Crazy Cousin

Crazy Cousin
Rey Bramasta


Reyna menuangkan air pada gelas yang di pegang Morgan dan langsung di minum pria itu hingga tandas. Memilih mendudukkan dirinya, Reyna melirik Morgan dengan mulut yang setia tertutup.


Pengakuan Morgan begitu tiba-tiba untuknya. Mengingat saat dia datang melihat kondisi Morgan yang tidak dalam keadaan baik, Reyna yakin jika ingatan itu datang karena dipaksakan.


Dan Reyna tidak suka itu!


Baginya, dengan Morgan yang hidup sehat saja sudah cukup. Masalah ingatan, Reyna tidak terlalu memperdulikannya. Mungkin dengan hilangnya ingatan Morgan dapat membuat segalanya membaik. Termasuk hubungan mereka di masa lalu yang terkesan tidak sehat.


Reyna melirik dahi Morgan yang masih dibanjiri keringat. Dengan inisiatif dia mengambil tissue dan mendekatkan tubuhnya pada Morgan.


" Hadap sini coba, biar dibersihin. " Pinta Reyna mencengkram pelan rahang Morgan supaya menghadap ke arahnya.


Morgan menurut. Matanya senantiasa menatap wajah cantik Reyna yang sedang menyeka keringatnya dari jarak dekat.


" Saya ingat, Na. Sebagian bisa gue ingat, " Ucap Morgan terus menatap Reyna.


Deg.


Reyna menghentikan aktivitasnya. Dia sedikit menjauh dari Morgan dengan mata yang terus menatap bola mata Morgan.


" Gue atau Saya? Loe jadi laki jangan plinplan! "


Morgan mengusap wajahnya kasar. Dia melirik Reyna kesal, " Bisa serius tidak? Saya sedang dalam keadaan serius, Reyna. " Tekannya.


Reyna melirik sinis, " Mau banget gue seriusin, "


" Tapi Sayaโ€” "


" Tadi aunty Key telpon loe kan? Suruh pulang pasti. Yuk! Tapi sebelum itu gue mau makan bakso yang di pertigaan dulu, " Potong Reyna berdiri dari duduknya.


" Jangan mengalihkan pembicaraan, " Morgan menangkap tangan Reyna ketika gadis itu hendak berbalik.


" Mengalihkan apasih? Gak jelas banget. Ayo.. Sepupu, gue mau pulang! "


" Kita tidak hanya sepupu, bukan? "


" Maksudnya? Ck, loe makin gak jelas deh Mor! "


" Tatap mata Saya, Reyna. " Titah Morgan tegas.


Reyna menatap mata Morgan dalam-dalam.


" Apa benar, jika dulu kitaโ€” "


" Jangan bahas itu dulu, ya? Gue cape, loe juga sakit. Gue gak mau bikin loe tambah sakit. Masalah masa lalu, kini bahkan ke depannya, bawa santai aja. Gak usah terlalu dipikirin, apalagi dipaksa mengingat. Loe, sepupu gue. Mau dulu, sekarang ataupun nanti status kita tetap sama. Sepupu. Benar? "


Morgan menatap iris hitam Reyna intens. Ada sedikit rasa tidak rela dan marah mendengar penuntunan dari Reyna. Tapi menolak sekeras apapun apa yang dikatakan Reyna ada benarnya, mereka sepupu.


" Sepupu bisa menikah, bukan? " Tanya Morgan setelah beberapa saat mereka saling diam.


" Nikah? Loe kode gue ceritanya? Loe mau sama gue? " Tanya balik Reyna beruntun.


" Kalo iya kenapa? " Morgan semakin menjadi.


Untuk beberapa saat Reyna diam dengan mulut tertutup rapat.


" Na? "


" Loe gila, " Kata Reyna menarik paksa pergelangan tangannya yang masih digenggam Morgan.


Reyna berbalik dan melangkah pergi. Di ambang pintu, Reyna kembali membalik badannya menghadap Morgan yang termenung di tempat.


" Anterin gue, sepupu! Loe tahu gue gak bawa mobil, "


Setelah berkata demikian, Reyna pun kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti tanpa menghadap Morgan lagi.


Morgan yang mendengarnya tersenyum tipis. Dia mendongak seraya mengusap wajahnya pelan.


" You make me crazy, cousin. "


๐Ÿƒ ๐Ÿƒ ๐Ÿ‚ ๐Ÿƒ ๐Ÿƒ


Seorang pria berperawakan sempurna terlihat berjalan di kolidor hotel mewah. Kakinya melangkah memasuki lift bersama seorang pria lainnya yang sejak tadi membuntuti langkahnya.


Pintu lift terbuka, segera kedua pria tadi kembali melangkah keluar dari lift menuju salah satu ruangan yang menjadi tujuan mereka datang ke tempat ini.


" Di mana dia? " Suara bariton terdengar mengalun tegas di telinga yang mendengar.


" Kamar Anda, Tuan. "


Pria itu memalingkan wajah, dia tersenyum sinis dan untuk ke sekian kalinya melangkah menuju pintu berwarna coklat gelap yang tertutup.


Ceklek..


Pintu terbuka, terlihat seorang gadis yang meringkuk di atas ranjang dengan tubuh yang gemetar ketakutan.


" Kau aman di sini, Tania. "


Gadis yang dipanggil Tania itu mendongak dengan mata berkaca-kaca.


" R-rey, " Panggilnya dengan suara gemetar.


Rey Bramasta, Kakak kandung dari Nayara yang sama sekali tidak mengetahui tentang pernikahan adiknya dan malah di tipu dengan cara dikirim ke luar negri karena alasan bisnis oleh ayahnya.


Pria yang berdosa karena murni mencintai adik kandungnya sendiri dari remaja hingga sekarang itu bahkan hidup damai di negri orang karena menganggap kepergiannya memang untuk alasan bisnis tanpa tahu jika ini permainan untuk mengkecohnya.


Jika sampai Rey tahu bahwa adik tercinta dan yang dicintainya hendak dinikahkan bahkan secara paksa, entah kegilaan apa yang akan Rey lakukan.


Beruntung Marchel dan David sudah memprediksi semua hingga sampai saat ini pun Rey belum mengendus aroma penipuan.


" Rey, hiks. Rey, mereka akan menculikku. " Isak Tania mencengkram erat selimut yang membalut tubuhnya.


" Tenang. Aku sudah menyuruh orang untuk menjempur Ibu dan Ayahmu, " Ujar Rey.


" T-tapiโ€” "


" Nia!! " Teriakan penuh kekhawatiran seorang wanita paruh baya dengan didampingi sang suami berhasil membuat fokus mereka teralihkan.


" Bunda!! Hiks, " Tania berhambur memeluk ibunya erat.


" Bunda, hiks. N-nia tadi, hiks.. Nia.. "


" Stt.. Tidak apa-apa, sayang. Ada bunda, sekarang ada Bunda di samping kamu. Nia jangan takut, okay? Jangan takut, " Ucap sang ibu mengelus punggung putrinya menenangkan.


" Hiks.. Hiks.. "


Sang ayah menatap Rey dengan raut wajah marah.


" Apa yang terjadi, Rey? Bukankah Om menitipkan Tania untuk kau jaga? Kenapa ini bisa terjadi?! " Marahnya.


" Maaf. Rey kecolongan, "


Pria paruh baya itu mengusap wajahnya kasar.


" Kauโ€” "


" Yah cukup! " Bentak wanita paruh baya itu. " Cukup. Sebaiknya Ayah diam, biar Bunda yang urus. "


Melihat suaminya yang bungkam, wanita paruh baya itu beralih menatap Rey setelah Tania dalam dekapan suaminya.


" Apa yang terjadi, Rey? Kenapa posisi Tania sampai bisa diketahui olehnya? Bukankah kamu bilang tempatmu adalah tempat yang tepat? " Tanyanya lembut.


" Ini diluar prediksi Rey, tan. Rupanya koneksi mereka cukup luas, bahkan pasti ada orang dalam. Rey akan selidiki lebih lanjut, maaf jika mengecewakan kalian. Rey janji ini yang terakhir, " Ucap Rey menunduk menyesal.


Wanita paruh baya itu menghela nafas sabar.


" Tidak perlu merasa bersalah, justru kami yang malu karena membuatmu merasa terbebani. Ketika sudah memiliki celah untuk mengakhirinya, kami tidak akan lagi menggantungkan Tania kepadamu. Maaf, Rey. Tante benar-benar minta maaf, "


Rey menggeleng, " Tidak, tante. Kita keluarga, Rey sama sekali tidak merasa terbebani dengan menjaga Tania. Justru Rey senang karena dapat tante andalkan. Jangan berfikir begitu, tan. Rey merasa tidak enak, " Ucap Rey menyentuh tangan lembut tantenya.


Della tersenyum, " Terima kasih, " Ucapnya tulus.


_-_


TBC!