Butterfly System

Butterfly System
Chapter 39 [Rencana Penyerangan!!]


Seorang gadis dengan pakaian berwarna hitam terlihat tertidur di dalam peti kaca. Tak ada tanda-tanda akan bangun yang di tunjuk gadis itu, ia seolah hanya sebuah patung yang bernafas. Wajahnya tampak damai namun tidak dengan jiwanya yang mati-matian mempertahankan tidak tubuh ini. Setelah kristal iblis masuk kedalam tubuh Elin, ada jiwa yang lain juga ikut masuk kedalam tubuh ini dan berusaha mengambil alih tubuh Elin.


"Tidurlah, biar aku yang mengurus tubuh ini untukmu."


"Tidak!"


Valen masuk kedalam ruangan dimana ada peti kaca yang ditiduri oleh Elin. Ia tersenyum simpul, Valen membuka peti kaca itu dan mengeluarkan Elin dari sana untuk di bawa ke atas kasur. Setelah meletakkan tubuh Elin di kasur empuk pria itu mendekat wajahnya di telinga Elin dan membisikkan sesuatu.


"Tidurlah, aku tau kau sangat lelah."


Bisikkan itu berhasil meruntuhkan pertahanan Elin hingga jiwanya terperangkap dalam kurungan dan akhirnya tertidur. Perlahan energi gelap masuk kedalam tubuhnya Elin dan mengisi secara perlahan energi iblisnya. Valen tersenyum karena berhasil menyingkirkan jiwa Elin dalam tubuhnya sendiri.


"Sekarang waktunya sudah tiba, kau akan menjadi boneka terkuatku. Azura tunggu saja aku akan membunuhmu!" Ujar Valen.


"Bagaimana keadaan Dewi iblis?" Ujar Adelion yang baru saja masuk untuk mengecek Valen.


"Cukup baik, kita hanya perlu menunggu agar enegi iblisnya penuh. Aku rasa 2 hari cukup untuk mengisi penuh energinya, kita bahkan bisa melancarkan rencana lebih cepat." Valen menatap ayahnya.


"Bagus, malam ini kita akan melakukan pertemuan untuk rencana kali ini. Vampir murni sudah pasti kalah di depan kekuata iblis," Ujar Adelion.


"Bagaimana dengan Lord?" Ujar Valen.


"Biar aku dan Alexander yang mengurus hal itu. Kau hanya perlu fokus pada gadis itu," Ujar Adelion seraya berjalan pergi dari sana.


"Cih, aku yakin bisa menang kali ini."


...β˜„β˜„β˜„...


"Kalian hanya perlu mengawasi Darel saja," Ujar Azura pada Nana dan Levi.


Azura sedang menjelaskan beberapa rencana pada Levi, Nana dan Kiki. Ia tidak sepenuhnya percaya pada Darel maka dari itu Azura sengaja menempatkan Nana dan Levi untuk mengawasi setiap gerak-gerik Darel. Kiki mendampingi Azura dalam pertarungan sedang Nana dan Levi tetap di rumah dan mengawasi dengan menggunakan benda rakitan Levi.


"Apa kalian sudah mengerti dengan rencana ini? Kiki kau bisa berubah selama pertarungan. Kau gunakan saja wujud tiruan selama pertarungan," Ujar Azura dan Kiki mengangguk paham.


"Ambil ini Nana, dalam benda ini ada energi milikku untuk membuat daerah aman. Kau bisa menggunakan benda ini saat dalam bahaya," Ujar Azura sambil memberikan sebuah cincin pada Nana.


"Aku rasa rencana ini harus sedikit di modifikasi. Aku dan Nana tidak setuju berada di tempat aman dan membiarkan kalian berdua bertarung di tempat itu," Ujar Levi.


"Ya, aku setuju dengan Levi. Aku tidak ingin terus di tempat yang aman dan membiarkan kalian bertarung sendiri. Rasanya aku seperti beban untukmu, aku tidak suka dengan ini!" Ujar Nana.


"Biarkan aku ikut dalam pertarungan ini, Azura. Aku sudah banyak berkembang, aku tidak akan menjadi beban kau dan Kiki!" Ujar Nana.


Azura terkejut dengan ucapan Nana. Baru kali ini ia melihat wajah Nana yang sangat marah dan kesal, Azura baru sadar selama ini ia membuat Nana merasa menjadi beban. Tanpa sadar selama ini Azura terus menempatkan Nana di tempat aman dan tak membiarkan dia untuk menunjukkan diri jika ia telah berkembang. Azura menghela nafas melihat tatapan kecewa yang di tunjukkan Nana padanya.


"Maafkan aku karena sudah membuat kau seperti ini, kau bukan beban." Azura menepuk pelan kepala Nana kemudian pergi dari tempat itu menunju kamar.


"Hei, ini artinya apa? Kau setuju atau tidak?" Ujar Nana hingga Azura menghentikan langkahnya.


"Apa aku terlihat bisa menghentikanmu?" Ujar Azura.


"Aku akan segera bersiap untuk pergi menemui Darel, kau ikut?" Azura segera beranjak pergi.


Nana tersenyum kecil dengan ucapan Azura.


"Dasar sok keren," Ujar Nana.


Hanya butuh beberapa menit mereka bersiap. Karena Kiki menggunakan wujud tiruan hingga terlihat seumuran dengan Azura, ia harus meminjam pakai Azura. Levi dan Nana sengaja menggunakan jaket agar menutupi identitas keduanya.


Mereka sampai di depan gedung tua yang sudah tidak berpenghuni, malam ini cukup terang karena ada cahaya bulan yang menerangi tempat itu. Cukup lama Azura menunggu hingga akhirnya Darel muncul dengan beberapa orang di belakangnya.


"Siapa mereka? Untuk apa kau membawa Alfa?" Tanya Azura.


"Ayo kita menyerah mereka malam ini, kau sudah bawa barang itu?" Ujar Darel.


Azura berdehem saja, layar monitor muncul di depan Azura. Pria itu beberapa kali mengusap layar itu dan sesekali menekan tombol, sebuah kantong kecil muncul dan mendarat di tangan Azura. Darel beserta Alfa terkejut melihat kemunculan kantong kuno itu. Salah satu bahkan mengira Azura sedang bermain sulap dengan mereka.


Azura membuka kantong itu kemudian membalikkannya agar semua yang berada dalam kantong itu keluar. Ada banyak senjata meluncur bebas dan mendarat di tanah, sesuai janji Azura telah membawa banyak senjata yang di gunakan untuk lebih dari dua puluh orang.


"Apa hanya ini yang dibuat anak itu?" Ujar Azura saat merasa jumlah senjata yang dibuat Levi kurang.


"Apa kau yang membuat senjata ini? Aura yang keluar dari semua senjata sangat pekat dan kuat," Ujar salah seorang Alfa yang cukup tau tentang jenis senjata.


"Senjata ini bukan aku yang membuatnya," Ujar Azura dan Alfa itu sedikit heran.


"Aku yakin, orang yang membuatnya pasti sangat kuat. Hanya orang-orang dengan keahlian tinggi yang bisa membuat senjata seperti ini," Ujarnya lagi seraya berjongkok untuk memilih senjata yang cocok dengan tipenya.


Levi tersenyum simpul melihat hasil rakitannya sendiri. Levi benar-benar senang ada yang memuji rakitannya, dari balik tudung para Alfa itu cukup senang menggunakan senjata itu. Darel akhirnya sadar dengan tiga orang di belakang Azura, ia menatap ketiganya intens dan sedikit curiga melihat gerak-gerik ketiganya.


"Siapa mereka?" Ujar Darel sambil menunjuk menggunakan dagunya pada tiga orang di belakang Azura.


"Jangan khawatir mereka adalah teman," Ujar Azura santai.


"Untuk apa dua orang itu menutupi wajahnya? Hal itu terlihat mencurigakan," Ujar Darel.


Azura berjongkok untuk mengambil senjata ringan kemudian berdiri kembali di depan Darel. Pria itu menyodorkan senjata itu pada Darel, Mira terlihat geram melihat hal itu. Azura tampak sedang mengancam Darel dengan senjata itu.


"Apa kau tidak memilihkan senjata untuk dirimu?" Ujar Azura.


"Tidak, aku sudah punya senjataku sendiri. Kau tidak perlu khawatir," Ujar Darel sambil mengalihkan pandangannya.


"Kau harus punya senjata cadangan dalam pertarungan ini. Urus saja bagianmu, tidak perlu mengurus yang lain," Ujar Azura dengan sumringahnya dan Darel hanya acuh dengan ucapan itu.


"Sekarang aku akan menjelaskan dengan detail penyusupan kita malam ini. Jadi tolong dengar baik-baik," Ujar Darel.


Dengan menggunakan media kertas yang cukup besar Darel mencoba menjelaskan sedetail mungkin tiap sudut dari kastil yang di yakini tempat Keluarga Moca dan Hazzel bertemu. Beberapa kali Azura atau orang yang dibawa Darel mengangguk setuju atas rencana yang cukup cemerlang itu.


"Untuk bagian gerbang biarkan kami yang melawan para Alfa bodoh itu, sesama Alfa memang tidak boleh saling bertarung tapi karena untuk menyelamatkan mereka, kami akan berusaha dengan sekuat tenaga," Ujar salah seorang yang Azura yakni adalah pemimpin dari Alfa yang dibawa Darel.


"Baiklah, aku serahkan gerbang padamu. Ingat misimu hanya mengundang keributan! Jangan melakukan hal yang lain." Darel memberikan peringatan pada alfa-alfa itu.


"Kalian ingin menolong bangsa kalian dari perbudakan ya?" Kata itu tanpa sadar keluar dari mulut Levi.


"Ya, tapi bagaimana kau tau jika bangsa kami di perbudak?" Ujar salah satu Alfa dengan tatapan curiga melihat Levi.


"Kau sebenarnya siapa? Dua anak ini kenapa menutup wajahnya? Kalian terlihat aneh," lanjutnya seraya berusaha mengintip wajah Levi yang tertutup tudung jaket.


"Bukannya berita tentang perbudakan Alfa telah menyebar? Aku rasa dia hanya mendengar dari mulut ke mulut saja." Salah satu Alfa lainnya angkat bicara yang membuat Levi bisa bernafas lega.


"Ya, aku hanya mendengar gosip. Aku kan hanya orang yang tidak penting," Ujar Levi.


"Benar juga, berita tentang Alfa sudah menjadi gosip untuk para immortal."


"Kalian semua sudah paham dengan rencana ini bukan? Sekarang sudah saatnya bergerak," Ujar Darel dan semua mengangguk.


...TBC...


HaiπŸ‘‹ Budayakan like, rate, vote dan coment ya. Kasih tip juga boleh😍 Sampai jumpa di episode selanjutnya 😘


Salam manis,


Tirfa_ledina.