Butterfly System

Butterfly System
Chapter 52 [Hadiah dari Hantu!!]


Yuk budayakan like, rate, vote dan coment sebelum baca ya😉 Sampai jumpa di episode selanjutnya 🥰


Salam manis,


Tirfa_ledina.


...Happy reading 😘...


"Jadi kenapa kau mencari aku? Bukankah aku sudah membantu istrimu itu?" Ujar Azura.


Hantu itu mendekat pada Azura, ia memperbaiki terlebih dahulu wajahnya yang hancur agar bisa berbicara dengan baik. Kiki berjongkok menunggu Azura selesai berbicara dengan hantu itu.


"Jadi kau datang untuk berterimakasih?" Hantu itu mengangguk dengan ucapan Azura.


"Aku akan pergi, aku akan memberikan hadiah juga sebagai rasa terimakasih. Kau punya pedang arwah dan aura yang kau miliki juga sangat kuat. Aku percayakan benda pusaka ini padamu," Ujar hantu itu sebelum akhirnya ia hilang bersama cahaya yang cukup menyilaukan mata itu.


Azura memejamkan matanya saat cahaya itu menyulitkan dia untuk melihat. Setelah membuka matanya, ia sudah tak menemukan keberadaan hantu itu. Pria itu menoleh ke kiri dan kanan melihat sekeliling, ada sesuatu yang panas menjalar di pergelangan tangan Azura.


"Apa ini?" Ujar Azura saat melihat di tangannya muncul gelang aneh.


Kiki berdiri dan menghampiri Azura, melihat gelang di tangan Azura. Kiki tubuh Kiki terasa aneh, tanpa sadar api keluar begitu saja dari tangan Kiki. Api itu langsung membumbung tinggi ke atas langit dan tiba-tiba saja meledak. Beruntung jalanan saat ini sepi, suara ledakan besar tadi tentu mengundang perhatian beberapa warga yang rumahnya tak jauh dari tempat itu.


"Kiki kau ini kenapa? Kenapa kau melakukan hal itu?" Tanya Azura.


"Aku tidak tau tuan, api milikku tiba-tiba saja keluar tanpa ijin dariku. Ada yang aneh dengan jantungku," Ujar Kiki seraya meletakkan telapak tangan di dada untuk merasakan detak jantungnya.


"Baiklah, ledakan tadi mengundang banyak orang. Sebaiknya kita pergi dulu," Ujar Azura tapi Kiki malah terdiam.


Nafas Kiki tiba-tiba memburu, ada uap panas keluar dari mulut Kiki. Rasanya ia akan mengeluarkan apinya lagi, perlahan muncul ekor naga di tubuh Kiki. Sayap juga ikut muncul di saat yang bersamaan, hanya butuh beberapa detik kemudian Kiki telah berubah sepenuhnya z menjadi naga ukuran kecil. Azura melotot, ia segera memasukkan Kiki dalam jaketnya saat dirasa ada seseorang yang berjalan kearahnya.


"Nak kau tidak apa-apa? Aku tadi mendengar suara ledakan. Apa disini terjadi seseorang?" Ujar seorang yang berpakaian satpam.


"Ah, tidak apa-apa paman. Aku dari tadi di sini. Aku tidak mendengar ada ledakan apapun," Ujar Azura seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa aku tidak sedang menghayal? Baiklah, kau cepatlah pulang. Sudah malam, jangan terlalu lama di tempat yang sepi," Ujarnya kemudian pergi hingga Azura bisa bernafas lega.


Azura menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada seseorang lagi yang datang di tepat itu. Azura mengeluarkan Kiki dari jaketnya, naga kecil itu terlihat menatapnya dengan penuh tanda tanya dan tak bersalah. Azura memijat pelipisnya seraya menghela nafas, Kiki kehilangan kendali dengan kekuatannya sendiri.


Azura menyentuh kepala Kiki yang sedang terbang sejajar dengan kepalanya. Gelembung berwarna biru muncul dan memerangkap naga kecil itu, benda itu berasal dari energi dalam tubuh Azura yang telah di manipulasi. Azura mengernyitkan dahi melihat gelembung itu, teknik asing ini sama sekali belum pernah ia coba.


"Tunggu kenapa aku bisa tau cara ini ampuh untuk mengontrol kekuatan yang meledak?" Azura bermolong sendiri pada dirinya.


"Sudahlah, setidaknya cara ini berhasil. Akan jadi masalah kalo tetap membiarkan Kiki berkeliaran dengan kekuatan yang tidak terkontrol," Ujar Azura kemudian melangkah pergi dari sana.


Kiki terbang mengikuti Azura, ia sesekali menjilati gelembung itu dengan penasaran. Kakinya yang memiliki cakar tajam juga ekor tak tinggal diam untuk mengetes gelambung akan meletus atau tidak. Kiki yang bersemangat itu terbang lebih dulu mendahului Azura, melihat Kiki yang bermain dengan gelengan itu Azura hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Ponsel Azura berdiri di perjalanan, ia melihat layar benda persegi panjang itu yang sedang menampilkan nama Nana. Azura menekan tombol merah, ia yakin jika mengangkatnya gedang telinganya akan langsung pecah. Baru saja Azura akan menaruh ponselnya, benda itu kembali berdering. Azura kembali menekan tombol merah, benda itu lagi-lagi berdiri.


"Dasar kucing keras kepala. Selalu


"YAAAAAAAAAAA... KENAPA KAU SANGAT LAMA, HAH??!!!!" Teriak Nana dalam telpon.


"CEPATLAH!! ATAU AKU JADIKAN KAU DAGING CINCANG!!" Teriak Nana dan setelah itu sambung terputus.


Azura langsung melesat pergi, ia baru ingat kata Nana yang mengatakan Devina ada di rumahnya. Tanpa Azura sadari ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan. Ia tersenyum penuh makna melihat kepergian Azura.


"Wahh, dia tidak menyadari aku? Padahal Elin sangat berharap kau menyadari keberadaannya," Ujar Rusi yang sedang duduk di atas gedung.


Sayap hitam muncul di belakang punggung Rusi, ia kemudian terbang. Ia pergi dari tempat itu dan meninggalkan bulu hitam yang sangat jelas berjatuhan karena sinar bulan yang cukup terang malam ini. Beberapa menit terbang, Rusi langsung mendarat di sebuah masion mewah.


"Kau akhirnya kembali, apa kekuatanmu telah kembali?" Ujar Valen yang bersandar pada pintu masuk.


"Ya, tapi aku butuh beberapa benda agar bisa mengatasi kutukanku ini," Ujar Rusi.


"Tidak masalah. Kau bisa mengatakan padaku semua benda itu," Ujar Valen.


"Tidak perlu, aku sudah mendapatkan setengah dari beberapa benda yang aku butuhkan." Valen hanya mengangkat bahu mendengarkan penuturan Rusi, ia lalu masuk kedalam masion itu dan kemudian di ekori oleha Rusi dari belakang.


"Ohiya, aku akan ke sekolah vampir itu. Aku akan menemui seorang teman disana, kau ikut?" Ujar Valen.


"Terserah, aku ikut rencanamu saja." Rusi berlalu begitu saja tanpa peduli pada Valen.


Valen terdiam, pria itu tau jika dalam Elin masih hidup dan berbagai tubuh dengan Rusi. Tanpa Rusi sadari, Elin bisa saja mengambil sedikit kesadaran Rusi. Elin maupun Rusi tidak bisa di lepaskan satu sama lain, jiwa mereka sudah menyatuh sepenuhnya namun dengan kesadaran yang berbeda.


"Harusnya aku melenyapkan kesadaran Elin dari dulu. Sekarang sudah terlambat untuk melakukan hal itu," Gumam Valen.


...🌱🌱🌱...


Pagi hari yang sejuk menyambut Azura, kemarin Amora neneknya baru saja pulang dan membawa album foto. Devina yang datang bersamaan dengan Amora tampak akrab walaupun baru pertama kali bertemu. Azura menghela nafas mengingat ucapan Devina.


"Kenapa pagi-pagi sudah koridor sangat ramai?" Ujar Azura yang melihat kerumunan siswa yang menghalangi jalan.


"Devina benar-benar jahat sekali. Elin yang sudah menghilang beberapa hari malah di perlukan sang buruk," Ujar salah seorang siswa yang melewati Azura.


"Betul, dia gadis yang jahat sekali. Melihat tatapannya tadi saja membuat aku merinding," Ujar siswa lainnya.


"Devina?! Elin?! Apa yang terjadi?" Azura bermolong sendiri.


"Wahh, Azura. Kau kenapa diam di situ?" Ujar salah seorang gadis yang menghampiri Azura.


"Ah, tidak apa-apa. Ngomong-ngomong apa yang terjadi di sana?" Tanya Azura.


"Ohh, di sana Devina sedang mencari masalah dengan Elin. Aku rasa dia punya dendam sebaiknya kau-" Belum sempat gadis itu menyelesaikan ucapannya Azura sudah berjalan melaluinya begitu saja.


Azura sungguh penasaran, apa benar Elin sudah kembali? Apa benar Elin yang di sana benar-benar Elin yang ia kenal atau orang lain. Ada banyak pertanyaan di kepala Azura, ia terus melangkah maju dan menyelip diantara para siswa.