Butterfly System

Butterfly System
Chapter 21 [Hotel Bulan Sabit!]


Azura memberikan satu persatu pukulan pada pengawal itu dan berhasil mengalahkan semuanya dengan sangat mudah dan bahkan tanpa harus mengeluarkan tenaga dalamnya. Azura mendekat pada pria botak yang kini telah jatuh terduduk lengkap dengan kaki yang gemetar juga basah.


"Kau! Berhenti! Aku ini anggota kelompok naga hitam," Ujar pria botak itu namun Azura tetap mendekat dan memberikan satu pukulan hingga pria itu pingsan.


Gilang menatap tak menyangka melihat Azura yang bisa mengalahkan dua puluh pengawal bersenjata pistol itu dengan mudah. Sejak pertarungan Gilang terus di jaga dan dilindungi oleh seorang pria yang tiba-tiba muncul disana saat pertarungan. Azura menghampiri keduanya dan melihat Gilang yang menatapnya penuh tanda tanya.


"Aku tau kau banyak pertanyaan tapi pertarungan ini belum selesai," Ujar Azura sambil melihat kotak tadi yang mulai bergetar hebat.


Asap hitam mulai keluar dari kotak itu dan membuat sebuah bau busuk yang sejak tadi Azura cium. Sang direktur keluar dan benda itu langsung masuk kedalam tubuhnya yang membuat tanduk dan ekor muncul di tubuh sang direktur. Ia mulai menggaung seolah memberikan informasi bahwa mereka akan mati.


"Akhirnya keluar juga," Ujar Azura.


Sang Direktur mulai menyerang Azura dan membuat lantai dan tempat itu hancur berantakan. Kiki yang telah menyamar menjadi salah satu penjaga di tempat ini masih setia melindungi Gilang sesuai dengan perintah Azura padanya. Ia melihat pertarungan Azura yang mungkin bisa di bilang seimbang dan masih belum di ketahui siapa pemenang dari pertarungan tersebut.


"Azura semangat," Teriak Gilang tiba-tiba.


"Iya tua. Kau yang paling kuat, semangat." Kiki juga memberikan semangat pada Azura.


Azura mengeluarkan pedangnya dan menebas secara tiba-tiba kedua tanduk milik direktur yang membuat ia harus merasakan sakit yang luar biasa saat tanduknya hilang. Direktur itu lalu berubah menjadi serigala raksasa dengan tiga kepala. ia lalu membela diri menjadi tiga serigala bergigi tajam dan kembali menyerang Azura.


"Kiki sekarang," Ujar Azura dan Kiki melemparkan beberapa bola apinya untuk membunuh dua serigala lainnya.


Bola api ukuran kecil terus menghantam tubuh sang serigala dan membuat tubuhnya perlahan ambruk. Kiki tersenyum namun seketika pudar saat tau jika serigala itu malah membelah diri lagi dan kembali hidup. Kiki mulai siaga saat keempat serigala tadi mengepungnya dan Gilang. Azura melemparkan pedang dan membunuh semua serigala itu dengan sekejap.


"Sial! Sampai kapan mereka akan membelah diri," Ujar Azura sambil menghindari serangan serigala bertanduk.


Azura berdecak kesal saat sekali lagi serigala itu membelah diri menjadi lebih banyak. Azura kesulitan untuk menolong Kiki dan Gilang karna terus dihalang serigala bertanduk yang Azura yakini adalah induk mereka. Azura mengeluarkan sebuah boneka kayu lalu memberikan setetes darahnya untuk boneka itu hingga berubah wujud menjadi kesatria kuno.


"Lindungi mereka," Ujar Azura dan kesatria itu melesat menolong Kiki untuk bertarung.


"Lumpuhkan kaki mereka, jangan di bunuh!" Teriak Azura di sela pertarungannya.


Sebuah panah melesat dan mengenai tenggorokan serigala bertanduk itu hingga mati dan meninggalkan dua benda berwarna merah dan hijau. Beberapa panah lagi-lagi di di lepaskan dan merobek tenggorokan semua serigala itu hingga hilang dari tempat itu. Azura berbalik untuk mencari seseorang yang telah melepaskan panah pada serigala itu.


"Kau ingin keluar atau aku harus menyerangmu agar segera keluar," Ujar Azura sambil menatap sebuah tiang penyangga gedung.


"Pemarah, kau ingin menyerang orang yang telah menolongmu. Apa ini balasan karena telah menolongmu?" Ujar seorang gadis berpakaian serba merah.


"Kau?!" Ujar Azura saat tau jika gadis itu adalah Devina.


"Hai, Azura sudah lama berjumpa. Kau masih ingat aku bukan?" Ujar Devina.


"Kau, bagaimana bisa menjadi seorang penyihir?" Ujar Azura dengan penuh tanda tanya.


"Keluargaku memang seorang penyihir," Ujar Azura.


"Aku sudah membantumu membunuh serigala itu. Aku punya hak atas batu hijau itu, kau bisa mengambil intisari iblis itu," Ujar Devina sambil meraih baru berwarna hijau itu.


"Tunggu!" Azura menghentikan tangan Devina.


"Kenapa kau merasa ini tidak adil?" Ujar Devina.


"Tidak, kau mimisan. Kurasa kau kurang baik," Ujar Azura.


"Kau ingin menggunakan batu hijau itu untuk penyembuhan tubuhmu bukan? Aku rasa pilihanmu salah," Ujar Azura.


"Apa maksudmu?" Ujar Devina.


"Batu itu memang akan membuat fisikmu jauh lebih kuat tapi dia juga perlahan merusak energi dalam dirimu. Jika aliran energimu rusak maka kau akan mati," Ujar Azura dan Devina mulai berfikir.


"Aku bisa membantumu," Ujar Azura.


"Apa maumu?" Ujar Devina penuh rasa curiga.


"Aku hanya ada satu permintaan," Ujar Azura dan Devina mulai menebak jika itu adalah uang dan kekuasaan.


"Jadilah temanku," Ujar Azura dan Devina tak menyangka permintaan Azura yang ia anggap sangat sepele itu.


"Baiklah, jangan berbohong padaku! Jika tidak kau akan tau akibatnya!" Ancam Devina.


"Tenanglah, aku tidak akan mengecewakanmu aku janji." Azura berbalik saat Kiki dan Nana menghampirinya sambil membawa pedang arwahnya.


Devina pergi dan meninggalkan Azura. Gilang menatap Azura dengan penuh pertanyaan, Azura menghela nafas panjang dan membuat sebuah cerita untuk ia jadikan alasan. Gilang terdiam sambil menatap kosong Azura yang membuatnya hampir berfikir bahwa Gilang tak percaya dengan kebohongannya.


"Azura, kau mengecewakan aku." Gilang menunduk dan Azura mulai berfikir negatif.


"Maaf," Ujar Azura.


"Kenapa kau tidak memberitahu aku jika kau ini adalah superhero yang ada di film-film itu. Kalau di pikir-pikir aku juga sudah pernah melihat ini, itulah kenapa aku tidak kaget sama sekali." Gilang mulai memutari pedang Azura dengan wajah kagum.


"Bisakah kau mengajariku cara bertarung? Aku bisa menjadi teman seperjuanganmu nanti," Ujar Gilang dengan penuh harapan pada Azura.


"Baiklah, tapi kau harus merahasiakan kejadian ini. Hotel Bulan sabit sudah kembali menjadi hotel bisa," Ujar Azura sambil mengambil pedangnya.


Azura berjalan ke arah intisari iblis itu sambil memegang pedangnya. Azura membelah batu itu hingga hancur menjadi pecahan kecil, Kiki melihat Azura yang menghancurkan intisari iblis itu dan memasang wajah heran melihat Azura yang menghancurkan beda pusaka itu.


"Kenapa tua mengacungkan benda pusaka itu?" Ujar Kiki.


"Benda ini berbahan lebih baik menghancurkannya dan misiku bisa selesai," Ujar Azura dan melihat monitor yang memberikan notifikasi hadiah.


Azura tersenyum melihat benda itu dan segera pergi saat polisi telah tiba. Gilang juga ikut keluar dan tidak mau menjadi kambing hitam atas rusaknya beberapa benda milik hotel bulan sabit. Disisi lain Nana terus menggerutu karna tidak bisa ikut dalam pertarungan kali ini padahal dia bisa merasakan akan bertemu seseorang.


"Aish... Kenapa mereka lama sekali? Apa mereka pergi ke suatu tempat tanpa mengajakku?" Ujar Nana dengan pipi yang mulai kembang kempis karna marah.


"Liat saja kalian akan mendapatkan harga yang setimpal jika tidak membawa oleh-oleh," Ujar Nana sambil menghentakkan kakinya di atas lantai.


...TBC...


Hai para pembaca yang terhormat, suka dengan chapter ini? Yuk hargai author dengan like, rate, vote dan coment ya😆


Salam manis,


Tirfa_ledina.