Butterfly System

Butterfly System
Chapter 34 [Dunia Ilusi Mental II ]


"Kau mau ke mana Nana?" Ujar Kiki saat Nana pergi dengan tergesa-gesa.


"Perasaanku tidak enak, aku harus mengecek Azura." Nana berusaha pergi tapi Kiki menahan tangannya.


"Sistem tidak memberikan informasi bahaya pada kita. Kau hanya berhalusinasi saja, tuan itu sangat kuat," Ujar Kiki.


Nana berfikir sejenak. Sungguh sejak pagi tadi perasaannya tidak enak. Nana menghela nafas panjang kemudian masuk kedalam kamar Azura untuk mengecek Levi didalam sana sedangkan Kiki pergi mengantarkan sayur yang dia petik di kebun belakang rumah ke dapur.


"Oh, Nana. Ada apa? Tumben mencari aku," Ujar Levi.


"Kau punya alat agar aku bisa melihat Azura di sekolahnya?" Ujar Nana.


"Maksudmu alat pengintai? Kebetulan tadi pagi tadi aku memasang benda itu di seragam Azura. Kau ingin melihat dia? Aku bisa," Ujar Levi dengan perasaan bangga.


"Kau memata-matai Azura?" Ujar Azura dengan perasaan curiga.


"Ah, tidak hanya memperhatikan saja heheh." Levi hanya terkekeh pada Nana yang tampak curiga padanya.


"Sudahlah, kau cepat perlihatkan keadaan Azura padaku." Nana duduk di dekat Levi yang mengutak-atik benda persegi lima di tangannya.


Levi meletakkan benda persegi lima itu di lantai, layar hologram muncul dan menampilkan layar rusak. Nana masih sabar menunggu sedangkan Levi kebingungan melihat alatnya tak menampilkan apapun.


"Kenapa bisa begini? Apa dia tidak di dunia fana?" Gumam Levi.


"Ada apa Levi? Apa yang terjadi?" Tanya Nana.


"Aku rasa Azura tidak ada di dunia fana. Alatku terbuat dari material yang ada di dunia fana. Sinyal alatku tidak akan berguna jika tidak di dunia fana," Ujar Levi dan Nana langsung berdiri dengan khawatir.


"Aku rasa tuan dalam bahaya," Ujar Kiki yang muncul dari balik pintu.


"Aku sudah memberikan obat tidur pada nenek. Kita bisa pergi ke sekolah tuan sekarang," Ujar Kiki dan Nana mengganguk dengan cepat.


"Aku ikut," Ujar Levi.


Di dunia Ilusi mental, perlahan Azura hancur saat merasakan sesak dan putus asa yang terus menghujaninya. Semua trauma, kesakitan dan kesedihan menjadi satu dan menyerang mentalnya. Azura menjambak rambutnya dengan kuat. Hatinya sungguh tersiksa melihat kematian neneknya yang terus terulang. Surat terakhir neneknya bahkan membuat hatinya terus tersayat beberapa balik.


"Kumohon siapa saja hentikan semua ini," Ujar Azura dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


Kepalanya sungguh sakit begitu pun dengan deru nafas yang kian pendek. Jantungnya terasa di tindih sesuatu yang sangat berat, Azura berlari tak tentu arah. Azura tak ingin mendengar semua jeritan putus asa itu, sungguh hal itu meruntuhkan mentalnya secara perlahan. Azura terjatuh saat sebuah rantai tiba-tiba mengikat kedua kakinya, seolah-olah sedang memaksanya agar tak berlari lagi.


Suara tangisan terdengar dan hal itu membuat kepala Azura ingin sekali pecah. Ia berusaha membuka rantai itu dari kakinya, tak peduli dengan tangan yang telah terluka akibat tergores oleh rantai berduri itu. Kaki Azura juga ikut terluka dan membuat ada banyak darah yang berserakan dan mengelilingi Azura.


"Hentikan ini!" Teriak Azura pada tempat yang Azura sendiri tidak tau apa memiliki jalan keluar atau tidak.


Rantai berhasil terbuka. Darah yang mengelilingi Azura masih belum kering dan bercampur dengan keringatnya yang tumpah sedikit demi sedikit. Azura berdiri tepat di tengah-tengah darah yang mengelilinginya. Suara tadi tiba-tiba menghilang dan membuat keheningan yang cukup aneh.


"Selamatkan kami, jangan tinggalkan kami!" Kata itu terulang beberapa kali.


Azura melihat kebawah dan mendapati sejumlah tangan yang muncul dari genangan darah itu. Secara paksa Azura di tarik ke dalamnya tanpa bisa melakukan apapun hingga masuk sepenuhnya dalam genangan darah itu. Penglihatan Azura menjadinhitam, dia hanya bisa merasakan ada sesuatu yang menahan tubuhnya, bernafas saja Azura sangat kesulitan untuk Azura.


Dalam kegelapan Azura mendengar suara bisikan di telinganya. Tak ada yang bisa Azura lakukan, ia sama sekali tak melihat apapun. Ia hanya bisa duduk dengan kedua kaki yang di tahan oleh sesuatu yang berat.


"Kau lelah?" Bisik seseorang di telinga Azura.


"Aku bisa menghentikan penderitaanmu, apa kau mau?" Bisiknya lagi.


"Kau hanya perlu memberikan jiwamu yang murni ini padaku sebagai bayarannya," Suara itu seakan menghipnotis Azura untuk menurutinya.


"Apa hal ini bisa di percaya? Aku sangat lelah," Ujar Azura dengan suara kecil.


"Ya, percayalah padaku. Kau akan istirahat setelah ini," Bisikan itu seolah terasa benar di kepala Azura.


"Ayo raih tanganku ini," Sebuah tangan muncul di depan Azura.


Darel tersenyum simpul saat Azura berniat memberikan jiwanya. Sejak tadi Darel sudah mengikuti Azura dalam dunia ilusi ini, karena dia memiliki kesadaran maka hal itu membuatnya leluasa mengikuti ilusi yang di buat untuk Azura. Orang yang menabrak Azura adalah Darel, ia sengaja melakukan hal itu agar kesadaran Azura benar-benar hilang dan tenggelam dalam dunia ilusi ini.


"Sepertinya aku akan menang," Gumam Darel


Azura mencoba meraihnya dengan tatapan kosong. Jeratan yang ada di kaki dan tangannya lepas, hatinya terasa kosong dan hampa. Ia seperti tak memiliki apapun dan hanya ingin semua penderitanya menghilang sekarang juga.


"Ya, pilihanmu benar."


"Azura! Kau bodoh!"


Ada suara yang terdengar familiar muncul bersamaan dengan cahaya yang menyilaukan. Seseorang dari arah cahaya itu terus memanggilnya, karena merasa Azura akan pergi bayangan itu menghalangi jalan Azura agar pergi ke cahaya itu.


"Dia palsu! Kau harus ikuti denganku!" Ujar bayangan itu.


Azura terdiam ia bingung dengan keadaan ini, tanpa menunggu jawaban dari Azura seseorang muncul dari arah cahaya dan mendorong paksa bayangan itu agar menghilang, sosok yang keluar dari cahaya itu tampak asing namun terasa familiar dengan suaranya.


"Kau siapa?" Tanya Azura.


"Seseorang yang pernah kau tolong," Ujarnya kemudian menarik Azura kearah cahaya itu.


Senyuman kecil Azura ukir di wajahnya, kini ia telah mengenali sosok yang sangat bercahaya itu. Di dunia fana Azura mulai membuka matanya yang terasa sangat berat, Devina yang merasa Azura belum sadar melayangkan tangannya untuk menampar Azura yang ternyata sudah setengah sadar.


Plakk..


Azura langsung membelalakkan matanya merasakan sensasi panas di pipi kanannya. Pria itu duduk, di ikuti dengan Darel yang juga ikut tersadar.


"Auww.. Apa yang kau lakukan? Pipiku terasa bengkak. Berapa kali kau menamparku?" Ujar Azura sambil mengelus pipinya dan Devina hanya mengangkat bahu.


"Bagaimana kau bisa bergerak? Dan kenapa kau juga bisa mengeluarkan dia dari dunia ilusi mental? Harusnya kau masuk dalam lingkaran waktu!" Ujar Mira.


"Itu karena kau, aku mengikuti kau. Tempat yang kau datangi ternyata tidak masuk dalam lingkaran waktu," Ujar Devina.


Awalnya Devina hanya acuh saja dengan lingkaran waktu, tapi setelah Nana menelfonya ia segera mencari Azura yang katanya dalam bahaya. Entah pikiran dari mana Devina yang dulunya tak peduli dengan masalah orang lain malah menolong Azura. Ia berfikir mungkin karena Azura pernah menolongnya jadi dia harus balas budi.


"Bagaimana kau bisa mengeluarkan seseorang yang tenggelam dalam dunia ilusi?" Tanya Darel.


Sebenarnya ia baru pertama kali melihat ada yang bisa mengeluarkan seseorang dari dunia ilusi. Mira hanya satu-satunya yang ia tau bisa mengendalikan dunia ilusi berkat sebuah benda unik yang ada dalam tubuhnya.


"Aku ini dari klan penyihir, mental kami dari kecil sudah sang kuat. Aku memiliki anugerah agar bisa membatalkan segala jenis sihir, tapi sebagai bayaran dari anugerah ini aku mendapatkan kutukan." Devina mengucap hal itu dengan senyuman kecut.


"Terimakasih," Ujar Azura dengan mengulurkan tangannya pada Devina.


"Apa yang kau lakukan? Apa ada yang mengucapkan terimakasih dengan berjabatan tangan? Kau benar-benar bodoh," Ujar Devina.


"Ah, begitu ya? Heheh... Maaf," Ujar Azura sambil tertawa garing dan mengusap telungkupnya.


Devina menatap Azura, sungguh hatinya saat ini sedang berdebar kencang. Azura berdiri dan menghampiri Darel dan Mira yang tampak kelelahan. Membuat lingkaran waktu yang cukup besar tidak mudah bagi Darel, meskipun ia bisa melakukan hal ini kekuatannya tetap sangat terbatas. Mira juga sama lelahnya karena menentang dunia ilusi, kekuatan terkuras habis karena hal itu.


"Kau memang beruntung," Ujar Darel sambil berdiri.


Mira yang merasa tak berguna menyerang Azura dengan sihirnya hingga beberapa pisau meluncur kearah Azura dan Devina. Azura membelalakkan mata melihat beberapa pisau menunju kearahnya. Pria itu menarik Devina dalam pelukannya untuk melindungi gadis itu dari pisau. Kekuatan Azura sudah habis, ia sudah tidak bisa melakukan apapun. Ia hanya bisa memejamkan matanya sambil memeluk erat Devina.


"Tuan, kau baik-baik saja?" Ujar Kiki setelah menangkis semua pedang tadi untuk Azura.


Azura masih belum sadar, pria itu masih tetap memeluk Devina dengan sangat erat. Devina sadar dan mendorong Azura agar menjauh darinya. Gadis itu berbalik dan memunggungi Azura yang terjatuh, Devina yakin kini wajahnya sudah sangat merah dan ia tidak ingin ada yang melihat wajahnya saat ini terutama Azura. Mira membawa Darel pergi dari sana setelah tau ada bantuan yang datang.


"Yakk, Azura!"Teriak Nana dengan wajah marahnya.


Satu pukul mendarat di kepala Azura yang bersumber dari Nana. Azura yang masih terduduk melihat Nana yang sedikit tinggi dari sedang sangat marah padanya. Nana menarik telinga Azura dengan kerasa yang membuat pemiliknya kesakitan.


"Auww.. Apa salahku Nana?" Ujar Azura.


"Kau salah! Kau punya banyak kesalahan!" Ujar Nana.


"Yaa, baiklah aku salah. Aku akan membelikan kau sup ikan yang paling enak sebagai permintaan maaf," Ujar Azura.


"Ehmmm.. Huh.. baiklah. Karena sup ikan tidak boleh di tolak maka aku akan memaafkan kau," Ujar Nana.


Devina berdiri kemudian pergi begitu saja. Sebelum pergi Devina melemparkan Azura sebuah botol berisi obat.


"Minum itu, jiwamu akan pulih setelah meminumnya."


"Ada apa dengan dia? Apa aku juga harus mentraktirnya sup ikan?" Ujar Azura sambil melihat punggung Devina yang semakin menjauh.


"Kau benar-benar tidak tau apa-apa tentang wanita ya?" Ujar Levi yang berdiri di dekat Nana.


...TBC...


Hai semuanya semoga suka dengan chapter ini😊 Jangan lupa like, rate, vote dan coment ya. Sampai jumpa di episode selanjutnya 🥰


Salam manis,


Tirfa_ledina.