
Sebuah tempat di perbatasan kota. Seorang berjubah hitam sedang memandangi seorang pria yang ia gantung di salah satu dahan pohon, ia segaja mengantung pria itu dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawa.
"Dia mati atau pingsan? Perasaan aku tidak membunuhnya," Ujar pria berjubah itu sambil menyoroti wajah Rian dengan senter.
Rian yang merasa ada sebuah cahaya yang menyoroti matanya membuat ia perlahan tersadar. Baru saja Rian mengedipkan matanya untuk menyesuaikan penglihatannya air es menerpanya secara tiba-tiba. Tubuh Rian yang hanya terbalut kain tipis membuat pria itu menggigil tiap kali angin malam berhembus.
"Ah, akhirnya bangun juga. Aku sangat lama menunggu kau bangun loh," Ujar pria berjubah hitam itu.
"Ka-kau!!" Dengan bibir yang membiru akibat menahan dingin Rian berusaha bersuara.
"Aku tau maksudmu. Jangan berterimakasih," Ujar pria berjubah hitam itu dan Rian berusaha menatapnya sebisa mungkin.
Pria berjubah hitam itu memamerkan sumringahnya dan menggerakkan satu jari hingga muncul ular dengan seluruh tubuh tertanam duri es yang sangat tajam. Pria berjubah itu lalu mengusap kepal sang ular sambil berjalan mendekati Rian yang tampak ketakutan melihat ular es itu.
"Aku sangat bosan malam ini. Mau bermain sebuah pemain hidup dan mati denganku?" Ujar pria berjubah itu.
"Aku mohon lepaskan aku," Ujar Rian dengan nada memohon.
"Permainan ini mudah. Kau hanya perlu menjawab dengan jujur dan aku yang akan memberikan pertanyaan," Ujarnya tanpa peduli dengan permohonan Rian.
"Apa yang kau tau tentang Azura?" Ujarnya.
"Aku mohon aku tidak ingin mati," Ujar Rian.
"Aku tidak meminta jawaban seperti itu!" Ujar pria berjubah itu dan dalam sekejap mata tubuh Rian di lilit oleh sang ular es.
Setiap nafas yang keluar dari mulut ular itu membuat sekujur tubuh Rian membeku dan lemas. Darah mulai keluar saat kuliah tajam mengenai tubuhnya. Rian tak mampu melakukan apapun selain menahan sakit yang menusuk hingga tulangnya. Rian sudah pasrah untuk memberontak ia hanya bisa menunggu kematian bodohnya.
"Benar-benar tak berguna! Kau membuat aku harus menghabiskan tenaga membawa kau kesini," Ujar pria berjubah itu.
"A-aku Mo-mohon, jangan bu-bunuh aku." Nafas Rian sudah sangat pelan.
"Hmm... Aku tidak punya dendam padamu. Kau sudah mendapatkan banyak kesempatan dariku. Sekarang kau sudah tidak berguna, barang yang sudah lama dan rusak tidak perlu di simpan lagi. Bukan?" Ujarnya.
Kini tubuh dan tulangnya sudah di penuhi es dan membuat Rian tampak seperti kaca yang terbuat dari es. Ular tadi mengencangkan lilitannya pada tubuh Rian yang sudah tak bernyawa itu dan dalam sekejap mata tubuh Rian hancur menjadi pecahan-pecahan es.
"Miyora," Ujar pria berjubah itu dan dalam sekejap mata sang ular es itu berubah menjadi seorang wanita cantik berkulit putih halus.
"Ya, tuan. Miyora menjawab tuan," Ujar gadis cantik itu yang ternyata bernama Miyora.
"Besok kita akan bersekolah dan bertemu dengan seseorang," Ujar pria berjubah itu sambil membuka jubahnya hingga menampilkan rambut silver yang di mainkan oleh angin malam yang sejuk.
...☄☄☄...
"Apa yang kau lakukan Levi?" Ujar Kiki saat melihat Levi yang membongkar beberapa pistol.
Di lantai kamar milik Azura kini telah di penuhi banyak sekali alat dan berbagai jenis senjata yang telah Levi beli di pasar ilegal tadi. Azura mengernyitkan dahi saat melihat bagaimana Levi yang lihai membongkar beberapa senjata itu kemudian di rakit ulang.
"Kau mahir dalam membuat senjata?" Tanya Azura saat melihat bagaimana Levi menggunakan energi dalam dirinya untuk menyatukan bagian-bagian dari senjata itu.
"Ya, hanya itu yang aku bisa. Sebagai anak Lord kemampuan itu tidak memiliki nilai," Ujar Levi sambil fokus pada senjata yang dirakitnya.
"Kenapa? Bukannya kemampuan ini sangat unik?" Ujar Azura mengambil salah satu pistol di lantai.
"Mendapatkan anak sepertiku rasanya sangat memalukan untuk ayahku," Lanjut Levi.
Levi menghela nafas kemudian melanjutkan aktivitasnya. Azura melihat perubahan wajah Levi yang terlihat sedih, semua anak tentu ingin menjadi kebanggaan orang tuanya bukannya malah menjadi rasa malu. Azura menepuk kepala Levi lembut.
"Kau terlihat sedih? Tidak perlu di sembunyikan keluarkan saja semua rasa sedihmu itu, tidak akan ada yang melarang. Kau berhak akan hal itu," Ujar Azura dan membuat Levi yang mendengarnya tanpa sadar menitihkan air mata.
"Hikkss... Sihir apa yang kau lakukan padaku? Hikkss... Kenapa air mataku hikkss.. Tidak mau berhenti keluar? Hikkss... Kau hiks... Aku merasa sangat sedih," Ujar Levi sambil terus menangis.
"Kau anak yang kuat," Ujar Azura dan membuat tangisan Levi semakin keras.
"Ya, aku kuat. Aku lebih kuat darimu," Ujar Levi sambil menghapus air matanya.
"Aku itu kuat, jadi kau harus memberikan Nana padaku. Aku bisa melindunginya!" Ujar Levi dan membuat Nana dan Kiki yang baru saja masuk membeku mendengarnya.
Levi baru saja sadar jika Nana masuk kedalam ruangan. Ia terkejut dan malu atas ucapannya, Levi akui jika Nana sangat imut dan lucu hingga membuatnya ingin melindunginya.
"Kau menyukai Nana ya?" Ujar Kiki dan berhasil membuat Levi sekali lagi malu.
"Ak-aku hanya punya kebiasaan untuk melindungi yang imut-imut dan lucu, jangan membuat gosip salah karena hal ini!" Karang Levi asal.
"Terserah kau saja deh, tunggu! Apa ini? Kau ingin meledakkan rumahku?" Ujar Azura sambil menunjuk sebuah benda yang Azura yakini adalah bom waktu.
"Ya.. Yakkkkk, angkanya bergerak!" Ujar Azura panik mengambil benda di sebelah Levi kemudian berniat melemparkannya keluar lewat jendela.
"Hei! Astaga! Kau jangan membuat barang buatanku!" Ujar Levi sambil menahan Azura untuk melemparkan bom rakitannya.
"Kau gila? Ini itu bom! Kau ingin mati? Hah?!" Ujar Azura.
"Dengarkan aku dulu!" Ujar Levi dan Azura berhenti bergerak untuk meleparkan benda itu.
"Itu memang bom. Tapi ledakannya sangat kecil dan bukan kehancuran yang ia perbuat tapi membuat seseorang yang di sekitar akan terus mengeluarkan air mata selama sejam penuh." Jelas Levi.
"Oh jadi begitu, waktunya sudah berjalan. Kapan bom ini akan meledak," Ujar Azura sedikit penasaran dengan bom ini.
"Tenanglah, aku ini anak yang pandai. Bom itu akan meledak saat aku mengucapkan kata ledakan!" Ujar Levi dan tiba-tiba membuat bom yang masih di tangan Azura meledak.
Gas merah mengelilingi wajah Azura. Setelah asap itu menghilang kini wajah Azura dengan rambut yang tengah keatas. Azura batuk beberapa kali saat asap tadi masuk kedalam hidung dan mulutnya. Levi menutup hidung dan tak membiarkan asap merah tadi masuk. Beberapa detik setelahnya Air mata Azura dengan derasnya.
"UPS..." Levi terkekeh melihat mata Azura yang mengeluarkan cairan bening sambil mengeluarkan ingus.
"Yakkkk! Levi! Beraninya kau mempermainkan aku! Dasar anak jahil!" Ujar Azura.
...TBC...
Jangan lupa like, rate, vote dan coment ya🥰 Sampai jumpa di episode selanjutnya.
Salam manis,
Tirfa_ledina.