Butterfly System

Butterfly System
Chapter 13 [Gua kura-kura]


"Apa ini tempatnya? Jika di liat di peta, gua ini adalah jalan tercepat menuju danau." Azura lalu mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang mungkin bisa memberinya petunjuk.


Azura lalu melihat sebuah lukisan di langit-langit gua. Pria itu memicingkan mata berusaha melihat dengan jelas lukisan di atas sana.


"Apa itu kura-kura? Kenapa gambarnya sedikit aneh." Azura langsung pergi karena lelah memikirkan gambar kura-kura aneh itu.


Azura semakin masuk lebih dalam, sinar matahari hampir menghilang akibat gua yang cukup gelap. Sebuah tanaman bersinar menarik perhatian Azura, pria itu mendekat untuk melihat tanaman merambat itu. Cahaya keemasan menyilaukan mata Azura saat ia menyentuh tanaman itu.


"Eh, ke mana tanaman itu? Ada yang aneh dengan penglihatanku. Semua tiba-tiba terlihat sangat jelas, berbeda dengan tadi." Azura tak menemukan keberadaan tanaman tadi.


"Sudahlah, mungkin itu tadi hanya hayalanku saja. Lebih baik aku segera melanjutkan perjalanan, mana ada tanaman yang bercahaya di dalam gua gelap ini?" Ujar Azura.


Selama perjalanan Azura terus melihat lukisan kura-kura aneh, pria itu kemudian duduk di salah satu batu saat merasa kelelahan. Gua ini terasa lebih panjang dari gambar di peta.


"Hufftt, ini sangat melelahkan. Eh kenapa batunya tiba-tiba bergetar," Ujar Azura dan akhirnya terjatuh saat batu itu berpindah tempat.


Beberapa batu lainnya juga ikut bergetar dan membuat Azura kaget saat semua batu itu adalah kura-kura aneh yang ada dalam lukisan di dinding gua. Azura mundur perlahan saat para kura-kura itu menatap dengan penuh kemarahan. Para kura-kura itu lalu mulai mengejar Azura yang berlari.


"Apa mereka benar kura-kura? Larinya sangat cepat berbeda dengan kura-kura pada umumnya." Semua kura-kura itu terus berusaha mengigit pantat Azura.


"Apa salahku pada kalian? Jangan makan pantatku, bisa-bisa aku tidak akan bisa duduk lagi!!" Ujar Azura sambil menghindari gigitan dari kura-kura itu.


Beraninya kau vampir mencuri tanaman suci suku kura-kura! Kami akan memberikan kau hukum yang berat!


"Siapa yang berbicara?" Ujar Azura saat mendengar seseorang yang berbicara.


Aku adalah pimpinan dari suku kura-kura! Beraninya kau yang seorang vampir mencuri tanaman suci kami!


Azura lalu tak sengaja tersandung yang membuatnya harus tertangkap oleh kura-kura itu. Mereka lalu membawa Azura ke sebuah danau yang bersinar, cahayanya tampak indah dan membuat pria itu mematung sesaat. Azura yang masih terikat melihat sekeliling dan menemukan para kura-kura mulai bersujud.


"Eh, ada apa dengan mereka?" Ujar Azura.


Para kura-kura tadi lalu mengeluarkan sebuah benda dan melemparkannya secara bersama ke dalam danau tadi hingga muncul beberapa ikan hiu besar. Mereka lalu mengangkat Azura dan berniat untuk melemparkanya ke dalam danau penuh hiu itu.


"Yakkk! Apa yang kalian lakukan? Mau apa kalian? Yakkkk." Azura berusaha memberontak dengan kedua kaki dan tangan yang terikat.


"Aku tanya sekali lagi dimana tanaman suci itu?" Ujar seorang kura-kura ukuran cukup kecil tapi memiliki cangkang keemasan.


"Aku tidak mengambil tanaman apapun!" Ujar Azura dengan nada kesal.


"Cih, buang saja vampir bodoh ini!" Ujarnya.


"Astaga! Kenapa hiu-hiu ini begitu besar! Yakk, aku benar-benar tidak mencuri apapun!" Azura terus berteriak dan memberontak.


"Tunggu! Bukannya kalian ingin tanaman itu? Jika kalian membunuhku bagaimana kalian akan mendapatkan kembali tanaman itu, apa itu tidak berharga sama sekali?" Ujar Azura sambil menelan ludahnya melihat hiu-hiu yang kelaparan itu.


"Betul juga," Ujar kura-kura kecil itu kemudian mengambil sesuatu lalu melemparkannya ke dalam danau itu.


Azura menghela nafas lega namun kura-kura itu malah tersenyum licik seolah-olah akan terjadi sesuatu yang buruk pada Azura.


"Lempar dia sekarang!" Ujar kura-kura kecil itu dan berhasil membuat Azura melotot kaget ke arahnya.


"APA?!!"


Tubuh Azura masuk ke dalam danau dan mulai di kelilingi oleh hiu-hiu ganas tadi. Azura berusaha naik ke permukaan namun sialnya salah satu hiu mengigit kakinya dan menariknya kembali ke dalam danau. Sebelah kaki pria itu mulai menendang hiu yang menggigitnya tapi tidak ada yang berubah, kekuatannya seperti tidak berfungsi dalam danau ini.


Azura semakin kehabisan nafas di tambah lagi ia harus bertarung dengan keempat hiu itu untuk tetap hidup. Tanaman merambat muncul dan melilit keempat hiu itu, tubuh hiu itu menghilang tanpa jejak dan sebuah bunga muncul di tanaman merambat itu. Azura menyentuh tanaman itu dan tiba-tiba saja melilit tangannya dan membawanya keluar dari dalam danau.


"Ada apa ini? Kenapa tanaman merambat menolongnya?" Ujar salah satu kura-kura di sana.


Tanaman merambat itu lalu menyentuh dahi Azura dan membuat sebuah ukiran bercahaya muncul. Para kura-kura terlihat gemetar saat melihat ukiran itu, perlahan mereka berlutut dan menyembah Azura. Ukiran di dahi Azura telah menghilang seiring dengan pria itu yang kembali ke daratan.


"Sang penyelamat." Seruan itu terus terulang dan Azura hanya bisa terdiam untuk mencerna kejadian ini.


Azura memasang wajah curiga melihat perubahan sikap kura-kura itu. Mereka terus saja memanggilnya dengan sebutan sang penyelamat. Pria itu mengkhawatirkan ada sesuatu yang akan menimpanya kali ini.


"Ah... sudah hampir malam aku harus pergi," Ujar Azura mundur beberapa langkah.


"Anda ingin pergi kemana? Di ujung gua ini ada lembah iblis, sangat berbahaya jika anda keluar saat malam hari." Azura tetap mundur ia lebih memilih pergi ke sana dari pada harus di sini dan menjadi bahan permainan mereka.


"Tidak perlu khawatir, aku hanya ingin pergi ke danau berlian."


"Danau berlian? Bukannya tadi kau sudah masuk ke dalam danau berlian tadi?" Ujar Ran-ran.


"Apa? Aku tidak pernah masuk ke sana? Melihatnya saja belum pernah," Ujar Azura.


"Danau di belakangmu itu adalah danau berlian," Ujar Ran-ran sambil menunjuk danau di belakang Azura.


"Apa? Tapi di peta tidak begitu."


"Coba balik peta itu dan tiup, sepertinya kau salah membaca peta. Danau di balik tebing ini adalah danau es dan danau di belakangmu itu adalah danau berlian," Ujar Ran-ran sambil duduk bersila di atas tanah.


"Benarkah? Ternyata itu masalahnya, aku jadi harus membaca kalimat yang terbalik ini dengan susah payah tadi. Hufftt," Ujar Azura sambil ikut duduk berhadapan dengan kura-kura itu.


"Tidak perlu sedih karena itu, kau beruntung bertemu kami jika tidak kau mungkin sudah mati kedinginan saat masuk ke kolam es itu." Ran-ran lalu memberikan Azura sebuah ranting pohon.


"Apa ini? Kenapa memberikan aku ranting pohon?" Tanya Azura sambil melihat ranting pohon di tangannya.


"Itu kunci agar kau bisa masuk kedalam danau itu dan ini buku milikmu bukan?" Ujar Ran-ran.


"Terimakasih, baiklah karena aku berhasil sampai di danau berlian. Apa aku boleh berlatih di kolam ini?" Ujar Azura dan langsung mendapatkan anggukkan dari Ran-ran.


...☄☄☄...


"Berlatih dalam danau berlian sangat efektif, aku hanya butuh waktu dua jam sudah mempelajari buku ini. Tenaga dalamku juga mulai meningkat pesat, benar-benar danau berlian." Azura terus memuji danau hingga satu ide untuk mengetes kemampuannya terbesit.


"Apa aku coba saja pada batu itu." Azura lalu mengalirkan tenaga dalamnya dan memusatkannya di kepalan tangannya.


Pria itu bersiap untuk melayangkan pukulan pada batu raksasa itu. Azura sengaja menggunakan tiga puluh persen tenaganya. Batu raksasa dan batu kecil di sekitarnya itu hancur dan menjadi abu. Kini sudah ada setumpuk pasir di sana, Ran-ran tiba-tiba datang saat mendengarkan suara yang cukup keras.


"Maafkan aku, aku tadi hanya ingin mengetes kemampuanku. Tapi malah membuat semua batu itu menjadi abu," Ujar Azura saat melihat Ran-ran yang memasang wajah kaget.


"Bagaimana mungkin kau berada di tingkat Jendral dalam waktu satu jam?! Kau ini benar-benar seorang yang jenius," Ujar Ran-ran.


"Ah? Tingkat Jendral?" Azura terlihat kebingungan.


"Cepat makan ini dan lakukan pertapaan pertamamu," Ujar Ran-ran dan memasukkan dua macam tumbuhan di mulut Azura.


Azura tersedak akibat tanaman yang masuk ke perutnya tanpa dikunyah terlebih dahulu. Pria itu lalu menatap Ran-ran dengan wajah kesal dan sesekali mengumpat.


"Yakk, kau ingin aku mati tersedak ya? Apa yang kau masukkan kedalam mulutku itu, kenapa terasa kecut dan bau." Azura masih merasakan kecut di lidahnya yang bersentuhan dengan daun tanaman tadi.


"Tanaman kentut," Ujar Ran-ran dan membuat Azura hampir muntah.


...TBC...


Hai semuanya, yuk dukung author dengan like, rate, vote dan coment ya😉


Semoga kalian suka dan mendukung cerita ini hingga akhir 🤗😁


Salam manis,


Tirfa_ledina.