Butterfly System

Butterfly System
Chapter 53 [Valen dan Rusi!!]


Sebelum baca, yuk budayakan like rate vote dan coment ya 🙏😄


Salam manis,


Tirfa_ledina.


...Happy reading 😘...


Azura melangkahkan kakinya dan melihat dua gadis sedang saling meleparkan tatapan tajam. Keduanya terlihat sedang saling adu kekuatan tanpa pengetahuan dari orang lain, Azura menghela nafas panjang. Azura lalu melangkah kakinya menjauh, ia tak ingin mencampuri urusan pada wanita. Rasa penasarannya juga sudah hilang saat mengetahui orang itu bukan Elin tapi Rusi.


"Dasar iblis! Aku akan membunuhmu jika saja ini bukan sekolah!" Ujar Devina.


"Kau bahkan tidak bisa mengendalikan sihirmu dengan baik tapi bersikap sombong. Meskipun kau di takdirkan untuk membunuhku kau sama sekali hanya jarum kecil yang bisa ku bengkokkan kapan saja," Ujar Rusi membuat Devina mengeram kesal.


Azura mulai pergi namun sebuah suara yang menyerukan namanya membuat perhatian Rusi dan Devina mengarah pada Azura. Gilang yang tak bisa membaca situasi hanya bisa terdiam dan melihat Azura yang menatapnya dengan kesal. Rusi tersenyum puas melihat keberadaan Azura yang tepat waktu.


Azura memilih melangkahkan kakinya lebih cepat, Gilang yang masih belum menyadari keadaan saat ini hanya bisa mengekori sahabatnya itu setelah sedikit menatap aneh pada penampilan Elin yang terkesan lebih terbuka. Rambutnya juga terliha ada warna abu-abu meskipun warna hitam masih lebih mendominasi.


"Woi, tunggu. Aishh.. dasar anak itu," Ujar Gilang seraya mempercepat langkahnya.


Devina pergi mengikuti Azura, sedangkan Rusi terdiam di tempat sebelum akhirnya Valen menariknya pergi. Rusi bukan terdiam tampa sebab, lagi-lagi Elin mengambil alih beberapa saat saat melihat Azura. Valen yang kebetulan sedang mencari Rusi mendapati gadis itu terdiam dalam kerumunan yang perlahan mulai bubar, langsung saja menariknya pergi.


Bel berbunyi yang menandakan pelajaran akan segera dimulai, Azura yang duduk di kursinya terlihat termenung saat mengigat wajah Elin. Rasa bersalah terus saja menghantuinya, bahkan dengan kekuatan yang ia miliki saja tak mampu menyelematkan orang yang bisa dekat dengannya. Gilang yang tadinya masih sibuk dengan ponselnya mengalihkan pandangannya saat Rendy yang masuk kedalam kelas.


"Apa liat?!! Mau ku colok keluar mata kalian?" Ujar Rendy garang.


Beberapa siswa yang melihat kearah Rendy hanya bisa berdecak kesal pada siswa pembuat masalah itu. Rendy langsung menuju bangku kemudian membanting tasnya di meja untuk ia jadikan bantal. Guru akhirnya masuk setelah itu, hari ini bangku Kevin kosong. Rasa curiganya akan kekuatan yang di miliki Kevin membuat Azura jadi tidak bisa fokus saat pelajaran dimulai.


"Aku harus mencari tahu tentang ini," Gumam Azura.


🌱🌱🌱


Jam istirahat tiba, semua siswa langsung saja berjalan keluar untuk mengisi perut atau sekedar beristirahat sejenak setelah pembelajaran hari ini. Azura dan Gilang yang baru saja keluar dari langsung di suguhi dengan koridor yang sangat ramai. Ada banyak siswa wanita yang berdiri di depan kelas yang berada tepat di sebelah kelas Azura. Seorang pria tampan yang sangat Azura kenali sedang di kerumuni banyak sekali siswa wanita.


Pria itu adalah Valen, tanpa sadar Valen malah berjalan menuju Azura dan Gilang. Azura kini tau, bukan hanya Rusi yang datang ternyata Valen juga ikut. Valen akhirnya melihat dari ekor matanya, Azura yang sedang menatapnya tajam. Valen hanya memandang remeh yang terlihat sudah tersulut amarah. Kerumunan siswa itu akhirnya terbagi menjadi dua saat tau Azura juga ada di sana.


"Wah, ternyata anak lemah ini juga bersekolah di sini," Ujar Valen yang masih menatap remeh pada Azura.


"Kau pikir kau hebat hanya karena menjadi seorang wanita menjadi tameng?" Ujar Azura yang memberikan tatapan sangat tajam.


Gilang hanya bisa menonton Azura bersama para gadis. Azura dan Valen sudah berada di tengah-tengah kerumunan itu, Gilang hanya bisa mengangkat bahu saja. Sudah kebiasaan Azura yang melupakannya saat bertemu orang yang ia kenal.


"Eh, maaf. Aku tidak sengaja," Ujar Gilang yang tak sengaja menginjak kaki salah seorang gadis.


"Eh, kau teman Azura bukan? Perkenalkan aku Tania. Aku ketua fanclub Azura, panggil saja aku Nia," Ujar gadis bernama Nia itu.


Gilang terdiri sesaat saat gadis di depannya membuat debaran jantung tak karuan. Nia yang tak mendapat respon dari Gilang mulai mengibaskan tangannya di depan wajah pria itu.


"Eh, apa? Aku menyukaimu," Ujar Gilang yang tampa sadar akan ucapannya sendiri.


"Ah, maaf. Maksudku aku ingin meminta satu minuman dinginmu itu," Ujar Gilang asal.


"Ohh, karna kau teman Azura aku akan memberikannya dengan suka rela," Ujar Nia.


"Perkenalkan, ak-" Ucapan Gilang langsung di potong oleh Nia.


"Gilang bukan? Aku sudah tau," Ujar Nia penuh percaya diri.


"Ah, iya. Ternyata kau sudah tau," Ujar Gilang seraya mengusap telungkupnya.


"Valen memang cukup tampan, tapi aku tidak ada berpaling dengan Azura yang lebih tampan dan baik hati. Ada banyak anggota yang berhianat dan memilih Valen," Nia melihat beberapa gadis yang merupakan mantan anggota fanclub Azura.


"Anggota kami jadi berkurang banyak," Ujar Nia.


"Kau begitu bagaimana kalo aku masuk sebagai anggota?" Ujar Gilang.


"Kau menyukai Azura?" Ujar Nia dan membuat Gilang terbelalak kaget.


"Tidak, tidak. Aku ini menyukai wanita, aku tidak gay. Jangan salah paham, aku benar-benar menyukai wanita. Aku masuk agar membantumu mencari anggota baru. Lagi pula aku kan teman dekat Azura," Jelas Gilang dengan cepat karena takut gadis di depannya itu salah paham.


"Benar juga. Kau bisa memberikan kita informasi yang bagus tentang Azura. Bahkan mungkin kau bisa mengambil foto Azura dengan mudah," Ujar Nia yang terlihat bersemangat.


"Ambil ini, mulai sekarang kau jadi mata-mata kami. Aku akan pergi mengurus anggota lain, kau pergilah untuk mendapatkan foto Azura yang banyak," Ujar Nia yang tersenyum singkat pada Gilang sebelum akhirnya pergi.


Azura dan Valen sudah pergi dan kerumunan juga sudah pergi mengikuti Azura dan Valen yang berjalan berlawanan arah hingga kerumunan itu lagi-lagi terbagi menjadi dua.


Gilang masih terdiam di tempat, jantungnya sudah sejak tadi berdetak kencang.


"Sepertinya aku jatuh cinta," Ujar Gilang yang kemudian mulai tersenyum sendiri.


"Eh? Azura? Kenapa anak itu? Ah, sial di meninggalkan aku," Ujar Gilang kemudian berjalan menuju kantin yang ia yakini Azura ada di sana.


Disisi lain Azura tak pergi ke kantin, ia memilih membeli minuman dingin di mesin minuman. Azura yang hendak mencari tempat yang sepi tak sengaja mendengar suara seorang yang berteriak minta tolong. Suara itu berasa dari gudang sekolah yang pernah terjadi kebakaran di tempat itu.


"Kumohon siapa saya, tolong aku. Hiks.. jangan menyentuhku!" Suara teriakan itu tentu mengundang perhatian beberapa siswa yang tak sengaja lewat di tempat itu.


Para siswa itu memilih untuk tidak peduli saat seorang gadis dengan pakaian berantakan di seret masuk kemba ke dalam gudang itu. Azura tidak pernah lupa pada sistem individual yang ada di sekolah ini. Untuk bisa bertahan kita harus menjadi egois atau menginjak-injak orang lain agar tidak menjadi sasaran.


"Hikss... Lepaskan aku!" Gadis itu mencoba memberontak.


Plakk..


"Dasar J*l*ng! Berani sekali kau menolakku!" Ujar pria berotot itu.


Satu tamparan berhasil mendarat di pipi gadis itu. Azura tau siapa orang itu, dia adalah senior yang sudah tiga kali gagal lulus tapi karena ia memiliki kekuasaan ia tidak di keluarkan dari sekolah. Catatan pelecehannya selalu bisa hilang dengan sendirinya, sudah ada banyak gadis yang menjadi korbannya.


"Cih, b*bi mesum itu tetap saja tidak berubah. Aku juga punya dendam yang cukup banyak padanya. Aku harus menagihnya," Ujar Azura dengan seringai di wajahnya.