Butterfly System

Butterfly System
Chapter 23 [Tujuan?!]


"Ini adalah gedung organisasi kami, semua perlengkapan di sini sangat lengkap. Setiap organisasi akan mendapatkan fasilitas yang lengkap untuk bisa berlatih dan mendapatkan banyak mendali emas untuk sekolah kami," Jelas Elin.


Disebelahnya ada Azura dan seorang pejabat wanita. Azura mulai menjelaskan setiap benda dan peralatan dalam setiap ruang organisasi. Ada beberapa anak-anak organisasi yang masih ada dalam ruangan itu untuk menyelesaikan beberapa hal. Mereka menyapa dengan sopan pejabat wanita itu untuk memberikan kesan yang bagus.


Selam perjalanan Azura dan Elin berganti menjelaskan dan memperkenalkan segala sesuatu yang ada di sekolah ini. Elin dan Azura menghela nafas panjang saat pejabat itu akhirnya pergi saat jam istirahat. Azura membeli minuman dingin dan memberikannya pada Elin. Keduanya meminumnya dalam sekali tegukan, sejak tadi Azura merasakan hal yang aneh di dekat pejabat tadi. Ia merasa sesak dan penuh tekanan saat berada di sekitarnya.


Di sisi lain pejabat tadi masuk kedalam sebuah kastil megah. Di dalam ruangan itu ada sebuah singgasana mewah, pejabat itu berlutut di depan singgasana itu dan perlahan pakaian dan wajahnya berganti. Seorang pria tersenyum di atas singgasana dan sesekali meneguk anggurnya.


"Bagaimana Rosse? Apa kau merasakan sesuatu pada anak itu?" Ujar pria yang berada di atas singgasana.


"Aku tidak melihat anak itu memiliki kekuatan, dia sama seperti manusia biasa. Aku vampir tidak merasakan ada sesuatu yang luar biasa pada diri anak itu," Ujar gadis bernama Rosse dan tiba-tiba pria itu tertawa lepas.


"Kau bahkan tidak bisa mendeteksi kekuatan vampir murni. Ternyata perbedaan vampir murni dan vampir campur memang berbeda," Ujar pria itu.


"Mana mungkin dia vampir murni?!" Ujar Rosse menampilkan gigi taringnya sambil berdiri dan memasang wajah penolakan.


"Kalau kau kuat mana mungkin kau tidak bisa merasakan kekuatan besar itu?" Ujarnya dan melemparkannya gelas anggurnya di depan Rosse.


Seketika Rosse gemetar kekuatan saat pria itu mengeluarkan kekuatannya dan menekan dirinya. Pria itu mengatupkan rahangnya dan menjentikkan jari hingga seorang gadis pakaian mini keluar. Gadis itu berjalan di sebelah Rosse dan berlutut hormat pada pria yang ada di singgasana.


"Bagaimana menurutmu Elena? Kau bisa merasakan kekuatan anak itu?" Ujar pria itu.


"Ya tuan. Aku pernah bertarung dengannya, dia memang memiliki darah vampir murni tapi kekuatannya masih belum bangkit," Ujar Elena sambil mengingat pertarungannya dengan Azura di atas gedung itu.


"Aku memberikan dia racun mematikan yang tidak mungkin sistem kupu-kupu itu bisa menyelamatkannya. Tapi ada yang aneh, kenapa dia bisa kembali hidup lagi? Harusnya sistemnya sudah bisa aku ambil, tolong maafkan ketidak kompetenku." Jelas Elena sambil berlutut hormat pada pria itu.


"Boneka milik Valen baru saja di hancurkan anak itu. Kau cepat tangkap anak itu sebelum dia melakukan hal gila yang membuatnya terbunuh," Ujar pria itu.


"Baik tuan," Ujar Elena dan Rosse bersamaan.


...☄☄☄...


Azura merenggangkan tubuhnya saat pelajaran berakhir dan sudah waktunya untuk pulang. Ia segera meninggalkan bangkunya dan pulang namun Gilang menghentikannya di depan gerbang dan meminta untuk menemaninya membeli gado-gado. Azura jadi teringat jika cincin milik Gilang masih ada padanya, ia berfikir untuk mengembangkannya setelah pulang sekolah.


"Ini cincin milikmu," Ujar Azura sambil menyodorkan cincin milik Gilang.


"Hah? Dari mana kau mendapatkan ini? Aku sudah mencarinya keseluruhan tempat, kupikir cincin ini sudah hilang. Syukurlah," Ujar Gilang lega.


"Ah... Itu aku melihatnya jatuh dari tasmu kemarin, aku baru saja ingin mengembalikannya tapi kau sudah pergi." Bohong Azura.


"Sudahlah, itukan sudah lewat. Cepat sekarang kau pulang," Ujar Azura.


"Tapi, aku mau beli gado-gado." Gilang berusaha menghentikan Azura yang mendorongnya masuk kedalam mobil.


"Pak jalan! Sampai jumpa semoga kau selama sampai tujuan. Beli gado-gadonya nanti saja," Ujar Azura sambil melambaikan tangannya melihat mobil Gilang yang telah melaju pergi.


Azura berjalan sambil bersenandung ria, pulang sekolah merupakan kesukaan Azura sebab dia bisa makan dan jajan sepuasnya. Azura masuk kedalam sebuah kedai mie. Setalah membelikan Kiki dan Nana mie, ia segera pergi. Di perjalanan seseorang tiba-tiba menghadangnya dengan wajah kesal seakan-akan ingin membunuh Azura lewat tatapan tajamnya itu. Pria itu melancarkan serangannya pada Azura dan dengan sigap ia menghindari dan berlari ke tempat yang lebih sepi.


"Kau bodoh! Malah berlari ke tempat sepi, kau tidak akan hidup. Matilah," Ujar pria itu.


Azura menangkis serang petir orang itu dengan pedangnya dan membuat pria itu berdecak kesal melihat hal itu. Baru saja pria itu akan melancarkan serangannya lagi, tiba-tiba Kiki dan Nana menghalanginya dan melindungi Azura.


"Kau punya hewan yang bagus, aku suka hewanmu. Tapi aku tidak bisa memaafkan kau karna telah menghancurkan mainanku yang berharga, meski kau telah memberikan hewanmu itu. Aku tetap akan membunuhmu," Ujar pria itu dengan nada kesal.


Terjadi pertarungan hebat antara Kiki dan orang itu hingga berakhir setelah Kiki terpental jauh hingga Nana kesulitan menangkapnya agar tidak membentur sesuatu yang keras. Azura maju dan membuat pria itu mendapatkan beberapa luka serius.


"Kiki, sekarang!" Ujar Azura dan api milik Kiki masuk kedalam pedang Azura hingga membakar pedang itu.


"Aku tidak memiliki dendam padamu, tapi kau salah karna berhadapan denganku. Kau lemah, tapi kau malah mengunakan intisari iblis agar kau terlihat kuat saat memainkan mereka padahal kau sangat kesulitan mengendalikannya bukan?" Ujar Azura dan menyulut kemarahan pria itu.


Azura berniat mengakhiri pertarungan itu dan mulai mengayunkan pedangnya namun dua gadis tiba-tiba menghadangnya. Azura terkejut melihat gadis yang dulu pernah bertarung dengannya di atas gedung. Gadis itu tersenyum padanya lalu melemparkannya sesuatu hingga membuat dinding untuk menghalangi Azura.


"Hai, kita bertemu lagi. Aku akan membunuhmu dan mengambil sistem kupu-kupu milikmu, tapi sekarang bukan waktu yang tepat." Gadis itu berdiri di atas gedung lalu menghilang dari sana bersama pria tadi.


Azura terdiam sejenak, ia lalu tiba-tiba duduk di atas tanah. Kiki dan Nana hanya melihat Azura yang tampak berfikir keras tentang sesuatu di otaknya. Azura berdiri sambil menancapkan pedangnya di tanah dan berjalan ke arah dinding yang di buat gadis tadi. Pria itu menyentuh dinding itu kemudian memejamkan matanya. Azura mengalirkan tenaga dalamnya dan tiba-tiba dinding itu hancur.


"Ternyata sangat lemah, aku pikir dia jauh lebih kuat dariku. Aku ternyata mengkhawatirkan hal yang harusnya tidak perlu di khawatir," Ujar Azura dengan sumringahnya.


"Ayo kita kembali dan merayakan hal ini," Ujar Azura dengan senyumannya.


...TBC...


Hai semuanya mulai dari sini aku nggak bisa up tiap hari ya😅 Cuma bisa up dua episode dalam satu minggu karna beberapa kesibukan. Semoga kalian masih semangat membaca cerita ini🥰


Salam manis,


Tirfa_ledina.