
"Kumohon lepaskan aku. Kau bisa mengambil semua uangku, tapi biarkan aku hidup. Aku mohon," Ujar seorang pria sambil berlutut memohon untuk bisa tetap hidup.
"Tidak bisa! Kau harusnya bisa bangga kerena bisa menjadi bagian dari kristal iblis," Ujarnya sambil menebas leher orang itu hingga darah mengalir deras.
Segera ia menarik mayat itu untuk di ikat di atas wadah ukuran raksasa agar darahnya tidak terbuang sia-sia. Di atas wadah itu masih ada banyak mayat yang di gantung terbalik dengan darah yang masih mengalir deras.
"Cepat bersihkan semua ini, tuan Adelion dan tuan Alexander akan datang. Kita tidak boleh membiarkan dia menginjak lantai kotor," Ujarnya.
Setelah membersihkan semua bercak darah mereka segera pergi dan meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa setelah mengunci pintu dengan rapat. Di dalam sana ada seratus mayat yang sengaja di gantung untuk di ambil darahnya. Bau amis darah tentu menjadi pelengkap di dalam ruang pengap itu.
Klek..
Pintu akhirnya di buka beberapa menit setelahnya. Dua gadis cantik masuk ke dalam ruang dan langsung berjalan ke arah wajah penuh darah itu. Mereka melihat tepat di tengah-tengah wadah, di sana ada sebuah kritis yang sedang menyerap darah di dalam wadah.
"Tidak bisa di percaya, darah manusia rendah itu bisa mengisi energi kristal iblis dengan sangat cepat. Mencium bau darah membuat aku lapar saja," Ujar gadis yang memiliki cambuk di pinggangnya.
"Kau harus ingat perintah tuan, Rosse! Dalam satu minggu ke depan tuan melarangmu untuk minum darah hingga pertarungan itu di mulai," Ujar gadis bermata cokelat itu.
"Ya, aku masih ingat Elena. Kau tidak perlu khawatir, dalam satu minggu ke depan aku akan bertambah kuat." Rosse tampak percaya diri sedangkan gadis bernama Elena terdiam.
"Kau tidak akan bisa menandingiku. Bahkan jika kau berpuasa darah pun aku akan lebih kuat darimu adikku yang tercinta," Ujar Brian yang baru saja masuk bersama Valen.
Valen terus berjalan menuju wadah raksasa dan mengabaikan Brian dan Rosse yang saling adu mulut. Pria dengan wajah tampan itu mengalirkan energinya agar membantu sang kristal untuk mempercepat penyerapannya. Elena masih setia menemani Valen yang sedang fokus pada kristal dan tak peduli pada Brian dan Rosse yang sepakat untuk bertarung di luar.
"Uhukkk.. Apa dia menolakku? Tidak! Ini tidak bisa di biarkan!" Ujar Valen meskipun sempat mengeluarkan darah dari mulutnya beberapa kali.
"Tuan muda Valen, apa anda baik-baik saja? Anda tidak perlu memaksakan diri," Ujar Elena.
"Jangan menganggap aku lemah, aku bisa lebih dari ini. Kau menjauh saja dan lihat baik-baik!" Ujar Valen.
Elena menghela nafas panjang seraya mundur beberapa langkah. Ia baru sadar jika Adelion dan Alexander ada di belakang mereka. Adelion memberikan kode pada Elena agar tetap diam dan tidak memberitahu keberadaan dua pemimpin itu pada Valen.
Valen terus berusaha sekuat tenaga hingga berhasil mengambil kendali dari kristal itu. Adelion menepuk pundak anak yang akhirnya berhasil mengendalikan kristal di percobaan yang pertamanya ini.
"Selamat, kau memang penerusku. Aku yakin di pertarungan itu kau bisa membanggakan ayah," Ujar Adelion seraya pergi dari sana.
Valen terdiam memikirkan ucapan ayahnya. Bagi Valen ucapan itu bukan pujian tapi ancaman untuk melakukan yang terbaik di pertarungan itu. Dia antara Valen dan Adelion tidak ada namanya hubungan antara ayah dan anak tapi melainkan hubungan antara kekuatan dan kekuasaan.
"Liat saja, aku akan lebih kuat darimu ayah." Valen memamerkan sumringahnya.
...☄☄☄...
Setelah kejadian itu Darel tak terlihat pagi ini di sekolah. Azura duduk di tempatnya, ia sedikit mendengar pembicaraan para siswa dalam kelasnya bahwa Darel dan Mira tidak bisa masuk ke sekolah karena urusan keluarga.
"Kau tau, Azura? Pertandingan kemarin sangat aneh. Aku seperti bermimpi bahwa kita semua membeku tiba-tiba," Ujar Gilang sambil duduk di dekat Azura.
"Aneh ya, aku pikir itu mimpi tapi kenapa terasa sangat nyata?" Ujar Gilang sambil mengeluarkan ponsel di sakunya.
"Itu hanya mimpi," Ujar Azura tapi Gilang masih tidak percaya.
"Anak ini, mimpi mana ada yang nyata? Kau bukan anak yang suka berfikir. Lupakan hal itu," Ujar Azura sambil memukul pelan telungkup Gilang.
"Oke, kenapa kek ngegas sih? Ohiya hampir lupa. Azura liat deh video yang lagi viral itu di ponselmu," Ujar Gilang.
"Ponselku rusak," Ujar Azura.
"Aiiish.. Anak ini. Kau apakan ponsel mahalmu itu?" Ujar Gilang.
"Di injak truk saat lari pagi tadi," Ujar Azura santai.
Setau Gilang Azura sudah membeli hampir sepuluh ponsel paling mahal dan nasib mereka semua sama di tangan Azura yaitu hancur. Gilang sering bertanya pada Azura setiap kali ponselnya rusak. Hanya ada dua yang Azura jawab yaitu rusak atau hilang.
"Kau ini sebenarnya seberapa kaya? Terakhir aku kerumahmu, ranjangmu saja hampir runtuh. Apa kau mendadak kaya ya?" Ujar Gilang sambil melihat Azura dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Aku hanya tidak suka memperhatikan kekayaanku pada orang lain. Aku tidak ingin ada banyak penjilat di sekitarku," Ujar Azura.
"Wow, kau keren. Kalo begitu traktir aku di kantin nanti," Ujar Gilang dengan senyuman.
"Dasar, untuk teman. Kalo nggak, udah aku cemplungin di laut," Ujar Azura dan membuat keduanya tertawa.
"Coba ulang saat gadis itu hilang," Ujar Azura saat melihat keanehan dalam video itu.
Gilang menurutinya, Azura dengan menggunakan mata vampirnya melihat ada seseorang menangkap gadis yang tiba-tiba menghilang. Kecepatannya sungguh luar biasa dan orang biasa yang melihatnya akan menganggap orang itu menghilang secara tiba-tiba.
"Ada apa Azura? Apa kau melihat sesuatu?" Ujar Gilang saat Azura fokus melihat video itu.
"Ah, tidak. Aku hanya salah liat," Ujar Azura.
"Ohh, aku pikir kau bisa melihat sesuatu yang aneh." Azura hanya menanggapi ucapan Gilang dengan tawa garing.
'Kenapa para Alfa menculik manusia?' Batin Azura.
"Kau tau? Semua orang dalam video ini di nyatakan hilang. Tak ada satupun yang menemukan petunjuk dari kejadian ini," Ujar Gilang.
Sebenarnya Azura tau bahwa yang melakukan penculikan itu adalah Alfa. Ia sungguh bingung, bagaimana bisa Alfa yang tidak suka mengganggu manusia malah menculiknya. Tidak mungkin mereka menculik manusia hanya karena bosan hidup. Bukannya para immortal melarang dan memberikan batasan pada para Alfa itu? Azura sungguh tidak mengerti.
Ting..
Ting..
Ting..
...[Selamat! Misi baru telah tiba!]...
...[Misi kali ini adalah mengalahkan Keluarga Moca dan Hazzel. Akan ada kenaikan level setelah menyelesaikan misi! Semoga berhasil!]...
...[Level saat ini: 5]...
"Ada apa ini? Siapa itu Keluarga Moca dan Hazzel? Apa ini merek makanan? Ishh.. Dasar membuat bingung saja," Desis Azura pada layar monitor di depannya.
...☄☄☄...
Di kantin sekolah Azura sibuk memikirkan misinya. Sungguh ia tidak mengenal siapa itu Keluarga Moca dan Hazzel, melihat Azura yang sama sekali tak menyentuh makanan Gilang hanya mengangkat bahunya. Ia sudah biasa melihat Azura yang melamun seperti itu, setelah lama melamun Gilang bisa menebak Azura akan langsung ke toilet untuk menenangkan pikirannya.
"Aku mau ke toilet dulu. Kau pesanlah makanan apa saja, ambil dompetku ini." Azura segera pergi setelah melemparkan dompet tebalnya pada Gilang.
"Hoi, jangan lama-lama. Bisa-bisa isi dompetmu habis di tanganku, aku ingat saja Azura. Perutku itu perut karet," Ujar Gilang pada Azura yang hanya mengangguk.
Setelah keluar dari toilet, tiba-tiba ada pesawat kertas yang menabrak kepalanya hingga kertas itu jatuh. Azura berbalik ke kiri dan kanan untuk mencari pemilik dari pesawat kertas itu namun tak ada seseorang pun yang bisa Azura curigai. Azura memungut kertas itu untuk di buang ke tempat sampah, belum sempat Azura membuangnya pria itu akhirnya sadar jika kertas ini punya sedikit kekuatan sihir.
"Siapa yang mengirim surat lewat kertas sihir padaku?" Ujar Azura sambil membuka pola pesawat menjadi selembar kertas.
Setelah membaca isi dari surat itu Azura segera berlari ke arah tangga menuju atap sekolah. Pria itu beberapa kali menabrak orang dan harus meminta maaf, ia benar-benar terlihat sangat buru-buru. Azura sampai di atap sekolah dan menemukan pria dengan rambut silver yang sedang menatap langit.
"Darel! Apa maksudmu? Kau masih ingat mengambil sistem milikku? Aku tidak akan membiarkan itu. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama dua kali," Ujar Azura dan sebuah pedang muncul.
"Wow, tunggu dulu dong! Aku kesini bukan dengan niat buruk," Ujar Darel agar Azura berhenti menyerang.
"Aku tidak percaya!" Ujar Azura.
"Aku kesini untuk membantumu melawan Keluarga Moca dan Hazzel yang mengincar nyawamu!" Ujar Darel dan Azura berhenti menyerangnya.
Azura tampak berfikir, bagaimana Darel bisa tau tentang Keluarga Moca dan Hazzel? Apa ini yang namanya kebetulan? Azura memilih untuk mendengarkan penjelasan Darel. Melihat Azura yang tampak penasaran Darel berjalan mendekat pada Azura.
"Mari jadi sekutu," Ujar Darel sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Aku akan membantumu dalam melawan Keluarga Moca dan Hazzel. Dalam satu minggu, mereka akan bergerak untuk melawanmu. Vampir murni satunya!" Ujar Darel.
...TBC...
Hai, ketemu lagi. Semoga suka dengan chapter ini 🥰 Jangan lupa budayakan like, rate, vote dan coment setelah membaca ya😍🤗 Sampai Jumpa di episode selanjutnya 😘
Salam manis,
Tirfa_ledina.