
Di ruang hampa, sebuah tubuh masih setia tertidur dengan banyak aura keuangan di sekelilingnya. Pria itu dapat merasakan rasa sakit yang luar biasa bahkan saat ia masih setengah sadar. Azura membuka matanya, hal pertama yang menyambutnya adalah rasa sakit dan kegelapan.
Rahang Azura terkatup rapat saat merasakan tulangnya remuk seketika. Jantung Azura semakin lemah seiring dengan dirinya yang kesulitan mendapatkan oksigen. Pria itu menutup perlahan matanya saat dirinya semakin lemah.
Apa aku akan mati lagi?
Kenapa takdir mempermainkan aku? Apa dia hanya ingin aku merasakan sedikit kehangatan agar aku bisa kembali jatuh lagi?
Aku bahkan belum membalaskan dendamku, kenapa takdir hanya membiarkan aku hidup kembali selama 10 hari?
Kenapa? Ini tidak adil, aku harus hidup untuk balas dendam dan melindungi nenek!
Azura meneteskan air mata saat merasakan ia akan di jemput oleh malaikat maut. Ia menyesal dan marah pada takdir aneh ini.
"Maafkan aku nek," Ujar Azura dan menghembuskan nafas terakhirnya.
Sebuah cahaya masuk kedalam tubuh Azura dan membuat asap ungu di sekelilingnya menghilang. Cahaya itu semakin terang dan memenuhi tempat itu.
Azura membuka matanya. Pria itu melihat sekeliling dan menemukan dirinya yang berada di atas air. Tempat ini tidak memiliki ujung tapi terlihat indah dengan warna biru langit dan beberapa benda-benda berwarna yang aneh.
"Tempat apa ini?" Ujar Azura.
"Sepertinya ada seekor semut yang tersesat."
Azura berbalik menemukan sosok yang begitu besar di sana. Pria itu bahkan hampir terjatuh saat melihat tatapan mengintimidasi dari sosok itu, ada tekanan yang begitu besar menghantam tubuh Azura. Tekanan itu semakin besar dan akhirnya membuat pria itu bertekuk berlutut.
"Benar-benar lemah seperti semut. Apa hanya itu kemampuanmu? Sangat lemah."
Azura tak terima dengan hal itu, ia bukan orang yang mudah di tindas. Ia ingin melawan dan tidak menyerah lagi pada takdir memuakkan ini. Dengan sekuat tenaga Azura berusaha berdiri dan membuktikan ia bukan orang lemah. Azura berhasil berdiri namun dengan lutut yang masih sedikit tertekuk, tiba-tiba ia batuk darah akibat melawan tekanan yang begitu kuat itu.
"Aku bukan orang lemah. AKU AKAN MENGUBAH TAKDIR YANG SELALU MEMPERMAINKAN HUDUPKU!!!" Sebuah pedang tiba-tiba muncul di atas Azura dan melawan balik tekanan itu hingga Azura berhasil berdiri tegak.
Sosok raksasa itu mulai tertawa keras. Azura menutup telinganya, suara itu sungguh nyaring dan mungkin saja bisa membuat gendang telinganya pecah. Asap dan cahaya mulai muncul dan menampilkan sosok kakek tua dengan tongkatnya.
"Lumayan, kau punya tekad yang kuat. Tidak sia-sia aku menolongmu tadi," Kakek tadi berjalan menuju Azura.
"Kakek, siapa? Kenapa aku bisa di sini dan bukannya aku telah mati tadi," Ujar Azura.
"Aku adalah penghuni tempat ini. Kau adalah orang ke seratus yang berhasil sampai ke tempat ini. Tapi kau orang pertama yang berhasil melawan tekanan yang aku berikan," Ujar kakek itu dan duduk bersila di bawah sana.
"Kau menghembuskan nafas terakhir tapi jantungmu masih belum sepenuhnya berhenti. Aku mengambil kesempatan itu dan membantu kau agar tidak mati," Ujar Kakek itu.
"Terimakasih telah menolong aku, kek."
"Kau terikat kontrak dengan Butterfly System bukan?" Ujar kakek itu dan berhasil membuat Azura memasang wajah kaget.
"Bagaimana kakek bisa tau?" Ujar Azura.
"Karena aku adalah orang pertama yang terikat oleh Butterfly System."
"Mana mungkin?" Ujar Azura kaget.
"Jangan tidak sopan dengan orang tua," Ujar Kakek itu sambil memukul kepal Azura dengan tongkatnya.
Azura mengusap kepalanya yang terasa ngilu. Pria itu lalu duduk bersila menghadap kakek tadi untuk bertanya lebih banyak. Azura menelan ludahnya saat melihat kakek tadi yang memasang wajah mengintimidasi. Pria itu mulai gugup.
"Aku minta maaf soal yang tadi kek, aku hanya kaget dan tidak bermaksud merendahkan kakek." Azura menunduk dan kakek tadi mulai tertawa sambil mengetuk kepala Azura dengan tongkatnya.
"Anak baik. Sudah jangan memasang wajah seperti anak kecil lagi," Ujar Kakek itu.
"Racun yang ada di tubuhmu terlihat berbeda. Apa kau di serang oleh seorang yang ahli dalam racun?" Ujar Kakek itu.
"Ah, sebelumnya aku bertarung dengan seorang gadis yang memiliki tubuh yang terbuat dari gabungan beberapa hewan." Jelas Azura sambil mengingat kembali kejadian itu.
"Apa dia seorang immortal?" Ujar Kakek itu.
"Sepertinya kau harus lebih berhati-hati lagi."
"Aku tidak punya dendam dengan gadis itu, tapi kenapa dia malah mengincar nyawaku?" Ujar Azura.
"Itu karena mereka mengincar sistem yang kau miliki. Membunuhmu akan memudahkan dia mereka mencuri sistem," Ujar Kakek itu.
"Apa?! Sistem butterfly bisa di curi? Jadi sistem milikku telah di curi, bagaimana ini?" Ujar Azura dengan wajah khawatir.
"Apa kau pemain baru? Sistem milikku dulu juga di curi oleh saudaraku sendiri. Aku menggunakan beberapa teknik untuk membagi sebagai arwahku ke tempat ini," Ujar Kakek itu lalu menghela nafas.
"Sistem milikmu belum bisa di curi, kau masih memiliki arwah yang lengkap sebagai di sini dan sebagai lagi ada di naga milikmu bukan? Itu berarti kau masih bisa menggunakan sistem itu saat kembali ke dunia nyata." Kakek itu lalu berdiri dan menghentikan tongkatnya.
"Jadi bagaimana aku bisa kembali kek?" Ujar Azura ragu.
Kakek itu hanya melirik sejenak Azura, Kini keduanya telah berada di sebuah hutan. Azura terkesima melihat tempat yang sangat indah ini terutama dengan langit berbintang itu. Kakek tadi duduk di atas batu yang cukup besar dan tinggi kemudian melemparkan sebuah buku kuno ke wajah Azura.
"Ada satu cara agar kau bisa kembali ke dunia nyata, kau harus menembus level lima baru bisa keluar dari tempat ini."
"Bagaimana aku bisa naik level jika misi saja tidak ada?" Ujar Azura.
"Bodoh, kau bisa naik level jika kau bisa menemukan beberapa kristal jiwa dan menukarnya dengan sistem."
"Kristal jiwa? Bagaimana mendapatkannya?"
"Itu mudah, aku bisa mengajarimu tapi kau harus menjadi muridku dulu." Kakek itu menatap Azura.
Azura melirik ke kiri dan kanan mencoba mencari jawaban di otaknya. Ia harus kembali tapi apa Kakek ini bisa di percaya, ia bingung. Azura terus berfikir hingga memutuskan sebuah pilihan.
"Baiklah, aku Azka Azura siap menjadi muridmu." Azura membungkuk hormat pada kakek itu.
"Raymond. Ingat nama gurumu," Ujar Kakek tadi yang bernama Raymond.
"Kau kenapa memasang wajah seperti itu?" Raymond melotot pada Azura yang cekikikan.
"Tidak kok guru, nama guru sangat keren."
"Tentu, baiklah pelajaran pertama pergilah ke danau berlian di balik tebing di sana. Pergilah ke sana dan berendam di danau itu selama satu jam penuh," Ujar Raymond sambil menunjuk sebuah tebing curam.
"Baiklah guru, aku akan ke sana." Azura langsung pergi setelah membungkuk hormat pada Raymond.
Beberapa menit kemudian Azura tiba-tiba kembali. Raymond yang tadinya ingin tidur siang di atas batu sambil bermain ponsel harus kembali duduk demi image guru dinginnya.
"Kenapa kau kembali?"
"Anu guru. Aku tidak tau jalan ke sana, di sini apa ada GPS guru?"
"Kau kira ini di mana, hah? Pusat kota ya?! Ini hutan bodoh!"
"Ah, tidak ada ya. Kalo begitu aku cari sendiri saja. Maaf mengganggumu guru," Ujar Azura berniat pergi namun sebuah kertas lagi-lagi mendarat di wajahnya.
"Pakai peta itu saja. Buku yang aku berikan kau pelajari juga saat sampai di danau itu," Ujar Raymond.
"Oke guru."
...TBC...
Halo para readez, maaf aku lambat up😣
Author sedang banyak tugas jadi maaf baru bisa up ya🥺 Jangan lupa like, vote, rate dan coment nya ya😘
Salam manis,
Tirfa_ledina.