Butterfly System

Butterfly System
Chapter 09 [Kiki dan Nana!!]


"Yak! Berhenti berkeliaran di sana," Ujar Azura saat Nana dan Kiki tak berhenti menggangu banyak siswa dengan wajah imutnya.


Azura akhirnya sampai di UKS. Ibu Marwah adalah pengurus UKS di kehidupan lalunya, bahkan saat dia sudah mengajar ia masih saja mengurus dengan telaten UKS. Ibu Marwah dan Azura di kehidupan yang lalu cukup dekat karena Azura yang selalu masuk UKS akibat para pembulinya.


"Maaf menganggu bu, saya Azura dari kelas 1-C. Adik saya baru saja pulang dari tk. Mereka ingin menjemput saya pulang tapi jam pulang masih lama, apa boleh saya menitipkan mereka pada ibu?" Ujar Azura dengan sopan.


Nana dan Kiki kini sudah mengganti pakaian mereka dengan pakaian anak TK. Keduanya mulai melancarkan jurus pamungkas mereka pada ibu Marwah yaitu wajah memelas. Azura hanya bisa memukul pelan dahinya saat melihat keduanya yang sedang bertingkah imut.


"Waahhh, kalian berdua sangat manis. Anak baik, jangan nakal ya. Ibu akan menjaga kalian saat kakak kalian belajar, oke. Nak Azura pergilah ibu akan menjaga mereka tenang saja," Ujar Ibu Marwah.


"Benarkah bu? Terimakasih ibu, hukum mereka saja jika bawel." Azura membungkuk hormat pada ibu Marwah.


"Ah, iya. Ibu yakin mereka berdua anak yang baik seperti kakaknya," Ujar ibu Marwah.


"Terimakasih sekali lagi bu. Jam istirahat sudah hampir habis, aku akan pergi ke kelas sekarang bu. Terimakasih," Ujar Azura dan di balas senyuman oleh Ibu Marwah.


Azura segera keluar dari ruangan dan pergi ke kelasnya. Di perjalanan Azura tak sengaja berpapasan dengan teman-teman Kevin. Salah seorang dari mereka sengaja mencekal kaki Azura hingga pria itu terjatuh dan menjadi pusat perhatian siswa yang ada di Koridor.


"Liat, dia bahkan jatuh di permukaan lantai yang rata. Benar-benar lemah, HahHAhAh" Ujar Aron dan membuat teman sekomplotannya tertawa keras.


Salah satu dari mereka lalu menendang punggung Azura yang berniat berdiri. Para siswa hanya menonton tanpa ada niat untuk membantu, mereka semua tau berurusan dengan para anak-anak berandalan ini akan membuat hidup di sekolahnya akan buruk. Kini Azura sudah tidak bisa menahan amarahnya, ia benci dan dendam pada mereka.


"Wah, liat dia melotot pada kita." Rian mendorong kepala Azura dengan jari telunjuknya.


Rian semakin kesal melihat Azura yang tidak ketakutan melihatnya. Pria itu lalu melayangkan tamparan pada Azura sebanyak-banyaknya hingga sudut pipi Azura mengeluarkan darah. Azura tetap diam tubuhnya masih dengan kokoh berdiri di hadapan Rian.


Mata Azura tiba-tiba berubah warna menjadi merah darah. Rian tiba-tiba gemetar dan membuatnya tanpa sadar jatuh terduduk di lantai. Rian mengucek matanya berharap ia salah mengira jika mata Azura tadi berubah warna. Mata Azura kini kembali seperti semula sebelum ada seseorang yang melihatnya lagi selain Rian.


"Mo-moster, dia monster!" Ujar Rian dan membuat para siswa menatapnya aneh.


"Ada apa dengan kau? Aku bahkan tidak melakukan apa-apa tapi aku malah terjatuh?" Ujar Azura tersenyum simpul dengan darah di sudut bibirnya.


"Dasar pecundang," Ujar Azura dan meludah ke samping kemudian pergi.


Rian mengepalkan tangannya, harga dirinya baru saja di permalukan oleh anak miskin. Ia kesal dan mulai memberikan sumpah serapan pada Azura. Beberapa siswa hanya berdecak kagum melihat Azura yang tanpa melakukan apa-apa sudah membuat Rian bertekuk lutut di hadapannya.


...β˜„β˜„β˜„...


Pelajaran akhirnya selesai, setelah memasukkan semua alat tulis ke dalam tasnya kini Azura segera pergi menuju UKS untuk menjemput Kiki dan Nana. Pria itu sampai di depan pintu dan membukanya hingga menampilkan Kiki yang tidur bersama Nana.


"Maaf membuat Ibu repot, saya akan membawa mereka pulang." Azura kemudian membangunkan keduanya.


"Tidak perlu sungkan dengan ibu, hati-hati di jalan. Adeknya di jagain baik-baik," Ujar Ibu Marwah.


"Iya bu. Kalo begitu saya pulang dulu," Ujar Azura sambil memegang tangan Kiki dan Nana.


Kiki dan Nana melambaikan tangannya ke arah Ibu Marwan sebagai perpisahan. Mereka harus berjalan kaki akibat sepeda Azura yang rusak di perjalanan. Azura berhenti mengambil sebuah brosur di sebuah cafe, pria itu mulai membacanya dengan saksama.


"Kenapa kau tertawa membaca kertas itu?" Ujar Nana.


"Liat, cafe ini membutuhkan seseorang untuk menjadi kasir mereka. Bayarannya bahkan sangat banyak dan syarat adalah anak SMA yang tampan," Ujar Azura dengan semangat.


"Untuk apa kau bekerja? Bukannya sistem sudah memberikan kau uang?" Ujar Nana.


"Hah? Sejak kapan? Aku tidak pernah mendapatkan apa-apa," Ujar Azura.


Layar monitor muncul di hadapan Azura dan memperlihatkan biodata Azura di sana. Nana mulai menggerakkan jarinya di atas layar hingga muncul banyak angka yang terus bertambah dan bergantian di sana. perlahan angka-angka itu berubah menjadi huruf dan menampilkan sebuah kata.



"Tak terhingga?!" Ujar Azura.


"Benar, kekayaan yang kau miliki tidak terhingga untuk saat ini. Semua host tidak akan kesulitan masalah uang setelah melakukan pembaruan sistem," Ujar Nana.


"Wah, benarkah. Jadi aku sangat kaya sekarang? Tunggu sepertinya aku sedang mimpi," Ujar Azura sambil mencubit pipi Nana.


"Yak! Kenapa aku yang kau cubit bodoh!" Ujar Nana dengan nada kesal.


"Ah, iya maaf. Jadi bagaimana aku bisa menggunakan uang itu," Ujar Azura.


"Itu black card, bodoh. Kau bisa menggunakan uang di dalamnya sesukamu," Ujar Nana.


"Ohh, ternyata seperti itu. Ini kartu yang aneh, aku baru pertama kali melihat yang seperti ini," Ujar Azura.


"Tuan sepertinya kita harus pulang segera. Aku merasakan ada yang aneh di sekitar rumah anda tuan," Ujar Kiki.


"Apa? Biar aku menggendong kalian. Perasaanku juga tidak enak," Ujar Azura dan mulai menggendong Nana dan Kiki pulang.


Azura melesat pergi dengan kecepatan maksimum. Pria itu memilih melompat dari gedung ke gedung sebagai akses pulang kerumah. Sejak beberapa hari yang lalu Azura sudah mempelajari banyak sekali jurus dari kitab tak tertandingi yang di belinya di Butterfly system, hidung Azura tiba-tiba menangkap bau darah dari gedung hotel.


"Aku mencium bau darah yang busuk," Ujar Azura berhenti di salah satu atap gedung.


"Tuan lebih baik segera pulang, aku akan mencari informasi tentang gedung hotel itu." Kiki turun dari gendong Azura.


"Baiklah hati-hati di sana Kiki," Ujar Azura dan di balas Kiki dengan anggukan.


Azura akhirnya sampai di rumahnya, pria itu melihat ada bibi dan pamannya yang sedang membentak neneknya. Azura menghentikan tangan bibinya yang berusaha memberikan pukulan pada Amora.


"Beraninya kau menahan tanganku, anak sialan!" Ujar Linda yang merupakan bibi Azura.


"Kau harusnya lebih lembut pada yang lebih tua, jangan memukul dan membentak mereka." Azura berdiri melindungi Amora.


"Kau jangan ikut campur! Nenekmu ini sudah meminjam banyak uang tapi masih saja bermalas dirumah dan tidak bekerja," Ujar Adam yang merupakan paman dari Azura.


"Aku akan membayar utang nenek! Tunggu di sini, aku akan mengambil uangnya. Jangan lakukan apapun pada nenek, jika kalian tidak ingin masuk penjara!" Ujar Azura lalu mulai berlari menuju Bank terdekat.


"Azura," Ujar Amora sambil melihat cucunya pergi.


"Cih, anak sombong! Dia pikir bisa mendapatkan uang dengan mudah. Dasar anak bodoh!" Ujar Linda sambil melipat tangan di dada.


Hanya butuh beberapa menit akhirnya Azura datang sambil menenteng kantong plastik hitam yang cukup besar. Pria itu lalu melemparkan kantong tadi ke wajah bibinya itu, beberapa ikat uang mulai keluar dari kantong itu. Linda dan suaminya segera memungut uang di lantai itu dengan cepat.


"Mulai hari ini nenek tidak memiliki utang apapun dengan kalian," Ujar Azura dengan tegas.


"Cih, cuma dapat uang dari hal kotor saja sombong. Aku yakin ini hasil dari pekerjaan kotor," Ujar Linda lalu pergi dari sana bersama dengan setumpuk uang dari Azura.


"Nak, dari mana kau mendapat uang sebanyak itu?" Ujar Amora khwatir.


"Tenang saja nek, itu bukan uang pekerjaan kotor. Nenek tidak perlu khawatir," Ujar Azura.


Amora tidak menanyakan hal itu lagi, matanya kini tertuju pada kedua anak di belakang Azura. Kiki dan Azura tadi bertemu di perjalanan dari bank dan sekarang sedang berdiri bersama Nana.


"Anak di belakang itu siapa, Azura?" Ujar Amora.


Azura mulai gelagapan saat neneknya mulai bertanya mengenai Kiki dan Nana, pria itu kini sedang berperang dengan pikirannya berusaha untuk merangkai kalimat sebagai alasan untuk neneknya. Baru saja Azura ingin mengucapkan sesuatu Nana tiba-tiba menyela.


"Sebenarnya kami di buang oleh orang tua kami, kak Azura menemukan kami dan membawa kami kesini. Hiks... Aya dan ibu membenci kami hiks..." Ujar Nana sambil menangis sesegukan.


"Iya, mereka membenci kami hiksss. Tidak ada yang mau menampung kami lagi hikss..." Ujar Kiki dan mulai mengikuti Nana yang menangis sesegukan.


"Kalian jangan sedih lagi, nenek dan Azura akan menjaga kalian mulai hari ini." Amora berkaca-kaca menatap kedua anak itu.


"Benarkah? Yehh, terimakasih nenek," Ujar Kiki.


Azura terkejut melihat dua makhluk mungil yang sedang melakukan akting pada neneknya. Amora mengajak Nana dan Kiki masuk ke dalam rumah dan mengabaikan Azura yang sedang menjadi patung di sana lengkap dengan wajah cemberutnya.


"Aish, nenek mengabaikan aku," Ujar Azura dengan wajah cemberut.


...TBC...


Ingat ya, jangan lupa like, rate, vote dan coment ya. Semoga para pembaca sekalian masih mendukung novel iniπŸ™πŸ€—


Salam manis,


Tirfa_ledina