
"Apa kita benar-benar tidak perlu membatu Tuan?" Ujar Kiki sambil duduk di salah satu kursi bar bersama Nana.
"Apa dia terlihat membutuhkan bantuan?" Ujar Nana.
Azura berhasil melumpuhkan banyak sekali preman kelas kakap dan kini ia telah berhadapan pada pengawal profesional milik Baron. Para pengawal itu bersenjata pistol dan belati di tangannya sedang Azura hanya menggunakan satu tongkat baseball. Azura dengan mudah menghindari setiap tembakan yang keluar dari beberapa pistol.
Rian menatap para preman yang sejak tadi masih mematung di tempatnya. Tak ada tanda-tanda akan membantu sama sekali, Rain semakin khawatir ia tau jika pengawal ayahnya juga tidak akan bisa mengalahkan Azura. Pria itu hanya bisa berharap pada orang berjubah hitam itu yang menyuruhnya untuk membawa Azura kemari. Mata Rian menangkap dua sosok anak kecil yang duduk.
'Bagaimana dua anak itu bisa keluar dari dalam kurungan itu?' Batin Rian sambil melihat Nana dan Kiki di tempat duduk bar.
Pria botak yang mengenali Azura di pelelangan malam itu menyerang dengan sekuat tenaga dan melampiaskan rasa kesalnya. Azura menendang dengan cepat perut pria botak yang mencoba menyerangnya dengan pisau hingga terpental jauh kebelakang. Sejak tadi Kiki sadar dengan beberapa preman yang masih saja terdiam dan tidak melakukan apapun.
"Tendang perutnya, jangan biarkan mereka lepas kak," Teriak Nana untuk menyemangati Azura.
Setelah semua preman dan pengawal itu berhasil Azura lumpuhkan, Kiki akhirnya sadar jika para preman yang duduk santai itu ternyata memancarkan aura gelap dari dalam tubuhnya. Kiki bersiap bertarung dan melindungi Nana.
"Tuan, mereka dalam pengaruh ilusi. Hati-hati!" Teriak Kiki saat semua preman itu mulai berdiri dan bersiap bertarung.
Di ruang cctv seorang pria berjubah hitam sedang asyik menonton lewat kamera cctv pertarungan Azura dan para bonekanya. popcorn dan beberapa minuman kaleng dingin menemani pria itu, ia tersenyum simpul saat Azura mulai tersudutkan dalam pertarungan itu.
Azura mengeluarkan pedangnya dan memberikan sedikit luka sayatan pada preman itu. Jantung Nana tiba-tiba terasa di himpit oleh sesuatu, ia melihat Azura yang hendak membunuh para preman itu dengan pedangnya. Layar monitor muncul di depan wajah Azura secara tiba-tiba saat ia hampir menebas salah satu preman.
"Hosh... Azura jangan membunuh mereka, sistem sedang menekan diriku, hosh... Membunuh mereka akan menyebabkan kematianku," Ujar Nana sambil meremas pakaiannya untuk menahan rasa sesak di dadanya.
"Sebaiknya kita mundur dulu, tuan. Kita tidak bisa membunuh mereka," Ujar Kiki sambil menggendong Nana.
Azura mengangguk lalu menyimpan pedangnya kemudian membuka jalan untuk keluar dari bar itu. Setiap pukul yang Azura berikan seperti tidak memiliki efek apapun pada mereka, membuat mereka pingsan bahkan tidak bisa. Mereka seperti tidak memiliki saraf pada tubuhnya sehingga merasa sakit saja mereka tidak peduli. Azura hanya bisa mendorong mereka untuk mundur dari jalan keluar.
"Ah, dasar kenapa malah kabur? Dasar membuang waktu saja," Ujar pria berjubah hitam itu sambil memukul meja hingga membuat popcornnya berhamburan jatuh di atas lantai.
Pria berjubah itu berdiri dan melemparkan satu minuman ke layar monitor laptop di sana secara kesal saat melihat Azura keluar dari bar itu. Ia akhirnya pergi dan beberapa saat setelahnya ruang cctv meledak seketika. Dengan deru nafas yang tak beraturan Azura berhasil sampai di rumahnya dengan selamat. Nana kembali bernafas dengan lega, sesak di dadanya sudah hilang.
"Kenapa bisa seperti ini Nana?" Ujar Azura.
"Hosh... Hosh... Sistem memberikan batasan bagi para hostnya lewat daftar hitam yang sama sekali tidak boleh kau langgar. Membunuh manusia tak bersalah juga salah satu larangan dari sistem," Ujar Nana sambil mengatur nafasnya untuk kembali normal.
"Pelanggaran yang kau lakukan akan berdampak padaku atau kau," Ujar Nana.
"Kau harus membaca dan mengigat jelas daftar hitam itu, jika sampai kau melanggarnya salah satu dari kita akan mati sebagai hukuman. Nyawamu dan Kiki saling berhubungan jika kau mati maka Kiki juga akan ikut mati," Jelas Nana dan Azura segera mengganguk dengan cepat.
"Kalian berdua kembali dan tidurlah, aku ingin melakukan beberapa hal sebelum tidur. Aku merasa tidak tenang setelah kekalahan ini," Ujar Azura.
"Tuan jangan memaksakan diri, aku akan selalu berada disisi tuan." Kiki menutup pintu kamar Azura.
Azura menghela nafas, usai menyiapkan beberapa kristal jiwa Azura segera melatih kekuatannya untuk membuat daerah aman yang Raymond ajarkan. Entah kenapa hatinya resah setelah pertarungan itu, ia terus berfikir akan terjadi sesuatu yang akan mencelakakan dia juga keluarganya.
Matahari sudah menampakkan dirinya namun Azura masih setia berlatih dengan fokus. Nana membuka pintu kamar Azura dan menampilkan seorang pria yang masih setia melakukan push up dengan satu jarinya.
"Apa kau latihan sepanjang malam?" Tanya Nana menatap kaget Azura.
Azura segera berdiri, Nana sekali lagi kaget melihat lingkaran hitam di bawah mata Azura.
"Aish... Jangan main-main Nana. Aku harus siap-siap berangkat ke sekolah," Ujar Azura.
Azura menguap sambil masuk kedalam kamar mandi, Nana mengangkat bahu lalu pergi dari sana. Lingkaran hitam di bawah mata Azura menjadi bukti bahwa ia sama sekali tidak tidur semalaman.
...☄☄☄...
Azura menguap untuk kesekian kalinya, pagi ini ia memilih untuk naik bus. Dengan langkah berat pria itu masuk kedalam bus yang ternyata sedang sepi penumpang. Beberapa di antara mereka melihat Azura dengan tatapan kaget. Azura tak peduli dan hanya mengangkat bahu lalu pergi ke tempat duduk paling belakang, pria itu memeluk tasnya kemudian tertidur.
"Wow, apa dia model? Dia sangat tampan bahkan saat ada lingkaran hitam di bawah matanya," Ujar seorang gadis di sana.
"Kau minta nomor telepon nya deh," Ujar gadis satunya lagi.
"Tidak ah. Aku malu," Ujar gadis itu.
Para gadis dalam bus terus menatap Azura yang tertidur pulas dengan wajah kagum. Gilang masuk ke dalam bus dan menemukan Azura di kursi belakang, pria itu langsung melangkah dengan ceria menuju Azura yang masih tertidur. Azura terbangun saat Gilang terus mengoceh di sebelah.
"Azura, liat aku mengecat rambutku. Kini kita tidak terlalu mirip lagi," Ujar Gilang dan Azura hanya berwajah muram akibat tidurnya yang terganggu.
Gilang terus bercerita banyak hal dan tak membiarkan Azura untuk istirahat bahkan saat sampai di kelasnya. Pria itu bahkan menceritakan tentang anjing tetangganya serinci mungkin pada Azura. Gilang berhenti saat ingat jika tugasnya belum selesai, Azura akhirnya bisa tertidur namun bel tiba-tiba berbunyi dan sekali lagi menganggu tidur Azura.
"Sabar Azura," Ujar Azura sambil mengelus dadanya.
Belum beberapa menit berlalu saat pelajaran di mulai Azura sudah tertidur pulas dan mengabaikan setiap resiko yang akan ia terima saat ketahuan tertidur dalam kelas. Teriakan dari guru membangunkan Azura dan berakhir Azura yang di hukum berdiri di luar. Azura sudah sangat mengantuk jika saja tak di tegur oleh guru BK yang lewat mungkin Azura sudah tidur sambil berdiri.
Bel akhirnya berbunyi dan membuat Azura segera masuk kembali kedalam kelas, suara teriakan melengking lagi-lagi menghentikan Azura untuk membuka pintu. Azura berbalik dan melihat ada Elin yang berlarian ke arah Azura.
"Hosh... Azura, kau hosh... cepat bantu aku," Ujar Elin dengan nafas yang tak beraturan sambil menarik Azura pergi secara paksa.
Azura mengusap kepalanya kasar saat Elin terus menyuruhnya mengerjakan semua pekerjaan dalam ruangan organisasi. Mulai dari memindahkan kursi hingga mengangkat beberapa buku yang cukup banyak untuk di kembalikan ke perpustakaan. Baru saja Azura duduk di atas meja sebuah suara kembali membuatnya mendengus kasar.
"Azura, cepat kita harus ke ruang ruang OSIS untuk mengambil beberapa kertas di sana. Cepat," Ujar Elin.
"Aaaa, aku sudah capek. Biarkan aku tidur," Ujar Azura sambil tidur di atas meja dan tak peduli dengan teriakan dari Elin.
"Azura! Cepat!" Ujar Elin.
"Aku tidak mendengar apapun, aku sudah tidur dan masuk ke dalam mimpi," Ujar Azura sambil menutup telinganya.
"Yakkk, mau aku hajar kau Azura! Bangun bodoh! Dasar kerbau! Bangun!" Ujar Elin sambil menarik kaki Azura.
Elin terus menarik Azura hingga tak sengaja membuat pria itu harus jatuh dari meja dan mencium dinginnya lantai. Azura duduk dan mengusap kepalanya yang terasa sakit saat membentur lantai, kata maaf mulai keluar dari mulut Elin.
"Bisa tidak? Biarkan aku tidur, juga tutup mulutmu jika tidak aku yang akan menciummu agar kau diam," Ujar Azura dan langsung tidur di lantai.
...TBC...
Hai para readez 👋 Suka Chapter ini? Yuk dukung author dengan like, rate, vote dan coment ya🥰 Sampai jumpa di episode selanjutnya 😘
Salam manis,
Tirfa_ledina.