
Pagi harinya Azura berangkat ke sekolah seperti biasanya. Hari ini akan dilaksanakan ujian semester jadi Azura memilih datang lebih pagi. Di perjalanan ia beberapa kali melihat siswa yang berjalan sambil membawa buku pelajaran. Setibanya di kelas ia melihat seorang gadis yang duduk di bangkunya, satu alis Azura terangkat saat tau jika gadis itu adalah Rusi.
"Apa yang kau lakukan disini?" Ujar Azura hingga Rusi berbalik.
"Wah, kau terlalu serius. Padahal aku datang kemari karena Elin loh," Ujar Rusi.
"Jangan berani menyebut namanya! Bahkan kau juga tak pantas mengambil alih tubuhnya!" Ujar Azura sambil memberikan tekan pada Rusi.
"Wohh.. Tahan dulu kekuatanmu vampir murni. Apa kau tidak takut manusia lemah seperti mereka terluka?" Ujar Rusi kemudian terkekeh sejenak saat Azura mengatupkan rahangnya kesal.
Elin kemudian berdiri tepat di depan Azura, tangannya menarik dasi Azura dan membisikkan sesuatu di telinga pria itu. Mendengar ucapan Rusi barusan tiba-tiba saja Azura jadi terdiam. Rusi tersenyum simpul dengan tangannya yang memperbaiki dasi Azura.
"Seperti yang aku ucapkan tadi. Pikirkanlah baik-baik vampir murni," Ujar Rusi kemudian pergi dari kelas itu.
Melihat Azura yang terdiam seluruh siswa dalam kelas memandanginya penuh rasa penasaran. Gilang yang menyapanya saja tak di gubris oleh Azura sama sekali, Azura lalu duduk di bangkunya. Gilang yang merasa ada yang aneh dengan Azura tidak bisa melakukan apapun selain diam saja.
Guru akhirnya masuk dan memeriksa semua siswa sebelum ujian di mulai agar tak ada yang berbuat curang. Setelah pemeriksaan kertas ujian kemudian di bagikan, bukannya fokus pada soal dalam kertas ujian, pikiran Azura malah terus bercabang. Pria itu kemudian memainkan pulpennya beberapa saat hingga sang guru akhirnya menegurnya.
"Hufftt.. Kenapa malah jadi begini?" Ujar Azura seraya mencengkram kuat pulpennya.
Azura kemudian mengacak-acak rambutnya sendiri dan pada akhirnya memilih untuk melihat sejenak soal-soal di atas kertas. Setelah lima belas menit menulis jawabnya Azura langsung pergi dari kelas dan mengumpulkan kertas jawabannya pada sang guru.
"Azura, apa kau sudah mengisi jawabnya?" Teriak sang guru.
"Aku sudah menjawabnya Bu. Aku sedang buru-buru," Ujar Azura.
"Aishh.. Anak itu seenaknya saja. Apa yang kalian liat? Apa di wajah ibu ada contekan? Kerjakan saja ujian kalian," Ujar sang guru.
Disisi lain Azura berlari dengan tergesa-gesa menaiki anak tangga. Koridor saat ini sangat sepi hingga memudahkan Azura bisa berlari dengan sebebasnya tanpa ketahuan oleh seseorang karena menggunakan kekuatannya. Azura kemudian mengintip pada salah satu kelas yang merupakan kelas Devina.
"Nana datanglah," Ujar Azura dan tiba-tiba saja Nana telah muncul di sebelahnya.
"Yaakk.. Bodoh! Kenapa kau membuat aku datang kemari? Aku sedang tidur nyenyak tau," Ujar Nana.
"Nana diamlah. Coba bantu aku liat Devina," Ujar Azura.
"Aishh.. Kenapa kau saja yang melihatnya? Membuat aku repot saja. Tunggu kenapa benda itu ada di sana?" Ujar Nana yang memicingkan mata untuk melihat lebih jelas.
"Ada apa, Nana?" Ujar Azura.
"Kita bicara di tempat lain," Ujar Nana seraya menarik baju Azura untuk pergi.
Azura kebingungan, ia menoleh kembali kearah jendela dan melihat Rusi sedang tersenyum. Nana terus menarik lengan baju Azura agar segera pergi, karena desakan Nana Azura akhirnya pergi dari tempat itu. Nana membawanya kembali kerumahnya, Kiki yang sedang menggosok gigi terlihat bingung melihat kedatangan Nana dan Azura.
"Tuan?" Ujar Kiki.
"Hei naga jelek. Kenapa kau menggosok gigi di sini? Sana ke toilet!" Ujar Nana seraya memukul pelan kepala Kiki.
"Ahkk.. Iya, iya. Dasar kucing bawel!" Ujar Kiki sambil berjalan buru-buru kearah toilet untuk menghindar dari amukan Nana.
"Kalo masalah ini tidak mendesak sudah ku cakar kau naga jelek!" Ujar Nana.
"Jangan menyentuhnya! Kau bisa mati!" Ujar Nana yang dengan sigap menahan tangan Azura.
"Benda ini adalah pengikat roh yang masih belum aktif," Ujar Nana.
"Benda ini bisa menarik berbagai macam jenis roh dan membuat penggunanya harus merelakan sedikit demi sedikit bagian dari jiwanya sendiri. Semakin banyak roh yang terkumpul maka waktu hidup penggunanya akan semakin pendek," Jelas Nana.
"Aku melihat benda ini dalam tubuh Devina. Saat ini kondisinya memang terlihat baik-baik saja tapi setelah lewat beberapa hari tubuhnya akan perlahan lemas," Ujar Nana.
"Devina akan mati," Ujar Nana.
Deg.
Azura membulatkan matanya sempurna, entah kenapa hatinya jadi sakit. Orang yang selama ini selalu ia lindungi bahkan dari dirinya sendiri akan mati? Sungguh bukannya ini terasa konyol? Azura kini hanya bisa tertegun. Ucapan Rusi tiba-tiba saja terlintas di benaknya.
"Aku punya hadiah istimewa untukmu,"
Mengingat ucapan itu kini membuat rahang Azura terkatup rapat. Ia marah pada dirinya sendiri yang tak pernah becus melindungi orang-orang di sekitarnya. Nana membuang nafas panjang melihat Azura yang seperti sedang terkejut.
"Setidaknya butuh enam bulan bagi penyihir seperti Devina untuk kehilangan jiwanya sepenuhnya," Ujar Nana.
"Ada satu cara agar bisa menyelamatkan Devina," Ujar Nana.
"Benarkah? Ayo beritahu padaku," Ujar Azura.
"Menukar jiwa Deviana dengan seseorang sebagai tumbal," Ujar Nana.
"Apa maksudmu? Jiwa? Devina? tumbal?" Ujar Kiki yang baru saja selesai mengosok gigi.
"Eh, benda itu?! Darimana datangnya?" Ujar Kiki dengan pandangan yang mengarah pada kotak.
"Bagaimana cara menukar jiwa seseorang?" Ujar Azura.
"Aku tidak tau tentang itu," Ujar Nana.
"Aku tau. Para penghuni perpustakaan api suci bisa melakukan hal itu. Saat tinggal disana aku pernah melihat guru besar melakukannya," Ujar Kiki.
"Kau yakin? Bukannya perpustakaan api suci sudah lama hancur? Penghuninya juga sudah di habisi hingga ke akar-akarnya," Ujar Nana.
"Itu memang benar. Tapi Gilang yang merupakan teman tuan adalah keturunan terakhir perpustakaan api suci. Buktinya terlihat jelas pada kalung yang sering di pakainya itu," Ujar Kiki.
"Jika memang Gilang itu keturunan langsung dari perpustakaan api suci, jiwa yang akan di tukarkan dengan jiwa Deviana masih belum ada," Ujar Nana.
"Bagaimana dengan jiwaku?" Ujar Azura tiba-tiba hingga membuat Nana dan Kiki melihat kearahnya.
"Kau gila? Kau bisa mati! Tidak lebih jelas akan menghilang! Apa kau ingat? didalam tubuh Kiki juga ada jiwamu. Apa kau ingin membunuhnya?" Ujar Nana yang meluapkan emosinya hingga nafasnya jadi tak beraturan karena berteriak.
Nana kemudian pergi meninggalkan Azura yang kini sedang merasa bersalah. Tanpa Nana sadari cairan bening lolos dari matanya, rasa kesal dan marah bercampur aduk.
"Dasar bodoh! Kau akan meninggalkan kami? Aku tidak ingin kembali dikurung oleh sistem! Dasar egois! Seenaknya saja ingin mengorbankan diri!" Lirih Nana seraya menghapus kasar air matanya kemudian menyelimuti dirinya dengan selimut.