Butterfly System

Butterfly System
Chapter 47 [Iruz dan Azura!!]


Sebelum baca, yuk dukung author dengan like, rate, vote dan coment ya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya 😆


Salam manis,


Tirfa_ledina.


...Happy reading 😘...


"Apa alasan kau membunuh kepala keluarga itu?" Ujar Azura seraya menatap dingin pada Darel.


"Dia ayahku," Ujar Darel yang terlihat kesal dengan ucapannya sendiri.


"Dia orang brengsek yang telah membunuh ibuku di depan mataku sendiri juga mengusir aku dari keluarga Hazzel karena aku dulunya sampah," Lanjut Darel seraya mengalihkan wajahnya.


"Aku mengerti, aku akan kembali ke kerajaan Lord." Azura melihat ke arah Darel yang di sebelahnya sudah ada Mira.


"Apa kalian tidak ikut?" Ujar Azura.


"Tidak, aku dan Mira akan pergi ke suatu tempat. Ohhiya, aku yakin kau penasaran kenapa aku bisa memiliki pedang Arwah yang sama sepertimu itu bukan?" Ujar Darel.


"Biar aku beritahu, meniru kemampuan atau senjata seseorang adalah kekuatanku yang sesungguhnya," Lanjut Darel.


Setelah mengucapkan hal itu Darel langsung pergi bersama Mira. Azura terdiam sejenak, ia pikir Darel juga memiliki sistem kupu-kupu sama sepertinya, sebab itulah kenapa ada pedagang arwah mengikutinya. Azura juga melesat pergi dari sana untuk menjemput Kiki, di perjalanan ia melihat sebuah pohon. Azura mendekat, pohon itu seperti sedang menarik untuk mendekat.


"Ada yang aneh dengan pohon ini," Ujar Azura.


Layar monitor tiba-tiba muncul bersamaan dengan kemunculan Nana dalam wujud kucing hitam. Nana langsung mencakar tangan Azura yang berniat menyentuh kepalanya, tatapan garang mulai ia lemparkan pada Azura yang sedang memasang wajah kasihan.


[Jangan coba menyentuh kepalaku, meong]


"Sistem bagaimana kondisi Nana?" Ujar Azura.


[Apa maksudmu bodoh? Aku baik-baik saja, meong]


Nana mengubah wujudnya menjadi anak usia lima tahun. Ia lalu menatap horor pada Azura yang mengalihkan pandangannya ke arah lain, Nana menginjak kaki Azura dengan keras. Baru saja Azura akan menggerutu sebuah akar melilit tubuhnya masuk kedalam batang pohon. Pohon itu menelan habis Azura dan Nana yang berusaha memberontak.


Akar yang melilit Azura dan Nana lepas, tempat yang penuh energi alam menyambut keduanya. Azura mengedarkan pandangannya ke segala arah hingga ia menemukan sosok pria dengan rambut yang sangat panjang yang tertidur. Nana mendekat dan menyentuh pergelangan tangan pria yang tertidur itu, ia tiba-tiba menjauhkan tangannya. Aura yang di miliki orang ini sangat kuat dan mampu menekannya bahkan saat ia tertidur.


"Siapa sebenarnya orang ini? Kenapa dia begitu kuat?" Ujar Nana dengan wajah terkejut saat melihat wajah orang itu sedangkan Azura terdiam sesaat.


"Iruz! Bukankah dia Iruz?!!" Ujar Azura dengan nada tak percaya.


"Iruz? Kau mengenal dia?" Tanya Nana seraya melihat kearah Azura.


"Menjauh sebentar Nana," Perintah Azura.


Nana patuh, wajah Azura terlihat serius saat melihat orang itu. Nana menghela nafas, mata Azura sudah berubah menjadi warna biru pertanda ada kekuatan lain yang sedang menariknya. Detak jantung Azura kian memburu, sebuah pola aneh muncul di bawah kayu yang menjadi tempat orang yang Azura maksud adalah Iruz.


"Ada apa dengan diriku? Kekuatan ini!!!" Ujar Azura yang merasakan kekuatan besar dalam dirinya sedang bangkit.


"Siapa kau?" Ujar Iruz dengan tatapan dingin.


Azura mengangkat wajahnya untuk melihat sumber suara yang menyapu telinganya itu. Tatapan orang di depannya dingin dan sungguh tajam membuat Azura bahkan takut untuk memandang langsung mata Iruz. Melihat mata Azura yang berwana biru, Iruz terlihat mengerutkan dahinya. Sudut bibirnya terangkat melihat Azura yang kelelahan melawan tekanan yang ia berikan.


Nafas Azura sudah tak beraturan lagi, energinya terkuras dengan sangat cepat hanya untuk melawan tekanan ini. Iruz mendekat pada Azura yang berlutut, tangannya terulur untuk menyentuh dahi Azura hingga membuat energi dalam tubuh Azura terasa aneh. Kupu-kupu biru itu juga mengelilingi tangan Iruz yang sedang memberikan sesuatu pada Azura.


Pandangannya Azura mulai kabur dan beberapa detik berikutnya ia sudah tidak sadarkan diri. Nana yang melihat hal itu tetap diam, ia kini terlah mengenali pria rambut panjang itu. Iruz melihat kearah Nana dan tersenyum ramah, Nana tak membalas senyumannya dan malah bersikap dingin.


"Sudah lama ya Nana, kau masih saja seperti kulkas berjalan," Ujar Iruz.


"Kau seperti banci dengan rambut panjangmu. Liat rambut ini memenuhi lantai," Ujar Nana ketus.


"Hahah... Aku kan sudah tertidur sangat lama. Wajar jika rambutku panjang," Ujar Iruz seraya mengangkat bahu.


Nana mengabaikan Iruz, ia lalu berjalan menuju Azura yang tak sadarkan diri setelah mendapatkan pemberkatan dari Iruz sebagai penerusnya. Nana mengenal Iruz karena dia dulu merupakan penanggung jawab Iruz, hanya saja karena Iruz tertidur ia harus mencari seseorang yang bisa menggantikan Iruz.


"Dia anak yang terasa familiar, aku seperti sudah lama mengenalnya." Iruz terlihat menebak-bebak seseorang dalam pikirannya yang terlihat mirip dengan Azura.


"Dia reinkarnasi anakmu bodoh," Ujar Nana santai seraya mengangkat kepala Azura ke pahanya.


"Apa?!" Iruz terlihat tidak percaya dengan ucapan Nana.


Baru saja Iruz akan menyentuh Azura, tiba-tiba tubuhnya perlahan menghilang. Iruz kembali melipat tangannya, Nana menghela nafas melihat Iruz yang terlihat sedih. Sebelum ia benar-benar menghilang, Iruz terlebih dahulu memasang sebuah benda suci berbentuk daun di pergelangan tangan Azura.


"Aku tidak bisa mempertahankan wujud ini," Ujar Iruz.


"Amon mungkin sudah bangkit kembali, Nana tolong jaga dia untukku." Nana mengangguk dengan ucapan Iruz.


"Aku tau, sebaiknya kau masuk kedalam tubuh Azura. Dengan begitu kau akan pulih kembali secara perlahan," Ujar Nana.


"Tidak, aku tidak ingin anakku terluka. Aku akan cari cara lain untuk bisa pulih," Ujar Iruz.


"Untuk saat ini jangan beritahu rahasia tentang ini," Ujar Iruz hingga akhirnya menghilang sepenuhnya.


Nana terdiam sejenak. Setelah Iruz menghilang Azura juga ikut sadar, ia terlihat meringis kesakitan pada kepalanya entah karena apa tubuhnya terasa berat. Azura duduk dan melihat Nana yang terdiam. Beberapa kali Azura memanggil Nana, namun tak ada respon dari pemilik nama tersebut.


"Hoi, Nana!" Ujar Azura seraya menepuk pelan punggung Nana.


"Yaakkk, berani sekali kau memukulku!" Ujar Nana dengan nada kesal.


Nana mengeluarkan palu raksasanya dan memukuli Azura yang tak melakukan perlawanan. Nana terlihat tertawa saat Azura meringis kesakitan, pakaian pria itu bahkan penuh debu yang membuatnya terlihat lucu di mata Nana.


"Oke, Nana aku minta maaf. Berhenti memukuli aku," Ujar Azura.


"Huh, kali ini aku akan melepaskanmu."