Butterfly System

Butterfly System
Chapter 17 [Kembali]


Azura mulai menyerang sebuah sarang para hewan tingkat menengah. Pria itu terus menebas dengan pedangnya, saat ini kekuatannya telah berada di tingkat tetua yang berarti jika melawan hewan suci ada kemungkinan dia bisa menang.


"Aku sudah level lima dan kunci tiga dunia sudah ada di tanganku, guru. Sekarang apa yang harus aku lakukan?" Ujar Azura.


Raymond melirik sekilas dan mulai memejamkan matanya hingga keduanya berpindah tempat ke alam rahasia dimana mereka bertemu. Lantai yang terdiri dari air, langit yang indah, juga tempat yang seolah-olah tidak memiliki ujung masih sama ketika ia pertama kali masuk kesini.


"Kenapa kita kesini guru?" Ujar Azura.


"Lakukan pertapaan keduamu di sini, kau liat benda bulat berwarna yang melayang itu? Serap benda itu! Penyerapannya sama dengan menyerap energi alam," Ujar Raymond.


"Baiklah, guru." Azura mulai duduk dan memusatkan pikirannya ke satu arah untuk menyerap benda bulat itu.


Perlahan semua benda bulat itu bereaksi dengan tenaga dalam milik Azura yang memanggil mereka. Satu persatu semua benda bulat itu bercahaya dan masuk kedalam tubuh Azura. Pria itu batuk-batuk dengan disertai cairan berwarna merah yang keluar dari mulutnya. Sungguh, setiap bola yang masuk kedalam tubuhnya terasa menyakitkan dan seperti di serang berbagai macam bentuk kekuatan.


"Abaikan rasa sakit itu, jangan biarkan kau dimakan oleh benda itu." Raymond duduk bersila sambil menulis sesuatu di atas air.


Satu minggu berlalu dan kini semua bola dalam alam rahasia sudah hampir habis menyatu dalam tubuh Azura. Raymond menghela nafas panjang, sudah satu minggu ia melakukan hal yang sama dan sesekali memperhatikan perkembangan Azura dalam pertapaannya.


"Maaf, aku tidak bisa ikut denganmu. Aku sudah merubah keinginanku dan membuang keegoisanku ini. Awalnya aku ingin keluar dan membuatmu terkurung di tempat ini tapi aku berubah pikiran. Kau anak yang baik. Aku tidak pantas merebut darimu." Raymond tersenyum dengan tubuh yang perlahan terpecah menjadi cahaya dan akhirnya berkumpul menjadi benda bulat yang bersinar di sana.


Satu tetes air mata jatuh dalam air itu. Azura perlahan membuka matanya dan mengedarkan pandangannya saat tak menemukan sang guru di tempat ini. Azura berdiri dan mulai memanggil Raymond namun tak ada respon sama sekali.


"Guru ada dimana? Jangan lakukan teka-teki seperti kemarin, aku benci saat guru menghilang. Keluarlah guru," Ujar Azura sambil berbalik ke kiri dan kanan.


Azura melihat ada sebuah bola yang cukup bersinar di sana. Azura terdiam sesaat dan mulai berjalan, sejak ia membuka matanya hatinya terasa sangat resah. Baru saja Azura berjalan enam langkah gumpalan air tiba-tiba melayang di udara tepat di hadapan Azura. Perlahan gumpalan air itu berpecah dan menampilkan tulisan dengan air disana.


Hai bocah, ini gurumu. Aku tau ketika kau membuka matamu kau tidak akan lagi menemukan aku. Aku sudah lelah jadi aku putuskan untuk istirahat selamanya, jangan menggangguku! Juga jangan menangis, kau ini sudah besar jadi jangan membiarkan orang lain melihat air matamu lagi! Kau ini Pria jadi jangan cengeng!


Aku ada beberapa hadiah untukmu, ambillah sebagai kenang-kenangan dari gurumu ini. Ohiya, sekarang kau sudah jauh lebih kuat dan penuh dengan aura kehidupan. Ingat hati-hatilah dengan para bangsa immortal! Mereka semua berbahaya juga kejam. Jika kau bertemu lord mereka, bersikap sopanlah kepadanya.


Azura menghapus kasar air matanya saat melihat pesan gurunya. Ia lagi-lagi mulai meneteskan air mata saat melihat pesan selanjutnya. Sungguh hatinya sangat sesak, ia tidak ingin ada lagi seseorang yang di ambil darinya.


Saat ini tubuhku sudah menyatu dengan alam rahasia, bola berwarna hijau tua itu adalah aku. Kau bisa mengambil itu dan menukarnya dengan sistem, kurasa itu akan menambah poinmu. Ingat! Kau harus menukarnya! Ini perintah. Selain perintah aku juga punya satu permintaan, jika kau bertemu dengan saudaraku bantu aku memberikan dia satu pukulan.


Katakan padanya maaf karena kejadian itu. Ucapan itu dengan keren, biar dia tau murid saudaranya ini juga sangat keren. Kau bisa kembali dengan kunci tiga dunia itu, pikirkan saja rumahmu maka kunci itu akan membawamu ke tempat yang kau pikirkan itu. Ohiya aku hampir lupa memberitahu nama saudaraku adalah Faron.


Belajarlah yang benar, kau harus hormat pada gadis karna mereka itu mahkluk yang suci dan lemah lembut. Mereka perlu di lindungi bukan di sakiti, aku tidak pintar merakit kata manis jadi pesan terakhir untukmu itu hanya ada tiga yaitu 'Tekat, percaya diri dan yakinlah'


"Itukan ada lima kata guru, benar-benar sangat tidak keren loh. Guru sangat suka baca komik, apa guru pernah pergi ke perpustakaan komik? Disana ada makan yang enak-enakloh." Azura berdiri terdiam sejenak saat air matanya kembali jatuh.


"Kenapa guru meninggalkan aku? Hiks... Aku baru selesai merakit benda ini, tapi kenapa kau malah pergi guru?" Ujar Azura sambil mulai terisak memegang sebuah patung kayu mirip Raymond


"Tadinya aku akan membantumu untuk bisa kembali ke dunia nyata. Tapi kenapa guru malah mengorbankan diri? Kenapa guru?" Ujar Azura.


"Kau bilang kita akan kembali dan menemui saudaramu itu, tapi kenapa kau malah memilih hal ini?"


Azura segera menghapus air matanya dan menyimpan bola hijau itu dalam kantong penyimpanan. Kenangannya dengan Raymond mulai terputar di otaknya, Azura sudah menganggap Raymond sebagai kakeknya sendiri. Meskipun dia selalu bersikap blak-blakan tapi dia tetap seorang yang penyayang dengan hati yang bersih.


"Selamat tinggal, guru." Azura dan perlahan hilang dari tempat itu.


...β˜„β˜„β˜„...


Azura membuka matanya dan menampilkan dua orang anak yang menatapnya dengan raut khawatir. Pria itu merenggangkan tubuhnya saat mereka sedikit kaku, Nana dan Kiki mulai berteriak dan mengoceh serta memarahi Azura yang muncul secara tiba-tiba.


"Kau! Kenapa bisa muncul?! Kau hantu ya?" Ujar Nana dengan wajah kaget.


"Ada apa denganmu tuan? Kau sudah tidak sadar selam tiga hari, tapi anehnya aku dan Nana terus meningkat?!" Ujar Kiki dan Azura hanya tersenyum.


Azura menatap heran dengan ucapan Nana barusan. Amora yang mendengar teriakan Nana segera masuk ke kamar Azura dan menampilkan Nana yang terus memukul dan menjambak rambut Azura. Amora terkekeh saat melihat perkelahian yang sedikit lucu itu.


"Aaauu... Sangat sakit. Kulitku bisa lepas jika kau terus mencubitku, Nana. Lepaskan aku!" Ujar Azura.


"Tidak! Kau yang harusnya duluan melepaskan tanganmu dari pipi mulusku ini! Aaaau... Sakit!" Ujar Nana tak mau kalah.


"Ada apa ini?" Ujar Amora dan Nana segera berlari kearahnya lengkap dengan wajah tertindasnya.


"Nek, liat. Kak Azura cubit pipi Nana! Hiks... Masih sakit nek."


"Cup... Cup... Jangan nangis nanti nenek kasih Azura hukum deh," Ujar Amora dan Nana memeluknya sambil tersenyum kemenangan melihat Azura yang kesal.


"Ohiya, Azura kau kenapa pulang sekarang? Bukannya kau akan pulang saat tugas praktekmu selesai?" Ujar Amora dan Azura sedikit kebingungan.


Azura menatap Nana dan Kiki untuk meminta penjelasan, namun keduanya malah tertunduk dan tak mau menatap Azura. Belum sempat Azura menjawab Nana tiba-tiba menyela pembicara.


"Kak, Azura kan pintar jadi tugas prakteknya cepat jadi. Benarkan kak Azura?" Ujar Kiki.


"Iya nek, kak Azura itu yang paling pintar di sekolah, loh." Nana menambahkan ucapan Kiki dan mendapatkan anggukkan yang cepat oleh Azura.


"Aduh.. Cucuku ternyata sudah pintar, kau belajar dimana? Apa kau les? Biar nenek yang bayar uang lesnya," Ujar Amora.


"Aku nggak les kok nek, aku belajar sendiri." Azura sedikit merasa bersalah pada Amora karena kebodohannya.


"Kau membuat nenek dan orang tuamu bangga nak, kalau begitu kau istirahat dulu. Nanti nenek masakin makan kesukaan kalian bertiga," Ujar Amora sambil melemparkan senyum lalu keluar dari kamar.


Azura menghela nafas lalu kembali duduk di atas kasur. Ia menatap kalung pemberian Raymond dan tersenyum sedih. Nana lalu mendekati beberapa benda yang Azura keluarkan dan seketika ia kaget melihat isi dalam kantong penyimpanan itu.


"Dari mana kau mendapatkan semua benda berharga ini? Kenapa kau tiba-tiba ada di level 5? Apa yang terjadi padamu selama tiga hari ini?" Ujar Nana sambil melemparkan banyak pertanyaan pada Azura.


"Hei tunggu dulu! Pertanyaannya satu satu saja, jadi selam ini aku ada di alam rahasia dan mendapatkan seorang guru disana. Aku bisa naik level atas bimbingannya," Ujar Azura.


"Kiki, coba kau jelaskan apa yang terjadi di sini selama aku pergi." Azura menepuk kasur di sebelahnya agar Kiki duduk di sebelahnya.


"Jadi selama tua pergi, Aku menggantikan tuan. Aku bisa berubah dan meniru siapapun asalkan aku tau sifat mereka, semuanya berjalan lancar tapi tiba-tiba ada kakak jahat yang menantang tuan di sekolah."


"Apa dia Kevin?" Tebak Azura.


"Bukan, namanya Rian. Dia marah karena putus dari pacarnya," Ujar Nana.


"Lalu apa hubungannya dengan dia yang menantang aku?" Ujar Azura kebingungan.


"Itu karena pacarnya menyukaimu," Ujar Nana


"Tidak hanya itu, masih ada banyak pria yang menaruh dendam padamu gara-gara mereka putus dengan pacar mereka."


"Mereka yang pacaran, tapi kenapa aku yang mendapatkan masalah karena mereka putus."


...TBC...


Yuka dukung author lewat vote, like, rate dan coment kalian πŸ₯°. Dukungan kalian sangat author hargai. Semoga kalian suka chapter ini😁 Happy reading guys 😘


Salam manis,


Tirfa_ledina.