Butterfly System

Butterfly System
Chapter 20 [Mulai Pestanya!!]


Setalah mengantar Elin sampai di rumahnya ia segera pulang karna ingin menanyakan beberapa hal pada Nana dan Kiki tentang misi baru ini. Azura tiba-tiba berhenti saat berada di depan gedung hotel. Karena menyelidiki gedung hotel ini ia harus melawan makhluk immortal yang membuatnya hampir mati.


"Hotel ini masih saja sangat busuk, aku yakin ada rahasia di hotel ini." Azura melihat ke atas gedung hotel dan menemukan seseorang yang berjubah hitam yang memamerkan sumringahnya.


Azura mulai mengucek matanya dan mengira ia salah liat. Pria itu kembali menatap ke atas namun sudah tak ada seorang pun disana. Seorang satpam menegur Azura yang terus berdiri dan menghalangi sebuah mobil masuk kedalam hotel. Azura meminta maaf lalu segera pergi.


"Humm... Apa aku salah liat tadi?" Gumam Azura.


Azura segera mandi setelah sampai di rumah dan entah kenapa sosok yang ada di atas hotel terus terngiang di otaknya. Pria itu keluar dengan memakai handuk lalu mengering rambutnya setelah memakai baju. Kiki masuk ke kamar Azura dan duduk di sebelahnya.


"Ada apa tuan? Kau terlihat gelisa," Ujar Kiki.


"Apa kau ingat hotel berbau busuk itu?" Ujar Azura.


"Ya, selama tuan tidak ada di sini. Aku pergi menyelidiki tempat itu, awalnya aku pikir bau busuk itu berasal dari hantu namun ternyata salah. Bau busuk yang sepekat itu tidak mungkin berasal dari hantu biasa," Jelas Kiki.


"Aku tidak mendapatkan banyak informasi, yang aku tau pemilik hotel itu memiliki aura yang aneh. Dia seperti ada dalam ilusi seseorang, juga ada pelayan hotel yang selalu masuk kedalam ruangan bawah tanah. Setelah dia keluar ia di penuhi banyak darah," Jelas Kiki.


"Aku tidak bisa masuk kedalam ruangan itu karna gelombang aneh itu, kekuatan bahkan tidak bisa melewatinya. Apa ada yang salah dengan kekuatanku," Ujar Kiki sambil membuat bola api di tangannya.


"Tidak ada yang salah dengan kekuatanmu Kiki hanya saja itu adalah kekuatan hitam, akan sulit menembusnya dengan kekuatan. Kita harus melawannya dengan gelombang itu sendiri," Ujar Azura dan tiba-tiba Nana membuka pintu.


"Aku punya alat yang bisa meniru energi," Ujar Nana sambil memperlihatkan sebuah tongkat kayu.


"Benda apa itu?" Ujar Azura.


"Ini adalah tongkat sihir. Dia bisa meniru berbagai macam energi dan mengacaukan beberapa formasi sihir," Jelas Nana.


"Wah, benda itu cukup bagus." Kiki memuji dan membuat Nana memperlihatkan senyuman bangganya.


"Bagaimana jika kita mengetesnya," Ujar Nana sambil melihat bola api yang dibuat Kiki.


Nana mengarahkan tongkat itu ke arah Kiki dan tiba-tiba muncul dua buah bola api yang persis seperti milik Kiki. Azura dan Kiki bertepuk tangan melihat hal itu, tiba-tiba saja terdengar suara Amora yang mengetuk pintu dan membuat Nana kaget hingga bola api itu terlempar. Satu bola berhasil Kiki tangkap kemudian ia segera makannya sedangkan bola yang satunya keluar dari jendela Azura.


"Azura nenek masuk ya," Ujar Amora dan membuka pintu.


"Ada apa nek?" Ujar Azura.


"Makan malam sudah siap, cepat turun dan makan." Amora melihat Azura dan Kiki yang pucat.


"Apa kalian tidak apa-apa? Kalian terlihat pucat," Ujar Amora khawatir.


"Kami tidak apa-apa kok nek," Ujar Kiki melihat sekeliling.


"Baiklah, kalian jangan lama ya. Nanti makanannya dingin," Ujar Amora lalu menutup pintu.


Nana, Azura dan Kiki melihat keluar jendela untuk mengecek bola api yang terlempar tadi. Ia melihat bola api itu masih menyala dan berkobar hingga melelehkan jalanan tempatnya ia mendarat.


"Aku harus mengambil bola api itu, dia akan meledak saat lepas dari pengendalinya." Kiki keluar dan melompat dari atas jendela dan mengambil bola itu lalu memakannya seperti keripik renyah.


"Apa bola api itu enak?" Ujar Nana saat melihat Kiki mengunyah bola api itu.


"Renyah tapi tidak seenak dengan bola api milikku," Ujar Kiki.


"Nana apa sistem menyediakan perlengkapan untuk menyelinap?" Ujar Azura.


"Kau ingin menggunakannya untuk apa?" Ujar Nana.


"Menyelidiki sebuah hotel dan menyelesaikan misiku," Ujar Azura.


"Perlengkapannya ada, tapi kau yakin bisa menggunakannya?" Ujar Nana.


"Aku yakin," Ujar Azura dan Nana segera mengeluarkan sebuah perlengkapan lengkap berwana hitam.


"Aku ikut," Ujar Kiki dan Nana bersamaan.


"Kiki boleh ikut tapi Nana kau tidak bisa ikut," Ujar Azura dan Nana akhirnya setuju setelah beberapa perdebatan kecil.


Azura dan Kiki pergi ke arah hotel dengan pakaian serba hitam dengan melompat dari gedung ke gedung untuk akses jalan mereka. Keduanya berhasil masuk dalam hotel dan segera menuju sebuah ruangan yang Kiki katakan aneh, Azura mengeluarkan tongkat sihir milik Nana dan menirukan energi gelombang di dekat pintu itu dan berhasil membuat pintu itu terbuka.


Azura dan Kiki masuk namun tidak menemukan apa-apa di sana. Ruangan itu benar-benar kosong dan sangat bersih seolah-olah tidak ada sesuatu didalam sana. Azura mendengarkan sebuah langkah kaki yang ternyata adalah milik dua orang pelayan.


"Sudah, barang yang di sana juga sudah di pindahkan ke ruangan barang lelang di lantai atas." Jawaban pelayan satunya.


"Bagus, sebaiknya kita segera ke lantai atas untuk mengecek semua barang di sana." Pelayan itu berniat pergi namun Azura menjentikkan mereka dan membuat keduanya jatuh pingsan.


Azura menatap pakaian keduanya dan secara tiba-tiba pakaian Azura berganti menjadi pakaian pelayan itu. Kiki bersembunyi dan terus mengikuti Azura untuk terus memantau keadaan. Azura berhasil sampai di ruangan barang lelang yang di ucapkan kedua pelayan tadi.


Baru saja Azura ingin membuka pintu seseorang memegang bahunya, Azura berbalik dan berniat memberikan satu pukulan pada orang itu namun ia urungkan saat melihat orang itu adalah Gilang.


"Eh, jangan memukulku. Ini aku Gilang," Ujar Gilang.


"Hampir saja," Ujar Azura.


"Kau pelayan disini? Ternyata aku tidak salah mengenali orang tadi," Ujar Gilang.


"Kenapa kau ada disini?" Tanya Azura dengan wajah penuh rasa curiga.


"Aku dan ayahku akan menghadiri acara lelang yang di adakan oleh hotel ini," Ujar Gilang dan seseorang berteriak memanggilnya.


"Aku pergi dulu ya. Ayahku sudah memanggil aku," Ujar Gilang buru-buru berlari ke arah ayahnya.


Baru saja Azura ingin pergi tiba-tiba Gilang kembali dan mengajaknya untuk ikut melihat pelelangan. Azura setuju dan akhirnya pergi dengan Gilang, tempat pelelangan cukup ramai karna ada sebuah barang spesial yang akan dilelang di tempat ini.


"Aku dengar ada barang antik terkenal yang akan di lelang di tempat ini. Katanya benda itu bisa membuat kita hidup selamanya," Ujar salah satu orang disana.


Acara lelang di mulai beberapa saat setelahnya dan semua barang satu persatu di beli dengan harga yang cukup tinggi. Seorang pelayan hotel mengeluarkan kotak hitam yang membuat semua orang penasaran karna aura yang di keluarkan benda itu.


"Hadirin sekalian sekarang kita berada di puncak pelelangan ini dan benda yang akan kami lelang bukan benda sembarang. Benda ini bisa membuatmu menjadi muda dan hidup selamanya tanpa harus merasakan hari tua," Ujar pembawa acara pelelangan.


"Baiklah kita buka pelelangan ini dengan harga awal yaitu 50 juta," Ujar Pembawa acara dengan semangat.


"1 miliar,"


"2 miliar,"


"3 miliar,"


"5 miliar,"


Semua peserta disana mulai antusias menawarkan harga dan sesekali ada beberapa perdebatan antar orang berduit itu. Mereka terus menawar dan berusaha mendapatkan benda itu bagaimana pun caranya. Azura mengangkat tangannya saat semua orang berhenti menawarkan harga.


"50 miliar," Ujar Azura dan semua mata tertuju padanya.


"Siapa adik kecil itu? Dia benar-benar sangat kaya sampai menawar dengan harga yang fantastis itu," Ujar Salah seorang di sana.


"Siapa yang berani menawar lagi, kau tidak takut kelompok naga hitam?" Teriak seorang pria gendut.


"Benda itu hanya milik kelompok naga hitam siapapun yang berani merebutnya akan mati dengan mengenaskan," Ujar pria botak itu lagi.


"Hanya orang yang menawarkan harga tinggi yang bisa mendapatkan benda itu, disini tidak ada yang mengatakan benda itu adalah hakmu." Azura masih setia duduk dengan santai saat semua pengawal pria botak itu berusaha menodong Azura dengan pistol.


"Enyahlah jika tidak memiliki uang," Ujar Azura dan berhasil menyulut amarah pria botak itu.


"Kau!! Bunuh anak Brengsek itu," Ujar pria botak itu dan membuat keributan di sana.


Orang-orang di sana mulai berlari pergi saat para pengawal pria botak tadi melepaskan satu tembakan ke udara. Gilang yang duduk bersebelahan dengan Azura muali panik saat ayahnya telah kabur tanpa mengajaknya sama sekali. Gilang berusaha membujuk Azura agar kabur bersama namun Azura masih setia duduk dengan santainya.


"Duduklah, aku akan menjamin keselamatanmu. Kita kan teman," Ujar Azura dan Gilang duduk dengan wajah khawatir.


"Kiki," Ujar Azura dan dalam sekejap mata para pengawal itu ambruk.


"Waktunya memulai pestanya," Ujar Azura dengan sumringahnya.


...TBC...


Hai, yuk dukung author dengan like, rate, vote dan coment ya 🤩 Semoga kalian suka Chapter ini. Sampai jumpa di chapter selanjutnya 😘


Salam manis,


Tirfa_ledina.