
Satu minggu telah berlalu sejak kejadian itu. Hingga sampai detik ini, Nayara masih belum bisa menerima keluarga kandungnya. Dan Elly beserta Bram memaklumi kemarahan yang pastinya ada dalam benak putri kecil mereka itu.
Hidup di panti asuhan memang tidaklah mudah. Semua harus serba berbagi dan mengenal rasa cukup. Nayara pasti marah, dirinya yang ternyata berasal dari keluarga terpandang harus mengalami sulitnya hidup serta pedihnya mendapat cacian sana-sini yang selama ini dia dapat.
Karena hal itulah Bram selaku Kepala Keluarga menenangkan sang istri dan memberi waktu pada Nayara. Bram merasa tenang karena kehadiran David yang selalu menasihati Nayara. Bukan memaksa, hanya memberi nasihat.
Meskipun belum berbuah manis dengan datangnya Nayara ke rumah mereka, dengan kabar Nayara yang semakin hari semakin membaik saja rasanya cukup untuk Bram. Kebenaran ini pasti mengguncang bagi Nayara.
Dan untuk Rey, sama seperti Nayara, Rey pun masih belum bisa menerima jika gadis yang dia cintai adalah adiknya sendiri.
Karena kejadian itu, Rey berubah menjadi lebih pendiam dan menghindari siapapun yang hendak menasihatinya. Baginya, semua ini hanya kepalsuan. Dia tidak akan menerima Nayara sebagai adiknya, tidak akan. Karena pada kenyataannya, cinta yang Rey miliki lebih besar dari rasa bahagianya mendapat kembali adik kecil yang sempat hilang.
^^^17:30, WIB.^^^
Nayara dan David berjalan menelusuri bibir pantai. Keduanya bertelanjang kaki dengan tangan yang saling bertautan.
Nayara tidak lagi marah atau merasa tidak enak ketika David menggenggam tangannya. Dia malah bahagia. Sepertinya rasa yang ada dalam dirinya benar-benar nyata.
" Gak sedih lagi kan? " Tanya David.
Nayara menatap David, dia tersenyum sambil menggeleng kecil. Membuat David ikut tersenyum lega.
" Apa keputusan loe, Ara? Apapun keputusan yang loe ambil, gue hargai. Dan gue akan selalu ada buat loe, " Ucap David membuat Nayara sedikit tersipu.
" Ara? ".
" Hem.. Sepertinya satu minggu cukup membuat aku sadar. Aku bisa menjernihkan pikiranku dan menghilangkan amarahku. Serta membedakan antara yang benar dan salah, ".
David setia mendengarkan.
" Keputusanku adalah.. Kembali pada mereka, keluargaku, ".
Langkah David terhenti. Dia berdiri tepat di depan Nayara dan menatap matanya lekat.
" Apakah itu keputusan yang loe ambil? " Nayara mengangguk pasti.
" Bagus, " Senyuman tipis yang seperti dipaksakan David tunjukkan, " Bagus. Itu akan baik, " Lanjutnya membalik badan hendak pergi.
Nayara menangkap lengan David, " Kamu kenapa? " Tanyanya.
Rupanya Nayara menyadari perubahan raut wajah David. Tidak enak di pandang.
David diam dengan badan yang tidak berbalik.
" Kak.. Kamu kenapa? ".
" Aku? Memangnya aku kenapa? " Tanya balik David menghadap Nayara.
" Kamu.. Kamu kayak gak suka sama keputusan aku, " Cicit Nayara menunduk.
David menahan nafas. Dia menghembuskannya pelan dan melipat bibirnya ke dalam.
" Boleh jujur gak? ".
Nayara mengadahkan kepala.
" Gue gak suka, loe tinggal satu atap sama Rey. Gue takut loe di apa-apain, Ara. Dia masih cinta sama loe, gue gak suka itu. " Aku David menatap Nayara lekat.
Nayara mengulum bibirnya ke dalam, berusaha menahan tawanya yang hendak meledak.
" Jangan ketawa! " Bentak David cemberut.
" Gue tahu kalian adik kakak. Tapi tetep saja si Rey cinta sama loe. Sebagai wanita, bukan adik. "
Nayara mengangguk faham. Dia mengerti yang menjadi kekhawatiran David.
" Iya.. Kak. Aku ngerti kok. Tapi.. Atas dasar apa Kakak bicara begitu? ".
" Maksud loe? ".
" Kakak... Bukan siapa-siapa aku kan? Terus kenapa.. " Tanya Nayara melipat bibirnya ke dalam.
David terdiam sesaat. Sebelum kemudian dia mengerti yang menjadi maksud Nayara.
" Loe ngekode gue ceritanya? ".
" Apa sih? Enggak kok! ".
" Oh.. Jadi maunya gue tembak elo, gitu? Ya udah, kalo perlu sekarang gue lamar sekalian! ".
" Gak gitu ih! " Sangkal Nayara berlari menjauh dari David.
David kembali terdiam. Dia membalik badan menatap Nayara yang terus berlari sambil cekikkan menatapnya.
" Ara! Kalo gue tembak emang loe kuat?! Senjata gue gede loh! ".
" Gak mau sakit! ".
" Pake cinta kok ini! ".
" Makan tuh cinta! ".
David tertawa, dia menggeleng dengan tatapan yang tidak lepas dari Nayara.
" Lucu banget sih loe? Anak siapa sih? Iya tahu anak Emak Elly, " Gumam David.
" Ara!! Tungguin aku sayang!! " Teriak David berlari menyusul Nayara yang semakin jauh.
Pipi Nayara memerah, " Sayang? " Gumamnya berhenti berlari dan beralih berjalan pelan sesekali mengembungkan pipinya yang terasa semakin panas saja.
" Kena! " David memeluk pinggang Nayara dari belakang.
" Ahh!! Kak David lepas!! " Pekik Nayara.
" Gak mau! " David mengangkat Nayara dan memutar-mutar tubuh mereka.
Waktu sore hari kedua insan yang saling dimabuk cinta itu habiskan dengan moment indah ditemani sunset yang membuat kebersamaan mereka semakin manis saja.
_-_____
Ting!.
Rey mengangkat kepalanya. Dia menjagkau ponsel yang berbunyi dan membuka pesan yang ternyata dari sahabatnya, Arza.
Preng!
Ponsel berlogo apel tergigit itu hancur terbentur tembok dan berakhir di atas lantai. Rey kembali menenggelamkan kepalanya di antara kedua kaki yang di tekuk dengan air mata yang turun semakin deras.
" Gue gak terima loe bahagia di atas penderitaan gue, David. Sama Naya, pacar gue. Gua gak bisa, " Gumam Rey nelangsa.
_-_____
Bella datang bersama Marchel saja. Karena Reyna yang entah ke mana dan David yang menjemput Nayara dari panti. Begitupun keluarga Mikhayla yang datang tanpa Morgan, Playboy tampan itu sedang ada urusan dan akan datang menyusul katanya.
Kehangatan ketiga keluarga itu rasakan. Mereka mengobrol santai dan berkali-kali kata terima kasih Bram ucapkan pada Marchel yang berhasil menemukan putri mereka yang lama hilang.
Jika saja semudah ini menemukan Nayara bagi Marchel, sudah sejak dulu Bram mengunjungi New York untuk memaksa Marchel mencari keberadaan putrinya.
Koneksi Marchel memang tidak main-main!.
Di tengah perbincangan para orangtua, mendadak susana menjadi hening dengan datangnya Morgan yang menyeret Reyna.
Kondisi Reyna baik, namun pakaiannya yang tidak pantas membuat mereka syok. Mereka seperti bukan melihat Reyna.
Semua orang berdiri dari duduknya, termasuk Marchel yang kini menatap tajam pada putrinya.
" A-Abang, kenapa seret Rain? R-Rain, pakaian kamu kok? " Mikhayla bertanya dengan tatapan tidak percaya.
" Angel? " Tatapan kecewa dari sang Ibu dapat Reyna lihat.
" Lagi? " Kepala Reyna menunduk tak kala Ayahnya berkata.
" Boy? Ada apa ini sebenarnya? ".
Morgan menatap Mikhael sekilas. Kemudian dia kembali menyeret Reyna dan menghempaskannya saat mereka dekat dengan para orangtua.
" Jawab pertanyaan mereka! " Titah Morgan menatap Reyna datar.
" Jelaskan perbuatan loe yang gue lihat! ".
Reyna tetap bungkam dengan kepala menunduk.
" Angel? Angel jelaskan! "
" Dia tidak akan bisa menjelaskan apa-apa, Aunty. " Ucap Morgan dingin. " Dia terlalu malu dengan perbuatannya sendiri hingga hanya bisa menunduk tanpa berani berkata apapaun! ".
" Kali ini pergaulan loe keterlaluan, Reyna. Keliaran loe semakin di luar batas! " Ucap Morgan.
" Apa yang loe lakuin sama dia? Hem? Mabuk? Ngerokok? Balapan? Apa lagi? ".
Para orangtua hanya diam membiarkan Morgan bicara. Bisa mereka lihat amarah dan rasa kecewa yang terlihat dari setiap ucapannya. Bahkan Marchel pun hanya bisa berkedip melihat kemarahan putra Mikhael yang harusnya dia yang lakukan.
" Jangan-jangan loe berani ngamar juga, ".
Plak!.
Tamparan langsung melayang di pipi Morgan. Morgan memalingkan wajahnya menatap wajah marah Reyna dengan dada yang naik turun.
" Gue bukan perempuan murahan! " Bentak Reyna. " Hanya dengan pakaian gue yang kayak gini bukan berarti gue jaalang! ".
" Loe gak tahu gue jadi sebaiknya gak usah sok tahu! Seberapa buruknya pergaulan gue itu terserah gue! Dan gue mau jalan sama siapapun juga suka-suka gue! Gak usah loe yang marah! Ngapain loe nyeret gue segala? Hah? Gue juga tahu kapan harus pulang! Gak perlu loe yang seret-seret kayak tadi! Ngapain gue tanya?! ".
" Loe gak ada hak untuk marah, Morgan. Siapa loe? Ayah gue? Suami gue? Pacar gue? Bukan! ".
Reyna mendekat, mencengkram kerah kemeja Morgan dan mendekatkan pada wajahnya.
" Loe gak berhak untuk itu. Jadi sebaiknya loe.. Diam, " Ucap Reyna penuh penekanan.
Melihat kebungkaman Morgan, Reyna menghempas kasar pegangannya dan berbalik hendak pergi.
" Itu mau loe? ".
Reyna berhenti melangkah, namun tidak dengan membalik tubuhnya.
" Gue tanya itu yang loe mau?! " Teriak Morgan.
" Iya, " Jawab Reyna dengan posisi yang sama.
" Oke, " Ucap Morgan.
" Oke kalo memang itu yang loe mau. Mulai sekarang, gue gak akan ikut campur lagi dalam masalah loe. Terserah mau loe mabuk, balapan, bahkan jadi jalaang sekalipun. Gue gak akan peduli maupun ikut campur lagi, " Lanjutnya membuat Reyna menahan nafas.
" Mom, Dad. Morgan gak bisa di sini, di sini terlalu menyesakkan. Permisi, " Lanjutnya melangkah pergi meninggalkan orang-orang yang masih diam di tempat.
Reyna menatap kepergian Morgan dengan mata berkaca-kaca. Morgan dan Gavin. Siapa yang dia temui lebih dulu? Keduanya sudah dia buat tidak enak hati.
" Angel! ".
" Jangan sekarang, Dad. Angel lelah, " Reyna ikut melangkah meninggalkan kediaman keluarga Elly.
Sepeninggalan mereka berdua, Para orangtua saling tatap dengan Bella yang kini memegang lengan Marchel.
" Dad, ".
" Sepertinya Angel semakin lepas dari genggaman kita, sayang. Aku akan menikahkannya, ".
" Kakak! " Pekik Mikhayla menentang.
" Dad, tidak seperti itu juga. Angel masih remaja, dia labil dan— ".
" Bagaimana dengan membiarkan Angel tinggal satu atap dengan Morgan? " Usul Mikhael.
" Jangan gila, " Decis Bram.
" Hanya tinggal. Kalian tidak melihat sikap Morgan yang mendadak dewasa tadi? " Tanya Mikhael.
" Hanya pada Angel Morgan bersikap begitu. Apakah kalian tidak menyadari sesuatu di sini? Tidak menyadari ketakutan dan kepatuhan Angel saat Morgan marah dan menyeretnya kemari? Bukankah sikap Morgan akan mengekang Angel? Mengatasi kebebasannya misalnya? ".
" Aku juga masih bisa, " Ucap Marchel.
" Berhasil? " Tanya Mikhael membuat Marchel diam.
" Hanya tinggal, tidak menikah. "
" Tidak, Kak Ael. Menurutku itu bukan keputusan yang bijak. Bagaimana kalau— ".
" Kakak tidak sedang berusaha mendekatkan mereka, Elly. Hanya menyadarkan Angel. Membawanya jauh dari jurang kehancuran, " Potong Mikhael.
" Ide mu cukup gila, Dad. " Ucap Mikhayla.
" Tidak ada salahnya, sayang. "
Bella mencengkram lengan Marchel. Membuat Marchel menatap istrinya yang sedang hamil muda itu.
" Kita akan memiliki bayi lagi, Dad. Perhatian kita pada Angel akan semakin berkurang. Bagaimana jika kita coba? Hanya sampai Morgan lulus, " Pinta Bella.
Marchel kembali memalingkan wajahnya menatap depan. Semua orang diam menanti jawabannya. Namun Marchel tak turut buka suara sampai kehadiran David dan Nayara mencairkan suasana di sana.
_-_
TBC!