Butterfly System

Butterfly System
Chapter 16 [Elang Suci dan Peri!!]


Dengan keringat yang telah membasahi bajunya, Azura masih sibuk melakukan duel dengan sebuah boneka kayu. Beberapa kali ia terpental mundur dan harus mengunakan pedangnya agar ia tak membentur sesuatu. Raymond menjentikkan jari dan tiba-tiba boneka kayu itu kembali ke bentuk semula.


"Latihan hari ini selesai, saatnya mengumpulkan krital jiwa." Raymond memberikan sebuah benda untuk di jadikan sebagai kalung.


"Kali ini kita akan kemana, guru? Apa ke sarang lebah? Berburu gajah kuno? Atau ke sarang burung pemakan manusia?" Ujar Azura penuh semangat.


Raymond memukul kepala Azura menggunakan tongkatnya. Sudah setengah bulan mereka berlatih dan mencari kristal jiwa. Kini Azura telah berada di level 4 dengan kekuatan tingkat Kaisar.


"Kita akan mencari hewan suci, kita tidak membunuhnya hanya memperhatikan dari jauh saja. Kalung itu berguna agar dia tidak merasakan kehadiran kita," Ujar Raymond.


"Kenapa kita hanya memperhatikan? Kenapa kita tidak menyerangnya seperti kemarin?" Ujar Azura dan sekali lagi mendapatkan pukul oleh tongkat tua Raymond.


"Hewan suci tidak seperti hewan yang kau lawan akhir-akhir ini," Ujar Raymond lalu pergi dan di ikuti oleh Azura dari belakang.


Keduanya sampai di sebuah tempat yang cukup mencekam karena ada aura gelap yang menyelimuti seluruh tempat itu. Azura melihat sekeliling sambil bersembunyi dari balik pohon. Sebuah hewan mirip burung elang ukuran raksasa dengan satu tanduk di kepalanya, terlihat masih tertidur lelap.


Warna bulu merah api membuat elang itu tampak menonjol di tempat itu. Hanya butuh beberapa menit seekor rubah es mendekati elang itu dan mencoba menyerangnya. Dengan sifat licik rubah es Azura sangat tau kebiasaan hewan yang satu ini, sudah beberapa kali Azura masuk dalam perangkap hewan licik ini. Beruntung ia bisa selamat dari semua rencana rubah itu.


"Guru, kenapa elang itu tidak bergerak. Aku pikir hewan suci dapat merasakan bahaya dalam jarak 5 kilometer? Tapi kenapa dia masih tertidur? Rubah es hampir menyerangnya," Gumam Azura sambil masih menonton dengan serius.


"Tunggu dan liat apa yang akan terjadi, perhatian baik-baik." Raymond memilih duduk di dahan pohon untuk memudahkannya menonton elang dan rubah es itu seperti acara tv.


Tubuh Rubah es itu tiba-tiba meledak dan membuat darah berceceran di tempat itu dan bahkan mengenai sayap Elang suci. Azura sangat kaget dengan meledaknya tubuh rubah itu, elang itu tiba-tiba bangun dan memakan kristal jiwa milik rubah es dan kemudian tertidur lagi.


"Bagaimana bisa hal ini terjadi?" Ujar Azura.


"Coba liat tubuh Ela suci itu dengan mata vampirmu," Ujar Raymond.


Azura mengangguk paham dan perlahan matanya telah berganti warna menjadi merah. Pria itu menemukan sebuah keanehan dalam tubuh sang elang, energi miliknya terus bergerak dan berputar di dalam perut dan menggerakkan semua kabut hitam yang menyelimuti tempat itu.


"Kabut hitam ini yang mengacaukan energi milik rubah es tadi," Ujar Azura.


"Betul, ini adalah metode yang harus yang harus kau contoh agar bisa membuat daerah aman milikmu sendiri. Kabut hitam itu adalah energi alam yang dibuat lewat metode pembalik energi. Jika ada mahkluk lain yang masuk dalam daerah aman, tubuhnya akan kehilangan banyak energi akibat kabut hitam yang mengacaukan pusat energinya."


Azura melihat elang itu dengan mulut terbuka dan menyaksikan setiap hewan yang masuk perangkap elang itu dan bahkan kristal yang berceceran di sana sudah sangat banyak.


"Sudah saatnya praktek," Ujar Raymond sambil merenggangkan tubuhnya.


"Kupikir kita tidak akan menyerangnya, kenapa sekarang tiba-tiba ada praktek?" Ujar Azura.


Raymond menendang pantat Azura hingga pria itu harus jatuh dari atas pohon. Azura mengelus pantatnya yang terasa ngilu akibat mendarat dengan pantat yang dulu menyentuh tanah, suara cukup keras itu menarik perhatian sang elang dan mulai menatap Azura dengan tatapan tajam. Aura membunuh mulai mengitari tubuh Azura dan membuat pria itu menelan ludahnya.


"******!" Ujar Azura.


Sebuah bola api mulai menghujani Azura dengan ganas, beruntung pria itu berhasil menghindar. Azura mulai berlari dengan elang suci di belakangnya yang terus meluncurkan bola api dan bulu yang bisa membelah batu. Raymond tiba-tiba muncul di sebelah Azura dan membuat pria itu kesal karena lagi-lagi di tinggal oleh sang guru.


"Kau selama tergantung kecepatan larimu, kau harus membawanya ke pohon peri agar bisa selamat. Aku akan membantumu memungut kristal di sarang elang," Ujar Raymond.


"Guru, jangan tinggalkan aku! Mana ada guru yang meninggalkan muridnya, Yakkkkk apa kau ingin balas dendam karena komikmu yang basah kemarin? Itu sudah satu minggu yang lalu, kenapa masih marah?" Ujar Azura sambil terus berteriak agar gurunya mendengar semua ocehannya.


Azura akhirnya terdiam saat bulu burung yang tajam itu menyayat tangannya hingga mengeluarkan darah. Azura berbalik dan melihat sang elang yang merasa di abaikan dalam pertarungan ini. Pria itu melanjutkan lari nya agar sampai di pohon peri, ia berharap agar segera sampai di sana dengan selamat.


Azura tau pohon peri tentu akan ada yang menjaganya dan tidak akan membiarkan hewan apapun masuk dalam wilayah peri itu. Jika ada yang masuk tentu akan di sambut dengan tidak ramah oleh para peri penjaga di sana. Azura mulai melihat pohon besar yang ia akui adalah pohon peri, Azura sampai di pohon itu dan di hadiahkan pada beracun dari peri disana.


"Apa yang harus aku lakukan?" Ujar Azura sambil melihat ke depan dan belakang yang dua-duanya adalah musuh.


Azura mengeluarkan pedangnya untuk bersiap bertarung. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menyeretnya dengan tidak sopan sambil menarik kakinya untuk bersembunyi. Sang elang langsung melawan semua peri yang meluncurkan panah beracun padanya. Seketika duel terjadi, keduanya sama-sama kuat. Setelah beberapa menit berlalu kini mereka telah di hiasi banyak luka akibat pertarungan ini.


"Diam, kalo tidak kita bisa mati di sini!" Ujar Raymond sambil menonton pertarungan hebat antara hewan suci dan para peri.


Pertarungan akhirnya selesai dengan pemenang nya adalah para peri. Elang suci telah kehabisan energi, kini dia hanya bisa bernafas pelan dan menunggu kematiannya tiba. Walaupun par peri menang mereka juga mendapatkan banyak luka yang lumayan sulit di sembuhkan. Para peri akhirnya pergi dan meninggalkan sang elang dan banyak kristal jiwa di sekelilingnya.


"Sekarang kita yang bersaksi," Ujar Raymond sambil keluar dari tempat persembunyiannya.


Raymond dan Azura mulai memungut setiap kristal disana. Azura sedikit kagum dan kesal dengan taktik milik Raymond yang menjadikan dia sebagai umpan agar para peri menyerang elang itu.


"Guru, liat. Aku mendapat kristal jiwa milik elang itu," Ujar Azura.


"Bagus simpan itu dan tukarkan semua kristal ini," Ujar Raymond sambil mengeluarkan setumpuk kristal jiwa dari dalam kantong penyimpanan.


"Wowwww, banyak sekali kristal nya."


"Jangan banyak bicara, cepat tukar semua ini dan naik ke level 5." Raymond tak menatap Azura yang masih disibukkan oleh kristal jiwa.


Setelah menukar beberapa kristal dan menyisakan sebagai untuk di simpan, Azura segera menghampiri Raymond yang masih sibuk dengan mayat elang. Setelah mengambil dua helai bulu juga cakar milik elang mereka langsung pergi agar saat para peri kembali mereka sudah membawa semua kristal.


"Guru, bukannya ini sama dengan mencuri?" Ujar Azura di sela larinya.


"Lalu? Tidak akan ada polisi yang akan menangkap mu tenang saja," Ujar Raymond.


Azura memilih dia terdiam selam perjalanan. Setelah makan malam Azura membaringkan tubuhnya di atas rumput liar dan menatap langit malam tanpa bintang. Pemandangan di tempat ini mengingat dia pada neneknya yang selalu menceritakan tentang bintang di langit, namun kali ini langit sedang tampil solo.


"Tidak ada bintang," Ujar Raymond dan Azura segera duduk melihat sang guru duduk di sebelahnya.


"Betul, langit jadi terasa kosong."


"Langit mungkin sangat luas dan berada di atas dengan kehormatan tapi ketahuilah dia sangat kesepian tanpa bintang dan bulan," Ujar Raymond.


"Apa guru sedang ada banyak pikiran?" Ujar Azura.


"Ya, sangat banyak itu karna ulahmu. Komik yang kau jatuh ke sungai sudah hancur, padahal itu edisi terbatas." Raymond memasang wajah kesal.


"Yah, guru aku sudah minta maaf. Kejadian itu ketidaksengajaan, lagi pula itu karna guru yang mengagetkan aku. Komiknya jadi jatuh ke sungai deh," Ujar Azura dengan rasa bersalah.


"Jadi kau menyalahkan gurumu karna kesalahanmu?" Ujar Raymond sambil melototi Azura.


"Bukan begitu guru. Baiklah aku akan menggantinya, saat kita kembali ke dunia nyata aku akan membelikan guru banyak komik yang lumayan seru."


"Kau yakin?" Ujar Raymond sambil melihat Azura yang mengangguk-angguk.


Raymond tiba-tiba tertawa keras dan membuat Azura kebingungan melihat sang guru yang terlihat aneh.


"Apa guru sakit?" Ujar Azura.


"Hahahah... Anak ini sudah gila ternyata?" Ujar Raymond sambil memukul punggung Azura dengan sangat keras.


...TBC...


Terimakasih atas bantuannya dalam vote, like, rate dan coment kalian🥰 Mulai hari ini author akan up tiap hari satu episode ya🤗 Terimakasih atas dukungannya😘


Salam manis,


Tirfa_ledina.