
"Lapor, para Alfa pemberontak menyerang gerbang utama kastil tuan," Ujar salah satu Alfa.
"Berapa jumlahnya?" Ujar Alexander.
"Sekitar 20 Alfa," Ujarnya.
"Bodoh, mereka hanya sedikit. Kenapa melaporkan hal sepele ini padaku? Dasar tidak berguna," Ujar Alexander sambil mengeluarkan energinya hingga membuat Alfa itu gemetar.
"Mereka di lengkapi senjata yang kuat dan unik. Kami tidak bisa melawan mereka," Ujarnya lagi.
"Brian! Urus masalah ini dengan cepat! Aku tidak mau ada yang menggangu sang Dewi iblis!" Ujar Alexander.
"Baik, tuan." Brian tersenyum simpul mendapatkan perintah itu.
Brian adalah vampir campur yang sangat menggilai pertarungan berlumuran darah. Ia benar-benar menyukai ketika lawannya sekarang dengan bersimbah darah. Brian melesat pergi dari sana untuk menunju gerbang utama, senyum penuh kegirangan terus terlihat di wajah Brian.
Sesampainya di area tempat pertarungan terjadi, ia menyipitkan matanya untuk melihat sosok Lucas yang merupakan pimpinan dari Alfa pemberontak. Sudah lima tahun berlalu sejak ia dan Lucas bertarung, pertarungan itu cukup sengit dan membuat Brian tersudutkan dalam babak terakhir. Jika saja, Levi yang merupakan anak dari Lord tidak ikut campur dalam pertarungan mungkin Brian telah berhasil membunuh Lucas.
Karena Levi ikut campur dalam pertarungan, Brian harus kalah. Brian tau jika Levi sengaja dan mengatakan bahwa ialah yang kalah dan menyelamatkan Lucas. Hal itu menjadi penghinaan besar bagi Brian selama hidupnya. Dengan sombongnya, Levi membiarkan Lucas menang dan menetapkan dia sebagai Alfa yang kuat padahal dalam pertarungan itu harusnya di menangkan olehnya.
"Bagus karna kau datang Lucas, aku jadi tidak perlu mencarimu untuk membalas luka ini," Ujar Brian seraya menyibakkan poni yang menutupi mata sebelah kirinya dan menampilkan mata yang tertutup dengan bekas goresan yang cukup dalam.
Setelah pertarungannya dengan Lucas, Brian mempunyai bekas luka sayatan di bagian matanya. Luka ini membuat dia kehilangan mata sebelah kirinya ini dan menjadi cacat karena hal itu. Sungguh sejak itu Brian hanya memikirkan bagaimana ia harus membalaskan luka dan penghinaan ini. Bangsa Alfa lebih rendah dari dirinya, hingga kekalahan itu membuat Brian hampir saja di buangan oleh Alexander.
Lucas langsung melawan Lucas tanpa ada aba-aba dan membuat Lucas sedikit terkejut dengan kedatangan Brian. Pertarungan keduanya cukup sengit dan pemenangnya masih belum bisa di tentukan. Brian sudah tidak peduli pada salah satu Alfa bawahnya yang melaporkan kejadian dalam kastil.
"Sial! Aku sedang balas dendam malah ada yang mengganguku!" Ujar Brian.
"Tuanmu sedang memanggil anjing suruhannya, kenapa kau tidak pergi menemuinya Brian." Mendengar ucapan Lucas, emosi Brian mulai tersulut.
Ia mulai menyerang secara membabi-buta. Lucas tersenyum simpul, ia tau jika emosi Brian adalah titik lemahnya. Kemarahannya bisa membuat kewaspadaannya menurun drastis dan membuat Lucas bisa menyerang dengan mudah. Tiba-tiba ada suara peluit yang berbunyi, Lucas tau bunyi peluit itu adalah tanda bahwa Azura dan Darel telah berhasil masuk kedalam kastil. Hal ini berarti ia harus mundur.
"Aku rasa pertarungan ini sampai di sini dulu," Ujar Lucas seraya melepaskan bom asap bersama para Alfa pemberontak.
Lucas segera pergi dari sana bersama dengan Alfa lainnya yang setuju untuk kabur. Brian mencoba mengejar Lucas namun sialannya para Alfa itu telah memasang daerah aman yang tidak bisa ia lewati sama sekali. Brian berdecak kesal melihat Lucas yang berhasil kabur.
"Siapa yang membuat daerah aman seperti ini? Sial!" Dengan kesal Brian pergi menuju kastil untuk menolong Alexander.
Melihat kepergian Brian, Lucas bernafas lega. Ada banyak Alfa yang berhasil mereka selamatkan. Sungguh saat ini, ia benar-benar berterima kasih pada Darel dan Azura untuk bantuannya.
"Untung Azura dan Darel telah masuk. Kalau tidak aku mungkin tidak bisa menahan Brian lebih lama," Ujar Lucas.
Di dalam kastil Darel dan Azura berhasil menyusup dengan lihai, kedua terjun bebas kedalam ruangan dan akhirnya mendarat di atas meja. Orang-orang yang ada dalam ruangan tersebut terkejut.
"Kau!!" Ujar Elena.
"Hai, semuanya." Sapa Darel dengan tersenyum pada Adelion dan Alexander yang duduk dengan wajah terkejut.
Tanpa perlu di perintah Elena dan Rosse langsung melindungi Adelion juga Alexander dari Azura yang menyerang. Azura mundur beberapa langkah, ia tidak ingin memukul wanita bahkan jika mereka adalah musuhnya. Azura terdiam cukup lama dan menatap kosong pada Elena yang menyerangnya.
Belum sempat Elena menyentuh Azura ada sesuatu yang tiba-tiba menyerangnya dan membuat dia harus mundur beberapa langkah. Tak ada yang bisa melihat siapa yang menyerang Elena, orang yang menyerangnya cukup cepat dan lincah dari pada Alfa. Elena yang tidak bisa melihat lawanya harus mendapatkan banyak pukulan.
Serangan Elena sudah tidak stabil lagi dan terkesan hanya berusaha menemukan lawannya lewat tiap pukulan. Asap tiba-tiba muncul dan menutupi pertarungan Elena dan seseorang yang masih misterius. Asap menghilang dan akhirnya menampilkan Elena yang sudah tidak sadarkan diri dalam gelembung. Azura heran melihat seorang gadis yang memiliki ekor dan telinga seperti kucing.
"Bagaimana Azura?" Ujar manusia setengah kucing itu.
"Aku Nana bodoh! Tubuh ini adalah evolusiku. Keren bukan?" Ujar Nana dengan senyuman bangganya.
Azura benar-benar terkejut dengan wujud Nana yang berubah menjadi gadis remaja. Azura tersenyum simpul melihat Nana yang bahagia atas kemenangannya. Selama ini dia ternyata salah karena menempatkan Nana di tempat yang aman, Nana lebih ceria bertarung bersamanya dari pada hanya menunggu hasil.
"Ya, kau sangat keren Nana. Benar-benar seperti kucing yang keren," Ujar Azura dan mendapatkan tatapan tajam dari Nana.
"Awas saja kau Azura! Tunggu pertarungan ini selesai, kau akan aku jadikan kau pisang gepeng!" Ancam Nana.
Rosse tiba-tiba menyerang Nana dengan cambuknya hingga lengannya harus mengeluarkan cairan kentalnya. Nana yang tidak siap dengan serangan terpental jauh, jika saja tak ada Levi yang menangkapnya Nana mungkin sudah membentur dinding dan terjun bebas keluar.
"Kau tidak apa-apa Nana?" Tanya Levi dengan perasaan cemas.
"Ya, tidak perlu khawatir. Luka kecil seperti ini tidak sakit sama sekali," Ujar Nana.
"Jangan senang dulu karena berhasil mengalahkan salah satu dari kami. Kalian salah karena menyerang ke sarang lawanmu! Di sini ada lebih dari sepuluh immortal yang akan melawan kalian," Ujar Rosse dan muncullah beberapa orang yang Azura yakni semuanya adalah immortal.
"Terimakasih karena telah datang ke sini untuk menjadi mayat," Ujar Rosse dengan mata yang kini telah berubah menjadi warna merah darah.
Dalam tiga kali cambukan Rosse berhasil mengeluarkan Elena dari dalam gelembung. Ia lalu memulihkan tubuh Elena kemudian berjalan ke depan untuk memimpin pertarungan. Para immortal itu mulai menyerang Azura dan Darel, di lihat dari pertarungan itu keduanya sedikit kesulitan melawan sepuluh immortal sekaligus.
"Mereka lebih kuat dari yang aku kira," Gumam Darel.
Darel dan Azura terlihat kesulitan dalam pertarungan dan membuat mereka di pandang remeh oleh Adelion. Meskipun Nana dan Kiki telah membantu masih sulit untuk melawan mereka, di tambah lagi kekuatan immortal Azura belum muncul.
"Aku tau, vampir buangan memang sangat lemah." Adelion tersenyum simpul melihat ekspresi kesulitan dari Azura atau Darel.
"Kenapa kau tidak menghentikan waktu?" Ujar Azura seraya menghindari serangan.
"Hal itu tidak mempan kerena energiku tersisa sedikit, aku butuh banyak energi untuk bisa membuatnya. Biarkan aku mengisinya sebentar," Ujar Darel seraya mundur ke belakang.
"Aku serahkan mereka padamu," Ujar Darel kemudian langsung duduk bersila untuk mengumpulkan energi.
Karena merasa kewalahan Azura akhirnya memasang daerah aman untuk melindungi Darel. Ia tidak bisa terus melindungi Darel sementara dia saja kesulitan untuk melawan mereka satu persatu. Berkat daerah aman yang di buat oleh Azura pertarungan itu sedikit demi sedikit berbalik.
"Ada apa dengan daerah ini? Setiap langkahku terasa sangat menyakitkan?" Ujar salah satu immortal itu.
Azura memamerkan sumringahnya, pergerakan para immortal itu mulai lambat dan kekuatannya semakin bertambah karena menyerap energi dari sepuluh immortal sekaligus. Sekarang tubuhnya telah di penuhi oleh energi kuat dari para immortal itu.
"Saatnya menyerang balik," Ujar Azura.
Disisi lain di dalam ruangan, masih belum terlihat gadis berpakaian dress hitam itu akan bangun. Tubuhnya hanya terus terdiam dengan energi yang masuk kedalam tubuhnya. Tiba-tiba saja matanya terbuka dan menampilkan mata ungu terang, entah apa yang mengusiknya hingga terbangun lebih cepat dari yang seharusnya.
"Kau ternyata berguna juga, Elin. Berkat kau, aku terbangun lebih cepat dari perkiraanku, apa kau mau menemui pemuda itu?" Ujarnya.
...TBC...
Hai👋 Yuk dukung author dengan like, rate, vote dan coment 🤗 Kasih tip juga boleh. Sampai jumpa di chapter selanjutnya 😘
Salam manis,
Tirfa_ledina.