
"Dulu main di selokan sekarang malah di toilet wanita? Apa kau benar-benar manusia?" Ujar gadis itu yang tak lain adalah Anindira Devina.
"Aku ini manusia. Apa yang kau lakukan di sini?" Ujar Azura.
"Cafe ini milik keluargaku," Ujar Devina.
Pria itu sedikit kaget mendengar ucapan Devina. Azura lalu diam memikirkan cara agar dia bisa pergi dari Devina dengan selamat. Devina lalu mendekat pada Azura, gadis itu melempar sebuah kantong plastik hitam pada Azura.
"Apa ini?" Ujar Azura sambil memegang kantong plastik itu.
"Pakaian. Kau bisa keluar dengan pakaian itu," Ujar Devina lalu pergi.
"Ohiya, kalau begitu terimakasih."
Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian pria. Azura segera pergi dari toilet itu dan menemukan Devina di dalam sebuah mobil mewah. Azura menghampiri gadis itu dan berniat untuk mengucapkan terimakasih atas pertolongannya tadi.
"Terimakasih atas bantuanmu tadi, jika kau membutuhkan bantuanku kau bisa mencari aku. Aku pamit pergi dulu," Ujar Azura sambil membungkuk hormat lalu mulai berlari.
Devina hanya melihat punggung Azura yang semakin menjauh darinya. Sebuah senyuman terukir di wajah manis gadis itu, supir yang melihat perubahan wajah majikan mulai gelagapan dan mengira jika ia melakukan sebuah kesalahan.
"Maafkan aku nona, saya tidak akan melakukannya lagi." Supir mulai keringat dingin.
"Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba meminta maaf padaku?" Ujar Devina.
"Saya benar-benar minta maaf, nona." Ujar supir itu.
"Berhenti meminta maaf dan segera pulang saja!" Perintah Devina.
Sang supir segera menancap gas pergi. Disisi lain Azura sedang terjatuh karena tersandung sesuatu di jalan. Kebiasaan jatuhnya masih saja sama ketika di kehidupan lalunya, pria itu mundur beberapa langkah saat sadar benda yang membuatnya jatuh tadi kini bergerak.
Saat ini jalan sedang sangat ramai. Pria itu sudah tidak peduli dengan rasa malunya itu, ia jauh lebih penasaran dengan benda bulat yang bergerak itu. Seolah-olah sedang berusaha untuk berubah.
"Apa itu?" Ujar Azura sambil melihat sesuatu berbentuk bulat di lantai.
Perlahan benda bulat itu berubah menjadi sebuah naga hitam. Sang naga lalu mendekat pada Azura dan secara tiba-tiba naga itu mengigit leher Azura hingga berbekas. Azura meringis saat merasakan sensasi perih dan panas di lehernya. Perlahan belas gigitan itu berubah menjadi tato naga berwarna hitam.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa mengigitku?" Ujar Azura sambil mengusap lehernya.
"Salam kenal tuan, Azura." Azura kaget saat tau naga itu bisa berbicara.
"Kau, bisa bicara? Tunggu dulu, kenapa ada naga di jalanan?" Ujar Azura.
Azura lalu melirik ke kiri dan kanan, orang-orang yang baru saja lewat hanya memandang Azura dengan tatapan aneh. Beberapa di antara mereka menganggap Azura sudah gila karena berbicara sendiri. Pria itu baru menyadari jika tak ada yang bisa melihat naga di hadapannya ini.
"Pria ini sangat tampan dan tipe idealku, sayang sekali dia gila." Seorang gadis menatap Azura.
"Andaikan ketampanan dia bisa pindah di pacarku mungkin aku akan setia dan tidak selingkuh," Ujar seorang wanita muda.
"Apa aku menolong dia saja? Mungkin saja dia hanya pura-pura seperti di acara TV itu," Ujar seseorang gadis lainnya.
"Kau jangan sembarangan. Kejadian seperti itu hanya ada di acara TV saja," Ujar seorang tante.
"Apa mereka tidak melihat naga di depanku ini?" Gumam Azura.
"Kau melihat aku berarti kau adalah tuanku. Makhluk biasa tidak akan bisa melihat aku," Ujar naga itu.
"Ah, seperti aku sedang mimpi," Ujar Azura dengan tawa kecilnya.
Pria itu mulai menutup matanya berharap ia segera bangun dari mimpi anehnya ini. Azura lalu membuka matanya dan seekor naga dengan ukuran kecil masih setia melayang di hadapanya. Azura kini hanya bisa menghela nafas panjang dan pergi dari sana.
Naga tadi masih mengikuti Azura hingga sampai ke rumah pria itu. Naga itu mulai menelusuri setiap sudut dari rumah tua itu. Azura pergi ke kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Perlahan pria itu mulai masuk ke dalam mimpi.
...☄☄☄...
Angin sejuk masuk dari sela-sela jendela rumah yang tampak lusuh. Seorang pria di atas kasur masih setia memejamkan matanya hingga suara berisik membuatnya harus bangun dari mimpinya.
Perlahan kesadarannya mulai terkumpul, pria itu lalu mengedarkan pandangannya berharap menemukan sumber suara berisik yang membangunkannya. Mata pria itu akhirnya menangkap seekor naga hitam dengan ukuran kecil yang sedang bermain dengan sebuah pensil.
Sebuah kertas mengambil alih perhatian pria itu. Azura dapat menebak isi surat itu, pria itu kemudian makan setelah membaca surat dari neneknya yang sedang pergi bekerja. Azura ingat betul kejadian ini, sebenarnya alasan neneknya selalu pergi bekerja di pagi hari karena paman dan bibinya yang memaksa untuk membayar uang pinjaman yang sudah berbunga.
Dikehidupan lalu Azura, neneknya mengalami serang jantung akibat kelelahan. Azura akhirnya baru tau saat sakit jantung neneknya sudah berada di stadium akhir. Pria itu menyesal karena baru tau akan hal itu, di tambah lagi dengan paman dan bibinya yang tak peduli akan hal ini.
"Aku akan mencari pekerjaan paruh waktu," Ujar Azura sambil duduk.
...☄☄☄...
Azura mulai merenggangkan tubuhnya saat pelajaran sudah berakhir. Pria itu berniat pergi namun segerombolan siswi mulai mengerumuninya, Azura sempat kewalahan membawa banyak hadiah dan surat dari semua siswi.
"Kenapa mereka memberikan aku banyak sekali hadiah? Aku tidak ulang tahun hari ini," Ujar Azura sambil melihat beberapa kota hadiah.
Azura mulai mengambil satu surat yang terlihat sangat menonjol itu. Pria itu tiba-tiba bersin beberapa kali karena bau parfum dari surat itu. Azura lalu meletakan jauh-jauh semua surat saat tau jika semua surat ini terdapat banyak bau parfum yang menyengat.
"Ada apa dengan semua surat ini. Hidungku jadi sangat gatal," Ujar Azura.
Seseorang tiba-tiba menepuk pundak pria itu. Azura berbalik dan melihat seorang gadis manis yang tersenyum padanya. Sebuah pukulan telah berhasil mendarat di kepala pria itu, gadis tadi kembali tersenyum tanpa ada rasa bersalah saat telah memberikan satu pukulan untuk Azura.
"Kenapa kau memukul aku?" Ujar Azura dengan nada kesal.
Elin hanya tersenyum lalu, gadis itu mulai mengintip kado di atas meja Azura. Tanpa rasa malu Elin mulai mengambil kado itu kemudian membukanya. Azura tak menghentikan kegiatan gadis di hadapannya itu, ia lebih penasaran apa yang akan Elin lakukan pada semua hadiah itu.
Elin lalu memasukkan semua hadiah itu ke dalam kantong plastik ukuran besar. Setelah selesai gadis itu mulai menulis sesuatu di buku ukuran kecilnya. Elin lalu menarik dasi Azura hingga ia di paksa mengikuti langkah gadis itu.
"Hei, kenapa kau menarik dasiku?" Ujar Azura.
"Kau harus ikut denganku ke BK," Ujar Elin.
"Tapi, kenapa?" Ujar Azura.
"Kau akan tau nanti," Ujar Elin sambil tersenyum.
"Jangan bilang kau ingin balas dendam karena kejadian di cafe kemarin? Aku benar-benar tidak meninggalkan kau," Ujar Azura.
"Kumohon aku tidak ingin di keluarkan dari sekolah," Ujar Azura dengan nada memohon.
Elin berhenti lalu berbalik menatap Azura yang memasang wajah polosnya. Gadis itu tersenyum lalu kembali menarik Azura pergi dengan lebih kasar.
"Hei, hati-hati kau mencekik aku. Aku bisa mati nanti jika tetap seperti ini," Ujar Azura.
"Potong lima poin," Ujar Elin.
"Hei jangan asal memotong poinku," Ujar Azura.
"Potong lima poin," Ujar Elin.
"Kau! Gadis licik," Ujar Azura
"Potong lima poin," Ujar Elin.
"Eh, kau! Aish kau sangat jahat," Ujar Azura.
'Wanita selalu benar dan laki-laki selalu salah, nasib pria memang malang saat berdebat dengan wanita.'
...TBC...
Mari dukung Author dengan tekan tombol like dan tulis coment kalian juga, ya😚
Like dan coment gratis kok🤗
Salam manis,
Tirfa_ledina.