
Terima Kasih atas LIKE, KOMEN, serta HADIAH dan VOTE yang kalian berikan. Lv you all❤️
Happy Reading☘️
_____________
Reyna menghembuskan nafasnya pelan. Perpisahan David dan Nayara membuatnya kecewa. Padahal menurutnya Nayara adalah gadis baik, polos, tidak matre dan pastinya cocok untuk dijadikan Kakak ipar.
Tapi Reyna juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mempersatukan mereka kembali. Apalagi dengan David yang kini lebih pendiam dari sebelumnya, sangat berbeda dengan Nayara yang kembali ceria seakan tidak melewatkan sesuatu yang menyakitkan.
Reyna mendesah pelan, " Andai gue bisa lakuin sesuatu buat mereka. Tahu kok gue, Naya masih cinta sama Kak David. Apalagi Kak Davidnya, " Gumamnya.
" Mereka yang putus elo yang mellow, aneh. Nih! " Morgan datang dengan membawa jus jeruk kesukaan Reyna.
Reyna menoleh, lalu menerima sodoran jus dari Morgan.
" Thanks, Sepupu. "
Morgan hanya mengangguk. Dia ikut duduk di samping Reyna. Saat ini mereka berada di kolam belakang rumah keluarga Alexander. Karena ini akhir pekan, yang berarti waktunya mereka mengunjungi keluarga.
Bahkan keluarga Morgan pun ada di sini.
" Ha.. Satu minggu berlalu begitu cepat. Ini pasti bagaikan satu tahun bagi Kakak gue, " Ucap Reyna.
" Hem. Patah hati. Tapi loe sadar gak sih, Na? Kalau semenjak putus dari Nayara, si David rajin banget belajarnya. Bahkan ya, Erza ajak nongkrong pun gak mau tu anak. Gak kayak biasanya yang langsung gercep, "
" Kata netizen sekolah sih karena Naya. Katanya, Naya nyuruh Kakak belajar yang rajin biar hebat kayak Daddy. Aneh sih gue awalnya, si Kakak nurut gitu aja. Tapi ya.. Itulah cinta! " Ucap Reyna.
Morgan mengangguk-angguk.
" Na, "
" Apa? "
" Loe habis berenang? " Tebak Morgan melihat tubuh Reyna yang dililit kimono selutut.
" Tadinya mau. Tapi mendadak ogah setelah lihat air, "
" Lomba sama gue gimana, mau? Yang menang bebas minta apapun! Dan yang kalah harus nurutin. Berani? " Tantang Morgan.
Tiba-tiba saja Reyna menjadi semangat mendapat tantangan dari Morgan.
" Ayo! Siapa takut?! "
Keduanya berdiri dan melakukan penasan terlebih dahulu. Morgan dengan dada telannjang dan boxernya, serta Reyna dengan baju renang sexy berwarna hitam miliknya.
Hanya butuh beberapa menit, keduanya telah siap di tempat. Reyna dan Morgan saling tatap dibalik kaca mata renang yang mereka gunakan. Badan keduanya membungkuk siap meluncur.
" Siap? "
" Ready! " Balas Reyna.
" Gue hitung sampai tiga. Tiga! "
Byur!
Reyna gelagapan, " Morgan, loe curang! "
Byur!
Reyna ikut masuk ke dalam air dan sebisa mungkin menyusul Morgan yang telah berenang jauh di depannya. Mereka terus berenang menggunakan berbagai gaya dengan akhir tetaplah Morgan yang menang!.
" Yey! Gue menang! " Seru Morgan girang.
Reyna muncul di permukaan, dia menghampiri Morgan dan langsung memukul lengan berotot pria itu untuk melampiaskan kekesalannya.
Plak!
" Curang loe! Katanya sampe tiga, tapi kok.. "
" Apa? " Cengir Morgan tanpa dosa.
Reyna mendelik, " Menang kok curang. Hih, "
" Tidak masalah! Asalkan kemenangan ada di tangan gue, curang pun tidak masalah! " Ucap Morgan dengan suara dibuat-buat.
" Cih, gak asik loe! Ogah tanding sama orang curang, penhecut tahu gak? Heng! " Dengus Reyna naik dan pergi meninggalkan Morgan dengan baju handuk yang sudah dipakainya kembali.
" Eh, Na!! Hadiah punya gue gimana?! "
" Ogah! " Teriak balik Reyna. " Orang menangnya aja curang, " Lanjut gadis itu mendumel.
Morgan terkekeh di tempat sambil memperhatikan punggung Reyna yang terus menjauh.
" Padahal kemauan gue yang harus loe turutin tuh gini: Nana, loe harus jadi pacar gue! " Seru Morgan. " Eh.. Malah main ngibrit aja anaknya, ".
Morgan mendesah kecewa. Dia tertawa kecil dan berlalu mengambil handuk.
_____-_______
Dua bulan berlalu begitu cepat. Dua bulan itu habiskan dengan hari-hari membosankan yang David rasakan. Meskipun membosankan, namun hasilnya sangatlah memuaskan.
Suatu kemustahilan bagi seorang David mendapatkan nilai tertinggi di kelasnya. Tapi setelah dua bulan ini, dia menjadi Siswa dengan nilai tertinggi bukan hanya satu kelas, tapi satu angkatannnya.
Rupanya patah hati tidak hanya membuat seseorang terpuruk, tapi juga memberi sebuah dorongan kuat yang menjadikan orang itu bangkit dan mengubur kekurangan dalam dirinya.
Terbukti dengan David. Si pria yang hanya mengandalkan ' Bagaimana nasib ' kini berganti dengan ' Nasibnya bagaimana? '. Yang dalam pelajaran selalu dinanti-nanti kini tekun dan menyimpan semua materi di otaknya yang memang pintar jika di asah dan bodoh jika dibiarkan.
Nayara? Seperti minggu-minggu setelah putusnya dengan David, kondisi Nayara biasa saja. Dia baik. Bahkan jauh dari baik.
Hidup dengan serba kekurangan dan beralih menjadi serba lebih butuhlah waktu untuk dapat menyesuaikan diri. Tapi meskipun begitu, harta dan tahta tidak membuat hati polosnya ternoda dengan berubah menjadi angkuh.
Nayara yang tampil seadanya kini mulai bisa merawat diri. Yang biasanya datang ke sekolah hanya memakai bedak bayi, kini mulai berdandan seperti gadis-gadis ABG pada umumnya.
Mulai dari pakaian, skin care, sampai perhiasan Elly persembahkan untuk sang putri. Bukan hanya Nayara yang bahagia, tapi Elly juga. Inilah keinginannya sejak lama, menemukan putrinya yang hilang dan memakaikannya barang-barang mahal serta merawatnya menjadi seorang gadis yang glamor.
Akan ada kepuasan sendiri baginya yang adalah seorang Ibu.
Untuk Morgan dan Reyna, mereka masih tinggal bersama. Hanya saja jika dulu sering adu cekcok dengan jawaban Reyna yang ketus-ketus, kini mulai berbincang layaknya orang normal.
Hari ini adalah study tour, yang artinya setelah ini kelas 12 tidak ada urusan lagi selain acara graduation yang akan dilakukan minggu nanti.
Study tour tidak hanya untuk kelas 12, kelas 10 dan 11 pun dipersilahkan jika ada yang ingin ikut. Hanya saja itu tidak wajib, berbeda dengan kelas 12 yang diwajibkan karena bisa disebut ini tour terakhiran.
Reyna dan Nayara juga ikut. Dengan Nayara yang memesan jok bersama Rey, dan Reyna bersama David.
Mengenai hubungan Rey dan Nayara, mereka telah jalani layaknya saudara pada umumnya. Nayara dengan sikap yang manja, dan Rey yang penyayang.
Masalah hati? Hanya mereka yang tahu!
Bus mulai berangkat, membuat para penumpangnya duduk di jok masing-masing. Di samping jok Reyna, Morgan terlihat mendengus.
Meskipun mereka bersebelahan, tetap Morgan tidak bisa menjahili gadis itu karena pasangan jok mereka yang berbeda. Gara-gara Zaidan adiknya, Morgan tidak bisa duduk bersebelahan dengan Reyna.
" Kak, Zidan mau minum. "
" Ambil aja! " Sungut Morgan.
" Dih, kok ngegas? "
Morgan hanya mendelik. Dia kembali fokus pada Reyna yang sedang berceloteh ria dengan David. Sesekali gadis itu memukul lengan Kakaknya sambil tertawa.
Andaikan dia yang ada di posisi David.
Andaikan.
_____-_____
Tujuan Wisata mereka terbagi menjadi empat. Pertama ziarah, pantai, tebing, dan terakhir pusat perbelanjaan besar yang menjual berbagai pakaian dan makanan tradisional.
Setelah sebelumnya ziarah, tepatnya pada pukul 8-10 pagi, mereka pun kembali menempuh perjalanan menuju pantai.
Di teriknya matahari pukul 12 siang, mereka mengunjungi pantai untuk sekedar berfoto dan makan bersama.
Waktu yang para guru berikan tidaklah banyak. Hanya sampai pukul 3 sore dan mereka pun harus kembali menaiki bus masing-masing.
Di saat semua orang sibuk berselfi ria, David, Morgan, Rey, Erza dan Arzan lebih memilih terduduk diam di salah satu bangunan yang terbuat dari bambu.
Mereka mengeluarkan berbagai macam bekal dan makanan pesanan untuk santapan siang ini.
" Makan sekarang, Mor? " Tanya Arzan.
" Bentar, adiknya si David belum nongol. "
" Laper gue. Lagian ke mana sih Angel? " Kesal Erza.
" Tadi mereka foto-foto dekat batu besar di depan. Sama Naya sama Zaidan juga, " Jawab Rey.
" Rey, telpon deh adik loe nya! "
Rey mengangguk. Dia mengambil ponselnya dan mulai menelpon Nayara.
Sedangkan di pojokan, David terdiam dengan mata menatap lautan luas di depan sana. Wajahnya terlihat tenang, namun sorot matanya menyimpan banyak beban.
" Iya, makan dulu. Kamu cepetan ke sini! Hem. Kakak tunggu, " Ucap Rey mengakhiri telpon.
" Gimana? " Tanya Morgan.
" Ke sini mereka, " Morgan mengangguk.
" Ah.. Siap di santap ni daging bebek. Uh.. Belum rasain gue, gimana rasanya daging bebek. Maklum, gue makan selalu daging sapi. Ah.. Jadi gak sabar, " Celetuk Erza menatap lapar makanan yang beberapa saat lalu mereka pesan.
" Cih, gaya lu, Erza. " Decis Arzan.
" Bikin gue cua! " Sambung Morgan.
Rey hanya menggeleng melihat tingkah sahabatnya. Sejurus kemudian fokusnya teralihkan saat Reyna, Nayara dan Zaidan datang.
" Kamu datang? " Nayara bergumam.
" Baru aja liar, udah ditangkep aja. Baru juga lima foto, udah di suruh pulang aja. Padahal tadi di sana pemandangannya indah banget loh, " Dumel Reyna duduk di samping Morgan.
" Makan, Na. Loe belum makan, " Ucap Morgan.
Reyna berdecak malas.
Di saat semua orang sudah duduk melingkar dengan banyaknya makanan di tengah-tengah, Reyna teringat pada Kakaknya yang belum bergabung.
" Eh, Kakak gue mana? Si David mana? " Tanya Reyna.
" Tuh! " Tunjuk Morgan.
Reyna menoleh menatap David yang masih diam melamun di tempat.
" Kak, sini! Kakak belum makan kan? Ayo sama-sama! "
David menoleh, " Belum lapar. Duluan aja! "
" Abang! "
David mendesah. Dia bangkit dari duduknya dan terduduk di samping Reyna, tepat berhadapan dengan Nayara.
" Ayo makan. Nah, habiskan! "
Reyna menyimpan berbagai makanan di piring David. Tanpa banyak bicara, David mulai memakannya bersama yang lain.
" Kak, Zaidan mau itu. "
" Ambil, " Ketus Morgan.
" Susah. Deket Kakak loh itu. Ambilin.. " Rengek Zaidan.
Morgan menyimpan sendoknya kasar.
" Bisa diem gak sih loe?! " Bentaknya.
Bukannya takut, Zaidan malah memutar bola matanya. Tahu dia alasan Morgan sensian kepadanya hari ini.
" Kak David, tuker tempat ya nanti! "
" Tempat apa? "
" Jok. Di bus, "
" Oke, " Balas David singkat.
" Sama Kak Morgan, "
" Hah? Maksud loe gue satu jok sama dia?! " Semprot Reyna.
" Ayolah Kak! Zaidan mau sama Kak David.. " Rengek Zaidan.
" Hah terserah! "
Zaidan melirik Morgan yang menyeringai puas.
" Aida loe mau ini kan? Nih makan yang banyak! Eh, yang ini juga. Ayo makan! Loe kurus, kekurangan gizi. "
Zaidan mendelik, " Sekarang aja baik, "
Nayara melirik David. Melihat pria itu yang makan dengan tenang tanpa lirik sana sini membuat Nayara sedikit sedih.
Lagian apa yang dia harapkan? Bukankah mereka sudah berpisah cukup lama?
" Mungkin sudah move on, " Batin Nayara melanjutkan makannya.
Setelah makan, mereka sempatkan berfoto meskipun hanya beberapa. Untuk kenang-kenangan serta ditunjukkan kepada orangtua saja.
Dari mulai yang satu orang satu orang, hingga bersama-sama. Reyna juga sempat berfoto berdua bersama Morgan, David, Nayara, juga foto berempat bersama Rey, Arzan dan Erza.
Setelah pukul tiga, mereka melaksanakan Shalat Asar berjamaah di mesjid setempat sebelum akhirnya kembali dalam perjalanan.
Setelah mobil bergerak, Morgan senang bukan main. Akhirnya dia duduk bersampingan dengan Reyna.
" Mor, kok gue ngantuk banget ya? " Keluh Reyna.
" Ngantuk ya tidur, "
" Di pundak loe yah? Gue lupa gak bawa bantal kecil. Semalem aja gue tidur dipundak Kak David, " Ucap Reyna tanpa sungkan.
" Yaudah sini, " Morgan menarik kepala Reyna dan menempelkan di bahunya.
" Tidur yang nyenyak, Nana. Sampai gue bangunin, "
" Hem, " Reyna mulai menutup mata dan terbang ke alam mimpi.
Morgan tersenyum melihatnya. Hatinya berdebar, wajahnya menghangat. Berdekatan bersama Reyna bagaikan gunung berapi yang hendak meledak.
" Kayaknya iya deh, Na. Gue suka sama loe, "
_-_
TBC!