
Sabtu ini Azura sedang giat berlatih untuk membuat daerah aman di dalam kamarnya. Seharian sudah ia habiskan untuk duduk diam di tempat yang sama. Amora bahkan kebingungan melihat tingkah cucunya itu. Malam tiba dengan bulan yang menghiasi langit, cahaya bulan mulai masuk lewat celah-celah jendela dengan gorden yang dibuka.
Cahaya bulan yang lembut mengenai wajah Azura dan membuat pria itu tampak indah dan tampan bak patung dengan cahaya itu. Azura tak terganggu oleh cahaya itu, bahkan ia lebih nyaman berlatih dengan cahaya itu. Beberapa saat Azura akhirnya berhasil membuat daerah amannya sendiri, dengan mata yang masih tertutup pria itu melukis senyuman di wajahnya.
Di sisi lain seorang anak bermantel bulu berlari di tenaga hutan. Sesekali ia melihat kebelakang untuk mencari tiga sosok yang sedang mengejarnya. Dengan deru nafas yang sudah tidak lagi beraturan ia berusaha keluar dari hutan ini menuju kota. Cahaya lampu memberikan dia sedikit harapan untuk bisa selamat.
"Mau kemana kau? Berikan darahmu saja agar kau tidak menjadi sampah sepenuhnya," Ujar Brian dan berdiri tepat di depan anak itu.
Anak itu mengatupkan rahangnya, ia tak tinggal diam untuk di tangkap begitu saja. Dengan bermodalkan sebuah mantra berpindah ia berhasil kabur dan tiba di sebuah gang gelap. Ia menghela nafas merasa berhasil kabur dari kejaran pembunuhnya.
"Sebaiknya aku istirahat sebentar untuk memulihkan tenagaku," Ujar anak itu sambil duduk bersandar pada dinding.
Anak itu tampak marah mengigat kejadian ia hampir di bunuh tadi. Ia adalah anak sang Lord, tapi bawah seperti mereka malah berani membunuhnya. Anak itu juga merutuki kesalahannya yang dengan mudahnya terjebak tipu muslihat keluarga Moca dan Hazzel. Berjam-jam ia sudah di kejar oleh para bawahan itu tapi masih belum ada seseorang dari kerajaan yang mengirim bantuan.
Anak itu mengepalkan tangannya dan mengumpati ayahnya dalam hati. Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya dan membasahi pakaian juga mantel anak itu. Petir dan suara guntur mulai terdengar dan Brian memamerkan seringainya melihat seorang anak di bawah sana. Rosse dan Elena muncul dan berdiri di tepat sebelah Brian kemudian ikut melihat seorang anak yang menggigil di bawah sana.
"Sekarang kau tidak bisa lolos lagi," Ujar Brian dan anak itu segera berjalan keluar namun Rosse dan Elena menghalaunya.
"Apa yang sebenarnya kalian inginkan? Aku hanya sampah, apa untungnya membunuhku? Kalian mengatakan akan membuat aku menjadi kuat tapi itu hanya tipu muslihat kalian yang licik bukan?" Ujar anak itu dengan wajah memerah karena marah.
"Ya, kau memang sampah. Kami tak bohong untuk menjadikan kau kuat, jika kau memberikan darahmu pada kristal dan menjadi bagiannya kau akan menjadi kuat bersama," Ujar Brian.
"Sialan kalian, kau ingin aku menjadi tumbal! Dalam mimpi sekalipun aku tidak akan mau," Ujar anak itu dan setelahnya muncul asap yang cukup banyak hingga memenuhi gang kecil itu
Anak itu berhasil keluar tapi asap sangat cepat hilang karena hujan. Baru saja ia sampai di ujung lorong, Elena dan Rosse sudah melihatnya.
"Sial! Kenapa anak ini punya banyak sekali benda ajaib!" Ujar Rosse.
"Berhenti mengumpat, cepat kejar anak itu!" Ujar Elena kemudian berlari untuk mengejar anak tadi, Rosse dan Brian ikut berlari dan mengekori Elena dari belakang.
Anak tadi terus berlari tanpa arah yang jelas, sungguh ia tidak ingin mati di tangan para bawahan yang rendah seperti mereka. Anak itu melihat sebuah rumah lusuh dengan jendala ruangan yang terbuka, entah kenapa rumah itu tampak mencolok di mata anak itu. Segera ia berlari ke sana untuk masuk kedalam rumah itu.
Elena melihat anak itu yang berlarian ke dalam rumah seseorang. Dengan aura membunuhnya ia mengekori anak itu, baru saja ia ingin menyerang anak Elena itu ambruk saat tiba-tiba aliran energi berantakan dan membuat sesak jantungnya. Tubuhnya terasa di cabik-cabik dari dalam, sensasi sesak ini memberikan ketakutan pada Elena. Kini nafas Elena sudah tidak beraturan lagi akibat melawan kekuatan yang ia tidak tau kenapa tiba-tiba menyerangnya.
"Ada apa denganmu Elena?" Teriak Rosse dan segera menghampiri Elena yang terbaring lemah di sana.
Rosse tiba-tiba berlutut dan merasakan energinya yang mulai berantakan dan mencoba melawan tubuhnya. Rosse dan Elena kini tak bisa bergerak sedikitpun hingga Brian datang dan membawa keduanya pergi dari sana. Di sisi lain, anak itu membuka mantel dan memanjang untuk masuk lewat jendela itu. Baru saja Azura membuka matanya setelah berperan dengan sesuatu yang menerobos kawasannya, pria itu di kejutkan oleh sesuatu yang tiba-tiba muncul di jendelanya.
"Apa itu?" Ujar Azura saat melihat seorang bertubuh kecil di jendelanya. Petir tiba-tiba menyambar dan membuat anak itu tampak menakutkan dengan tatapannya.
Brakkk.
Seseorang langsung menghantam tubuh Azura dan membuat jidat pria itu kesakitan karena membentur kepala seseorang. Azura bangun sambil mengelus jidatnya yang masih berdenyut. Pria itu melihat seorang anak yang sedang terburu-buru memakan makanannya, anak itu mantap tajam Azura dengan wajah belepotannya.
"Kau siapa?" Ujar Azura.
"Jangan menyentuhku makhluk rendah," Ujar anak itu.
Azura sudah kesal saat tangannya di tepis oleh anak yang telah menghantamnya hingga kepalanya benjol juga memakan makanannya seenaknya. Azura kaget saat ada air yang membasahi lantai dan membuat celananya ikut basah. Azura berdiri dan tiba-tiba anak itu melompat padanya hingga Azura sekali lagi harus ambruk.
"Jangan berani kabur kau!" Ujar anak itu sambil memegang kerah baju Azura.
"K-kau, Vampir!!" Ujar anak itu.
"Kau salah satu komplotan dari keluarga Moca dan Hazzel?!" Ujar anak itu sambil menjauh dari Azura.
"Apa maksudmu? Moca? Hazzel? Aku memang vampir tapi aku tidak tau apa yang kau maksud itu?" Ujar Azura sambil duduk kembali.
Azura berdiri untuk menghampiri anak itu, satu buku miliknya mendarat di wajah Azura dan di ikuti beberapa buku lainnya. Pelakunya tidak lain adalah anak itu, ia terus mengambil apa saja yang bisa di lemparkan pada Azura.
"Yaakkkk, kenapa kau malah ingin merusak wajahku yang tampan ini? Aku tidak ada niat jahat, sungguh! Jadi berhenti meleparkan barang-barangku." Anak itu tak peduli dengan ucapan Azura ia masih gencar melempari Azura.
"Azura suara apa itu? Kau belum tidur?" Ujar Amora sambil mengetuk pintu kamar Azura.
"Aku hanya terjatuh dari kasur nek," Ujar Azura sambil memungut kembali barang di lantai.
"Berhenti melemparkan barang dan membuat suara atau kau akan aku tendang keluar dari sini sekarang!" Ancam Azura dan berhasil membuat anak itu diam.
"Nenek mau bicara sebentar, nenek masuk ya." Mendengar ucapan Amora Azura langsung mengangkat anak tadi dan menyembunyikannya di bawah ranjang.
"A-ada apa nek?" Azura sedikit gugup.
Amora melihat sekeliling saat kamar Azura berantakan. Azura gugup saat melihat anak tadi mengeluarkan kepalanya dan mengambil jarum. Anak itu memamerkan sumringahnya pada Azura dan berniat menusuk jarum kaki Amora.
"Kamarmu kenapa bisa berantakan seperti ini?" Ujar Amora.
Azura menggelengkan kepalanya untuk memberikan kode agar anak itu tidak melakukan hal itu. Melihat Azura yang tampak pucat saat ia mengarahkan jarum di kaki neneknya membuat dia semakin tersenyum cerah.
"Berhenti!!" Ujar Azura dengan nada yang di tekankan
Amora yang hendak mengambil kain di laci kamar Azura berhenti dan menatap heran pada cucunya. Azura sadar dan menarik Amora jauh dari kasur.
"Biar aku saja yang membersihkannya, nenek istirahat saja," Ujar Azura sambil membawa neneknya ke pintu kamar.
Setelah Amora pergi Azura langsung mengintip di bawa kasur untuk melihat anak tadi. Anak tadi sudah tidak ada di bawah kasur, kini hanya tinggal bekas dari pakaian basahnya di lantai. Azura mengedarkan pandangannya untuk mencari bocah kecil yang menyebalkan itu.
"Kau mencariku vampir?" Ujar anak tadi yang ternyata telah mengganti pakaian basahnya dengan pakaian kering milik Azura yang kebesaran di tubuhnya.
"Turun dari lemariku!" Ujar Azura.
"Mari buat kesepakatan, biarkan aku tinggal di sini sampai waktu yang aku sendiri yang tau. Jika kau tidak setuju aku akan berteriak sekerasnya dan menuduhmu telah menculikku," Ujar anak itu sambil tersenyum cerah.
...TBC...
Hai para pembaca yang terhormat 👋 Terimakasih telah membaca novel ini. Yuk dukung author dengan like, rate, vote dan coment ya🙏😊
Salam manis,
Tirfa_ledina.