan.. Tampan. Itu yang membuat Reyna agak canggung saat dihadapkan Gavin yang sekarang.
" Beruntung banget yang miliki loe, Kak Gavin. " Batin Reyna tersenyum tipis. Dia ikut bahagia akan kesuksesan yang Gavin raih.
" Mom, " Suara berat dari David mengagetkan mereka.
" Ya, kenapa Kak? "
" Sudahi pestanya, istriku lelah. Kami akan langsung ke apartement saja, "
" Jangan terburu-buru, boy. Daddy yakin, bukan menantu yang lelah, tapi kamu yang tidak sabaran. " Ceplos Marchel membuat David mendelik.
" Ayolah.. "
" Ha ha.. Tentu tentu, Kak. Nanti Mommy yang urus. Tamunya juga tidak banyak kok, kalian bisa langsung pergi saja. Mau diantar sopir apa Kakak nyetir sendiri? " Tanya Bella.
" Di antar sopir, "
" Hem. Kamu bawa Naya ke luar, nanti Mommy suruh siapkan mobil untuk kalian. "
" Okay, makasih Mom. " Ucap David kembali menghampiri istrinya.
" Jangan sekarang Boy! Tahan dulu sampai malam besok! " Goda Marchel yang sama sekali tidak disahuti David.
" Kau ini, " Kesal Bella membuat Marchel cengengesan.
Alex menatap Gavin, " Maaf cucuku tidak menyapamu. Dia memang seperti itu pada orang baru, "
" Tidak masakah Lord, "
" Kia, sini sayang. " Mikhael maju mengambil alih putrinya yang masih betah dalam gendongan Marchel dengan Aaron yang tampak sudah menutup mata.
" Daddy, Kia ngantuk. "
" Ya sudah tidur, "
" Mommy mana? "
" Bobo sama Kakak saja, ayo! " Zaidan datang merebut Kia dari gendongan ayahnya.
" Di sofa saja, Zaidan. Di sini tidak ada kamar kosong, " Pesan Mikhael pada putra keduanya.
" Baiklah, "
🍃 🍃 🍂 🍃 🍃
Di sisi lain, Mikhayla menemani putranya yang tengah dilanda kegundahan hati. Memikirkannya Mikhayla merasa gelik sekaligus kasihan, sepertinya rasa yang dulu masih ada dalam hati Morgan untuk Reyna.
" Salah sendiri di pendam, "
Morgan menatap ibunya dengan alis berkerut.
" Jangan membohongi perasaan sendiri, Abang. Mommy tahu Abang ngerti apa yang Mommy bilang, "
Morgan kembali diam dengan pemikirannya.
" Bukannya dosa? "
" Kalian tidak satu Asi. Hukumnya sah-sah saja, "
Morgan kembali diam. Entahlah! Kondisinya yang masih melupakan masa lalu membuat Morgan ragu untuk melangkah, dia takut salah langkah.
" Sebenarnya ada apa antara Morgan dan Reyna, Mom? "
_-_
TBC!