Crazy Cousin

Crazy Cousin
Senyuman Aneh


Reyna mematung di tempat. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali guna menyadarkan diri jika apa yang dilihatnya di depan mata adalah nyata.


" I-ini, siapa yang ulang tahun? "


Celetukan dari Reyna membuat wajah mereka yang tersenyum haru di gantikan dengan kekesalan.


" Mommy, siapa yang ulang tahun? Rame banget kayak acara sunatan, " Ceplos Reyna berjalan menuju keluarganya dengan koper yang di tinggal begitu saja di ambang pintu.


Marchel ikut masuk sembari menarik koper Reyna. Untuk Nayara sendiri, Marchel telah mengantarnya pulang sebelum mereka menuju ke mari.


" Tadi ulang tahun, sekarang sunatan. Angel, kamu jauh dari keluarga makin kosong aja otaknya. " Kata Oma Lyandra tanpa perasaan.


" Yey.. Si Nini, sewot aja. Udah bau tanah juga, "


" Kewalat kamu! " Pekik Lyandra.


Reyna tertawa. Dia menghampiri Bella ibunya yang sejak tadi menatapnya sambil menahan air mata. Baru saja Reyna peluk, tangisan sang ibu terdengar melengking di seluruh penjuru ruangan.


" Hua Angel... Mommy kangen banget sana kamu!! "


" Aw, " Reyna meringis merasakan telinganya ajak sakit mendengar tangis membahana Bella.


" Mom, anak cantik pulang tuh harusnya di sambut pake karpet merah, bukan telinga merah gara-gara denger teriakan Mommy. " Komplain Reyna melepaskan pelukannya.


" Diam kamu! Lagian gak nyambung juga. Oh satu lagi, Mommy nangis ya bukan ketawa. "


" Lah, kapan Angel bilang Mommy ketawa? " Tanya Reyna heran.


" Eh, kamu gak bilang ya? "


Reyna memutar bola matanya malas. Dia beralih pada Lyandra dan memeluknya erat.


" Maaf, Nini. Angel emang cantik tapi nakal. Nakal dikit kok, "


Lyandra membalas pelukan Reyna tak kalah etat.


" Kalo saja kamu dan Kia bukan dua-duanya cucu perempuan Oma, udah Oma buang kamu ke laut! "


Reyna melepaskan pelukannya sembari terkekeh.


" Yey, halunya ketinggian Ni! Lagian, sebelum Oma buang Angel yang ada Oma duluan yang Angel dorong ke tebing. Jatuh kan, "


" Sembarangan kamu! " Tegur seorang pria tua dengan tongkat di tangannya.


" Opa!! " Teriak Reyna berlari ke arah Alex dan menerjangnya sampai tongkat Alex jatuh ke lantai.


" Cucuku.. " Gumam Alex mencium ubun-ubun Reyna.


" Angel rindu, "


" Opa juga, "


Reyna tersenyum. Dia melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh dari Alex. Namun melihat tubuh Alex yang malah jadi tidak seimbang buru-buru Reyna memegangnya.


" Opa! Astaga Opa.. Opa udah Opa-opa aja yah. Gak bisa jalan sendiri. Ck, gak nyangka Angel. Mr. Alexander yang perkasa bisa tua juga, " Kata Reyna membuat Alex mendelik.


" Ayo duduk Opa, " Reyna menuntun Alex ke kursi dan membawakan tongkatnya yang sempat jatuh.


" Nih, tongkat ajaibnya gak boleh hilang! Kalo hilang ntar Opa ambyar! "


" Kurang ajar kamu! "


" Angel seneng Opa sehat-sehat aja walaupun gak bisa lari, "


" Opa juga seneng kamu kembali tanpa membawa penyakit. Setelah sekian lama, akhirnya ketakutan Opa akan kehilangan kamu lenyap sudah. " Kata Alex berucap dengan nada gemetar menahan air mata yang nyatanya lolos juga.


Reyna tersenyum. Dia menatap wajah Alex dan menghapus air mata di pipi keriput pria tua itu.


" Kakek jangan nangis, Angel baik-baik aja kok. Angel bakalan kuat dengan dukungan kalian, dan Kakek pun harus kuat demi kami. Kakek belum lihat cicit dari Kak David loh, "


" Pulang juga anak hilang, "


Semua orang yang tadinya menatap haru moment-moment antara Alex dan Reyna kini terganti dengan menatap Mikhael yang berada di ambang pintu dengan stelan jasnya.


" Eh, ada Om-om jelek. Apa kabar Om? " Sapa Reyna membuat mereka tersenyum gelik dengan sebutan barunya pada Mikhael.


" Durhaka kamu nistain suami Tante, " Mikhayla datang di balik tubuh besar Mikhael.


" Hua.. Ateu!! " Pekik Reyna.


" Hua.. Rain!! " Mikhayla ikut-ikutan memekik.


Mereka berdua berlari dan saling memeluk dengan Mikhayla yang tidak hentinya mengelus punggung Reyna.


" Hiks.. Apa kabar, Rain? Hiks.. Maaf tante gak bisa nengokin kamu selama enam tahun ini, "


" Gak apa-apa tante. Tante santai aja, Angel juga udah sehat kok sekarang. "


Mikhayla melepaskan pelukannya. Dia menangkup wajah Reyna dan menciuminya berkali-kali.


Mwah.


Mwah.


Mwah.


" Tante sayang banget sama kamu, Rain. Kamu sehat-sehat ya sekarang, " Kata Mikhayla kembali memeluk Reyna.


Reyna tersenyum di balik pelukan hangat Mikhayla, " Iya tante, "


" By the way kamu bahenol, " Bisik Mikhayla membuat Reyna cekikikan.


" Malu dong, perawatan bodynya aja beratus-ratus juta. "


" Orang sombong temennya setan! " Reyna tertawa.


" Angel, " Panggilan dengan suara familiar membuat Reyna melepaskan pelukannya begitu juga Mikhayla.


Di ambang pintu, Reyna menatap penuh rindu pada sosok yang juga menatapnya dengan mata tajam namun sedikit berkaca-kaca.


" Abang, " Gumam Reyna. Senyuman lebar dia tampilkan.


Namun senyuman itu pudar ketika melihat sosok lain yang baru saja berdiri di samping David dan menatapnya dengan tatapan menuntut.


Dia Morgan.


" Dia semakin gila, " Batin Reyna melihat senyuman aneh yang tercipta di bibir Morgan.


_-_


TBC!