
Hai semuanya 👋, sebelum baca yuk dukung author dengan like, rate, vote dan coment ya 🙏
Salam manis,
Tirfa_ledina.
...Happy reading 😘...
"Hmm.. Ada yang aneh," Ujar Azura.
Setelah melakukan perjodohannya dengan Devina, ia memilih kembali untuk menemui neneknya. Masih ada satu minggu sebelum Mora pulang, hal ini yang membuat Azura memilih menunggu. Devina juga ikut dengan Azura, ia harus pulang untuk ujian semester genap. Sudah lima hari Azura tidak masuk sekolah, oleh karena itulah pihak sekolah memberikan sedikit toleransi pada Azura karena prestasinya.
Sejak tadi Azura terus memperhatikan sebuah rumah, ia bisa merasakan samar-samar jejak roh jahat di rumah itu. Azura ingin mengeceknya tapi Nana melarangnya dengan alasan tidak penting. Rumah itu satu blok dengan rumah Azura hal itulah yang membuat Azura seringkali merasakan ke anehan dari rumah itu.
"Ah, terserah." Azura kemudian pergi dari sana dengan membawa satu kantong plastik dari minimarket.
Dari sebuah jendela di rumah itu, terlihat ada seseorang yang memperhatikan Azura yang menjauh. Tatapan tidak suka orang itu tujukan pada Azura. Setelah beberapa saat terdiam, ia lalu menuntup tirai jendela.
...🌱🌱🌱...
Dengan langkah terburu-buru, Azura berusaha menghentikan bus. Ia akhirnya berhasil dan sang supir membiarkan Azura masuk, tatapan kagum dari para penumpang wanita terus menyambut kedatangan Azura. Pria itu hanya bisa bersikap seadanya saja, Azura kemudian duduk di salah satu kursi dalam bus.
"Hai, Azura. Kau ingin aku? Aku yang dulu pernah memberikan kau air," Ujar salah seorang gadis berponi.
"Ah, aku ingat. Terimakasih dengan minumannya dulu," Ujar Azura.
Setelah beberapa saat, bus kembali berhentikan di halte selanjutnya. Gilang yang pagi ini sengaja naik bus menemukan Azura, ia langsung saja menyapanya. Azura hanya tersenyum terpaksa melihat Gilang yang membawa kertas jimat di sekujur tubuhnya. Rasanya malu melihat kelakuanku absurd temannya itu.
"Wow, kau akhirnya ke sekolah lagi. Ada banyak berita yang kau tinggalkan di sekolah," Ujar Gilang yang terlihat bersemangat menceritakan semua berita itu pada Azura.
"Untuk apa kau memakai jimat sebanyak itu?" Tanya Azura.
"Tentu saja agar hantu tidak berani mendekat padaku. Akhir-akhir ini aku selalu merasa merinding tiap di kelas, seperti ada hantu yang berkeliaran di kelas kita. Kau juga harus pakai Azura," Ujar Gilang seraya memasang satu jimat di Kapala Azura.
"Untuk apa kau menempelkan jimat itu di kepalaku?" Ujar Azura seraya melepaskan jimat dari kepalanya.
"Tentu saja mengunci wajahmu agar tidak di lirik hantu. Kau dana aku kan tampan, hantu bisa saja tergoda hehehe," Ujar Gilang dengan kekehannya.
"Berisik!" Ujar salah seorang yang memiliki wajah yang tampak suram dengan mata pandangannya.
Perhatian Gilang dan Azura mengarah pada kursi belakang. Ia terlihat berdecak kesal saat melihat keberadaan Azura, ia lalu berdiri dan keluar saat bus telah sampai di sekolah. Semua siswa juga ikut turun, Gilang terlihat kesal melihat orang tadi.
"Anak itu benar-benar membuat aku kesal setiap hari," Ujar Gilang.
"Aku tidak pernah melihat dia di sekolah," Ujar Azura seraya turun bersama Gilang.
"Ohiya, kau belum tau ya. Dia anak baru yang punya rumor keluarga menyembunyikan roh jahat," Ujar Gilang.
"Dia akhir-akhir ini menjadi sasaran empuk untuk bahan ejek di sekolah. Aku tidak membencinya karena rumor keluarganya, sikapnya itu yang terus saja membuat aku jadi tidak suka," Ujar Gilang.
"Lupakan tentang anak itu, katanya Elin menghilang. Keluarganya saja masih belum menemukan dia sampai saat ini," Ujar Gilang dan membuat Azura terlihat merasa bersalah.
Kerumunan siswa di koridor mengalihkan eksistensi Gilang dan Azura. Keduanya lalu mendekat untuk melihat apa yang sedang terjadi. Gilang menggelengkan kepalanya melihat kejadian di depannya, rasanya sudah puluhan kali Gilang melihat hal ini.
"Pergi dari hadapanku brengsek!!" Ujar Rendy yang merupakan anak baru.
Rendy kali ini sedang membentak seorang gadis yang merupakan senior. Gadis itu menatap bingung pada Rendy, ia bahkan tidak melakukan apapun tapi tiba-tiba saja Rendy membentaknya. Tatapan tidak suka ia berikan pada Rendy.
"Kenapa kau membentakku, sialan? Aku ini seniormu!!" Ujar gadis itu.
"Aku bilang pergi!!!" Lagi-lagi Rendy membentak gadis itu.
"Aku! Aku akan mengadukan kau pada pacarku!! Liat saja," Ujar gadis itu seraya pergi dari sana.
Azura mengerutkan dahinya, ada sesuatu yang membuat dia sedikit kaget. Rendy mengepalkan tangannya bersamaan dengan rahangnya yang mengatup rapat. Kerumunan siswa itu akhirnya bubar saat Rendy telah pergi, Rendy sering kali membentak atau bersikap kasar pada seseorang. Tak ada yang tau kenapa, mereka hanya menganggap Rendy sudah gila.
"Apa dia bisa melihat itu?" Ujar Azura.
"Woi," Ujar Gilang seraya memukul punggung Azura hingga pria itu harus tersentak kaget.
Azura tentu langsung membalas Gilang dengan menendang pantatnya dengan kesal. Gilang hanya bisa meringis kesakitan, sedangkan Azura sudah berjalan kembali. Selama perjalanan Azura bisa merasakan sekolah ini telah di penuhi banyak aura yang kelam. Semakin Azura berjalan mendekati kelasnya, aura yang ada di koridor semakin pekat.
"Kenapa baunya bisa sebusuk ini?" Gumam Azura yang berdiri di ambang pintu.
Azura kemudian duduk di bangkunya, dari balik jendela ia melihat Rendy yang sedang di pukuli. Baru saja Azura ingin menolongnya, tiba-tiba saja sosok hitam melesat lebih dulu dari Azura. Bel berbunyi yang menandakan kelas akan di mulai, Azura sempat mengalihkan pandangannya dari Rendy. Azura kemudian kembali melihat dari balik jendela tapi keberadaan Rendy dan senior itu sudah tidak terlihat lagi.
"Apa yang terjadi? Aku harus menyelidiki ini," Desis Azura.
Pelajaran di mulai, pikiran Azura masih bertumpu pada kejadian tadi. Azura merasa ada keanehan dengan Rendy, baru saja pelajaran di mulai lima belas yang lalu seseorang tiba-tiba membuka pintu hingga menampilkan Rendy dengan pakaian berantakan. Azura mengernyitkan dahi melihat ada bercak darah di pakaian Rendy.
"Rendy? Apa yang terjadi padamu?" Ujar sang guru yang terlihat khawatir.
Rendy tak menjawab, ia langsung masuk dan menghampiri meja Azura dan Gilang. Dengan tatapan tajam Rendy kemudian mendobrak meja hingga para siswa terdiam melihat kejadian itu. Azura menaikkan satu alisnya melihat Rendy yang kesal padanya tanpa alasan.
"Woi, apa yang kau lakukan? Kau punya masalah dengan kami?" Ujar Gilang yang terlihat kesal.
"Kau melihat itu kan?" Ujar Rendy pada Azura dan tak peduli pada Gilang yang sedang memarahinya.
"Apa?" Ujar Azura dan membalas tatapan Rendy dengan senyum sinis.
Rendy lalu menarik kerah baju Azura dengan kesal, sang guru sudah sejak tadi memberikan peringatan pada Rendy tapi masih tak di pedulikan. Azura lalu menepis kasar tangan Rendy, sosok hitam yang ada di sebelah Rendy terlihat bergetar saat mendapatkan sorot mata tajam dari Azura.
"Apa dia kakakmu?" Ujar Azura dan membuat jantung Rendy berhenti tiba-tiba.
"Bagaimana kau bisa tau tentang itu?" Ujar Rendy dengan tatapan curiga pada Azura.