Butterfly System

Butterfly System
Chapter 36 [Kasih sayang!!]


Setelah bertemu dengan Darel, di koridor ucapan Darel terus terngiang di kepalanya. Pria itu akhirnya sampai di tempat duduknya di kantin. Gilang masih sibuk makan dengan lahap dan tak sadar jika Azura telah duduk di hadapannya.


"Kau kenapa sangat lama, liat sudah berapa lembar uang yang aku gunakan." Gilang memberikan dompet Azura yang terlihat sudah sedikit tipis.


"Iya, terserah deh. Ohiya, kau tau kelas Devina dimana?" Tanya Azura.


"Wow, ada angin apa nih? Tumben kau mencari Devina? Aku pikir kau tidak suka dekat dengan cewek," Ujar Gilang sambil meletakkan sendoknya.


"Kapan aku bilang begitu?" Ujar Azura.


"Kau tidak ingat? Kau beberapa kali kabur melihat para fansmu," Ujar Gilang.


"Nah, kalo itu kan beda. Apa kau tau apa yang akan mereka lakukan padaku kalo sampai aku tertangkap?" Ujar Azura dan Gilang hanya ber-oh ria saja.


"Kelas Devina sama dengan kelas Elin. Kelas 1-A," Ujar Gilang dan Azura segera makan dengan lahap.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau tiba-tiba menanyakan kelas Devina? Kau tau kan rumor yang beredar tentangnya?" Ujar Gilang.


"Ya, aku tau. Aku hanya ada perlu dengan dia," Ujar Azura.


Azura makan dengan terburu-buru dan selesai lebih cepat dari Gilang. Pria itu berdiri dan langsung meninggalkan Gilang yang masih belum selesai dengan makanannya.


"Woi, tungguin. Masih belum selesai nih," Ujar Gilang memakan potongan terakhir dagingnya kemudian pergi menyusul Azura.


Di perjalanan Azura berjalan dengan tergesa-gesa untuk mencari keberadaan kelas Devina. Gilang ada di belakangnya sambil minum, Azura masuk kedalam kelas.


"Eh, ada Azura. Kau sedang apa di sini?" Ujar salah seorang gadis dalam kelas.


Azura tak menanggapi para siswa wanita yang terus mengajaknya bicara. Pria itu masih terus mencari sosok gadis yang sedang ia cari. Elin yang baru saja datang dari ruangan OSIS melihat Azura yang terus berjalan ke sana kemari dalam kelas.


"Hoi, Azura. Lagi cari siapa sih?" Ujar Elin.


"Oh, baguslah kau di sini Elin. Apa kau melihat Devina?" Ujar Azura.


"Devina? Oh, dia tidak datang ke sekolah hari ini. Dia izin satu minggu," Ujar Elin.


"Apa? Kenapa bisa begitu?" Ujar Azura.


"Entahlah, aku juga tidak tau. Mungkin lagi ada urusan," Ujar Elin sambil mengangkat bahunya.


"Hufftt... Baiklah," Ujar Azura dan langsung pergi bersama Gilang.


...☄☄☄...


Disisi lain di sebuah istana megah, seorang wanita dengan paras cantik memasuki ruangan yang cukup luas dimana dia sana ada singgasana yang indah. Pemilik dari singgasana menatap dengan serius wanita yang baru saja memasuki istananya.


"Wah, apa yang membawamu ke sini penyihir suci? Setahuku penyihir terhormat sepertimu tidak mungkin mau datang ke kerajaanku ini," Ujar pemilik singgasana.


"Dasar adik kurang ajar! Kakakmu datang kenapa kau tidak menyambutnya?" Ujar sang wanita dengan jubah merahnya lalu menarik telinga pemilik singgasana.


"Auww, iya. Maafkan aku kakak, ada banyak urusan kerajaan yang harus aku kerjakan. Apa kau ingat? Adikmu ini adalah Lord," Ujar pemilik singgasana yang ternyata adalah Lord.


"Kau sudah berumur 100 tahun lebih tapi masih punya sifat kekanak-kanakan seperti ini? Benar-benar tidak berubah," Ujar wanita itu.


Wanita itu melepaskan telinga sang Lord. Ia menghela nafas melihat kelakuan adiknya itu, Erik yang berstatus Lord merupakan adik beda ibu dengan Sherly yang saat ini telah menjadi penyihir suci, meskipun beda rahim hubungan keduanya cukup dekat dan tak ada kerenggangan selama bertahun-tahun. Di usianya yang akan menginjak seratus sepuluh tahun Sherly berniat pulang dan merayakan ulangtahunnya dengan sang adik.


"Eh, Devina. Kau sudah besar, ya. Levi sedang pergi meninggalkan paman di sini," Ujar Erik dengan wajah dibuat sedih tapi ucapan itu membuat Sherly kaget.


"Apa! Keponakan imutku pergi? Kau apakan dia, hah?! Jawab!" Ujar Sherly sambil mencubit pipi sang adik.


Devina hanya menggelengkan kepalanya melihat hal ini. Sudah sepuluh tahun sejak Devina ke sini, tapi tempat ini masih sang luar bisa dan tentunya ada banyak aura mencekam di tempat ini. Sherly dan Erik merupakan immortal yang telah berumur seratus tahun lebih. Wajah awet muda ini adalah salah-salah kelebihan dari immortal.


"Kau apakan lagi keponakanku! Aku tidak lupa saat kau sudah mengirim Levi ke hutan es hingga hampir mati di sana, apa kau tidak puas? Dia masih keci!" Ujar Sherly sambil menarik kerah baju Erik dengan kesal.


"Huh, beri aku penjelasan yang normal! Awas kalo aneh-aneh! Aku sihir kau jadi kodok!" Ancam Sherly dengan tatapan tajamnya.


"Iya, iya. Jadi gini, anakku Levi sebenarnya di jebak oleh keluarga Moca dan Hazzel. Mereka memerlukan darah keturunan Lord agar bisa membangkitkan kristal iblis," Ujar Erik dan mendapatkan tatapan tajam dari Sherly.


"Walau begitu, Levi bisa selamat berkat benda ajaib yang kau berikan. Saat ini dia tinggal bersama vampir murni, aku awalnya akan menjemputnya tapi aku rasa dengan berada di samping Vampir murni itu, dia bisa berkembang dan menjadi lebih kuat untuk tahta yang akan dia pikul," Lanjut Erik dan kini gugup saat Sherly tak berekspresi datar.


"Wah, adikku sekarang tambah pikun ya. Aku pikir meninggalkan kau sebentar kau bisa sedikit berkembang ternyata tidak sama sekali, kau makin bodoh saja!" Ujar Sherly.


"Mana ada vampir murni?! Mereka telah musnah ribuan tahun yang lalu!" Terik Sherly di telinga Erik.


"Ya ampun hampir aja telingaku tuli. Vampir murni masih ada, dia saat ini terikat oleh sistem kupu-kupu. Namanya adalah Azka Azura, siswa SMA yang satu sekolah dengan Devina." Mendengar hal itu Devina tak menyangka bahwa Azura adalah vampir murni.


"Bagaimana paman bisa tau? Dia sama sekali tidak punya kekuatan immortal," Ujar Devina.


"Ya, dia tidak memilikinya sekarang. Tapi dia tetap keturunan vampir murni yang sempat menjadi vampir buangan, saat ini Keluarga Hazzel dan Moca mengincarnya. Sulit baginya untuk kabur dari hal ini terlebih kristal iblis telah terisi penuh," Ujar Erik.


"Lalu kenapa kau tida menghentikan mereka?" Ujar Sherly.


"Jadi Levi juga dalam bahaya! Astaga kita harus menolongnya!" Ujar Sherly berniat pergi tapi Devina menahannya.


"Kali ini biarkan aku yang pergi menolong Levi ibu, aku bisa. Tolong biarkan aku kali ini saja," Ujar Devina dengan wajah serius dan membuat Sherly terkejut melihat sikap anaknya.


...☄☄☄...


Azura membantu Amora mengemasi barang-barangnya kedalam koper. Sejak pulang sekolah Amora tiba-tiba ingin pergi ke kampung halaman ibu Azura untuk mengambil benda-benda peninggalan ibunya di sana. Meskipun Azura sempat menolak karena kesehatan sang nenek, Azura terpaksa harus mendengar Amora karena terus memaksa.


"Apa nenek benar-benar tidak perlu aku temani? Aku khawatir nenek kenapa-kenapa di perjalanan," Ujar Azura.


"Duh, cucu nenek yang baik. Nenek bisa jaga diri, Azura di sini saja dan belajar yang baik. Nenek tidak akan lama kok," Ujar Amora untuk meyakinkan sang cucu.


"Kalo begitu Nana saja yang pergi," Ujar Nana yang muncul di ambang pintu bersama Kiki.


"Kiki juga ikut," Ujar Kiki.


"Hufftt.. Nana dan Kiki sini masuk." Nana dan Kiki masuk kemudian langsung di peluk oleh Amora.


"Nana dan Kiki tidak perlu khawatir. Nenek tidak akan lama kok, kalian di sini ya. Temani Azura jaga rumah," Ujar Amora sambil mengelus lembut rambut dua anak itu.


Amora melihat jam yang ternyata telah menunjukkan pukul tiga sore. Azura telah menyiapkan kendaraan pribadi untuk sang Nenek meskipun tanpa sepengetahuan Amora. Azura tidak ingin nenek sampai lelah membawa koper, untuk itulah Azura juga menyewa pelayan yang akan membatu Amora.


"Sudah waktunya pergi, Azura mobil yang kau bilang datang jam 3 sore kan?" Ujar Amora dan Azura mengangguk.


"Mobilnya sudah ada di depan rumah nenek," Ujar Azura.


Azura membantu Amora mengangkat koper ke depan pintu keluar. Amora masuk ke dalam mobil dan sebelum itu memeluk satu persatu Azura, Kiki dan Nana secara bergantian. Ketiganya melambaikan tangan pada kepergian mobil yang terlihat sudah cukup jauh.


"Aku iri pada kalian," Ujar Levi yang telah melihat semuanya lewat jendela.


Ia sungguh merasa iri, melihat bagaimana kedekatan Azura dan Neneknya. Dari kecil ia telah kehilangan sang ibu yang harus memberikan kehangatan, ayahnya tak pernah menatapnya dengan tatapan lembut seperti yang Amora berikan pada Azura. Ayahnya sangat keras dapat dan tak memberikan kasih sayang yang selalu ia impikan.


"Bagaimana keadaan ayahku yang sialan itu ya?" Gumam Levi.


...TBC...


Hai 👋 Yuk Budayakan like, rate, vote dan coment setelah membaca ya biar author semangat nulisnya 🙏🥺 Sampai jumpa di episode selanjutnya 😘


Salam manis,


Tirfa_ledina.