
"Hikss... Lepaskan aku, sialan!" Ujar Elin.
Orang itu tak menjawab, tangan Elin di ikat kebelakang kemudian di seret di depan banyak orang. Elin sedikit ciut melihat tatapan orang-orang itu padanya, mereka menatap Elin bukan sebagai manusia tapi sebagai mangsa yang siap di santap kapanpun.
"Tubuh Dewi berhasil dibawa, tua." Orang itu membungkuk seraya mundur perlahan.
Adelion dan Alexander duduk dan menatap Elin yang menangis. Para Alfa yang membantu menculik Elin mulai melaporkan kejadian. Dalam penculikan ini bukan hanya Alfa saja yang terlibat, Elena ikut campur untuk membuat jebakan yang ternyata berhasil menahan Azura.
"Apa yang ini kalian lakukan?" Ujar Elin saat seseorang gadis dengan pisau berjalan kearahnya.
Rosse menggores pipi Elin, cairan kental itu mengalir keluar hingga jatuh di bawah kristal iblis. Cahaya muncul akibat reaksi kristal dengan darah Elin yang menunjukkan Elin adalah reinkarnasi sang Dewi iblis. Valen berjalan menuju Elin dan mengambil alih kristal iblis.
"Sudah waktunya bangkit Dewi iblis," Ujar Valen dengan sumringahnya.
Kristal melayang tepat di depan dahi Elin, cahaya berwana ungu muncul membuat seisi ruangan terdiam dengan tekan cukup kuat dari sang kristal. Elin tak mampu menahan tekanan itu hingga harus mengalami sesak nafas, tubuhnya terasa aneh dengan kekuatan yang perlahan mengalir dan menyebar ke seluruh bagian dari tubuhnya.
Sang kristal mulai masuk ke dalam dahi Elin. Valen tersenyum simpul melihat kristal yang telah masuk sepenuhnya. Mata Elin tertutup dengan di dahinya muncul ukiran lambang kristal. Mata Elin terbuka secara mendadak hingga menampilkan mata ungu menyala, tatapannya terlihat kosong tapi semua yang ada dalam ruangan bisa merasakan kebencian, dendam dan hawa membunuh yang di pancarkan oleh Elin.
"Selamat datang kembali Dewi iblis," Ujar Valen dengan senyuman simpul melihat Elin.
Kesadaran Elin masih tersisa sedikit, gadis itu berdiri dan berniat pergi. Tak ada yang menghentikan Elin yang sudah berada di depan pintu keluar. Baru saja Elin membuka pintu, jantungnya terasa berhenti berdetak seirama dengan kepalanya yang pusing. Tubuh Elin jatuh menyentuh lantai karena tak mampu lagi menyeimbangkan tubuhnya. Pandangan Elin memburam dengan nafas yang sudah tak beraturan, semua hitam setelah itu.
"Kau tidak bisa kabur, kau adalah boneka baruku yang kuat."
...βββ...
Sudah dua hari sejak Elin di culik, selama itu Azura tidak melakukan apapun. Pria itu tau ke mana Elin di bawa lewat informasi yang di berikan Darel tapi ia terpaksa harus diam. Jika menyerang sekarang hanya akan membuat Elin dalam masalah dan bahkan kehilangan nyawa.
Azura sedang push up di taman, kegiatannya cukup banyak menarik perhatian karena terkesan sangat keren dan tanpa dengan keringat di wajahnya. Beberapa bahkan berhenti untuk menonton dengan kagum bagaimana Azura melakukan olahraganya. Azura sungguh kesal karena tidak bisa menolong Elin, ia melampiaskan kemarahannya itu pada dirinya sendiri lewat latihan yang tidak ada hentinya.
"Apa dia model? Wah, tubuhnya sangat atletis. Apa dia punya pacar?" Ujar salah seorang gadis.
"Eh, dua anak di dekatnya itu imut juga ya," Ujarnya.
Nana dan Kiki hanya berjongkok melihat Azura yang sangat keras kepala. Melarang Azura selama dua hari penuh cukup melelahkan terlebih lagi tidak ada Amora yang melarang kegiatan pria itu. Levi yang baru saja kembali dari minimarket terlihat menghampiri Azura yang kini telah melakukan sit up.
"Oi, mau es krim nggak?" Ujar Levi dan Azura tak menanggapinya.
"Lah, udah dua hari kek gini. Nggak capek ya? Emang ada apa sih? Marah kek nyikasa diri diri sendiri," Lanjut Levi.
"Aku akan pulang, kalian bisa di sini jika kalian mau. Aku harus melatih tenaga dalamku," Ujar Azura kemudian pergi.
Pikir Azura hanya di penuhi wajah Elin yang menagis sambil meminta tolong padanya. Azura berhenti kemudian menatap langit yang cukup cerah siang ini. Azura menghela nafas panjang kemudian melanjutkan langkahnya untuk pulang. Sesampainya di rumah Azura langsung duduk bersila di lantai ruang tamu, pedang arwahnya muncul di atas kepalanya.
Energi alam masuk setelah kemunculan pedang itu. Cara Azura memurnikan energi alam masih sama saat dia bersama Raymond, energi masuk kedalam tubuh Azura setelah melalui perantara pedang arwah. Kini Azura telah menembus kekuatan tingkat Kaisar, pria itu tidak begitu tau alasan kekuatannya yang meningkat secara tiba-tiba sejak malam di mana Elin di bawa.
"Uggkk..."
Karena memaksakan tubuhnya Azura harus mengalami ledakan energi kecil di beberapa titik pada bagian tubuhnya. Sungguh tubuh Azura sudah sangat lelah, pedang menghilang saat Azura mulai mengeluarkan darah dari mulutnya. Pria itu mengelap darah di bagian mulutnya kemudian merebahkan tubuhnya di lantai.
"Hufftt... Aku harus lebih kuat lagi," Ujar Azura dan akhirnya di jemput oleh mimpi.
Azura tertidur dengan lelap. seorang gadis sudah sejak tadi berdiri di berdiri di depan pintu rumah Azura. Devina menghela nafas panjang dan memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah Azura. Tiga kali Devina mengetuknya tapi tak ada respon dari pemilik rumah. Devina menunduk dan melihat ada sepatu milik Azura yang menandakan pria itu sedang di rumah.
"Apa terjadi sesuatu?" Gumam Devina.
Dengan perasaan khawatir Devina mencoba membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Pintu terbuka, gadis itu mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang di rumah yang terlihat sepi itu. Matanya tertuju pada kaki seseorang di belakang sofa, walau ragu karena masuk tanpa izin Devina memberanikan diri untuk melihat orang di balik sofa itu.
"Azura?" Ujar Devina melihat Azura yang tertidur dengan sangat lelap.
Tanpa sadar Devina malah tersandung oleh kaki Azura hingga ia harus jatuh tepat di sebelah Azura. Beruntung kepala Devina tidak membentur lantai yang keras karena ada tangan Azura yang kebetulan menahan kepalanya. Azura berbalik ke arah Devina yang sedang tiduran di tangannya.
'Ada apa dengan aku? Kenapa aku sempat merasa suka berada dalam pelukan Azura? sepertinya aku sudah gila' Batin Devina.
"Maaf," Ujar Azura yang ternyata sedang mengigau.
Devina bingung alasan Azura meminta maaf, permintaan maaf itu untuk siapa? Kenapa Azura terlihat sedih saat mengucapkannya? Ada banyak pertanyaan yang bermunculan di kepala Devina ia sungguh bingung.
Karena terlalu fokus bergulat dengan pikirannya Devina tak menyadari jika ada seseorang yang telah masuk ke rumah ini. Kiki dan Nana masuk dan menyadari jika ada seseorang di balik sofa. Levi acuh saja dengan hal itu, ia lebih memilih diam di tempat dan menonton hasilnya.
"Kak Devina?!" Ujar Nana dan membuat perhatian Levi teralihkan saat mendengar nama Devina.
Devina berbalik dan melihat Nana dan Kiki yang memandangnya. Devina refleks mendorong Azura menjauh darinya hingga kepalanya harus membentur kaki sofa cukup keras dan membuat pria itu tersadar dari tidurnya.
"Apa yang kakak lakukan di sini?" Ujar Nana dengan bingung.
"Aduh.. Kepalaku rasanya sangat sakit? Apa yang terjadi," Ujar Azura sambil duduk dengan memegang kepala yang terlihat benjol.
"Maafkan aku," Ujar Devina seraya bangkit dari duduknya.
"Kak Devina?" Ujar Levi saat melihat Devina.
"Levi?!" Ujar Devina.
"Apa yang kakak lakukan di sini?" Ujar Levi.
"Akan aku beri tahu, kak ada urusan. Nanti aku akan kesini lagi," Ujar Devina.
Di pikiran Devina hanya ada satu yaitu harus pergi dari sini sebelum Azura sadar apa yang baru saja terjadi. Baru saja Levi ingin berbicara Devina sudah menghilang dari balik pintu.
"Apa yang terjadi Nana?" Tanya Azura.
"Aku tadi melihat kau dan Devina sangat menempel, aku pikir kau melakukan hal yang tidak-tidak pada dia. Ternyata kau tertidur," Ujar Nana.
"Hah? Menempel?" Azura tampak bingung mendengar ucapan Nana.
"Ya, laki-laki dan perempuan kalau menempel dengan posisi tidur apa wajar?" Ujar Levi.
"Jangan membuat teka-teki, aku sama sekali tidak tau jika Devina ada di dekatku," Ujar Azura seraya berdiri dan duduk di sofa.
"Apa kau menyukai kakakku?" Ujar Levi.
"Apa maksudmu? Kami berdua hanya teman," Ujar Azura.
Levi menghela nafas panjang lalu duduk di sebelah Azura. Dengan melihat sekali wajah kakak sepupunya tadi Levi bisa menebak jika Devina menyukai Azura.
"Kau jangan memberikan dia harapkan," Ujar Levi lalu kemudian pergi mengikuti Devina.
Devina belum sepenuhnya pergi, ia mendengar ucapan Azura. Gadis itu tersenyum kecut lalu akhirnya pergi dari sana dengan langkah besar. Bohong jika Devina tidak sakit hati, sungguh ucapan Azura membuat hatinya sangat sakit.
"Aku ini sangat bodoh. Mana mungkin dia menyukaiku?" Ujar Devina di sela larinya yang tanpa tujuan
...TBC...
Hai semuanya π Jangan lupa like, rate vote dan comentπ€ Kasih tip juga boleh, sampai jumpa di episode selanjutnya π
Salam manis,
Tirfa_ledina.