
Hai semuanya 👋 sebelum baca yuk Like, rate, vote dan coment ya😊🙏
Salam manis,
Tirfa_ledina.
...Happy reading 😘...
Semua orang di tempat itu bertepuk tangan dan memberikan beberapa pujian atas pengumuman Sherly yang tiba-tiba tadi. Devina dan Azura terkejut bukan main, keduanya sama sekali tidak mengetahui hal tersebut. Devina memanggil sang ibu yang masih sedang berbicara dengan beberapa tamu.
"Apa yang mama ucapkan tadi?" Ujar Devina.
"Sebentar dulu, aku harus bicara dengan anakku." Para orang bangsawan mulai pergi meninggalkan Sherly dan Devina.
Erik menahan bahu Azura yang hendak melakukan protes. Karena terkejut, Azura menepis kasar tangan Erik yang membuat perhatian para tamu tertuju padanya. Tatapan tidak suka dan benci mulai menghujani Azura, mereka tentu tidak suka saat Lord mereka di perlukan buruk oleh manusia rendahan seperti Azura.
"Manusia rendahan ini berani sekali, sudah untung dia di jadikan pasangan penerus penyihir suci. Manusia memang sangat egois dan serakah," Ujar Seseorang yang tentu mampu sampai di pendengaran Azura yang sangat tajam.
"Aku jadi heran kenapa sang penyihir suci malah menjodohkan anaknya dengan manusia lemah?" Ujar salah seorang makhluk immortal.
"Benar-benar manusia yang menjijikkan."
"Tidak tau malu."
"Dia cukup tampan dari manusia lainnya, tapi sayang dia tetap ada di kaum manusia yang lemah."
Azura tak peduli dengan cemohan seperti itu, ia hanya merasa aneh karena semua orang menganggap dia sebagai manusia. Mereka semua itu immortal, mana mungkin mereka tidak menyadari jika Azura adalah seorang vampir murni. Erik terdiam, saat tangannya menyentuh pundak Azura. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang kuat sedang melindungi Azura, kekuatan itu bahkan membuat tangannya sempat bergetar.
Semua perwakilan dari banyak keluarga itu sudah sejak lama mengincar posisi pasangan Levi atau Devina. Tak ada yang namanya kesetiaan dalam kerajaan ini, mereka hanya berpihak pada yang kuat. Erik tau akan hal itu, mereka semua licik dan haus akan kekuasaan dan kekuatan. Levi, Nana dan Kiki berhenti untuk makan semua hidangan di meja penyajian itu.
"Berhenti makan Kiki," Ujar Nana tapi Kiki malah mempercepat tangannya untuk mengambil banyak keripik.
Nana akhirnya menarik Kiki menjauh dari sang keripik untuk masuk kedalam kerumunan tamu itu. Setelah berhasil menyelip di antara tamu itu mereka langsung di suguhi pemandangan Azura yang terlihat kebingungan. Ia beberapa kali mengekspresikan apa yang ia pikirkan, Azura benar-benar tidak bisa menutupi apa yang dia pikirkan.
"Liat, anak bodoh itu. Kenapa dia mengeluarkan ekspresi seperti itu?" Ujar Nana.
"Tuan? Apa dia takut menikah?" Tebak Kiki dan mendapatkan anggukan dari Levi juga Nana.
Salah seorang maju, pakaian yang di penuhi banyak perhiasan membuat dia tampak bersinar karena terkena cahaya. Wajahnya tampak angkuh saat melihat perwakilan dari keluarga lain. Pria itu berniat untuk membujuk agar perjodohan Azura dan Devina di batalkan dengan alasan Azura yang tidak pantas.
"Yang mulia, perjodohan ini terlalu cepat? Dia juga hanya manusia biasa. Dia tidak sebanding dengan nona Devina?" Ujar pria itu.
"Apa kau mempertanyakan keputusanku?" Ujar Erik dengan tatapan tajam dan tekan mental yang kuat.
Orang itu langsung bergetar ketakutan akibat tekan yang diberikan oleh Lord. Erik kembali duduk di singgasananya, Devina sudah berdiri bersebelahan dengan Azura. Sherly mengerti perasaan anaknya itu, tapi bukan tanpa sebab ia melakukan hal ini. Azura adalah orang yang cocok untuk mendampingi Devina yang memiliki sihir gelap di tubuhnya.
"Pesta sudah berakhir! Kalian bisa pergi," Ujar Erik untuk mengusir semua tamu merepotkan itu agar mereka tidak lagi melakukan protes.
Setelah semua orang pergi. Kiki, Nana dan Levi yang di perbolehkan untuk tetap tinggal mulai mendengar setiap ucapan dari Devina dan Azura. Erik menghela nafas panjang, penolakan Devina membuat ia jadi lebih sulit menjodohkannya dengan Azura.
"Azura, kau harus tanggung jawab. Para Alfa seperti mengepung kerjaanku," Ujar Erik.
"Mereka bahkan membangun tenda seperti para manusia yang melakukan demo. Devina, aku sudah melepaskan segel sihirmu. Kau juga tau, butuh pengorbanan untuk melepaskan segel." Ucapan Erik membuat Devina tertegun.
"Alfa? Untuk apa mereka memilihku menjadi pemimpin mereka?" Ujar Azura.
"Dan lagi, kau punya hutang nyawa dengan Devina. Kau harus membayarnya, lakukanlah pertunangan ini."
"Tapi, paman aku tida-" Ucapan Devina di hentikan oleh Sherly menggunakan sihir diam.
Devina menatap penuh tanda tanya pada sang ibu. Sherly yang melihat itu hanya bisa menutup mata, perjodohan ini tetap harus di lakukan untuk keberlangsungan hidup Devina. Azura terdiam, ia memang berhutang pada Devina. Jika bukan dia yang menolongnya, mungkin ia sudah menjadi mayat dingin di kastil itu.
"Hufftt.. Baiklah, aku akan melakukan pertunangan ini." Azura terlihat serius dengan ucapannya sementara Devina terkejut akan hal itu.
Sebuah cincin berwana perak muncul di depan Devina dan Azura. Sherly menuntun tangan Devina untuk saling bergandengan dengan Azura. Ada ribuan cahaya berwana kuning muncul, cincin milik Devina mendarat di tangan Azura dan milik Azura mendarat di tangan Devina. Sihir Sherly lepas dan membiarkan Devina yang sejak tadi memberontak akhirnya terdiam.
"Kenapa kau ingin melakukan hal konyol ini?" Ujar Devina.
"Aku mungkin tidak memiliki perasaan lebih dari teman padamu. Tapi jika pertunangan ini bisa menolongmu dari sihir gelap aku akan melakukannya. Kita adalah teman," Ujar Azura.
Devina tak menjawab, tak bisa ia sembunyikan raut wajahnya yang kecewa dan sedikit tersentuh dengan ucapan Azura tadi. Devina lalu memasang cincin pada tangan Azura dengan sedikit energi sihir miliknya. Azura juga melakukan hal yang sama pada jari manis Devina. Kedua cincin itu mulia bersinar yang menandakan sudah ada ikatan antara Azura dan Devina.
"Wow, aku suka dengan cincin itu. Cantik," Ujar Nana yang terlihat kagum dengan cincin pasangan itu.
"Kau suka? Bagaimana kalo kita juga melakukan hal sama yang dilakukan Kak Devina dan Azura?" Ujar Levi dan membuat Nana memiringkan kepalanya karena bingung.
"Bibi," Panggil Levi dengan senyum cerah.
"Bisa berikan cincin yang seperti itu? Aku juga ingin di jodohkan dengan Nana," Ujar Levi dengan wajah berbinar tapi secara tiba-tiba Nana menendang kaki Levi.
"Siapa yang mau di jodohkan denganmu?" Ujar Nana dengan pipi yang mengembang karena marah.
"Wahh, imutnya." Ucapan Levi lagi-lagi membuat Nana kesal.
Kiki yang masih asik mengunyah keripik langsung di dorong Nana agar berdiri di sebelah Levi. Nana lalu memalingkan kepalanya dari Levi seraya melipat tangannya di dada.
"Sana, kau pakai cincin itu saja dengan Kiki. Dan ingat! Aku tidak imut!" Ujar Nana.