
Seorang pria dengan lengan pakaian sekolah bertuliskan tertib duduk bersandar pada bangku taman. Kini ia menyesal karena menyetujui untuk masuk dalam anggota kedisiplinan, pria itu menghela nafas cukup pajang hingga seseorang memanggilnya.
"Azura!" Panggil seorang gadis.
Pria bernama Azura hanya menghela nafas untuk kedua kalinya saat melihat Elin yang menghampirinya. Sejak pagi tadi Azura cukup lelah dengan para siswa wanita yang terus melakukan pelanggaran di bandingkan siswa pria. Azura bahkan sampai kewalahan saat para gadis itu berebut untuk mendapatkan sanksi dari Azura.
Sejak Elin membawanya ke depan pintu BK beberapa hari yang lalu. Azura bahkan harus mendapatkan ancaman dari Elin yang telah menemukan satu bungkus rokok dalam salah satu hadiahnya dari para gadis. Azura sudah menjelaskan bahwa benda itu bukan miliknya, namun Elin masih tak percaya dan menganggapnya mencari alasan. Azura bahkan masih ingat jelas setiap kata yang keluar dari mulut Elin.
"Tidak, walaupun kau pernah menolong aku. Keadilan tetap yang nomor satu, jadi aku memberikan kau satu kesempatan. Aku tidak akan melaporkan kamu, tapi dengan satu syarat kau harus masuk dalam anggota kedisiplinan" Ujar Elin dengan senyuman manisnya.
Elin mulai berteriak di telinga Azura dan sukses membuat pria itu harus kembali dari lamunannya. Azura hanya bisa mengusap kasar wajahnya saat Elin menatapnya seakan-akan ada sesuatu yang buruk akan menimpa Azura.
"Ada apa?" Ujar Azura dingin.
"Hei, aku hanya becanda kenapa kau malah marah seperti wanita saja," Ujar Elin.
"Yakk! Aku ini pria tulen asal kau tau saja," Ujar Azura.
"Iya, iya. Aku hanya ingin memberikan kau sebuah misi. Aku pikir kau akan bisa mengatasi ini, kau tau Devina? Kau harus membantu dia menjadi lebih patuh dan tertib. Gadis itu selalu melakukan pelanggan akhirnya ini," Ujar Elin.
"Devina? Pelanggan apa yang dia lakukan?" Ujar Azura penasaran.
"Ada banyak sih pelanggarannya. Dia selalu merokok, berkelahi dengan para siswa, dan bahkan dia melakukan pembulian juga," Ujar Elin.
Azura terdiam, di kehidupan lalunya Devina memang memiliki sikap yang buruk dan itu membuat dia sering menjadi sasaran empuk para pembuli saat mereka ketahuan. Saat naik kelas dia memiliki stempel anak pemberontakan di dalam laporan siswa, setelahnya ia keluar dari sekolah. Azura hanya ingat sampai di situ dan tidak tau ke adaan Devina setelah keluar dari sekolah.
"Kenapa harus aku? Kau taukan dia memiliki sebuah kutukan, para anggota lain tidak ingin berurusan dengan Devina. Hanya kau yang bisa aku percaya, mohon bantuannya Azura." Elin menatap Azura.
"Lalu kenapa tidak kau saja?" Ujar Azura.
"Anak ini, aku ini ketua kedisiplinan aku memiliki banyak sekali kesibukan." Elin memukul kepala Azura.
"Aku hanya bertanya, kenapa kau malah memukulku?" Ujar Azura sambil mengusap bagian kepalanya yang menjadi korban pukul keras Elin.
"Itu terserah aku, sudahlah aku masih sibuk. Devina menjadi tanggung jawab kau sekarang, sampai jumpa." Elin lalu pergi berlari dari Azura.
"Gadis itu benar-benar pemaksa," Ujar Azura.
Seekor naga hitam hanya bisa menatap bingung pada tuannya yang terlihat kesal itu. Naga itu kemudian duduk di pangkuan Azura, sebuah listrik tiba-tiba menyengat tubuh Azura. Perlahan tubuh Azura kembali segar dan bersemangat, listrik itu sama sekali tidak menyakitinya dan bahkan sebaliknya listrik ini malah menaikan levelnya sekarang.
Ting
Ting
"Dari mana listrik ini muncul? Poinku tiba-tiba bertambah begitu saja," Ujar Azura.
"Berikan aku nama, tuan."
"Hah? Apa semua ini karena kau?" Ujar Azura.
Naga itu hanya mengangguk lalu mulai menjilat tangan Azura. Pria itu mulai tersenyum dan mengelus kelapa naga itu, berkat naga ini kini ia memiliki cukup banyak poin.
"Kiki," Ujar Azura dengan nada bergetar.
Tanpa sengaja pria itu menyebutkan nama kucingnya yang telah meninggal di kehidupan lalunya. Azura tiba-tiba memeluk naga itu sambil menyebutkan nama Kiki, sungguh ia sangat rindu pada Kiki.
[Hei, apa yang kau lakukan? Kenapa tiba-tiba poinmu bisa bertambah? Yak! Kenapa kau menangis lagi, meong]
"Ah, tidak apa?" Ujar Azura sambil menghapus air matanya.
[Dari mana kau menemukan naga itu?! Dasar pembuatan masalah, meong]
"Ah, aku menemukannya di jalanan." Ujar Azura.
[Astaga kau akan kehilangan separuh jiwamu jika melakukan kontrak dengan naga itu, meong]
Azura mulai mondar-mandir di depan bangkunya. Pikiran-pikiran negatif mulai memenuhi kepala pria itu, sesekali ia duduk terdiam beberapa detik kemudian kembali mondar-mandir tanpa alasan. Sebuah palu ukuran besar menghantam kelapa Azura hingga pria itu harus menahan rasa sakit pada kepalanya.
"Yak! Nana, kenapa kau sangat suka memukul aku?" Teriak Azura dengan nada kesal.
[Aku itu berniat baik. Bodohmu kumat lagi jadi aku memukulmu agar kau sadar lagi, meong]
"Apa aku akan mati lagi, Nana?" Ujar Azura.
[Apa sekarang kau masih bernafas? Masih kan itu, berarti kau tidak akan mati. Dari yang aku tau mengikat kontrak dengan seekor naga akan membuat keduanya terikat hidup dan mati, setengah jiwa yang di ambilnya adalah bukti kontrak telah berhasil. Jika naga ini mati berarti kau akan mati juga, meong]
Azura tidak tau harus bersyukur atau malah menggerutu. Pria itu lalu menghela nafas panjang sambil duduk kembali ke bangku taman. Azura tak sadar jika ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya dari kejauhan. Orang tadi langsung mendekat pada Azura dan mulai menatap leher Azura dengan serius.
"Kau membuat tato?" Ujar Devina.
Azura kaget hingga ia jatuh terduduk saat ada wajah yang mendekat pada lehernya. Devina menatap bingung pada Azura yang masih menggerutu sambil berdiri. Ini adalah kedua kalinya Devina membuat Azura jatuh kerena kaget atas kehadirannya yang tiba-tiba.
"Kenapa kau selalu datang tiba-tiba seperti hantu saja? Aduh, pantatku sakit karena membentur batu di tanah tadi," Ujar Azura sambil mengelus pantatnya.
"Kau membuat tato?" Ujar Devina.
"Apa? Tato? Aku tidak membuat tato," Ujar Azura dengan wajah bingung.
"Lalu tato naga di lehermu itu apa?" Ujar Devina sambil menunjukk leher Azura.
Devina lalu memberikan Azura cermin dan membiarkan Azura melihat tato di lehernya. Nana mulai mengelilingi Devina dengan rasa penasaran, Azura tak percaya pada yang ia lihat. Seingatnya ia tidak pernah membuat tato lalu kenapa tiba-tiba saja ada tato yang muncul di lehernya.
[Gadis ini memiliki keistimewaan, dia bahkan bisa melihat tanda kontrak naga. Kau harus hati-hati dengan gadis ini, aku bahkan tidak bisa memeriksa identitas takdirnya. Ada yang aneh dengan gadis ini, meong]
"Apa dia bisa melihat kau juga Nana?" Gumam Azura.
[Seperti dia tidak bisa, meong]
"Apa yang kau gumamkan?" Ujar Devina.
"Ah, tidak ada," Ujar Azura.
Devina langsung duduk di bangku taman yang tadinya di duduki oleh Azura. Gadis itu mulai sibuk dengan ponselnya tanpa peduli dengan tatapan beberapa siswa yang lewat. Azura berbalik menatap para siswa tadi namun tak ada yang mau mendekat atau sekedar menyapanya seperti beberapa jam yang lalu. Azura kini duduk bersama Devina.
"Aish, kenapa gadis sialan itu malah duduk dengan Azura? Aku barusan ingin menyapa Azura, huh. Selalu saja membuat sial!" Ujar Seorang gadis.
"Gadis sial itu kenapa harus duduk dengan Azura. Membuat orang kesal saja, dasar bedebah sialan!" Ujar gadis lainnya.
"Jangan bilang dia pacaran dengan Azura?"
"Mana mungkin dia tidak pantas dengan Azura. Dia gadis sial, ada banyak kesialan didekatnya."
Azura melirik Devina yang masih fokus dengan ponselnya. Azura yakin Devina mendengar semua umpatan gadis tadi, Azura lalu berdiri dan memberikan minumannya pada Devina.
"Minumlah itu, kau akan merasa baik." Azura menepuk pelan kepala Devina yang masih tertunduk menatap ponselnya.
Devina menatap Azura yang berlari sambil meniup peluit. Devina tersenyum simpul melihat punggung Azura yang sudah menghilang dari balik pohon.
"Aneh, pria aneh." Devina mengambil minum dari Azura lalu pergi.
...TBC...
Halo semuanya, aku kembali lagi. Jangan lupa like, rate, vote dan coment π€
Dukungan kalian sangat membantu author semangat nulis ceritanya πβΊοΈ
Salam manis,
Tirfa_ledina