
Reyna mengelilingi setiap sudut yang ada di gedung mewah tempat Kakaknya melakukan resepsi pernikahan. Sambil berceloteh ria pada para penontonnya, mata cantik Reyna tidak henti menatap ke sembarang arah meneliti keadaan sekitar dan menyapa orang-orang yang dilewatinya.
" Tuh guys.. Yang itu bapak CEO Se-Asia, di undang juga sama Daddy gue loh. Gila, keluarga gue kaya tapi pelitnya minta dibagi waris. " Ucap Reyna asal sembari cekikikan.
" Hallo.. Mr Al, how are you? " Sapa Reyna pada salah satu pengusaha muda kenalannya.
" Waw, Ms Alexander. I'm fine. Long time no see, right? "
" Ha ha.. Yeah. Oh, say hi! "
Pria muda berwajah barat itu mendekatkan kepalanya pada Reyna dan melambai pada ponsel yang setia bertengger pas pada tongkat sakti yang Reyna pegang.
Reyna menundukkan kepalanya singkat dan lanjut berkeliling setelah meninggalkan pria barat yang dia panggil Mr. Al barusan.
" Eum.. Ke mana lagi kita guys? Perasaan semua tempat udah gue singgahi deh. Ke mana lagi ya? " Tanya Reyna mengetuk-ngetuk dagu.
" Ke hatimu? " Ucap Reyna membaca salahsatu komentar julid netizen. " Sorry, hati gue udah ketemu pawangnya. Ha ha ha.. " Balas Reyna tertawa lepas.
" Keliling ulang? " Lagi-lagi Reyna meladeni komentar kurang kerjaan para netizen. " Sorry, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Buat apa flashback flashback-an. "
" Ho ho.. Guys.. Ke mana lagi kita kan pergii? " Ucap Reyna bersenandung kecil.
Reyna mengedarkan pandangannya ke segala arah. Sampai pada satu titik dimana dia sedikit meminati untuk disinggah.
" Balkon aja gimana? Okay, let's go! "
Reyna berjalan setengah berlari menuju balkon yang menampilkan pemandangan kota di malam hari. Banyak bintang-bintang yang bertaburan di langit membuat malam ini terkesan sangat indah dan sunyi.
Melihat pemandangan malam yang ada, Reyna dibuat terbengong dengan mulut sedikit terbuka saking terpesonanya dia dengan malam beribu bintang.
" Woah.. So beautiful night, "
" Oh? Ni guys, indah banget kan? " Tanya Reyna membalik kamera menjadi kamera belakang.
" Sangat indah, " Gumam Reyna masih terpana akan keindahan dunia.
" Indahnya seind—ah, "
Brak.
Tongkat berwarna hitam pekat yang Reyna pegang jatuh begitu saja dengan acara siaran langsung yang tidak lagi terhubung akibat benturan cukup keras barusan.
Reyna terdiam, matanya menatap sebuah objek di bawah sana yang menampilkan pria yang amat sangat dia kenal dan dia tunggu kehadirannya sedang memeluk seorang wanita berpakaian minim dengan mata terpejam seolah menyalurkan perasaan yang dalam.
Reyna menggeleng. Tidak ingin langsung berfikiran negatif dia lantas mengambil ponselnya yang jatuh dan menghidupkannya kembali.
Reyna mengotak-atik ponselnya, menekan satu nama dan mengangkat ponselnya tepat di depan bibirnya.
" Hallo, "
Tatapan Reyna setia pada satu objek, Morgan. Yang menerima telepon darinya dengan posisi masih memeluk wanita itu.
" Gue.. Gue masih di rumah, "
Deg.
Saat itu juga dunia Reyna seakan hancur. Matanya membulat dengan tatapan yang terlihat kosong serta perasaan hancur yang hanya Reyna sendiri yang dapat merasakan seberapa hancurnya dia.
Berbagai fikiran negatif hinggap dikepalanya saat mendengar jawaban dari Morgan. Di rumah? Jelas-jelas Reyna lihat dengan mata kepalanya sendiri jika Morgan ada dibawah sibuk berpelukan dengan wanita lain. Tapi ini? Di rumah kayanya?!
" Hah? "
" Gue masih di rumah, Na. Ini juga mau otw. Tunggu gue ya, "
Mulut Reyna kaku, rasa penasaran dan kecewa yang amat besar hadir dalam benaknya atas pertanyaan mengapa Morgan berbohong kepadanya dan ada hubungan apa Morgan dengan wanita dalam pelukannya itu sampai-sampai tega membuatnya kecewa?.
" Hem, "
Tut.
Morgan mematikan sambungan telepon mereka secara sepihak. Bisa Reyna lihat pria itu menyimpan ponsel di saku jasnya dengan tangan yang kembali memeluk wanita itu erat seperti sebelumnya.
" Udah Cil, loe gak bisa kayak gini terus. Ayo hadapi kenyataan dan masuk bareng gue! " Bisik Morgan pada wanita yang berada dalam pelukannya.
" Hiks.. Gak mau, " Balas wanita itu membuat Morgan serba salah.
Percakapan antara Morgan dan wanita dipelukannya jelas tidak dapat terdengar oleh Reyna yang kini menatap kebersamaan mereka dengan tatapan datar.
" Ternyata dia, alasan loe cuek sama gue akhir-akhir ini, Morgan? " Gumam Reyna. " Bagus ya? Salut banget gue. Loe ninggalin gue demi wanita yang— Ha.. Gue sendiri gak tahu dia siapa. " Reyna melipat bibirnya tak kuasa menahan sakit di hatinya.
" Loe beerengsek! Loe baajingan! Morgan, gue sampai lupa kalo loe pemain wanita! " Jerit Reyna tertahan dengan air mata yang tidak bisa lagi dia tahan.
" Dan dengan bodohnya gue mempercayai loe segampang itu. Morgan, apa mungkin dia.. Jaalang baru loe? "
Reyna menghela nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Tangannya terangkat mengusap kasar air mata dipipinya dengan tatapan biasa yang terpancar dari kedua matanya pada dua manusia yang masih asik berpelukan di bawah sana.
" Seperti apapun kenyataannya, apaapun alasannya, rupanya kebohongan tetap jalan yang loe pilih. Jadi Morgan, jangan salahkan gue jika memilih langkah mundur. Karena hubungan yang didalamnya sudah terdapat kebohongan, tidak akan baik. Itu toxic, "
Reyna menyeringai tipis, dia menggenggam erat ponsel ditangannya dan berbalik meninggalkan Morgan yang masih berusaha menenangkan wanita dipelukannya tanpa tahu jika satu hati telah dia hancurkan tanpa sengaja.
Yang pasti, setelah ini dirinya pun akan turut hancur juga. Bahkan lebih hancur dari yang orang hancur itu rasakan.
_-_
TBC!