Butterfly System

Butterfly System
Chapter 18 [Teman Baru!]


Pagi ini Azura bangun lebih pagi untuk latihan. Kiki dan Nana masih berada dalam alam mimpi dan sesekali mengigau. Setelah beberapa saat Azura mengeluarkan sebuah kunci dan berpindah tempat ke alam rahasia. Ia melakukan pertapaan yang ketiganya. Waktu di sana jauh lebih cepat dari di dunia nyata, satu bulan di sana sama dengan tiga hari di dunia nyata.


"Kurasa satu hari di sini tidak mengecewakan. Setelah menyerap benda bulat atau yang di sebut buah kehidupan, tubuhku jauh lebih baik dan lebih ringan." Azura berdiri lalu keluar dari tempat itu.


Dengan pakaian yang telah basah karena keringat ia kembali kerumahnya. Ia melihat jam di dinding yang telah menunjukkan pukul enam pagi yang berarti Azura telah berada di alam rahasia selam satu jam penuh. Azura segera pergi ke toilet dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.


"Apa aku bawa juga benda ini?" Ujar Azura sambil memakai dasi dan melihat kalung pemberian Raymond.


Azura lalu memasukkan semua buku dan alat tulis kedalam tas dan tak lupa mengambil kalung berbentuk bulan berwarna hitam itu. Pria itu keluar dari kamar dan melihat ada Kiki dan Nana yang sedang sarapan. Azura ikut duduk dan sarapan bersama mereka.


"Ohiya, Azura. Nenek sudah mendaftar Kiki dan Nana ke sekolah, kau antar mereka juga ya. Nenek tidak bisa karna ada sedikit urusan di tempat kerja nenek." Amora meletakkan piring berisi tempe di depan Azura.


"Nenek tidak perlu bekerja lagi, urusan uang dan biaya hidup biar aku saja yang tangguh nek." Azura menatap neneknya.


"Aish... Kau ini, mana bisa pelajar bekerja? Kau nanti tidak konsentrasi dalam pelajaranmu, lagi pula nenek tidak bisa tinggal di rumah dan tidak bekerja."


"Baiklah kalo nenek bilang begitu, tapi nenek tidak perlu memaksakan diri untuk bekerja. Jika nenek lelah maka istirahatlah," Ujar Azura.


"Iya, iya. Kau makanlah dan cepat berangkat ke sekolah," Ujar Amora dan di balas Azura dengan anggukan.


...☄☄☄...


Selama perjalanan mulai dari tetangga hingga pemilik toko di ujung sana Azura terus mendapatkan perlakuan dan senyuman yang ramah. Seorang pemilik kafe tiba-tiba menarik Azura masuk ke dalam kafe sambil mengucapkan terimakasih.


"Nak, terimakasih telah membatu kami kemari. Kafe kami jadi lebih ramai dari dulu karena bantumu," Ujar Pemilik cafe.


Azura mulai kebingungan dengan penjelasan sang pemilik kafe. Nana menarik tangan Azura agar pria itu menunduk dan memberikan penjelasan dari kejadian ini. Azura kini tau jika semua ini perbuatan Kiki yang terus menolong orang-orang.


"Wah, nak Azura punya adik yang lucu-lucu, ya. Ini paman kasih permen, Ohiya ini ada menu terbaru kami kau bawa saja sebagai bekalmu dan rasa terimakasih kami atas bantuanmu kemarin," Ujar pemilik kafe sambil tersenyum ramah.


"Ah, terimakasih paman. Anda sangat baik, maaf membuat paman repot." Azura tersenyum dan memamerkan senyum kotaknya hingga membuat beberapa pelanggan yang ada di sana terkesima.


"Wahh, pria itu sangat tampan. Aku akan sering datang kesini lain kali," Ujar salah satu pelanggan.


"Baiklah paman, terimakasih atas bekalnya aku harus segera mengantar adikku ke sekolah agar tidak terlambat." Azura pergi bersama Kiki dan Nana setelah berpamitan dengan pemilik kafe.


Setelah sampai di sebuah sekolah dasar. Azura mengacak-acak rambut Nana dan Kiki sambil memberikan beberapa kata yang membuat Nana kesal dan sedikit tersentuh. Pria itu lalu berlari menuju sekolahnya, ia tidak perlu lagi naik bus atau kendaraan karna tubuhnya sudah sangat ringan dan memungkinkan untuk lebih cepat sampai dalam waktu singkat.


Beberapa menit berlalu kini Azura telah sampai di depan gerbang sekolah. Baru saja Azura akan melangkah masuk melewati gerbang, seseorang tiba-tiba berdiri di depannya sambil tersenyum pada Azura.


"Kenapa kau menghalangi jalanku?" Ujar Azura dingin sambil melihat seorang pria dengan pakaian acak-acakan.


Pria memasang wajah datar, dalam beberapa detik pria itu langsung mengubah ekspresinya menjadi tersenyum. Ia lalu bersikap seolah-olah dia dan Azura adalah teman dekat. Ia terus mengajak Azura berbicara dan bercanda namun Azura malah mengabaikannya dan terus berjalan.


"Kau tidak mengingat aku? Astaga apa kau melupakan aku? Kau benar-benar teman yang jahat sekali, apa kau juga tidak tau nama temanmu ini?" Ujarnya sambil berjalan bersama Azura.


"Mana ada teman yang bertemu saja tidak pernah," Ujar Azura.


"Baiklah, biar aku memperkenalkan diriku ini. Aku Gilang siswa yang kau tolong di toilet itu," Ujar Gilang dan membuat Azura terkejut.


"Kau rambut mangkok itu? Kenapa penampilan kau sekarang berubah?" Ujar Azura.


"Itukan kau yang bilang," Ujar Gilang.


"Siapa yang menyuruhmu untuk menirukan penampilanku?" Ujar Azura sambil melihat gaya rambut dan pakaian Azura.


"Itu kau, kau bilang tirulah aku." Gilang tersenyum polos saat Azura menjitak kepalanya sendiri.


Azura menghela nafas kemudian kembali berjalan dengan Gilang di sebelahnya. Para siswa menatap keduanya dan mengira mereka adalah anak kembar. Beberapa mulai meminta nomor telfon Gilang dan Azura. Gilang hanya bisa tersenyum saat merasa seperti orang populer padahal dia orang yang tertindas di sekolah ini.


Azura memijat kepalanya melihat Gilang yang terus mengikutinya kemana-mana bahkan ia pindah kelas karena ingin lebih dekat dan menjadi teman Azura. Gilang itu adalah anak orang kaya hanya saja penampilannya yang terlihat cupu membuat dia malah menjadi sasaran empuk para pembuli.


"Azura jadilah temanku," Ujar Gilang sambil buang air di dalam toilet dan sekarang sedang bersebelahan dengan Azura.


"Apa yang kau liat?" Ujar Azura saat Gilang mengintip Azura yang sibuk buang air kecil.


"Punyamu besar juga," Ujar Gilang sambil terkekeh.


Azura tak menjawab. Setelah buang air kecil ia kemudian pergi ke wastafel untuk mencuci tangannya. Gilang lagi-lagi mengekori Azura ke kantin dan makan di meja yang sama.


"Wah bekalmu terlihat enak, boleh aku minta sedikit." Belum sempat Azura menjawab Gilang langsung menyambar udang goreng paling besar di sana dan memakannya hingga habis.


Azura hanya bisa menghela nafas pasrah dan melanjutkan makannya walaupun udang kesukaannya sudah di lahap habis oleh Gilang. Selama seharian penuh Gilang terus saja mengikuti Azura kemampuan bahkan ia memaksa ikut ke rumahnya dan belajar bersama.


"Wah, kamarmu kecilnya tapi di sini cukup nyaman dan tenang. Aku suka disini," Ujar Gilang sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur milik Azura.


Amora datang dan membawa beberapa cemilan dan minuman seadanya untuk Azura dan Gilang. Setalah itu mereka mulai mengerjakan beberapa soal dari sekolah, Azura sudah menyelesaikan semua tugasnya namun Gilang masih saja terus bicara banyak hal. Beberapa jam berlalu akhirnya Gilang selesai menjawab semua tugasnya dan bersiap untuk pulang.


"Ohiya, Azura tolong pergi beli garam di toko. Di dapur sudah habis," Ujar Amora.


"Baiklah nek," Ujar Azura.


"Kalau begitu aku ikut. Sekalian menunggu supirku datang," Ujar Gilang.


"Terserah," Ujar Azura.


Keduanya kembali setelah membeli garam. Jalan tiba-tiba sepi dan Azura mulai merasakan ada hawa membunuh yang kuat. Ia lalu berbalik ke kiri dan kanan untuk mencari sumber bau busuk ini. Seorang gadis berjalan lunglai kearah Azura dan Gilang, gadis itu akhirnya jatuh hingga Gilang segera menghampiri gadis itu.


"Apa nona baik-baik saja?" Ujar Gilang.


Azura terdiam sejenak dan melihat gadis itu tiba-tiba memeluk Gilang. Azura kini tau hawa membunuh itu berasal dari gadis itu, Gilang akhirnya jatuh dalam ilusi yang di buat gadis itu.


"Menjauh dari gadis itu!" Perintah Azura namun Gilang masih terdiam.


Gadis tadi tersenyum pada Azura dan mulai berniat memakan Gilang. Dengan Gesit Azura menarik Gilang dan melemparkannya ke sebuah atap dengan selamat. Kini Gilang tertidur akibat ilusi gadis itu.


"Kau kuat, aura kehidupan yang kau miliki cukup tinggi. Aku mau itu," Ujar Gadis itu.


Gadis itu seketika berubah menjadi makhluk bercakar dengan gigi yang tajam juga darah yang menghiasi tubuh dan pakaiannya. Ia mulai menyerang Azura dengan brutal namun Azura dengan santai menghindari setiap serang. Azura mengeluarkan pedangnya dan sekali tebas gadis itu menghilang dan menjadi asap hitam.


"Sudah selesai," Ujar Azura dan pedangnya langsung menghilang.


"Kau! Jangan menindas aku! Aku ini anak baik!" Gilang mulai mengigau.


Azura berusaha membangunkan Gilang namun tak ada respon. Pria itu akhirnya memilih untuk menggendong Gilang seperti karung beras.


"Jadilah temanku Azura," Gilang mengigau dengan air liurnya yang mulai keluar dan mengenai pakai Azura.


"Dasar! Membuat repot saja," Ujar Azura sambil menurunkan Gilang dan memilih untuk menyeret pria itu.


...TBC...


Suka chapter ini? Yuk like, rate, vote dan coment 😍 Semoga kalian suka dan terus mendukung cerita ini 🥰 Sampai jumpa di chapter selanjutnya 😘


Salam manis,


Tirfa_ledina.