
Sebelum baca, yuk budayakan like, rate, vote dan coment ya😉
Salam manis,
Tirfa_ledina.
...Happy reading 😘...
Brakk..
Suara benturan yang cukup keras memenuhi gudang tua itu. Pria gendut yang dulu pernah ikut membuli Azura mengeram hebat seraya tangan yang terkepal kuat, di celananya ada bekas sepatu yang menandakan ada seseorang yang baru saja menendangnya. Ia lalu bangkit saat Azura yang menjadi pelaku atas tendangan tadi.
"Apa kau baik-baik saja?" Ujar Azura.
"Brengsek! Kau dari kelas mana? Apa kau tidak tau aku hah?" Ujarnya.
"Aku tau, kau si gendut bodoh dari kelas 3. Aku sangat mengenalmu, kau kan sudah tiga kali gagal lulus." Azura mengangkat bahu acuh.
"Berani sekali kau! Aku ini Bagas! Kau akan mati setelah mengganggu kesenanganku! Cih, sini kau b*ngsat!" Ujar Bagas seraya memanggil beberapa teman satu gengnya.
"Kau pergilah," Ujar Azura pada gadis yang hampir saja menjadi korban pelecehan Bagas.
Gadis itu segera berlari pergi menuju pintu, ia menghapus kasar air matanya seraya memegangi kerah bajunya kuat. Azura yang melihat gadis tadi berhasil kabur menghela nafas lega. Beberapa pria yang merupakan pengawal khusus dari Bagas, mereka lalu mengelilingi Azura. Bagas adalah anak orang kaya yang selalu membawa pengawal ke manapun ia pergi bahkan di sekolah.
"Aku mau anak itu jadi cacat!" Ujar Bagas seraya meletakkan rokok di bibirnya.
"Baik tuan muda," Ujar para pengawal itu serentak.
Keluarga Bagas memiliki sebuah perusahaan yang sangat berasa dan terkenal, ada kabar angin yang mengatakan jika pendukung dari perusahaan itu adalah sekelompok narapidana yang siap membunuh apapun yang menghalangi jalannya mereka.
"Mati kau b*ngsat!" Ujar Bagas dengan sorot mata tajam seraya menghembuskan asap rokoknya.
Baru saja para pengawal itu akan mulai menyerang, Azura tiba-tiba duduk bersila di lantai seraya melipat tangannya. Azura melihat remeh pada Bagas dan para pengawal tampak bingung.
"Ada apa? Kau takut?" Ujar Azura.
"Tunggu apa lagi? Cepat serang si brengsek ini!" Titah Bagas.
Azura memejamkan matanya, saat ini ia sedang mengaktifkan tubuh hantunya lewat hadiah yang di berikan paman hantu. Pukulan bertubi-tubi mulai para pengawal itu layangkan pada Azura. Bagas tersenyum puas melihat ada darah yang mengalir, Hanya butuh beberapa menit para pengawal itu tiba-tiba meringis kesakitan.
"Aaa.. kenapa tanganku berdarah?"
"Tanganku juga, kau kenapa memukuli tanganku?"
"Tunggu kemana anak itu pergi? Kenapa malah tangan kita yang babak belur?"
"Apa kalian bodoh? Dia ada di belakang kalian!" Ujar Bagas yang melihat Azura sedang sibuk berjongkok di sebelah tong berisi air bekas hujan.
Pengawal itu lalu mengambil balok kayu untuk menyerang Azura dan lagi-lagi mereka yang malah terkena setiap serangan secara bergantian sedangkan Azura masih baik-baik saja. Azura tertawa keras melihat reaksi Bagas yang menahan amarah.
"Berhenti menggunakan mainan bodoh itu! Langsung gunakan pistol!" Perintah Bagas yang geram melihat Azura.
Sebuah senyum licik Azura tampilkan di wajah tampannya. Dengan gerakan gesit ia berhasil berdiri di belakang tubuh besar Azura. Bagas yang mencari keberadaan Azura masih saja belum menyadari Azura yang berada tepat di belakangnya.
"Keluar kau brengsek!" Teriak Bagas.
"Oh, ada apa? Jangan berteriak terlalu karas," Ujar Azura hingga Bagas berbalik.
"Kau?!" Ujar Bagas yang terlihat kaget.
Azura lalu berlindung di belakang Bagas saat ada banyak pistol yang mengarah padanya.
"Dasar bedebah sialan! Pergi kau dari belakang tubuhku!" Ujar Bagas.
"Wah kau sangat gendut, aku jadi bisa berlindung dari peluru. Jadilah tameng untukku," Ujar Azura.
Tanpa aba-aba, satu pukulan berhasil mendarat di rahang Bagas yang membuat tubuh besarnya amburk karena pukul itu. Pengawal Bagas yang melihat tuanya amburk berniat menembaki Azura namun tertahan karena Azura yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya Bagas sebagai tameng.
"Ada apa? Heheh, sepertinya kalian tidak berani menembak ternyata." Azura terkekeh kemudian meleparkan tubuh gemuk Bagas.
"Ayo semua berlutut. Maka aku akan melepaskan kalian," Ujar Azura lengkap dengan seringainya.
Mereka terlihat gemetar di depan Azura, rasanya pria itu memiliki aura yang begitu menyeramkan. Meskipun gemetar rasa takut mereka akhirnya menurut agar melakukan pertahanan hingga dengan tangan yang gemetar para pengawal itu melepaskan tembakan kearah Azura.
Azura menghela nafas dengan pilih para pengawal itu, ia mengangkat bahunya melihat pergerakan peluru yang terasa lambat. Dengan mudahnya Azura menghindar dari peluru itu, ia berjalan semakin dekat. Sudah bibir Azura terangkat saat peluru akhirnya habis.
"Ingatlah aku sudah memberi kalian pilihan," Ujar Azura.
"Hei, keluarlah. Aku tau masih di sini," Ujar Azura.
"Cih.. Ternyata kau kuat juga," Ujar seseorang yang akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya.
"Hmm.. Apa tujuanmu datang padaku, bukannya kau membenciku? Ini cukup mengejutkan," Ujar Azura.
"Tidak perlu basa basi! Aku butuh bantuanmu," Ujarnya.
"Ohiya? Bagaimana kalo aku tidak mau membantumu?" Ujar Azura yang menjadikan tubuh Bagas sebagai tempat duduk.
"Maka aku, Rendy akan menjadi musuh paling sulit untukmu," Ujar Rendy seraya menepuk-nepuk dadanya.
Azura mengangkat satu alisnya saat mendengar penuturan Rendy yang terlihat serius. Azura lalu berdiri dari duduknya seraya membersihkan debu di celananya, ia tau betul masalah yang Rendy alami. Semua karena mata unit miliknya yang bisa melihat roh yang tertinggal di dunia ini.
"Apa yang kau inginkan?" Ujar Rendy pada Azura.
"Kau juga tau, aku bukan orang sembarang. Apa yang aku inginkan akan sulit bagimu untuk mewujudkannya," Ujar Azura.
"Tidak masalah, aku akan berusaha. Aku tidak akan menyerah," Ujar Rendy penuh percaya dirinya.
"Ohiya? Baiklah. Mau menjadi temanku?" Ujar Azura.
"Apa?" Ujar Rendy yang terkejut dengan ucapan Azura.
"Aku butuh seseorang yang setia," Ujar Azura.
'Jadi maksudnya. Si brengsek ini ingin aku menjadi pengikutnya yang setia?' Batin Rendy.
"Baiklah, tapi kau harus berjanji akan membantu!" Ujar Rendy.
"Iya, iya. Terserah," Azura berjalan keluar dari tempat itu.
...🌱🌱🌱...
Valen yang menyandarkan punggungnya di dinding dekat tangga menuju lantai bawah. Ia sedang menunggu seseorang, beberapa menit kemudian akhirnya orang yang ia tunggu telah tiba. Valen tersenyum miring menatap orang itu, dia adalah orang yang menjadi teman lama Valen.
"Sudah lama ya? Kevin," Ujar Valen.
"Ayo bicara di tempat lain, aku rasa di vampir murni itu sedang mengawasi kita," Ujar Kevin yang berjalan lebih dulu untuk memimpin jalan.
"Apa kau takut padanya?" Ujar Valen.
"Tidak," Ujar Kevin.
"Lalu untuk apa kau malah seperti bersikap seperti pecundang?" Ujar Valen yang membuat langkah Kevin terhenti.
Kevin berbalik menatap Valen, hanya dengan mengerakkan jarinya Kevin mampu membuat tubuh Valen terhempas jauh membentur dinding. Meskipun terhempas akibat kekuatan Kevin, Valen masih mampu bertahan.
"Hahahah.. Kau masih sangat temperamen," Ujar Valen yang memegangi perutnya.
"Jangan lewati batasanmu hanya karena aku menganggap keberadaanmu!" Ujar Kevin seraya memberikan tekanan pada Valen.
Sorot mata Kevin berubah menjadi merah, ia kemudian melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Valen yang menahan tekanannya tadi. Rusi menghampiri Valen dan membantunya untuk berdiri, ia lalu menyembuhkan luka pada Valen hingga sembuh.
"Apa kau baik-baik saja?" Ujar Rusi.
"Ya, aku sudah sembuh berkat kau. Keturunan Demon memang seperti itu, angkuh dan sangat kejam. Itu memang sifat asli mereka yang tak bisa di hilangkan," Ujar Valen.
"Lalu untuk apa kau malah memancing amarahnya?" Ujar Rusi.
"Karna aku penasaran dengan kekuatannya," Ujar Valen.
"Kau benar-benar gila. Tapi aku suka," Ujar Rusi yang tersenyum manis pada Valen.
Di sisi lain, Kevin yang sedang berjalan menuju ruang pribadinya di sekolah ini tak sengaja melihat Devina dari kejauhan sedang menatap keluar jendela. Ia kemudian melangkah menuju Devina, tak ada yang tau jika Levi sudah lama menyukai Devina. Baik dulu atau pun sekarang perasaannya tetap sama, ia benar-benar tergila-gila dengan Devina.
Devina melihat Kevin lewat ekor matanya, saat pria itu berjalan ke arahnya. Devina cukup terkejut karena kehadiran Kevin, belum pernah pria itu menyapa atau berbicara dengannya selama ini. Hal itu tentu jasa membuat Devina merasa aneh, Kevin berusaha mencari topik pembicaraan dengan Devina namun gadis itu malah menanggapi dengan dua kata saja.
"Maaf Kevin, sepertinya aku harus pergi. Aku butuh ke toilet," Ujar Devina yang mencari alasan untuk pergi.
"Ohiya? Ah, baiklah. Aku ingin lebih mengenalmu. Apa kita bisa bertemu lagi?" Ujar Kevin dan mendapatkan anggukan ragu dari Devina.
Kevin mengukir seringai di bibirnya saat melihat punggung Devina yang menjauh.
"Kau milikku, tidak akan aku biarkan orang lain merebutmu dariku!" Ujar Kevin kemudian pergi.