Crazy Cousin

Crazy Cousin
Memulai Hari Baru


Mengawali hari dengan secangkir kopi, Reyna tampak begitu menikmati paginya sebelum berangkat kerja.


Ya, hari ini adalah hari pertama Reyna bekerja di perusahaan Gavin. Karena jam yang masih menunjukkan pukul 7 pagi membuat Reyna leluasa bersantai-santai sampai kurang lebih satu setengah jam lagi.


Reyna menoleh menatap langit pagi yang cerah secerah masa depannya. Tersenyum kecil mengingat hari yang sebenarnya akan segera di mulai.


Bukan semata-mata karena uang, tapi untuk pengalaman. Meskipun penghasilannya sebagai selebritis sosial media menghasilkan uang yang lumayan di tambah uang bulanannya yang masih mengalir dari sang ayah, tetap Reyna memilih bekerja demi masa depannya kelak.


Hidup tidak sesederhana itu. Mempunyai keluarga kaya yang tidak pernah mengalami kesulitan ekonomi bukan berarti Reyna tidak perlu mencari uang. Dia harus merasakan yang namanya kerja keras dan banyak menabung berjaga-jaga jika keadaan mendesak nanti.


Dunia ini berputar. Siapa tahu Reyna yang adalah putri dari keluarga kaya mendadak jadi gembel? Dalam artian perusahaan keluarganya bangkrut. Meskipun terasa mustahil tapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.


Dengan memiliki tabungan hidup akan terasa lebih ringan. Apalagi jika tabungannya banyak. Uang menang bukan segalanya, menumpuk uang memanglah tidak baik, tapi segalanya memerlukan uang, dan kejadian tidak terprediksi pun bisa saja terjadi di masa depan bukan? Yang mengharuskan mengeluarkan dana banyak.


Selain uang, pengalaman juga diperlukan. Semisal nanti Reyna menikah dan mengalami intrik rumah tangga serius hingga perpisahan adalah jalan akhir, dia tidak akan menderita dalam segian ekonomi karena bisa memanfaatkan pengalaman kerjanya itu.


Ya.. Meskipun ada keluarganya yang pasti akan menanggung biaya hidupnya jika hal itu terjadi.


" Pemikiran loe terlalu jauh, Angel. " Kekeh Reyna menertawakan dirinya sendiri.


Namun memang benar apa yang Reyna fikirkan. Kita tidak boleh bermalas-malasan hanya karena ekonomi yang memadai bahkan lebih. Masa depan tidak ada yang tahu.


Kembali menyesap dengan khidmat, Reyna memejamkan mata menikmati santai paginya.


Setelah beberapa lama terdiam dengan pemikirannya, Reyna mengambil ponsel yang berada di atas meja dan mulai sibuk memainkannya. Sekedar membuka beranda dan membalas beberapa komentaran baik di akun sosial medianya.


Tidak terasa satu jam lebih Reyna habiskan dengan bersantai. Bangkit dengan menenteng tas kerja ala-ala wanita kantoran, Reyna beranjak menuju lantai bawah di mana keluarganya sudah berkumpul untuk sarapan.


" Morning, " Sapa Reyna mencium pipi Ibu, Ayah, Kakek dan Neneknya sebelum terduduk di kursi.


" Kakak? " Tanya David.


" Ada istri. Gak enaklah sama Kakak ipar, " Balas Reyna menatap Nayara dengan tatapan menggoda.


Memang biasanya Reyna juga sering menyempatkan waktu untuk mencium pipi David. Itu pun sudah lama tidak terjadi sejak rencana Kakaknya yang menginginkan Nayara dengan cara memaksa.


" Cih, gak jelas. "


Decisan Davis tidak Reyna indahkan. Dia mengambil roti dan mulai mengoles selai di atasnya.


" Berangkat kerja naik apa, Angel? " Tanya Marchel sembari mengusap bibir Aaron yang belepotan.


" Mobil, "


" Ck, " Marchel menatap putrinya malas.


" He he.. Sorry, " Cengir Reyna. " Kata Kak Gavin nanti mobil kantor jemput Angel, " Lanjutnya menjawab pertanyaan Marchel yang tadi.


" Oh, benar. Selama kamu bekerja di sana kendaraan ditanggung perusahaan, " Ucap Marchel yang diangguki Reyna.


" Apalagi kamu sekretaris kesayangan, " Goda Oma Lyandra.


" Apasih Oma. Masih pagi loh ini, " Kesal Reyna.


Semenjak kedatangan Gavin, keluarganya ini sering sekali menggodanya. Bahkan Lyandra dan Bella selalu menanyai perkembangan hubungan mereka setiap kali dia diantar pulang oleh Gavin.


" Mommy masakin makan siang buat kamu. Jangan beli jajanan yang tidak sehat, makan ini saat istirahat. " Pesan Bella memasukkan tempat makan yang lumayan besar ke dalam paper bag.


" Iya. Loh, kok dua? "


" Buat Nak Gavin sekalian. Kasihan calon mantu Mommy kalo makannya gak sehat, " Balas Bella membuat Reyna mendelik.


" Gak Oma gak Mommy, sama aja. Ngeselin banget ih, " Dengus Reyna yang malah dihadiahi tawa keduanya.


" Oh iya, si gila ke mana? " Tanya Reyna celengak-celinguk.


Mereka saling tatap, " Siapa? "


" Morgan, Mom. Ke mana si sepupu? "


" Oh, Morgan dan keluarganya tidak jadi menginap tadi malam. Katanya Kia merengek ingin pulang dan tidur bersama kedua Kakaknya, " Jelas Bella.


" Zaidan juga pulang? "


Reyna mengangguk.


" Ngapain tanya-tanya kamu? " Tanya David.


" Gak apa-apa, cuman tanya aja. " Balas Reyna stay calm walaupun sedikit salah tingkah dengan pertanyaan David. Apalagi tatapannya.


" Non, ada yang jemput di depan. " Ucap salah satu asisten rumah tangga.


" Oh, iya bi. Semua, Angel pamit ya. Bye bye! " Pamit Reyna beranjak menuju pintu keluar.


Mereka mengangguk sebagai balasan.


Sepeninggalan Reyna, kini David dan Nayara yang menjadi sasaran mereka.


" David, setelah ini mau ke mana? " Tanya Opa Alex.


" Ke rumah Nayara, Opa. Kami menginap dua hari di sana sebelum kembali ke apartement, " Jawab David.


" Kamu beneran gak mau tinggal di sini aja, bang? " Tanya Bella menatap sendu putranya.


Bella memang seringkali bicara pada David maupun Marchel untuk David yang tinggal di sini saja setelah menikah. Namun David maupun Marchel selalu membalasnya dengan kata ' Mandiri '.


" Gak, Mommy. Tapi kita akan sering berkunjung ke sini, "


Pantang menyerah, Bella menatap Nayara.


" Naya sayang.. "


Tatapan sendu Bella membuat Nayara tidak enak. Rasanya dia ingin mengiyakan namun Nayara sadar semuanya tergantung pada David.


" Naya ikut keputusan Kak David saja, Mom. "


Bella mendengus. Dia menatap kesal pada putranya yang memasang raut biasa.


" Abang, lupa diri banget. Kamu lahir dari perut siapa? Mommy kan? Harus nurut sama Mommy! Pokoknya kamu tinggal di sini, titik. " Putus Bella mutlak.


" Sayang, " Tegur Marchel.


" Tapiβ€” "


" Sudahlah menantu. Biarkan David melakukan apa yang dia inginkan. Lagian, mereka juga pengantin baru. Kau mengertilah, " Ujar Alex setengah menggoda mereka.


Pipi Nayara memerah. Dia mencubit paha David tanpa sadar.


" Awh, Naya masih pagi. " Bisik David serak-serak basah di telinga Nayara.


" Ish, " Kesal Nayara membuang muka.


πŸƒ πŸƒ πŸ‚ πŸƒ πŸƒ


Reyna berjalan cepat dan masuk ke dalam mobil hitam yang katanya datang untuk menjemputnya.


" Jalan! " Titah Reyna sibuk membenahi isi tas tanpa menatap si pengemudi.


" Pindah depan! "


Deg.


Reyna mendongak kasar dan melotot.


" Morgan?! " Pekiknya tertahan.


_-_


TBC!


____


Dikit aja ya, hitung-hitung sarapanπŸ˜€