
"Tubuhku pegal semua, seperti ada seseorang yang melempar tubuhku," Ujar Gilang sambil merenggangkan tubuhnya setelah tidur.
"Supirmu sudah ada didepan," Ujar Azura dan mengantar Gilang sampai ke depan pintu.
Gilang masuk kedalam mobil setelah berpamitan dengan Amora dan Kiki juga Nan. Azura menutup pintu dan berjalan menghampiri Kiki dan Nana yang sedang duduk sambil menonton sebuah film kartun di tv.
"Kalian tidak ada tugas dari sekolah?" Ujar Azura.
"Ada," Ujar Kiki.
"Kenapa kalian tidak mengerjakannya?" Ujar Azura.
"Soalnya sangat mudah, besok pagi bisa langsung di kerjakan." Nana terus menatap tv dan serius.
"Astaga," Ujar Azura lalu mematikan tv.
"Kenapa kau mematikan tv-nya? Adegannya sudah mulai seru tau," Ujar Nana kesal.
"Kerjakan dulu tugasmu baru nonton," Ujar Azura.
"Iya, iya. Bawel banget, dalam kedipan mata aja bisa jadi kok tugasnya." Nana terlihat sombong dan pergi mengerjakan tugasnya bersama Kiki.
Beberapa menit kemudian Kiki keluar dan mulai nonton bersama Azura. Bagi Kiki soal SD sangatlah mudah karna ia memiliki kecerdasan yang mirip dengan Azura. Kiki mulai makan beberapa keripik di atas meja dengan antusias.
"Kiki, kau sudah menyelesaikan tugasmu?" Ujar Azura sambil melihat Kiki yang sibuk mengunyah.
"Iya tuan," Ujar Kiki.
"Tuan aku menurutmu kak Gilang itu aneh bukan? Dia bisa lepas dari ilusi dengan sangat mudah seolah-olah ia tak terkena sedikitpun." Kiki mengunyah keripiknya.
"Tenanglah dia memang memiliki tubuh yang kebal dengan ilusi, aku baru saja memeriksanya." Azura menjelaskan sambil menatap layar tv.
Setelah beberapa saat Nana juga kembali dan duduk menonton bersama Kiki. Azura melihat Nana yang sedang serius menonton film dan sesekali kesal saat ada kejadian yang membuatnya gemas dan geram.
"Nana, tugasnya udah selesai?" Ujar Azura.
"Soal gampang seperti itu, tentu saja sudah selesai." Kiki melihat Nana lalu tersenyum.
"Nana salin jawaban aku. Jadi mudah tentunya," Ujar Kiki dengan wajah polos.
"Nana!" Ujar Azura.
"Ada apa sih? Cuma nyalin, nggak bakal ketahuan sama guru kok," Ujar Nana.
Azura lalu menarik Nana agar telungkup lalu memukul pantatnya sebanyak tiga kali. Nana mulai marah-marah dan sesekali meneriaki Azura yang terus memukul pantatnya. Ia bahkan memberontak ingin turun dari pangkuan Azura namu tak berhasil karna Azura lebih kuat.
"Nakal ya. Oke, kau harus di hukum!" Ujar Azura sambil memukul pantat Nana.
"Kau pria mesum! Berhenti menyentuh pantatku!" Ujar Nana dengan wajah memerah karena menahan marah.
"Apa kau mau menyontek lagi? Kau juga Kiki, jangan lagi memberikan jawabanmu pada Nana." Azura tampak memasang wajah marah.
"Hari ini, kalian berdua akan dihukum. Tidak boleh makan keripik dan menonton tv selama satu hari penuh!" Tegas Azura.
"Mana bisa aku hidup tanpa keripik yang enak itu tuan," Ujar Kiki.
"Mana bisa aku hidup tanpa tv," Ujar Nana.
"Maafkan kami," Ujar Nana dan Kiki lengkap dengan wajah memelas mereka.
"Tidak, kalian harus di hukum atas kesalahan kalian." Azura pergi ke kamarnya.
"Ini salahmu sih, kenapa mengadu seperti itu." Nana menatap kesal Kiki.
"Aku kan mengatakan hal yang sebenarnya, apa yang salah dari itu?" Ujar Kiki.
"Ya tentunya salah lah," Ujar Nana.
...☄☄☄...
Azura yang berjalan menuju sekolahnya setelah mengantar Kiki dan Nana ke sekolah tentunya. Ia terus bersenandung ria karena cuaca yang lumayan mendukung membuat dia lebih nyaman beraktivitas. Seseorang mendorong Azura kebelakang, mereka juga mulai mengeluarkan kata-kata untuk Azura.
"Si anak cupu ini berani juga ke sekolah," Ujar Rian lengkap dengan para teman premannya.
"Ikut aku brengsek!" Ujar Rian dan menyuruh beberapa preman itu menarik dan menyeret Azura.
Siswa yang ada disana tak ambil pusing dengan masalah Azura. Mereka bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi di sana. Azura di bawa ke sebuah bangunan kosong dekat sekolahnya, Rian sengaja membawa Azura kesini agar dia bisa menghajar habis-habisan Azura di tempat ini.
Azura menatap dingin dan tak ada rasa takut yang ia tunjukkan pada para preman bertubuh kekar ini. Rian meleparkan balok tepat di depan Azura, pria itu tersenyum saat melihat alasan Rian yang memberikan satu balok agar bisa melawan balik. Rian yang melihat Azura tersenyum simpul semakin geram dan akhirnya menyuruh para preman untuk memukuli Azura tanpa ampun.
"Brengsek! Siapa yang menyuruhmu tersenyum, bodoh!" Rian makin kesal melihat Azura terus tersenyum sambil menghindari setiap pukul dan serangan para preman.
Azura berhenti dan memamerkan sumringahnya pada para pemenang dan membuat mereka entah kenapa tiba-tiba merinding. Azura memberikan pukulan tepat di wajah salah satu preman dan membuatnya ambruk seketika. Tak sampai di situ, Azura kembali melancarkan serangannya dan memberikan satu persatu pukulan untuk para preman itu.
"Ba-Bagaimana kau bisa mengalahkan 10 preman handal itu!" Ujar Rian dengan wajah yang mulai pucat saat Azura mendekat padanya.
"Jangan mendekat! Ayahku adalah pimpinan kelompok naga hitam! Dia tidak akan melepaskanmu, jika terjadi sesuatu padaku." Rian mengambil balok yang tadinya dilemparkan untuk Azura.
Azura pergi begitu saja namun tak di sangka Rian tiba-tiba menyerangnya dengan balok. Azura tersenyum simpul sambil menangkap balok yang di arahkan ke kepalanya. Dalam sekali genggaman Azura menghancurkan balok itu. Rian tak menyangka dengan kekuatan yang di miliki oleh Azura, belum sempat ia sadar dari kagetnya sudah ada satu pukulan yang mendarat di ulu hatinya.
"Sampah," Ujar Azura lalu pergi dari tempat itu.
Setelah Azura pergi tiba-tiba saja seseorang berjubah hitam datang ke tempat itu. Ia tersenyum saat melihat para preman yang tak sadar diri. Asap hitam masuk kedalam preman itu dan membuat mata mereka berganti menjadi warna hijau tua.
"Jadilah mainanku! Ikuti perintahku, akan aku berikan kalian kekuatan!" Ujar orang itu.
"Kami akan setia padamu sang Dewa!" Seru para preman itu.
Rian tersadar saat mendengar banyak suara. Ia seketika gemetar saat melihat orang berjubah hitam itu menatapnya dengan tatapan membunuh. Rian berusaha lari dari tempat itu namun sebuah tali tiba-tiba menangkap lehernya. Ia lalu di tarik ke arah orang berjubah itu dengan sebuah tali yang mencekik lehernya.
"Uggkk... Jangan bunuh aku, aku mohon." Rian berusaha meraup oksigen.
"Aku tidak akan membunuhmu, beritahu siapa orang yang menghancurkan mainanku?" Ujar orang berjubah itu.
"Itu Azura, aku bisa mengantarkan kalian pada anak itu. Tapi kumohon jangan membunuhku," Ujar Rian dengan nada memohon.
"Jadilah mainanku, maka kau akan hidup." Orang itu mengelus kepala Rian dengan hawa membunuhnya hingga membuat Rian bergerak hebat.
"Baik, aku akan menuruti perintahmu. Aku bersumpah setia padamu," Ujar Rian.
...☄☄☄...
Pulang sekolah tiba, Elin tiba-tiba memanggil Azura untuk rapat anggota kedisiplinan karna akan ada pejabat pemerintahan yang akan datang ke sekolah besok. Dengan langkah lesu Azura mengikuti Elin ke ruang rapat OSIS. Malam tiba dengan berakhirnya rapat, Azura mendapatkan tugas bersama Elin untuk menemani sang pejabat berkeliling sekolah.
"Kau akan pulang?" Tanya Elin dan di balas anggukan oleh Azura.
"Hati-hati!" Ujar Elin lalu segera berjalan pergi dengan langkah yang lebar menjauh dari Azura.
"Hei, kau mau pulang bersama? Cewek pulang malam berbahaya jika hanya sendirian," Teriak Azura dan Elin segera berhenti lalu berjalan dengan cepat menuju Azura.
"Dasar kau pria mesum. Baiklah, karna kau memaksaku." Elin berjalan mendahului Azura.
"Siap yang memaksamu?" Ujar Azura.
...TBC...
Yuk dukung Author dengan like, rate, vote dan coment kalian ya🥰 semoga kalian suka chapter ini dan sampai jumpa di chapter berikutnya 😍
Salam manis,
Titfa_ledina.