Butterfly System

Butterfly System
Chapter 59 [Raja!?]


"Yaaakkkk... Bodoh! Kenapa kau menggunakan api biru yang berharga itu untuk memasak mie!" Ujar Nana seraya memukul dan menjambak Azura.


"Ahkk.. Maaf Nana. Aku salah, berhenti menarik rambutku!!" Ujar Azura.


"Huh.. Harusnya aku tidak kembali pada bocah bodoh sepertimu. Sekarang aku jadi menyesal," Cicit Nana seraya bersedekap dan memalingkan wajahnya dari Azura.


Nana sedikit melirik Azura yang ternyata mendapat luka cakaran di pipinya. Nana berdecak kesal melihat tatapan polos Azura padanya. Rasanya ingin sekali Nana mencakar Azura untuk kedua kalinya. Luka dari bekas cakaran di pipi Azura sembuh dengan sendirinya.


Bagi Azura sang vampir murni yang mendapat berkat dari raja vampir terdahulu yaitu Iruz, ayah kandungnya sendiri. Luka kecil akan langsung sembuh dengan sendirinya, itu adalah bukti bawah keberadaan Azura telah di akui oleh bangsa vampir. Cukup lama Nana terdiam mematung saat melihat hal tersebut, ada sesuatu yang terlintas di pikirannya saat itu.


"Tanda itu sepertinya akan muncul!" Desis Nana seraya menyikap kaos abu-abu Azura ke atas.


"Yaakk.. Nana. Apa yang kau lakukan?" Ujar Azura yang menutup kembali perut six pack nya.


"Nana, apa kau mencari tanda pemberkatan?" Ujar Kiki.


"Iya," Jawab Nana.


"Tanda itu ada padaku. Mungkin karena sebagian jiwa tuan ada padaku, makanya tanda itu malah ada padaku," Jelas Kiki yang memperlihatkan sebuah tanda berbentuk sayap kupu-kupu yang dulu pernah menjadi lambang dari bangsa vampir.


Cukup lama Nana memandangi dengan teliti tanda itu hingga ia tersentak kaget akan aura murni yang di pancarkan oleh tanda itu. Azura menahan bahu Nana yang hampir saja terjatuh ke belakang karena terkejut.


"Kau tidak apa-apa Nana?" Ujar Azura.


"Cepat ikut aku! Tanda itu sudah muncul!" Ujar Nana seraya menarik tangan Azura.


"Sistem kirim kami sekarang!!" Ujar Nana hingga cahaya yang amat terang menelan ketiganya.


Azura membuat matanya dan langsung di suguhi pemandangan hutan di malam hari.


Setelah Azura di paksa duduk, Nana kemudian mengakses sistem sebagai admin untuk Azura. Ia menggeser laman penukaran poin dan membeli beberapa benda dari sana. Kiki dan Azura hanya diam dan tak mengusik Nana yang tampak sangat sibuk sendiri itu.


"Minum ini Azura, kau juga Kiki. Ambillah," Ujar Nana yang menyodorkan sebuah benda berisi air berwarna hitam pekat itu pada Azura dan Kiki.


"Apa yang kalian tunggu? Ayo minum atau mau paluku ini!!" Ancam Nana dan keduanya langsung meneguk habis minum aneh itu.


"Sebenarnya apa ini Nana? Rasanya sangat pahit dan busuk," Ujar Azura.


"Jangan banyak tanya. Sekarang aturlah energi murni dalam tubuhmu agar alirannya berpusat di jantungmu!! Kiki kau juga lakukan hal yang sama," Perintah Nana.


Sesuai instruksi Nana. Azura dan Kiki mulai mengalirkan energi murni mereka masing-masing ke jantung, tanda sayap kupu-kupu di tangan Kiki bersinar cukup terang. Nana sedikit gemetar karena energi besar di hadapannya seolah-olah akan menelannya jika berani menyentuh energi itu.


"Fokuslah Nana!!" Ujar Nana seraya membuang nafas panjang agar berhenti gemetar.


[Nilai pesona Host bertambah 10%... 30%... 45%..]


Layar monitor di terus menampilkan kenaikan dari persentase nilai pesona Azura. Energi dalam tubuh Azura mulai membumbung tinggi ke atas langit dan menampilkan cahaya biru yang begitu bersinar. Cahaya itu menarik banyak sekali perhatian orang-orang karena cahayanya yang begitu terang, banyak yang telah mengabdi fenomena itu.


"Wahhh... Apa itu? Cantik sekali.. Rasanya aku pernah melihat ini di salah satu film," Komentar seseorang.


"Raja Vampir?!" Ujar seseorang dengan bola mata hijau yang tampak bersinar dalam kegelapan.


"Tahan sebentar lagi Azura. Kau harus menjadi raja Vampir agar bisa melawan Demon!" Ujar Nana.


Sebua cahaya berwarna merah dari arah yang berlawanan membuat Nana terkejut. Nana memicingkan matanya pada cahaya merah yang membumbung tinggi ke langit itu. Aura yang di pancarkan cahaya itu membuat Nana semakin cemas. Cahaya itu adalah bukti Demon telah bangkit dan menantang eksistensi Azura yang merupakan keturunan vampir murni.


"Kenapa harus sekarang? Ayo berfikirlah Nana," Ujar Nana.


Nana melihat ke bawah dan di sambut oleh beberapa pasangan mata berwarna merah sedang menyorotinya dengan tajam. Tiga orang yang memakai jubah menarik perhatian Nana. Mereka adalah para makhluk immortal yang berbeda ras dengan Azura.


"Siapa anak itu?" Ujar salah satu dari tiga orang yang memakai jubah hitam.


"Raja kalian," Jawab Nana dengan tegas dan penuh percaya diri.


Orang itu kemudian menengadah, terlihat senyuman remeh terukir di wajahnya. Itu tentu saja aneh, ada hal mencurigakan atas kemunculan ketiga mahluk immortal tersebut. Nana berbalik melihat keadaan Azura yang semakin parah, rasa sakit yang dirasakan Azura bertambah tiga kali lipat akibat eksistensinya yang di tentang oleh Demon.


"Diantara Demon dan Vampir murni siapa yang akan menang?" Ujar anak laki-laki dengan sorot mata merahnya.


"Entahlah, ini masih belum di pastikan!" Ujar seseorang gadis yang perlahan membuka tudung jubahnya hingga menampilkan mata coklat keemasannya.


"Harusnya Lord akan datang," Pemilik mata merah itu menengadah sekali lagi melihat Nana.


"Mungkin Lord akan sedikit terlambat," Ujar seseorang pemilik mata berwarna ungu.


Nana melihat ada banyak peringatan dari sistem karena kondisi Azura yang semakin parah. Nana mengigit bibir bawahnya untuk mencoba berfikir dalam keadaan genting ini. Tiba-tiba saja satu ide terlintas di pikirannya, ia lalu mengusap layar monitor beberapa kali untuk meminta izin pada Sistem.


[Izin di tolak!!]


[Izin di tolak!!]


[Izin di tolak!!]


"Ayolah.. Kumohon.. Beri aku izin!!" Ujar Nana seraya terus saja menekan tombol di layar monitor.


Nana meringis karena perih pada jaringan yang terus terkena setrum listrik. Rasanya jari-jarinya mati rasa akibat kejutan listrik, Error terus terjadi dan menampilkan banyak sekali peringatan dari sistem.


"Nana.. Tenanglah.. Aku akan membantumu," Ujar Levi yang tiba-tiba muncul di sebelah Nana.


"Levi?!!" Nana terkejut namun segera tersadar untuk meminta bantuan Levi.


"Aku butuh bantuanmu Levi!!" Ujar Nana yang menyekat air matanya.


"Iya aku tau. Karena itulah aku sekarang ada di sini," Ujar Levi seraya menepuk pucuk kepala Nana.


"Ada sedikit masalah di kerajaan Lord. Ayah akan sedikit terlambat karena itu," Ujar Levi seraya melangkah menuju tempat Azura.


Di tempat lain Kevin tersenyum miring melihat proses kebangkitan Demon. Ia melihat cahaya biru dengan wajah kesal, Cahaya berwana merah itu menyelimuti tubuh Demon yang tertidur karena segel. Kevin menyadari ada seseorang dengan tekanan cukup kuat yang telah masuk dalam wilayahnya.


"Keluarlah Lord.. Aku sudah sejak tadi menunggumu," Ujar Kevin dengan mata merahnya.


"Berani sekali kau membangkitkan Demon?!!" Ujar Lord dengan tekanannya pada Kevin.