Butterfly System

Butterfly System
Chapter 14 [Iblis Hati!!]


"Hei, kenapa kau memuntahkannya? Itu adalah tanaman yang sangat berharga dan sangat sulit untuk mendapatkannya." Azura masih sibuk batuk-batuk.


"Air, tolong beri aku air." Ran-ran segera berlari untuk mengambil air saat melihat kondisi Azura yang tampak aneh.


Dengan kering dan nafas yang kini tak beraturan Azura melangkah menuju danau dan mengambil posisi duduk bersila di atas sebuah batu. Ran-ran yang baru saja kembali dari mengambil air hangat terdiam saat Azura telah memulai pertapaan pertamanya. Energi alam terus memutari pria itu.


"Ada yang aneh dengan dia. Kenapa energi alam hanya mengelilinginya? Apa dia akan mengalami kegagalan?" Ujar Ran-ran berusaha menebak keanehan yang terjadi pada Azura.


Tiba-tiba saja sebuah pedang keluar dan melayang tepat di atas Azura. Semua energi yang tadinya mengelilingi Azura langsung masuk ke dalam pedang tersebut. Angin kencang memenuhi gua membuat beberapa batu melayang karena hal itu. Cahaya biru tiba-tiba saja keluar dari pedang itu dan langsung masuk kedalam tubuh Azura.


"Energi yang semurni itu ia ciptakan dengan mengunakan pedang arwah sebagai tempat pemurniannya, benar-benar seorang yang jenius. Aku harus melaporkan ini pada kakek tua itu," Ujar Ran-ran sambil buru-buru pergi dari sana.


...☄☄☄...


Dua hari berlalu sejak Azura memulai pertapaannya yang pertama. Sejauh ini semua berjalan baik dan terlihat normal saja, tubuh Azura terus saja menerima energi yang di murnikan lewat pedang arwahnya. Tingkat kekuatannya masih saja sama dan tidak terlihat akan ada peningkatan sama sekali.


"Bagaimana menurutmu? Dia sudah menerima banyak energi alam tapi kenapa tingkat energinya masih tidak ada perubahan?" Disebelah Ran-ran sudah ada Raymond yang merupakan guru Azura.


"Apa mungkin, dia akan mengalami kegagalan?!" Ujar Ran-ran panik.


"Mungkin saja," Ujar Raymond.


"Kau harus melakukan sesuatu jika tidak tubuhnya akan cacat karena kegagalan itu, ayo lakukan sesuatu." Ran-ran menarik pakaian Raymond menuju Azura namun kakek tua itu malah menggelengkan kepalanya.


"Dia harus melewati itu dengan kemampuan dirinya sendiri. Untuk menjadi kuat dia harus melewati beberapa tantangan agar melatih mental dan fisiknya," Ujar Raymond sambil menancapkan tongkatnya kemudian duduk bersila di tanah.


"Kita hanya bisa memperhatikan saja dan menunggu hasilnya," Ujar Raymond.


Sensasi terbakar mulai Azura rasakan bersamaan dengan ribuan jarum yang seolah-olah sedang menyerbunya tanpa henti. Pria itu menarik nafas panjang dan mengalirkan tenaga dalamnya keseluruhan tubuh untuk meredakan sedikit rasa sakitnya.


Hal itulah berhasil dan membuat tubuhnya Azura sudah tidak merasakan sakit namun sensasi terbakar masih saja belum hilang, pria itu mengatupkan rahangnya hingga ia terbangun di sebuah tempat yang di penuhi cermin. Azura berdiri dan melihat pantulan dirinya di cermin, ia terus berbalik ke kiri dan kanan saat merasa ada sesuatu yang sedang mengawasinya.


Azura terus merasa resah hingga ia menemukan sebuah cermin yang tampak menonjol dari semua cermin yang ada di sana. Azura berdiri di depannya namun tak ada pantulan dirinya di dalam cermin itu, ia lalu mendekat dan mencoba mencari keanehan yang ada di cermin itu, sebuah tangan lalu mencekik leher Azura.


Azura memberontak dan menarik keluar pemilik tangan yang mencekiknya itu. Pria berambut hitam dan mata merah juga taring yang panjang berdiri depan Azura, sosok itu memiliki wajah mirip Azura. tatapannya seolah-olah haus akan darah, Azura masih tetap waspada dan tidak membiarkan pikirannya terpecah.


"Siapa kau?" Ujar Azura.


"Kau tidak mengenali aku? Aku adalah kau dan kau adalah aku," Ujarnya.


"Apa maksudmu?" Ujar Azura.


"Bodoh, aku adalah sisi tergelap dan sisi yang harus akan darah dan airmata. Aku hidup lewat rasa benci, dendam dan ketakutanmu, aku adalah iblis dalam hatimu." Sosok yang mirip Azura terus tertawa sangat keras.


Sosok itu lalu menjentikkan jari hingga tiga orang yang sangat Azura benci muncul secara tiba-tiba disana. Azura mulai merasakan dendam dan marah melihat tiga orang itu, ia rasanya ingin membunuh mereka saat ini juga. Pria itu mengepalkan tangannya berusaha menahan amarah.


"Aku tau kau ingin membunuh mereka, kau benci dan dendam dengan mereka bukan? Kau ingin membalas dengan sangat kejam hingga mereka menangis dan bersujud di kakimu sambil meminta maaf." Sosok itu mulai menepuk punggung Azura dan membisikkan sesuatu.


"Katakan iya maka semua dendammu akan aku balaskan, hanya aku yang selalu ada di sisimu maka percayalah padaku. Berikan tubuh dan jiwamu padaku," Ujarnya.


"Bodoh," Ujar Azura.


Azura lalu memberikan satu pukulan keras pada sosok itu dan membuatnya harus menghentikan tawanya. Azura memasang wajah kasihan melihat sosok kembarannya itu terjatuh sambil menatap tajam dirinya.


"Apa yang kau lakukan?!" Ujar sosok itu.


"Aku tidak bodoh, aku tidak butuh bantuanmu untuk bisa menyelesaikan masalahku. Aku bukan orang lemah yang akan percaya pada penipu sepertimu," Ujar Azura dengan tegas.


Mata merah mulai menyoroti Azura dengan tajam. Sepasang tangan mulai menyerbu Azura dan membuat pria itu terperangkap dan tak bisa memberontak, ada semakin banyak tangan bermunculan dari dalam cermin dan berusaha menutupi seluruh tubuh Azura.


"Kau salah karena menolak aku," Ujar sosok mirip Azura dengan mata yang sekarang mengeluarkan darah.


"Matilah disini dan menjadi bagian dari diriku ini," Ujarnya dengan sumringah yang membuat siapa saja akan merinding melihatnya.


Tubuh Azura kini telah di tutupi oleh tangan-tangan itu. Sosok tadi tertawa melihat nasib Azura yang menyediakan itu, ia lalu mengayunkan tangannya hingga semua tangan itu menghilang. Ia lalu menyeret Azura dan memasukkan dia kedalam sebuah peti kaca.


"Berterimakasih aku memberikan tempat tidur yang indah ini untuk mayatmu," Ujar sosok yang mirip Azura.


Sosok itu lalu berbalik namun sebuah cahaya memaksanya untuk kembali melihat peti berisi Azura yang masih tertidur. Pedang tiba-tiba muncul dan memberikan sayatan pada kaki sosok itu. Peti kaca itu lalu hancur berkeping-keping, kini Azura telah berdiri tegak di hadapan kembarannya itu. Matanya masih setia tertutup namun rambut yang telah berubah menjadi warna biru.


"Ka-kau kenapa bisa lepas dari ilusi itu?" Ujarnya.


Azura terdiam sambil memegang pedang miliknya dengan sangat kuat, sosok miripnya memasang wajah kesal dan berniat untuk menusuk Azura dengan cakar tajamnya. Belum sempat ia memberikan serangan lebih dulu, pedang milik Azura telah menancap di jantungnya hingga tembus kebelakang. Sosok itu lalu memuntahkan darah dengan mata yang kembali mengeluarkan darah.


"Ba-Bagaimana kau bisa melakukan ini?" Ujar sosok itu.


"Aku adalah pemilik tubuh ini tidak akan aku biarkan siapapun mengambil dari diriku lagi. Kau hanya pelengkap tidak akan berubah menjadi pemilik," Ujar Azura sambil membuka matanya dan menampilkan mata biru langit.


"Tetaplah di tempatmu dan jangan melewati batasmu," Ujar Azura dan sosok itu perlahan menghilang tanpa jejak.


Tubuh Azura mengalami kenaikan dan berada di tingkat Pendekar. Perlahan Azura membuka matanya dan melihat Raymond dan Ran-ran yang menatapnya. Azura tersenyum, ia sudah kehabisan energinya saat melakukan pertarungan dengan iblis hatinya. Azura mulai terjatuh dari atas batu, Raymond yang mulai menahan tubuh Azura dan membawanya kembali ke darat.


"Kau sudah bekerja keras, istirahatlah."


...TBC...


Hai para pembaca yang terhormat👋 Jangan lupa dukung author dengan like, rate, vote dan coment kalian ya😘


Salam manis,


Tirfa_ledina.