Crazy Cousin

Crazy Cousin
Konflik Rumah Tangga


Sebuah mobil terparkir cantik di basement apartement. Karena bingung harus ke mana akhirnya Reyna pun memutuskan untuk mengunjungi Kakak dan Kakak iparnya di apartement mereka.


Reyna keluar dari dalam mobil dan mulai melangkah menuju lift yang membawanya ke lantai dimana apartement David berada.


Setelah pintu lift terbuka Reyna keluar dan kembali melangkahkan kakinya menuju pintu apartement David.


Membunyikan bel beberapa kali namun tidak mendapat sahutan, Reyna pun inisiatif membuka sendiri karena dia memang mengetahui paswoard apartement Kakaknya itu.


Pintu terbuka, segera Reyna melangkah dengan teriakan khasnya.


" Yo brother! I'm Co..ming, "


Mata Reyna terbelalak, dia menatap kaget pada banyaknya barang pecah dengan David yang terlihat marah dan Nayara yang meringkuk ketakutan di atas lantai.


" Apa ini? Hah?! Apa ini Nayara?!! " Bentak David.


" Hiks.. Hiks.. Dengarkan dulu, hiks... Dengarkan dulu penjelasanku, " Ucap Nayara terisak.


" Kauโ€” "


" Kak David! " Teriak Reyna saat David mengangkat tangan hendak memukul Nayara.


Dengan langkah cepat Reyna berjalan muju Nayara dan memeluk temannya erat.


" Tenang, Naya. Tenang. Ada gue di sini, ada gue. "


" Hiks.. Angel, hiks.. Hiks.. "


Reyna menatap Kakaknya tajam.


" Keterlaluan! Kakak gak seharusnya main tangan! " Bentak Reyna marah.


" Jangan ikut campur, " Kata David dingin.


" Gue udah pernah bilang. Sekali loe nyakitin Naya, gue sendiri yang akan pisahin kalian. " Ucap Reyna menekankan setiap kalimat dengan tatapan tajamnya.


" Kakak bilang jangan ikut campur Angel! " Bentak David pada akhirnya. " Kamu gak tahu masalahnya, jadi lebih baik kamu diam. " Decis David.


" Tapi tidak dengan kekerasan juga kan? Loe itu beneran sayang atau cuman penasaran doang sih sama Naya? Loe keterlaluan Kak, loe mau mukul dia tadi. Cinta gak kayak gitu Kak, cinta gak main tangan. Loe tempramental! "


" Angel! "


" Naya ayo, ayo kita pergi dan jangan kembali. " Kata Reyna membantu Nayara berdiri.


" Diam di sana jika tidak ingin melihat Kakak marah Angel! "


Reyna menatap David datar, " Gue gak peduli. Lebih baik lihat loe yang kesetanan ketimbang temen satu-satunya gue dianiaya, "


" Kakakโ€” "


" Loe bukan Kakak gue, " Potong Reyna. " Kakak gue gak main tangan, apalagi sama perempuan. "


" Hiks.. Angel sudah. Hiks.. Ini memang salahku, hiks.. Kak David marah karena aku, " Isak Nayara.


Reyna menahan nafas sejenak, dia menghembuskannya dengan sedikit kasar dan memeluk Nayara dengan sebelah tangan.


" Terlepas apapun masalahnya dan siapapun yang salah, gak seharusnya dia main tangan. Lihat? Kelakuannya membuat gue nyesel gak hentiin pernikahan loe dulu. Gue nyesel Naya, gue nyesel. Maaf karena membiarkan loe masuk ke dalam neraka ini, "


" Jaga ucapanmu Angel! "


" Loe seharusnya kabur aja sama gue Naya. Loe gak usah nikah kalo terpaksa. Mungkin sekarang loe bisa dapetin pria yang lebih baik dari monster macam dia, "


Plak!


" Angel! " Pekik Nayara menutup mulut terkejut.


Reyna meraba pipinya, dia menatap David dengan sorot mata penuh kebencian.


Sedangkan David, dia menatap tangannya sendiri yang baru saja memukul adik kesayangannya untuk pertama kali seumur dia hidup.


" A-angel, Kakakโ€” "


" Loe bukan Kakak gue, " Potong Reyna pelan. " Loe benar-benar bukan Kakak gue, David. "


Reyna menarik tangan Nayara dan pergi dari hadapan David yang masih menatap telapak tangannya dengan tatapan kosong.


Di basement sana, Nayara dan Reyna sudah berada di dalam mobil dengan posisi Reyna yang memegang kemudi.


Nafas Reyna tidak beraturan, tangannya mencengkram kuat stir kemudi dengan air mata yang lolos tanpa bisa ditahan.


Seumur hidupnya Reyna tidak pernah mengenal kekerasan. Baik itu dari Ibu, Ayah, bahkan keluarganya yang lain.


Tapi David dengan beraninya mengayunkan tangan padanya. David, Kakaknya sendiri menamparnya dan ini adalah tamparan pertama yang Reyna dapat dari keluarga.


" A-angel, hiks.. Maaf. Ge-gegara a-ku kamuโ€” "


Brum..


Reyna menekan gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


๐Ÿƒ ๐Ÿƒ ๐Ÿ‚ ๐Ÿƒ ๐Ÿƒ


Reyna melangkah cepat menuju kamarnya tanpa memperdulikan seluruh keluarga yang menatapnya heran apalagi dengan kehadiran Nayara yang mengikuti dari belakang.


" Angel kamu? "


Nayara yang masih terisak menghampiri Bella, sedangkan Reyna sudah masuk ke dalam kamarnya tanpa kata.


" Nayara sayang, ada apa? Kamu kenapa? " Tanya Bella panik.


" A-aku, hiks.. Aku gak a-apa-apa kok, Mom. I-itu, Angel.. "


" Kenapa dengan Angel? " Marchel menyahut tak kalah khawatirnya.


" Semuanya salahku.. Hiks.. " Tangisan Nayara kembali pecah. Wanita itu menutup wajah dengan bahu semakin bergetar kuat membuat Bella segera membawanya ke dalam pelukan.


" Tenang dulu sayang, tenang. Ceritakan pelan-pelan saja, " Ucap Bella mengelus kepala menantunya penuh sayang.


" Ecel, "


Marchel menoleh.


" Daddy lihat pipi Angel... Merah, "


Mata Marchel melotot mendengar perkataan Alex. Tangannya mengepal dan dengan tidak sadar dia menarik Nayara yang masih berada dalam dekapan Bella dengan kasar.


" Katakan ada apa sebenarnya? " Ucap Marchel menggeram.


" Kenapa dengan Angel? Siapa yang berani menamparnya? " Lanjut Marchel berapi-api.


" Hiks.. Maaf Dad, hiks.. Semuanya salah Naya. Hiks.. salah Nayara yang membuat Kak David marah, " Isak Nayara.


" David? " Beo Marchel dengan jantung berdetak kencang.


" Apa David yangโ€” "


" Sudah! " Bella kembali menarik Nayara dan memeluknya erat. " Diam, biarkan menantuku istirahat. Lakukan apa yang kau mau tanpa melibatkannya. Naya sayang, kamu ke kamar Angel dulu ya? Tunggu Mommy di sana, "


Dengan masih terisak Nayara mengangguk patuh. Dia lantas berbalik dan menaiki tangga menuju kamar Reyna.


" David, " Geram Marchel marah.


Lyandra mengkode menantunya, Bella yang mengerti pun lantas menarik tangan suaminya lembut dan membuat Marchel terduduk di sofa.


" Tenang dulu. Aku buatkan teh, hem? "


Dengan amarah yang masih ada Marchel mengangguk. Baru saja Bella berbalik hendak menuju dapur, kehadiran David membuat semuanya kembali tidak terkendali.


" Mommy, di mana Nayara? "


" Beraninya kamu!! "


Bughk


Bughk


Bughk


Marchel memukul David bertubi-tubi sedangkan David hanya pasrah menerima pukulan sang ayah. David sadar dia salah dengan memukul Reyna dan pastinya Marchel tahu serta tidak terima putrinya dipukul apalagi oleh Kakaknya sendiri.


" Berani sekali kau memukul putriku! " Amuk Marchel semakin menggila.


" Daddy cukup! Cukup Dad cukup, ada Aaron di sini. Hentikan! " Teriak Bella.


Bella menarik suaminya menjauh saat pukulan Marchel berhenti karena teriakannya.


" Hentikan, jangan pakai kekerasan! Kita tidak tahu masalahnya dan sebaiknya selesaikan dengan kepala dingin. Duduk! "


Marchel patuh tanpa membantah. Dia terduduk lemas di atas sofa dengan nafas yang masih tidak beraturan.


Ayah mana yang tidak akan marah jika putri satu-satunya di pukul? Apalagi oleh anaknya yang lain. Meskipun kasar sejak kecil Marchel tidak pernah mengajarkan kekerasan pada anak-anaknya. Jelas dia tidak terima saat tahu Reyna dipukul oleh David.


" David, kamu juga duduk! "


David mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Dia melangkah menuju sofa yang bersebrangan dengan Marchel dan terduduk di sana.


" Mommy? "


Lyandra segera mengangkat cucunya.


" Aaron main sama Oma yuk! Kolamnya sudah Opa isi buaya loh, "


" Benalkah? "


" Iya. Aaron mau lihat gak? "


" Mau mau Oma! " Pekik Aaron senang.


" Ha ha.. Ya sudah ayo ikut Oma. Aduh.. Berat sekali Aaron, "


Bella menghela nafasnya sabar. Dia melirik Marchel yang masih menatap tajam pada David yang menunduk. Lalu tatapannya mendadak sendu saat Opa Alex mengangguk menyuruhnya tenang.


" Aku panggil Nayara dulu, "


๐Ÿƒ ๐Ÿƒ ๐Ÿ‚ ๐Ÿƒ ๐Ÿƒ


Seluruh keluarga berkumpul di ruang keluarga kecuali Reyna yang masih tidak sudi menemui David dan Aaron yang bermain di kamar Reyna.


Tatapan mereka tertuju pada David dan Nayara yang menundukkan kepala. Mereka di sini bermaksud menyelesaikan masalah yang terjadi antara putra dan menantunya.


Bella dan Marchel sadar jika sifat David menurun dari Marchel. Kasar dan tidak kenal sabar. Maka dari itu Mereka berdua memutuskan untuk membantu menyelesaikan masalah mereka dengan mendengar sisi dari Nayara tidak hanya David.


" Sekarang katakan! "


" Istriku menggunakan pil kontrasepsi, "


Bella, Marchel, Opa Alex dan Oma Lyandra terkejut mendengar ucapan David. Tatapan mereka beralih pada Nayara yang perlahan mendongakkan kepalanya.


" Apa benar itu, Naya? " Tanya Bella lembut.


" I-iya, "


" Stt.. " David meringis geram pada istrinya.


Mereka diam untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Lyandra membuka mulut menanyai Nyara.


" Apa alasanmu menggunkan pil pencegah kehamilan, Nayara? Apa yang kamu takutkan sampai berani menelannya? "


Nayara kembali menunduk, " A-aku takut mengandung, Oma. "


" Ha ha ha.. Omong kosong, " Tawa David hambar.


" Kau bukannya takut hamil, tapi tidak sudi mengandung darah dagingku bukan? Kau takut terikat bersamaku selamanya bukan? Itu yang kau takutan bukan Nayara?! " Bentak David membuat air mata Nayara kembali mengalir saking takutnya.


" Ti-tidak, hiks.. Bukan itu, hiks.. "


" Kau harus kuberi pelajaran Nayara, " Geram David hendak bangkit dari duduknya.


" Diam! " Bentak Opa Alex.


David kembali mendudukkan dirinya dengan menatap Nayara tajam.


" Naya sayang, kenapa kau tidak ingin mengandung? Jelaskan alasanmu yang bisa kami pahami, Nayara. Supanya David tidak berfikiran negatif seperti barusan, " Ucap Oma Lyandra lembut.


" Pe-pernikahan kami tidak di ketahui publik. Ji-jika nanti aku mengandung, apa yang harus aku katakan pada mereka? Jujur jika ayah dari anakku a-adalah Kak David? Apa mereka akan percaya tanpa adanya bukti? Ti-tidak akan. Di sini yang akan diolok-olok adalah aku dan anakku. Maka dari itu aku memutuskan untuk mengkonsumsi pil kontrasepsi selama pesta resepsi belum diadakan, "


" Kau! " Bentak David berdiri kasar.


Sedangkan keempat orang tua hanya bisa menghela nafas dan diam menyaksikan drama rumah tangga ini.


" Berada di mana otakmu Nayara? Kenapa pemikiranmu sedongkol itu? Kauโ€”astaga, "


" Aku benar-benar takut. Akuโ€” "


" Kau bodoh! "


" Ya ya aku bodoh. Aku bodoh karena mau saja dipaksa olehmu! " Bentak Nayara membuat David dan keempat orangtua itu terkejut.


" Kita menikah bukan hanya tanpa cinta, tapi tanpa kepercayaan juga. Kau menyembunyikan pernikahan ini tanpa memberitahuku apa alasannya. Kau juga langsung memarahiku karena mengkonsumsi pil tanpa menanyakan kenapa aku melakukannya. Dan aku, bukankah aku juga bisa berfikiran negatif saat kau tak kunjung mengadakan pesta resepsi sementara usia pernikahan kita saja sudah lebih dari satu bulan?! " Kata Nayara dengan nada suara tinggi.


Nayara menunduk saat menyadari perkataannya.


" Maaf, " Kata Nayara.


" Tapi Kak David, " Nayara mendongakkan kepalanya menatap David. " Sepertinya kita memang tidak cocok. Kamu maupun aku tidak memahami satu sama lain. Satu bulan bersama tidak membuat kita saling membuka hati. Rasa percaya saja mungkin tidak ada, " Ucapnya terkekeh lirih.


" Jadi sebaiknya kita... "


" Jangan dilanjutkan, " Kata David serak. " Jangan berani-berani melanjutkan ucapnmu, Nayara. "


Nayara memaksakan senyumannya.


" Aku tidak meminta untuk berpisah. Namun untuk sementara tidak buruk bukan? "


" Apa maksudmu? " Geram David mengepalkan tangan.


" Maksudku.. Kita membutuhkan waktu untuk sendiri dulu. Saling mengintropeksi agar kedepannya masalah seperti ini tidak terulang lagi dalam rumah tangga kita, " Ucap Nayara.


" Kita tidak berpisah Kak David, tidak. Kamu masih suamiku, dan aku juga masih istrimu. Hanya saja... Biarkan aku di sini untuk sementara, "


Deg.


Tubuh David ambruk saat itu juga. Matanya memerah dan perlahan berkaca-kaca. Tangannya semakin mengepal dengan nafas yang berhembus berat.


" Itu keputusan yang tepat, "


" Dad! "


" Hargai keinginan istrimu David. Salahmu tidak jujur padanya, " Ucap Marchel.


" Tapiโ€” "


" Daddy mungkin tahu alasan kamu menyembunyikan pernikahan ini. Dan apa yang istrimu fikiran memang tidak benar namun tidak juga salah karena kamu yang tidak memberitahunya. Semua kesalahan ada padamu, David. Kau memilih diam menyimpannya tanpa mau berbagi, "


" Dad akuโ€” "


" Naya sayang, kamu banyak menangis sejak tadi. Ayo, Mommy antar kembali ke kamar Angel dan istirahatlah di sana! " Ucap Bella yang diangguki Nayara.


" Sayang, " David menatap kepergian istrinya dengan tatapan sendu. Sekarang dia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak memberitahu Nayara alasan mengapa dia tidak mempublikasikan pernikahan ini sehingga pemikiran konyol itu hadir dalam kepala istrinya.


Marchel, Opa Alex dan Oma Lyandra lantas meninggalkan David sendiri di ruangan keluarga guna membuat keturunan Alexander itu merenungkan kesalahannya.


Dalam keadaan seperti ini David semakin terpuruk. Baru saja tadi Nayara meninggalkan dirinya David sudah merindukan pelukan istrinya saja. Lantas apa kabar dengan hari yang tidak ditentukan sampai kapannya dia akan hidup tanpa Nayara di sisinya?


" Aku benci penyesalan, " Geram David memukul meja.


๐Ÿƒ ๐Ÿƒ ๐Ÿ‚ ๐Ÿƒ ๐Ÿƒ


Di dua negara lain, terlihat dua orang pria dengan perawakan tinggi juga wajah yang rupawan sedang melangkah terburu-buru dengan sebuah koper yang di tariknya. Posisi mereka saat ini adalah berada di dua bandara yang berbeda.


" Tunggu Kakak, Naya. "


" Tunggu gue, Nana. "


_-_


TBC!