
Cuaca seketika mendung dan seorang pria masih sibuk melompat dari gedung ke gedung. Di belakang pria itu ada segerombolan lebah hitam yang terus mengejar pria itu, sesekali lebah itu menembakkan jarum yang jika mengenai sesuatu akan meleleh.
"Kemana Kiki? Aku sudah lelah berlarian seperti ini," Ujar Azura.
Hujan mulai turun dengan derasnya dan membuat seluruh tubuh Azura perlahan basah. Hujan berubah menjadi badai petir dan sesekali terdengar suara guntur. Azura berhenti tepat di sebuah gedung yang cukup tinggi, berlarian selam sejam penuh membuat tenaganya terkuras habis. Segerombolan lebah tadi semakin mendekat, rahang Azura semakin terkatup rapat.
Ada laba-laba, kalajengking, tikus, kecoa dan ular. Semua hewan itu memiliki hal yang aneh yaitu mata berwarna hijau keunguan. Mereka mulai terlihat dari seberang gedung. Semua hewan itu kemudian melompat mendekat pada gedung Azura berdiri, pria itu melotot tak percaya pada jumlah hewan yang mengejarnya. Azura bahkan tak bisa membedakan jenis hewan tersebut karena saking banyaknya.
"Astaga, kenapa para hewan itu mengejar aku seperti zombie saja! Yak! Kalian para hewan apa tidak punya kegiatan lain apa?!" Ujar Azura sambil berteriak pada para hewan yang telah sampai di gedung ia berdiri.
"Apa yang harus aku lakukan? Ayo berfikir Azura! Berfikir lebih keras lagi Azura," Ujar Azura sambil mengetuk kepalanya sediri.
Para hewan tersebut tiba-tiba berhenti bergerak. Mereka berkumpul menjadi satu dan membentuk wujud manusia, perlahan sekumpulan hewan itu menampilkan seorang gadis yang terlihat sangat seksi dengan pakaian minimnya.
"Wah. Aku menemukan tangkapan yang cukup tampan juga," Ujar gadis itu.
"Ayo sini berikan aku satu ciuman panas," Ujar gadis itu dan tiba-tiba telah berdiri di depan Azura.
'Cepat sekali' Batin Azura sambil melompat mundur menjauhi gadis itu.
Azura mulai mengusap layar monitor hingga sebuah pedang berhasil muncul, pedang itu adalah pedang roh naga. Hanya pedang itu yang berhasil Azura beli sebelum terjadi pembaruan sistem kemarin. Pria itu melesat dengan cepat dan menyerang gadis tadi yang melebarkan senyumnya.
Pertaruhan sengit terjadi di atas gedung. Keduanya memiliki kecepatan yang luar biasa, gadis tadi terus menghindar tampa melakukan serangan balik pada Azura. Gadis itu akhirnya menahan pedang Azura dengan tangan yang di balut oleh cairan berwarna hitam.
'Bagaiman bisa dia menahan pedang naga dengan mudah! Apalagi dengan tangan kosong?' Batin Azura dan gadis tadi terkekeh.
"Apa kau heran melihat kekuatanku ini, vampir?" Ujar gadis itu.
"Aku bukan vampir! Aku manusia." Tegas Azura sambil mulai menyerang gadis itu lagi.
"Huh. Ternyata kau belum menyadari kekuatan immortalmu," Ujar gadis itu sambil menghindari serangan.
Gadis itu mundur lima meter dari Azura. Tanpa Azura sadari sebuah jarum berhasil mendarat di tubuhnya. Gadis itu tersenyum dan perlahan menghilang tanpa meninggalkan satu jejak pun. Azura tiba-tiba berlutut sambil meremas baju bagian dadanya, jantung terasa sesak hingga ia mulai batuk-batuk darah.
...☄☄☄...
"Kenapa posisi Kiki masih saja di sekolah? Aku harus pergi memeriksa dia di sana," Ujar Nana dan keluar lewat jendela kamar.
Dengan menggunakan palu raksasanya Nana akhirnya sampai di atap sekolah. Ia kemudian melihat Kiki yang tidur sambil melayang di udara, di sekitar tubuh Kiki muncul asap ungu dan itu membuat Kiki terjebak dalam dunia ilusi.
"Siapa yang memasang ilusi sekuat ini?" Ujar Nana sambil melihat Kiki yang mulai meneteskan air mata.
Di dunia ilusi, Kiki dengan wujud naganya di kelilingi para naga berwarna hijau yang memasang tatapan mengintimidasi. Kiki lalu kembali ke wujud manusia dan menutup telinganya rapat-rapat, ia berharap semua cemohan itu tidak lagi ia dengar.
"Tidak! Aku bukan naga sial! Tuanku tidak akan mati karena kutukan!" Ujar Kiki.
Disisi lain Nana mulai membuat pola sihir di bawah tubuh Kiki. Meskipun Nana tidak bisa bertarung ia tetap bisa membatalkan lingkaran ilusi ini dengan menggunakan benda-benda ajaib. Nana lalu meletakkan sebuah lonceng di tengah pola sihir itu.
Nana mulai merapalkan beberapa mantra dan membuat lonceng itu melayang di atas Kiki dan mengeluarkan cahaya terang. Suara lonceng mulai terdengar dan perlahan asap ungu itu menghilang bersamaan dengan Kiki yang kembali sadar.
Nafas Nana mulai tak beraturan.
"Cepat naik! Kita harus ke tempat Azura, dia dalam bahaya!" Ujar Nana dengan nada lemah.
Nana dan Kiki lalu melesat pergi dari sana, tanpa mereka sadari ada sosok yang berjubah hitam sedang memperhatikan keduanya yang telah pergi.
"Anak kecil itu cukup kuat, aku harus membuat dia menjadi peliharaan sang ratu." Sebuah sumringah terukir di wajah orang itu.
...☄☄☄...
Kiki dan Nana akhirnya sampai dan melihat Azura yang terus muntah darah di sana. Keduanya mendekati Azura dan memberikan sebuah cairan dalam botol kecil untuk di minum oleh pria itu.
"Maafkan aku tuan, aku tidak bisa datang tepat waktu." Kiki mulai berkaca-kaca.
"Bantu aku membawanya naik ke atas palu," Ujar Nana.
Ketiganya melesat pergi dan sampai di kamar milik Azura. Nafas Azura semakin pelan bersamaan dengan jantungnya yang semakin berdenyut lemah. Kiki dan Nana mulai gelagapan, keduanya bingung harus melakukan apa agar racun dalam tubuh Azura segera menghilang.
Setelah beberapa saat berlalu kini Nana berhasil menemukan sebuah cara untuk menyelembuhkan Azura. Dari kantong kecil miliknya Nana mengeluarkan sebuah cermin dan membopong Azura masuk ke dalam cermin itu.
Sebagian tubuh Azura terlihat hampir membusuk. Kiki lalu mengalirkan aura pelatihannya pada Azura agar tubuhnya tidak membusuk. Nana lalu mengusap layar monitor di ruang hampa itu dan menekan beberapa tombol hingga tubuh Azura menghilang dari sana.
"Apa yang kau lakukan? Kemana tubuh tuan?!" Ujar Kiki panik.
"Tenanglah! Hanya cara ini yang bisa menyelamatkan Azura," Ujar Nana sambil memegang punggung Kiki.
"Apa tuan akan hidup?" Tanya Kiki pada Nana.
"Kau tidak perlu memikirkan itu. Berlatihlah di sini, kau baru saja lepas dari lingkaran ilusi. Tenagamu akan pulih jika berlatih di sini," Ujar Nana sambil tersenyum pada Kiki yang sudah berkaca-kaca.
"Kau ingin menolong Azura bukan? Jadilah lebih kuat untuk melindunginya," Ujar Nana.
"Iya! Aku akan menjadi lebih kuat lagi," Ujar Kiki dan langsung duduk bersila untuk melakukan penyerapan energi alam.
"Selamat atau tidak itu tergantung oleh tekatmu tuan, aku berharap kau bisa melewati hal itu dan kembali pada kami." Gumam Nana.
"Semua yang terjadi hari ini terasa aneh, ada kelompok aliran sesat yang terus menganggu Azura. Apa kelompok itu telah menemukan keberadaan Azura?" Ujar Nana dengan nada khawatir.
"Seperti aku harus menyelidiki hal ini," Ujar Nana.
...TBC...
Halo para pembaca sekalian mari hargai author dengan tekan like, vote, rate dan komentarnya ya. 😘😊(◠‿・)—☆
Salam manis,
Tirfa_ledina.