
Dengan wajah memerah akibat ucapan Azura Elin segera pergi. Sungguh jantungnya sudah tidak bisa berkompromi dengannya lagi, gadis itu menutup pintu cukup keras. Beberapa detik kemudian Elin membuka pintu dan melemparkan sebuah kertas yang sudah di bentuk bola pada Azura.
"Dasar mesum! Setelah bangun tunggu saja, aku akan memukul kau!" Ujar Elin menendang kaki Azura lalu membanting pintu.
Azura tak mempedulikan ancaman Elin, baginya tidur lebih penting saat ini. Tiga jam berlalu dan Azura telah bolos tiga mata pelajaran sekaligus karna tidurnya yang sangat nyenyak. Bel sekolah berbunyi tapi Azura masih belum ada tanda-tanda akan bangun dari tidurnya. Aron berserta dengan gengnya masuk ke dalam ruang di mana Azura masih tertidur.
"Bawa dia! Aku harus membalasnya atas penghinaan hari itu!" Perintah Aron dan temannya langsung membopong Azura pergi dari sana.
Di sebuah gudang lusuh milik sekolah Azura di ikat di kursi. Pria itu masih dalam keadaan tertidur pulas, mungkin karena terlalu lelah Azura bahkan tak peduli jika ia telah di bawa pergi dari ruangan di mana ia tertidur. Azura terbangun saatnya di siram air dingin dan melihat ada Aron yang berdiri di depannya memegang balok kayu.
"Kau sudah bangun, brengsek?" Ujar Aron yang sedang memegang balok kayu yang dia tumpukan pada bahunya.
Azura yang masih setengah sadar hanya bisa diam dan mencerna keadaan. Aron menginjak kursi Azura dan mendekatkan wajahnya kemudian memperlihatkan sumringah pada Azura. Satu pukulan mengenai wajah Azura dan membuat sudah bibir pria itu mengeluarkan darah. Azura tak bereaksi dengan pukulan dari Aron, baginya itu sama sekali tidak sakit.
"Wah, dia tidak merasakan sakit? Apa benar? Oh, baiklah. Suruh anak itu keluar," Ujar Aron.
Dua teman Aron segera pergi, beberapa saat kemudian keduanya datang dengan menyeret seorang pria yang matanya di tutup kain putih. Aron memukul pria itu di pinggang dan membuat ia berlutut di depan Azura. Kain di matanya di buka, Gilang membulatkan matanya saat melihat Azura di depannya.
"Azura!?" Ujar Gilang.
"Berdiri," Ujar Aron tapi Gilang tak langsung berdiri karena pinggangnya masih sakit akibat pukulan tadi.
"Kau tuli!? Berdiri bang*at!" Ujar Aron sambil memukul kepala Gilang dengan sangat keras hingga membuat pria itu hampir membentur lantai.
Dengan susah payah Gilang berdiri, sungguh pukulan menggunakan balok kayu sangat sakit. Azura masih menonton dan penasaran apa yang akan terjadi, meskipun ia bisa lepas dengan mudah dan langsung menghajar Aron dan teman satu gengnya namun ia mengurungkan hal itu saat melihat wajah Gilang.
"Ambil ini," Ujar Aron sambil memberikan balok kayu pada Gilang.
"Tapi, Aron untuk apa ini?" Ujar Gilang ragu.
"Kau liat teman barumu itu? Aku marah karena ternyata kau punya teman baru dan melupakan teman lamamu ini, jadi pukul dia maka aku akan bersikap baik padamu setelah ini," Ujar Aron sambil merangkul pundak Gilang.
"Ta-tapi, teman tidak memukul temannya." Gilang menatap Azura ragu.
"Diam, anj*ng. Pukul atau kau yang mau aku pukul!" Ujar Aron sambil mengarahkan balok kayu di depan wajah Gilang.
Gilang menelan ludahnya lalu melihat Azura dan Aron secara bergantian. Ia tidak ingin di pukul dan terus di tindas oleh Aron, Azura masih diam. Gilang mengeratkan pegangannya pada balok kayu dan menatap Azura dengan tatapan yang sulit di artikan.
'Jadi ini pilihanmu?' Batin Azura kemudian tersenyum simpul.
Azura tak bergerak sedikitpun bahkan saat Gilang sudah mengayunkan balok kayu itu. Azura berfikir ia harus mendapatkan pukulan itu sebagai balasan karena telah menganggap Gilang sahabat pertamanya. Mata Gilang sudah berkaca-kaca melihat Azura yang sama sekali tak memberikan ekspresi apapun. Aron tersenyum, merasa menang karena keputusan Gilang.
Brakkk.
Gilang membuang balok kayu itu dan membuat Azura juga Aron dan temannya kaget. Gilang langsung menangkap Aron dan mendorongnya hingga jatuh bersama, belum sempat Aron menggerutu saat punggungnya membentuk lantai Gilang sudah lebih dulu memberikan pukulan pada pipinya.
"Dengar Aron. Kau bukan temanku! Kau hanya menganggap aku sebagai budakmu yang bisa di pukul kapan pun. Bugh... Azura adalah orang pertama yang menerima keberadaanku! Dia orang yang menganggap aku sebagai sahabatnya! Buggh... Dan aku tidak akan membiarkan monster sepertimu menyentuh sahabatku!" Ujar Gilang sambil menyalurkan kemarahannya lewat tiga pukulan pada Aron.
Nafas Gilang kini tak beraturan akibat amarahnya yang meluap-luap. Aron tiba-tiba tertawa sangat keras dan membuat Gilang kebingungan. Aron bangkit dan membalikkan keadaan, teman satu geng Aron juga ikut ambil bagian memukuli Gilang.
"Bangk*k! pecundang sepertimu berani sekali membuat wajahku lecet!" Ujar Aron sambil menginjak pinggang Gilang yang terluka.
Arrrgggg.
"Dasar, bajuku jadi kotor! Kau harus menggantinya setelah ini," Ujar Aron sambil membersihkan sedikit debu di bajunya.
Baru saja Aron akan melangkah menuju Azura, Gilang menahan kaki Aron agar berhenti. Sambil menahan sakit, Gilang berusaha bertahan untuk mencegah Aron untuk memukuli Azura.
"Lepas Brengsek!" Aron menendang Gilang dan sesekali menginjak tangan pria itu.
Azura menatap tak percaya bagaimana Gilang berusaha sekuat tenaga untuk melindunginya, hati Azura tersentuh. Gilang berusaha berdiri dan memposisikan kedua kepalan tangan di dada. Aron dan teman satu geng tertawa melihat Gilang yang mengajak Aron untuk bertarung. Dengan satu pukulan Aron berhasil memukul tepat di ulu hati Gilang.
"Kau tidak punya kemampuan, tidak perlu memaksa diri untuk melawan singa!" Ujar Aron dan bersiap memukul kepala Azura dengan balok kayu.
Gilang yang awalnya berlutut menahan sakit kini bangkit kembali.
"Ini belum selesai Aron! Aku bukan orang lemah! Kalianlah yang menyudutkan aku, aku ini singa yang perkasa!" Teriak Gilang dengan penuh tekat dan hal itu membuat Azura tersenyum tipis.
"Cih, berhenti bersikap kuat Bangs*t!"
"Menunduk!" Perintah Azura saat Aron berniat melayangkan tinju dan refleks Gilang segera menunduk.
Posisi Gilang kini telah membelakangi Azura, Aron meringis kesakitan akibat pukulan Gilang yang tenaganya tidak main-main. Teman satu geng Aron tak tinggal diam, mereka mulai maju bersama untuk menghadapi Gilang. Lewat intrusi dari Azura, Gilang berhasil mengalahkan mereka dan hanya tersisa Aron dan pria bertubuh cukup besar yang melindungi Aron.
"Perbedaan kelas berat kau dan pria yang melindungi Aron terlalu besar. Akan sulit mengalahkannya," Ujar Azura.
"Aku yakin bisa mengalahkannya dan melindungi sahabatku, aku ini singa dan singa itu adalah raja." Gilang mengacungkan jempol pada Azura.
Azura menghela nafas dan senang akan Gilang yang melindunginya.
"Baiklah, kau harus bisa membuatnya pingsan. Cobalah untuk menangkap kerah bajunya, tanganmu harus bersilang dan cekik dia hingga pingsan." Gilang langsung maju setelah mendengar instruksi dari Azura.
Beberapa kali Gilang mendapatkan pukulan dan membuatnya terpental dan mengenai dinding. Azura mengatupkan rahangnya rapat melihat Gilang yang hanya bisa bertahan di tempat dan semakin tersudutkan. Kepala Gilang membentur dinding hingga sebuah cairan kental berwarna merah lolos. Sungguh melihat hal ini membuat darah Azura naik dan ingin langsung membalas, tapi hal itu malah terhenti ketika Gilang kembali berdiri sempoyongan.
"Tubuhmu sudah tidak bisa menahan pukulan lagi, berhentilah!" Ujar Azura dan Gilang menggelengkan kepalanya.
"Tidak Azura, aku masih bisa!" Ujar Gilang.
"Duh, pertemanan ini membuat aku terharu tapi aku bukan orang baik yang akan melepaskan kalian, Jack pukuli dia!" Ujar Aron dan mendapatkan tatapan tajam dari Azura.
Lagi-lagi Gilang mendapatkan pukulan di perut dan membuat ia harus mengeluarkan darah dari mulutnya. Azura sudah mengepalkan tangannya sangat kuat namun detik berikutnya Gilang berhasil mengambil cela dari Jack hingga berhasil membuat pingsan pria tubuh kekar itu. Gilang berjalan ke arah Aron dan sekali pukulan Aron langsung ambruk hingga tak sadarkan diri.
Azura yang melihat Gilang hampir ambruk segera menghancurkan kursi hingga tali langsung lepas darinya. Gilang tersenyum saat Azura berhasil menangkapnya yang hampir bertemu lantai.
"Aku berhasil melindungi sahabatku. Aku singa yang perkasa kan Azura?" Ujar Gilang sambil tersenyum kemudian pingsan setelahnya.
"Ya, kau berhasil."
...☄☄☄...
Di sebuah ruangan dalam kastil milik keluarga Moca sebuah kristal melayang dengan banyak darah yang juga ikut mengelilinginya. Beberapa orang tiba-tiba masuk dan langsung memberikan darah mereka pada kristal itu.
"Darah ini sudah sangat banyak tapi kecepatan kristal iblis menyerapnya sangat lambat," Ujar gadis dengan cambuk yaitu Rosse.
"Darah serigala itu memang sangat sulit di serap karena darah mereka yang sudah tidak murni lagi," Ujar Elena.
"Jika seperti ini akan sangat lama untuk menunggunya terisi penuh, aku sudah tidak sabar bertarung dengan vampir murni itu. Aku penasaran dengan darahnya," Ujar Brian.
"Cih, kau hanya ingin memperkuat kekuatan bukan? Dasar vampir bodoh!" Ujar Rosse untuk mengejek Brian.
Adelion dan pimpinan dari keluarga Moca Yaitu Alexander masuk dan membuat ketiganya yang tadi masih menatap kristal langsung berlutut hormat. Valen datang beberapa saat setelahnya dan memberikan setetes darahnya untuk kristal.
"Tuan, perkembangan kristal iblis sangat lambat. Aku rasa ini akan membutuhkan waktu lama untuk terisi penuh," Ujar Rosse.
"Bagaimana bisa? Kristal itu harus lebih cepat terisi, jika tidak Lord bisa mengetahui hal ini." Rahang Adelion mengeras.
"Duduklah Adelion, kau adalah pemimpin tunjukkan keangunganmu," Ujar Alexander.
"Aku punya saran tuan. Kita bisa menggunakan darah seratus manusia untuk mempercepat penyerapannya. Darah manusia lebih ringan dan mudah di serap oleh kristal iblis," Usul Elena.
"Itu ide yang bagus, berikan perintah untuk menangkap seratus manusia segera!" Ujar Adelion dengan semangat.
"Dengan melakukan itu bukannya akan membuat perhatian yang cukup banyak?" Ujar Alexander.
"Lalu, apa usulanmu?" Ujar Adelion dengan nada meremehkan.
"Tentu saja dengan menggunakan darah anak dari Lord si sampah itu," Ujar Alexander.
"Betul, Lord tidak peduli lagi dengan anaknya yang bodoh itu. Meski dia hanya sampah yang tidak mempunyai kekuatan, darah Lord masih mengalir di tubuhnya," Ujar Brian dan menatap remeh pada Elena.
"Lakukan penangkapan pada anak dari Lord sekarang!" Ujar Alexander.
...TBC...
Hai semuanya 😍 suka dengan chapter ini? Yuk dukung Author dengan tekan like, rate, vote dan Coment ya🙏 Sampai jumpa di episode selanjutnya 😘
Salam manis,
Tirfa_ledina.