Butterfly System

Butterfly System
Chapter 31 [Anak baru berambut silver!!]


Pagi yang cerah menyambut Azura, pria itu langsung duduk saat bunyi jam weker menganggunya. Kejadian kemarin malam masih sangat segar di kepala Azura. Mata Azura sedikit membekak akibat menangis selama tiga puluh menit, untungnya Levi segera membuat penangkal dari bom asap tadi hingga Azura tidak harus mengeluarkan air mata selama satu jam penuh.


Azura merenggangkan tubuhnya untuk membuatnya dirinya sadar, pria itu duduk sebentar sambil menoleh ke kiri dan kanan memeriksa kamarnya yang entah kenapa terasa aneh. Azura berdiri sambil menguap berjalan menunju toilet, baru saja Azura ingin membuka pintu kamar mandi seseorang telah lebih dulu membukanya dengan kasar dan membuat wajah Azura harus bertemu dengan pintu kamar mandi.


Levi yang menjadi pelaku dari pintu yang ia tendang tadi terdiam di ambang pintu. Levi bukan sengaja hanya saja pintu toilet itu tiba-tiba macet dan tidak bisa di buka hingga membuat dia harus menendangnya kuat agar terbuka. Segera Levi menutup kembali pintu toilet itu saat Azura menatapnya kesal, pria itu segera menggedor-gedor pintu agar Levi membukanya.


"Levi buka pintunya! Kau sengaja ya menendang pintu itu!" Ujar Azura dengan nada kesal dan membuat Levi terdiam dan menahan pintu toilet dengan kuat.


"Yakkk... Kau dasar bocah! Cepat buka pintunya!" Ujar Azura masih menggedor-gedor pintu.


"Tidak akan aku buka, liat saja!" Gumam Levi.


Levi mengabaikan setiap ucapan Azura yang terus mengoceh. Levi kebingungan saat tak lagi mendengar suara Azura dan gedoran pintu. Di sisi lain Azura memegangi perutnya, sungguh sekarang ia ada panggilan alam dan harus segera di tuntaskan. Azura meraih gagang pintu yang telah di kunci oleh Levi dari dalam. Pria itu kesal, terus mengancam Levi benar-benar tidak mempan.


"Ah iya, masih ada toilet di dapur." Azura segera meleset pergi menuju dapur.


Baru saja Azura bernafas lega tiba-tiba Nana masuk mendahuluinya ke dalam toilet dan segera menguncinya rapat. Azura mengetuk pintu toilet tapi tak kunjung di buka oleh Nana, ia sudah tidak tahan lagi. Azura kembali ke kamarnya berharap Levi sudah membuka pintu tapi semua pupus saat baru saja Levi keluar tiba-tiba anak itu kembali masuk melihat Azura di ambang pintu kamar.


"Levi, cepat buka!" Ujar Azura.


"Tidak," Ujar Levi.


"Cepat buka, aku sudah tidak tahan lagi! Aku harus ke kamar mandi sekarang!" Ujar Azura.


"Kau sedang ada panggilan alam ya? Hmmm... Baiklah aku akan membuka pintu toilet tapi ada syaratnya kau jangan menghukumku juga traktir aku makan di hotel mewah," Ujar Levi.


'Bocah ini sengaja mengambil kesempatan seperti ini. Kalau bukan karena pintu ini baru di beli dengan susah payah oleh nenek beberapa bulan yang lalu, sudah aku hancurkan pintu ini' Batin Azura.


"Baiklah, cepat buka!" Ujar Azura.


"Oke tapi kau harus bersumpah dulu," Ujar Levi kemudian terkekeh membayangkan wajah kesal Azura saat ini.


"Hufftt... Oke. Aku Azura bersumpah akan mentraktir Levi di restoran paling mewah dan tidak akan memarahinya atau menghukumnya," Ujar Azura dan pintu langsung di buka oleh Levi.


Buru-buru Azura melesat ke dalam kamar mandi dan menuntaskan urusan yang telah tertunda. Azura keluar setelah beberapa menit di toilet, pintu toilet kini telah menampilkan Azura yang telah mandi dengan bertelanjang dada dan rambut basah memakai handuk.


Azura melihat Levi yang sibuk ke sana kemarin memasang banyak alat rakitannya di setiap sudut kamar Azura dan tentunya di tempat yang tersembunyi.


"Apa yang kau lakukan?" Ujar Azura sambil mengerikan rambutnya dengan handuk.


"Tentu saja melindungi kalian dengan alat buatanku," Ujar Levi dan Azura mengangguk paham kemudian mengambil seragam sekolah untuk berangkat ke sekolah.


...☄☄☄...


"Azura kau tau. Katanya akan ada anak baru yang masuk ke dalam kelas kita," Ujar Gilang dengan antusias dan Azura hanya berdehem saja menanggapi setiap ucapan Gilang dan sesekali berbicara sedikit.


Meski sikap Azura dingin dan sombong, Gilang tau hati Azura itu tulus dan tidak punya sedikit kegelapan dan niat memanfaatkan pertemannya seperti orang-orang yang mendekat padanya hanya untuk kekuasaan. Azura melirik keluar jendela dan melihat seseorang berdiri dan langsung menatapnya tajam. Orang itu lalu tersenyum simpul kemudian berjalan pergi dari tempat itu.


"Apa tadi itu?" Desis Azura.


Guru akhirnya masuk dan tentunya bersama seorang murid baru seperti yang Gilang ucapkan tadi. Paras murid baru itu cantik dan anggun hingga berhasil memicu keributan dalam kelas akibat para siswa dalam kelas berebut untuk bertanya pada gadis itu.


"Halo namaku Miyora, panggil aku Mira saja. Senang bertemu dengan kalian," Ujar Mira sambil tersenyum manis.


"Wow, kau cantik sekali. Aku yakin kau akan menjadi bunga sekolah tahun ini," Ujar seorang pria dalam kelas dan membuat anak perempuan meneriakinya kesal.


"Eh, di mana saudaramu itu?" Ujar sang guru saat tak menemukan satu keberadaan siswa baru yang datang bersamanya tadi.


"Aku di sini bu," Ujar seseorang dengan suara beratnya memasuki kelas.


Rambut silver dan paras tampannya yang elegan namun memiliki aura berani dan berwibawa membuat seisi kelas kagum melihat manusia yang satu ini. Azura mengernyitkan dahi, siswa itu adalah orang yang menatapnya tajam di bawah sana tadi. Lagi-lagi Azura bermain dengan otaknya dan mencoba menebak maksud dari orang itu.


"Hai, perkenalkan namaku Darel Felix. Panggil aja Darel," Ujar Darel.


"Wah. Apa itu rambut aslimu, Darel? Sangat keren," Ujar salah satu siswi.


"Ya. Ini adalah rambut asliku," Ujar Darel.


Tanpa ada aba-aba dari guru Darel langsung memilih tempat duduk yang berada di depan Azura. Mira mengikuti Darel dan duduk satu bangku dengan saudaranya itu, siswa yang tempat duduknya di ambil oleh kedua saudara itu hanya bisa pasrah. Tatapan keduanya seolah-olah memberikan perintah untuk mereka agar segera pindah.


Pelajaran di mulai dan baru saja lima menit berlalu seorang membuka pintu dan menampilkan Kevin yang datang terlambat. Sang guru tak berani menegur dan hanya membiarkan Kevin masuk, ya siapa yang berani mengganggu anak konglomerat itu? Dengan kekuasaan yang di miliki oleh keluarganya bahkan mampu menghancurkan hidup seseorang dengan kekuasaan yang mereka miliki.


Azura baru ingat ia sangat jarang bertemu manusia yang di bencinya ini setelah kejadian di toilet itu. Azura pikir dengan sifat Kevin yang keras kepala dan sensitif akan langsung menyerangnya seperti Aron dan Rian. Kevin tampak banyak berubah dia terlihat lebih tenang dari sebelumnya, aura yang di pancarkan juga telah berbeda dia terlihat berwibawa namun sedikit seperti iblis yang menyamar dengan tatapannya.


"Dia tampak aneh," Desis Azura melihat Kevin langsung membuka buku dan memperhatikan pelajaran.


...TBC...


Yuk dukung Author dengan like, rate, vote dan coment ya🥰 sampai jumpa di episode selanjutnya 😊


Salam manis,


Tirfa_ledina.