Butterfly System

Butterfly System
Chapter 32 [Waktu berhenti!!]


Jam olahraga telah tiba dan waktunya bagi para siswa 1-C untuk berolahraga di lapangan. Dengan pakaian olahraga lengkap Azura berjalan menuju lapangan, karena tak sengaja berpapasan dengan guru olahraga Azura terpaksa mendapatkan perintah untuk mengambil alat olahraga di gudang. Gilang tentu saja setia membantu teman seperjuangannya itu.


Keduanya sampai di gudang dan mengambil alat olahraga seperlunya sesuai dengan perintah sang guru olahraga. Azura mengambil bola basket sedangkan Gilang mengambil bola voli. Kali ini pelajaran olahraga kelas 1-C akan di gabung dengan kelas 1-A yang merupakan kelas Elin dan Devina.


"Ohiya karena ada guru olahraga yang cuti kelas kita akan berolahraga dengan kelas 1-A selama dua minggu," Ujar Gilang.


Gilang merupakan sumber informasi yang baik dan tentunya bisa dipercaya jika mengenai sekolah ini. Azura hanya ber-oh ria saja mendengar hal itu, malah ia merasa malas karena akan ada satu makhluk hidup lain yang akan membuat telinga akan pecah. Gilang saja sudah membuat dia harus banyak bersabar dengan ocehan yang menurut Azura tidak penting dan malah akan di tambah lagi dengan Elin yang cerewet minta ampun.


"AZURA!" Teriak seorang gadis.


Baru saja Azura tiba di lapangan ia sudah di hadiahkan suara cempreng di telinganya. Tanpa perlu melihat sumber suara Azura sudah bisa menebak orang itu adalah Elin. Azura menghela nafas panjang dan memberikan wajah datarnya pada Elin yang sedang sibuk menepuk pundaknya dengan keras.


"Kenapa kau memasang wajah seperti itu? Ah, kau mau terlihat cool ya di depan para gadis," Ujar Elin.


"Wow, kau akan bermain bola basket? Emang kau bisa?" Ujar Elin antusias.


"Tentu bisa lah, temanku ini kan si pria sempurna di sekolah kita. Ya kan Azura?" Ujar Gilang sambil merangkul punggung Azura.


"Semua siswa ayo berkumpul, kita lakukan pemanasan dulu. Ayo lari lapangan tiga putaran," Perintah sang guru olahraga.


"Yah, pak. Itu kebanyakan. Satu putaran aja dong pak," Ujar salah satu gadis dengan bibir merah karena liptint.


"Tidak ada tawaran menawar! Ini bukan pasar! Cepat semuanya lari atau bapak tambah lagi!" Ujar sang guru dan semua siswa langsung lari.


Azura tak merasa lelah sama sekali bahkan keluar keringat saja tidak. Gilang langsung duduk di atas rumput setelah lelah berlari di lapangan yang luar biasa besar itu. Azura melemparkan satu botol air pada Gilang dan di tangkapannya dengan cepat, Azura ikut duduk di sebelah Gilang yang sibuk meneguk minuman dingin hingga habis.


"Apa kau sama sekali tidak capek?" Ujar Gilang dan Azura menggeleng-gelengkan kepalanya.


Azura membuka penutup minuman dan berniat meneguknya namun seseorang langsung merampasnya. Dengan keringat yang masih membasahi wajahnya, Elin dengan tidak berdosanya langsung meminum minuman Azura hingga habis.


"Aaahh, segeranya. Terimakasih ya Azura," Ujar Elin dan pergi begitu saja, meninggalkan Azura dengan botol kosong di tangannya.


Kedua murid baru menjadi pusat perhatian. Mereka berbaur dengan cepat dan mendapatkan banyak teman. Darel melihat kearah Azura saat kejadian di mana Elin mengambil minuman milik Azura. Ia kemudian berjalan ke arah Azura dan Gilang.


"Hai, bisa kita berteman?" Ujar Darel sambil memberikan minuman dingin pada Azura.


Azura yang kaget akan kejadian ini terdiam sejenak memikirkan sesuatu di kepalanya. Para siswa melihat Darel yang memberikan Azura minuman tapi masih tidak di terima oleh Azura. Senyum Darel belum runtuh sedikit pun dan masih menyodorkan minuman pada Azira. Gilang segera meraih minuman itu, ia tidak nyaman terjebak dalam situasi yang canggung seperti ini.


"Terimakasih Darel. Azura hanya malu mengambil, kau jangan tersinggung ya." Gilang memberikan Azura minuman itu dengan paksa.


"Apa yang kau inginkan?" Ujar Azura penuh rasa curiga.


"Ah, Azura apa kepalamu sudah terbentur? Sini aku perbaiki lagi," Gilang meraih kepala Azura dan berpura-pura mengeceknya dengan sesekali mengetuk kepala Azura.


"Wah, pertemanan kalian kuat sekali ya. Aku jadi iri dan sekaligus kesal," Ujar Darel.


Priiiiiiiiitttttt...


Sang guru olahraga meniup peluit dengan keras untuk menarik perhatian semua siswa. Azura dan Gilang berdiri dan berkumpul bersama siswa lainnya begitupun dengan Darel.


"Kalian itu masih muda, seperti ini saja sudah lelah." Sang guru olahraga menggelengkan kepalanya.


"Karena hari memang terlalu panas kita tidak jadi bermain bola voli,"


"Kita pindah tempat saja ke lapangan in door! Anak laki-laki akan bermain bola basket setelah anak perempuan bagaimana?" Ujar Sang guru dan para murid tampaknya lebih antusias.


Dalam ruangan yang lumayan luas. Para siswa wanita berkumpul di lapangan bola basket untuk pemilihan pemain dari dua tim. Setelah semua di pilih, siswi yang tidak masuk bersorak gembira dan di biarkan menonton pertandingan. Azura duduk bersama Gilang yang terus tertawa melihat bagaimana para siswa wanita bermain bola basket.


"Wah, mereka seperti di permainan oleh bola basket. Berlari kesana kemarin mengerumuni bola," Ujar Gilang dan Azura juga ikut tertawa.


Sang guru olahraga terus meniup peluit akibat sering sekali para pemain melakukan pelanggaran. Walau pemain mereka terlihat hancur, masih ada satu orang yang menonjol di dalam kerumunan manusia itu. Dia sering kali mencetak skor, Devina mencetak skor terakhir dan membuat permainan berakhir.


"Devina cukup bagus dalam bermain basket, walau dia jutek dan bermulut pedas setidaknya dia juga murid dengan kepala yang cerdas," Ujar Gilang dan Azura mengangguk setuju.


"Anak laki-laki cepat turun," Ujar guru olahraga.


Permainan langsung di mulai karena para siswa pria mengajukan diri dengan sendirinya. Azura dan Gilang berada di tim yang sama, keduanya langsung bertos ria. Darel memilih masuk kedalam tim yang menjadi lawan Azura. Entah apa yang dia rencanakan membuat Azura sedikit curiga dan tidak tenang dengan tatapan matanya.


Priiiiiiiiitttttt..


Suara peluit di bunyikan yang menandakan pertandingan sudah di mulai. Para siswa wanita berteriak heboh menonton pertandingan itu. Suara teriakan lebih di dominasi dengan nama Azura, meskipun begitu masih banyak yang menyoraki Darel dengan antusias.


Skor kedua tim terus saling mengejar dan pemenang masih belum bisa ditentukan. Azura mendapatkan giliran untuk mendribble bola kearah ring, pria itu meleparkan diluar garis bundaran untuk mendapatkan tiga poin dan berhasil. Azura dan Gilang juga teman satu timnya saling tos untuk memberikan semangat.


"Sepertinya sudah waktunya menjalankan rencana itu," Gumam Darel.


Darel melihat Mira untuk memberikan kode agar rencana yang ia susun segara di mulai. Mira mengangguk paham, ia langsung pergi ke suatu tempat. Darel memamerkan sumringahnya pada Azura yang masih sibuk mengiring bola.


"Satu."


"Dua."


"Tiga."


Bola yang Azura lemparkan ke arah Gilang berhenti dan melayang di udara. Semua orang tak bergerak, bahkan jika Azura menyentuh mereka tak ada perubahan. Ia seperti hanya menyentuh patung, botol yang di jatuhkan para penonton bahkan berhenti dan melayang di udara. Azura berbalik ke kiri dan kanan mencari seseorang yang bisa menjelaskan hal ini.


"Apa yang terjadi?" Ujar Azura.


"Waktu sedang berhenti," Ujar seseorang.


"Siapa kau? Tunjukkan dirimu!" Ujar Azura.


"Aku ada di sebelahmu," Ujar Darel dan muncul tiba-tiba di sebelah Azura.


Azura refleks menjauh dari Darel. Tatapan penuh curiga mulai Azura layangkan pada Darel yang tersenyum menikmati semua orang yang tak bergerak.


"Sebenarnya kau siapa?" Ujar Azura.


"Kau tidak mengenali aku?" Ujar Darel.


...TBC...


Yuk dukung author dengan like, rate, vote dan coment ya.🥰 Sampai jumpa di episode selanjutnya.


Happy new year guys 😘


Salam manis,


Tirfa_ledina.