Butterfly System

Butterfly System
Chapter 29 [Fahlevi!!]


Dalam sebuah kastil Rosse, Brian dan Elena masih setia berlutut untuk menunggu dua pria yang belum juga menampakkan diri mereka. Dua singgasana berwarna perak menunjukkan bahwa dua keluarga telah bersatu, sebuah pola sihir muncul di kedua singgasana itu dan menampilkan Adelion dan Alexander di singgasana.


"Bagaimana hasilnya?" Tanya Adelion.


Rosse dan Elena saling menatap satu sama lain karena bingung harus menjawab apa pada tuannya. Apa lagi menceritakan kejadian dimana mereka hampir mati konyol di tepat itu, mereka sungguh tidak berani. Merasa di abaikan Adelion memukul singgasananya dan membuat suara yang cukup besar akibat tabrakan energi Adelion dengan kayu sihir itu.


"Kenapa kalian malah diam!" Bentak Adelion.


"Lapor tuan, kami gagal menangkap anak sang Lord. Ada kekuatan yang mengacaukan energi kami untuk masuk kedalam sebuah rumah lusuh," Ujar Rosse dan tiba-tiba ada pisau menggores pipinya hingga cairan kental berhasil lolos dari sela-sela kulit.


"Maafkan kesalahan dan kelalaian kami tuan. Kami akan menebusnya, tolong berikan kami satu kesempatan lagi. Kami tidak akan melakukan kesalahan lagi," Ujar Elena.


"Anak buahmu benar-benar tidak bisa di andalkan," Ujar Alexander dan membuat Adelion menyorotinya dengan mata hijaunya.


"Lapor tuan, sepertinya kami baru saja memasuki kawasan hewan suci. Anak itu berhasil masuk dalam daerah hewan suci itu tapi menolak kami untuk masuk. Hanya hewan suci yang bisa melakukan hal ini," Ujar Brian dan Alexander berdiri sambil menggeleng-gelangkan kepalanya bukti penolakan.


"Bukan hanya hewan suci, vampir murni juga bisa melakukan hal itu," Ujar Alexander dan Brian juga Rosse berdiri.


"Bagaimana bisa vampir murni melakukan hal itu?" Ujar Rosse.


"Kau yang hanya vampir campur tidak bisa di banding dengan vampir murni. Kekuatanmu itu sangat jauh di bawahnya," Ujar Alexander dan Rosse memamerkan taringnya.


"Jaga batasanmu Rosse!" Ujar Brian sambil ikut memperlihatkan taring panjangnya.


"Sudahlah, tidak perlu saling bertengkar kita sekarang sekutu jadi mari berbaikan. Aku punya mata-mata di kerajaan Lord," Ujar Alexander sambil berdiri.


"Lord sekarang sudah tau semuanya," Ujar Alexander dan semua mulai kaget.


"Kalian tenang saja. Dia tau semuanya tapi masih membiarkan kita berarti dia sama sekali tidak ingin ikut campur dalam hal ini." Alexander melirik Adelion yang memandangnya penuh curiga.


"Tidak perlu menangkap anak itu. Kita gunakan saja 100 manusia sebagai tumbal, bukankah itu lebih baik Adelion?" Alexander menghela nafas saat Adelion pergi begitu saja.


"Aku anggap kau setuju," Ujar Alexander.


...☄☄☄...


"Perkenalkan namaku Fahlevi, panggil saja aku Levi atau kakak besar. Umurku 7 tahun," Ujar Levi dengan nada sombong dan Azura hanya mendengus sebal.


"Namaku Azka Azura, panggil aku Azura atau Kakak tertua! Umurku 16 tahun!" Ujar Azura sambil menekankan setiap kalimatnya.


Keduanya saling bertatapan untuk menantang satu sama lain. Pintu di buka dan menampilkan Kiki dan Nana di sana, keduanya masuk dan malah di abaikan oleh Azura yang sedang perang tatapan dengan Levi.


"Hoi, anak itu siapa?" Ujar Nana namun Azura lagi-lagi mengabaikannya.


"Berhenti menatap kakak besar seperti babi!" Ujar Levi.


"Kakak besar? Kau baru 7 tahun! Aku kakak tertua jadi tutup matamu dan mohon maaf padaku sebelum kau aku jadikan babi!" Ujar Azura.


"Babi?! Beraninya kau mengatai aku babi!" Ujar Levi sambil berdiri agar terlihat lebih tinggi dari Azura yang duduk.


"Kau memang seperti babi gemuk yang jelek!" Ujar Azura sambil berdiri tegak hingga membuat Levi tampak kecil di depannya.


"Berhenti berkelahi! Kalian ini umur berapa sih?" Ujar Nana.


"Siapa kau yang berani melarang aku!" Ujar Levi sambil berbalik menatap Nana.


"Eh tunggu. Ehmm... Anak itu imut sekali," desis Levi dengan wajah memerah melihat Nana.


"Perkenalkan nama aku Fahlevi. Nama kamu siapa?" Ujar Levi sambil bertingkah sok dingin.


"Nana, panggil aku Nana." Senyum cerah Nana berhasil ia ukir di wajahnya.


Levi tertunduk sambil merasakan sesuatu yang hangat di pipinya. Debaran jantungnya mulai memburu dan membuat Levi tersenyum kecil merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan. Azura menatap heran pada perubahan sikap Levi yang secara tiba-tiba. Nana melirik Azura.


"Anak babi. Eh, maksudnya anak Lord." Nana tiba-tiba kaget saat mendengar kata Lord.


"Kau tidak bohong kan Azura? Lord itu adalah pemimpin dari makhluk immortal!" Ujar Nana dengan wajah kaget.


Sejak kemarin malam Azura mendapatkan banyak informasi dari Levi tentang keluarga Moca dan Hazzel yang menginginkan darah untuk kristal iblis. Levi belum tau jika vampir murni yang diincar oleh kedua keluarga itu adalah Azura. Mengigat kejadian tadi malam membuat Azura kembali kesal saat ia harus tidur seranjang dengan Levi yang super banyak goyang saat tidur hingga sesekali Azura harus jatuh dari kasur.


"Apa? Pemimpin dari makhluk immortal?!" Wajah Azura berubah kaget.


"Ya, aku anak Lord. Kau takut bukan? Tidak perlu takut, jika kalian membiarkan aku tinggal di sini aku akan memaafkan kalian," Ujar Levi dengan nada sombong.


"Huh, terserah. Nana dan Kiki akan mengawasi kau!" Azura keluar dari kamarnya untuk menemui sang neneknya.


Setelah Azura keluar Levi terus saja menempel pada Nana dan mencampuri urusan Nana. Nana tentunya sangat tidak suka di tempeli anak tujuh tahun sedangkan dia sudah berumur seratus tahun lebih. Meskipun begitu Nana tidak bisa melarang karna dia anak dari Lord, jika ia sampai menyinggung Levi mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk pada Azura.


Nana menghela nafas panjang saat sekali lagi Levi terus menanyainya berbagai macam pertanyaan yang menurut Nana tida terlalu penting. Kiki yang melihat hal itu hanya mengangkat bahu dan tak peduli pada sekitarnya.


"Aku harus berbicara beberapa hal pada Kiki," Ujar Nana dan langsung merangkul kepala Kiki untuk keluar dari kamar Azura.


"Ada apa Nana? Kita tidak boleh meninggalkan dia sendiri! Tuan sudah memberikan kita perintah untuk mengawasinya." Kiki berniat membuka pintu tapi Nana sudah lebih dahulu menarik telinganya menjauh dari pintu.


Setelah melakukan perundingan singkat Nana dan Kiki kembali masuk kedalam kamar dan melihat Levi yang sedang bermain dengan laptop Azura.


"Apa yang kau lakukan Levi?" Tanya Kiki.


"Membeli beberapa pistol, apa Azura punya uang? Besok malam aku harus membayarnya di pasar ilegal," Ujar Levi dengan senyumannya.


...☄☄☄...


Azura mengetuk pintu di sebuah tempat yang kumuh sebanyak tiga kali, seseorang membuka pintu dan mempersilahkan Azura masuk. Azura sedikit menurunkan topinya saat masuk ke dalam bar, satu pelayan membukakan pintu belakang bar kecil itu dan menampilkan sebuah tempat yang cukup ramai dan ribut.


"Hei, ini pasar ilegalnya? Kenapa terlihat seperti pasar bisa," Bisik Azura dan Levi langsung mengangguk.


"Sudah ikut aku saja," Levi langsung memimpin jalan menuju ke tempat di mana ada banyak senjata yang letak di bawah pakaian.


Ini adalah kali pertama Azura masuk ke pasar ilegal. Azura terus kagum melihat bagaimana para penjual yang lihai menyembunyikan benda ilegal di dalam barang kebutuhan pokok manusia. Azura menggelengkan kepalanya melihat bagaimana Levi yang menipu para penipu dengan kalimat yang tidak bisa mereka tolak. Azura berbalik saat mendengar sesuatu yang menarik perhatiannya.


"Kemarin malam markas ada seseorang yang meledakkan markas naga hitam."


"Wow, siapa yang berani melakukan hal itu? Aku yakin orang itu sudah gila."


"Beri tau aku semua yang kau katakan!" Ujar Azura.


"Ehmm... Maaf ya. Aku bukan pria yang suka bergosip aku,"


Belum sempat pedagang itu menyelesaikan ucapannya Azura sudah menyodorkan tiga ikatan uang dari balik jaketnya. Bapak tadi langsung mengambil uang itu dengan tangan yang gemetar melihat tumpukan uang.


"Yang aku tau kelompok naga sekarang sudah bangkrut karena ledakan itu. Ketuanya terluka parah dan anaknya menghilang entah kemana," Ujar pedagang itu.


"Kau tau siapa yang melakukannya?" Tanya Azura dan pedagang itu menggelengkan kepalanya.


'Bagaimana bisa meledak? Aku bahkan tidak melakukan apapun setelah pergi dari sana. Siapa yang melakukannya?' Batin Azura.


...TBC...


Yuk dukung author dengan tekan like, rate, vote dan coment ya🙏😊


Salam manis,


Tirfa_ledina.