
Azura kembali kamarnya di dalam sana masih ada Nana yang duduk dan menonton film di ponsel Azura. Nana melirik sekilas Azura dan Kiki yang telah kembali bersama seorang pria lain. Pakaian ketiganya sudah sangat berantakan dengan beberapa noda darah. Nana sudah tau hasilnya akan seperti ini makanya sejak tadi dia menyiapkan beberapa pakaian bersih.
"Yakkk... Kalian berdua kenapa malah membawa dia kemari?" Ujar Nana sambil menunjuk Gilang.
"Itu, panjang ceritanya. Dia sudah tau banyak tentang kita," Ujar Azura.
"Apa dia tidak akan membocorkan hal ini pada orang lain? Kita tidak bisa mempercayai orang yang baru kau kenal beberapa hari yang lalu," Ujar Nana.
"Aku akan menutup rapat mulutku, aku janji! Jika aku melanggarnya aku akan tersambar petir hingga mati." Gilang memasang wajah serius.
"Kau bisa mengambil ini, aku tau ini bukan benda yang bagus tapi kurasa ini bisa menjelaskan sesuatu yang aku bahkan tidak tau apa." Gilang mengeluarkan sebuah benda dan memberikan benda itu pada Azura.
Azura melihatnya dan seketika ada perasaan familiar dengan benda itu. Kiki dan Nana mendekat pada Azura untuk melihat benda yang Gilang berikan. Cincin berwarna perak dan beberapa tulisan kuno yang terlihat aneh dan membingungkan seolah-olah itu adalah kesengajaan. Nana melirik Gilang, ia masih belum percaya pria itu bisa memiliki benda yang penuh misteri ini.
"Ceritakan asal usulmu yang sebenarnya, aku tau kau bukan orang dari keluarga pejabat itu." Gilang terkejut saat Nana ternyata tau jika dia bukan anak sah.
"Engghhh... Itu sebenarnya aku anak salah satu penjaga perpustakaan kuno. Yang aku tau aku di adopsi oleh kakek sejak aku baru lahir. Soal keluargaku yang sebenarnya aku juga kurang tau, kakek tidak ingin menceritakan tentang keluargaku." Gilang menjelaskan sambil duduk karna lelah berdiri terus.
"Kau ingat nama perpustakaannya?" Tanya Kiki secara tiba-tiba.
"Hmm... Perpustakaan api suci," Ujar Gilang ragu dan tiba-tiba Kiki duduk di depannya dengan wajah kaget.
"Kau yakin?" Ujar Kiki dengan wajah serius.
"Memang terdengar aneh karna perpustakaan itu sama sekali tidak ada di dunia ini. Aku pernah mencari tempat perpustakaan itu berada tapi benar-benar tidak ada, tapi aku yakin perpustakaan itu ada di suatu tempat." Gilang mulai kebingungan saat Kiki tiba-tiba mengembangkan senyumnya sambil melompat girang.
"Ada apa Kiki? Apa kau tau tempat itu?" Ujar Azura.
"Aku tidak hanya kenal tapi sangat tau semua detail tempat itu, kami bangsa naga dan para penjaga perpustakaan itu berteman akrab. Mereka selalu baik dan menjaga kami tanpa memperlakukan kami seperti binatang peliharaan. Mereka cukup kuat dan bisa melawan banyak sekali iblis yang mengacaukan daerah perpustakaan api suci," Jelas Kiki dengan penuh semangat.
"Itu adalah kampung halamanku," Tambah Kiki.
Nana tiba-tiba memukul Gilang hingga pingsan dan jatuh ke lantai. Kiki menatap heran pada Nana yang memukul Gilang dan memasukkannya kedalam sebuah benda ajaib yang membuat tubuh Gilang menghilang. Azura menghela nafas panjang, Nana memang bukan tipe yang percaya pada seseorang dengan sangat mudah.
"Apa kau memberitahukan tentang sistem?" Tanya Nana dengan wajah curiga.
"Tidak, dia hanya tau aku punya kekuatan super. Dia tidak akan membicarakan hal ini pada orang lain. Lagi pula apa untungnya dia memberitahu kekuatanku pada orang lain?" Ujar Azura.
"Apa yang kau lakukan pada Gilang? Jangan melakukan hal aneh padanya. Kau ingat dia hanya manusia biasa," Ujar Azura.
"Aku hanya menghapus beberapa memorinya agar lebih aman saja." Nana tiba-tiba mengeluarkan Gilang dari dalam benda itu dan kini pria itu telah tertidur lelap.
"Hufftt, apa itu tidak mempengaruhi beberapa hal pada dirinya?" Ujar Azura.
"Tenanglah, aku hanya menghapus ingatannya tentang malam ini." Nana mengangkat bahunya.
"Jadi apa yang kita lakukan pada dia?" Ujar Kiki.
"Taruh saja di jalan. Akan ada yang menolongnya kok," Ujar Nana santai.
"Aish.. Kau benar-benar kucing yang tidak memiliki hati," Ujar Kiki.
"Aku saja selalu di pukul menggunakan palunya. Apa kucing betina memang sangat kejam dan pemarah ya?" Ujar Azura dan tertawa bersama Kiki.
Nana tertunduk sambil mengepalkan tangannya dan secara tiba-tiba sebuah palu raksasanya muncul dan memukul habis-habisan Azura dan Kiki. Amora bahkan tersentak kaget saat mendengarkan benturan yang cukup keras itu. Ia berniat mengecek kamar Azura namun berhenti saat Nana tiba-tiba keluar dari kamar Azura.
"Nana tadi ke mau ke kamar mandi tapi tiba-tiba Nana denger sesuatu dalam kamar kakak. Pas Nana liat ternyata kakak jatuh dari kasur karna mimpi," Bohong Nana.
"Nenek, Nana mau tidur dengan bersama nenek. Apa boleh?" Ujar Nana dan di balas anggukan oleh Amora.
Nana turun bersama Amora untuk tidur bersama di sepanjang jalan Nana tersenyum gembira telah membalas Kiki dan Azura yang mengejeknya. Disisi lain Azura dan Kiki masih harus merasakan sakit akibat pukulan palu Nana yang tidak main-main dalam memukul.
"Ah sepertinya tulang ku remuk," Ujar Azura.
"Kenapa dia malah memukul sekejam ini. Aku bahkan tidak merasakan pantatku," Ujar Azura.
"Tuan, apa sebaiknya kita membawa kak Gilang pulang? Dia juga sedikit mendapatkan pukulan yang menyasar tadi," Ujar Kiki sambil melihat benjol di kepala Gilang yang masih setia tertidur lelap.
...☄☄☄...
Pagi hari tiba, Gilang bangun dan merasakan kepalanya benjol. Kemarin malam para pelayan bahkan kebingungan saat tiba-tiba saja Gilang tidur di depan pintu rumah. Ayah Gilang tidak peduli dan malah pergi dari rumah, ia dan Gilang pergi ke hotel itu untuk membunuh Gilang anak angkatnya karena keputusan sang kakek yang menjadikannya sebagai Direktur muda.
"Ahkkk... Kepalaku kenapa tiba-tiba sangat sakit?" Ujar Gilang sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut hebat.
"Kenapa aku memakai pakaian ini? Sebenarnya aku pergi kemana semalam? Aku ingat kemarin ayah mengajak aku pergi ke hotel bulan sabit untuk melihat pelelangan disana," Ujar Gilang sambil mengingat kembali kejadian di hotel itu.
"Tapi kenapa aku sama sekali tidak mengingat apapun?" Ujar Gilang.
Gilang turun dari kasurnya untuk mengambil sebuah kotak obat dalam lemari. Ia lalu memakan beberapa pil lalu menghela nafas panjang dan segera ke kamar mandi untuk bersiap ke sekolah. Kakek dan ayah Gilang telah ada di meja makan, sekali lagi Gilang menghela nafas saat ayahnya menatapnya jijik.
"Selamat pagi ayah, kakek." Gilang menyapa dengan senyumannya.
"Apa kau tidur nyenyak?" Ujar Herman yang merupakan kakek Gilang.
"Ya, kakek. Kemarin aku tidur sangat pulas," Ujar Gilang.
"Aku dengar kau pergi bersama ayahmu? Kalian pergi kemana?" Ujar Herman lalu meminum tehnya.
"Kami pergi ke hotel bulan sabit," Ujar Gilang.
"Semalam kenapa kau bisa tidur di depan pintu?" Ujar Herman.
"Itu... Mungkin aku tidak terlalu banyak minum bersama ayah. Aku mungkin mabuk dan tidak sengaja tertidur di depan pintu," Bohong Gilang.
'Apa anak ini tidak mengingat kejadian kemari? Dia dan temannya itu di kepung oleh anggota kelompok naga hitam. Apa dia sengaja menutupi kejadian itu?' Batin Surya yang merupakan ayah angkat Gilang.
"Oh, kau tidak memakai cincin itu? Kau taruh dimana?" Ujar Herman.
"Ah? Mungkin aku menaruhnya di laci supaya tidak hilang," Ujar Gilang dan Herman hanya mengangguk.
'Apa dengan aku? Kenapa aku sama sekali tidak mengingat apapun? Apa sebenarnya terjadi kemarin malam? Cincinku bahkan hilang!' Batin Gilang sambil memegang sendok.
...TBC...
Hai semuanya masih semangat kan baca cerita Azura. Yuka dukung author dengan like, rate, vote dan coment ya🥰
Salam manis,
Tirfa_ledina.