
Dalam sebuah ruangan Valen dan Rusi masuk untuk bertemu dengan Kevin. Mereka cukup terkejut saat merasakan atmosfer gelap dalam tempat itu akibat kekuatan Kevin. Tatapan tajam itu menyoroti keduanya dengan sangat tajam seolah-olah Valen dan Rusi akan tersayat hingga mati.
"Siapa yang menyuruh kalian berbuat hal buruk pada Devina!" Ujar Kevin.
"A-apa yang kau maksud?" Ujar Rusi.
"Jangan pura-pura bodoh! Kalian menanamkan pengikat roh padanya bukan!?" Ujar Kevin sambil memberikan tekanan yang lebih besar hingga Valen dan Rusi jadi sesak nafas.
"Kalian ingin mati, hah?!" Ujar Kevin.
Memang benar jika Rusi yang memasang benda tersebut pada tubuh Devina. Ia terlalu kesal dan jengkel melihat Devina yang sok berkuasa atas hidupnya. Hingga tanpa berpikir panjang ia langsung menanamkan pengikat roh itu pada Devina. Kevin mengatupkan rahangnya rapat seraya energinya mencekik Rusi yang sejak tadi gemetaran.
"Ahkk.. Maafkan aku. Dia ha-hanya penyihir rendahan. Kenapa kau marah hanya karena penyihir menjijikan itu?" Ujar Rusi.
"Apa karena kau sudah terlalu tua hingga kau tak bisa menyadari pengantin dari rajamu ini, hah?!" Ujar Kevin seraya menghempaskan tubuh Rusi ke dinding.
Valen kemudian berlutut di depan Kevin, ia memohon agar Rusi di ampuni. Bagi Valen harga dirinya sangatlah penting namun tidak lebih penting dari Rusi yang merupakan senjatanya. Untuk apa ada harga diri jika tak mampu bertahan di tempat yang sangat kejam ini.
"Kami tidak akan berani menganggu pasangan anda yang mulia. Vampir murni terlalu baik dan terlalu lembut, aku yakin dia akan menggunakan jiwanya sendiri untuk tumbal," Ujar Valen.
Kevin berdecak kesal, ia melepaskan Rusi. Ia tidak akan membiarkan orang yang menyakiti Devina lepas begitu saja. Kevin sengaja memasang segel pada Rusi agar tak berani menganggu Devina lagi. Selama segel itu ada, Rusi tidak akan bisa bebas menyentuh Devina.
"Cepat bawa dia pergi! Dan ingat jangan coba-coba menyentuh gadisku!" Ujar Kevin kemudian beberapa pelayan masuk dan membawa Rusi dan Valen keluar.
Setelah Valen dan Rusi pergi, Kevin kemudian mengucapkan beberapa mantra dan menggunakan energinya menjadi penopang mantra itu. Dalam sekejap Kevin menghilang dari tempat itu, sorot matanya berubah merah saat tiba di sebuah tempat yang sedingin es meskipun di sini sama sekali tak ada es.
Ia melangkahkan kakinya menuju sebuah peti hitam yang di sana sedang terbaring seorang pria dengan sebuah tanduk di kepalanya. Kevin menunggingkan senyuman saat tangannya terkena setruman listrik. Jari telunjuknya tergores sedikit, di sekitar peti itu ada sihir pelindung yang sudah terlihat lemah.
"Aku tau kau sudah terbangun," Ujar Kevin.
Kevin mengangkat tangannya hingga tiba-tiba pola sihir muncul di depan telapak tangannya. Lingkaran sihir itu kemudian melawan balik sihir pelindung dari peti itu, tak butuh waktu lama sihir pelindung akhirnya berhasil di hancurkan. Pria yang tertidur di peti itu perlahan membuka matanya.
"Selamat datang Demon, keturunan langsunmu menyambut kedatangan anda," Ujar Kevin seraya memberikan hormat.
"Keturunan langsung?" Ujarnya.
"Kau anakku?" Lanjutnya.
"Aku adalah serpihan dari kekuatanmu," Ujar Kevin.
"Iruz? Apa Iruz masih hidup?" Ujarnya.
"Aku tidak bisa memastikannya, tapi kurasa dia masih hidup."
"Hahahaha.. Adikku tercinta. Amon kakakmu akan segera menemuimu lagi," Ujar Amon dengan sorot mata penuh dendam dan kebencian.
...☘️☘️☘️...
Sudah sejak tadi Azura mondar-mandir di depan bangkunya sendiri. Ia baru saja pulang ke sekolah karena ujian telah selesai dan sekarang sudah jam istirahat. Gilang tak ada di tempat duduknya, ia sedang pergi menemui guru matematika karena nilainya sedang dalam masalah. Azura kemudian duduk di bangkunya, ia menopang dagunya dengan pandangan mengarah ke papan tulis.
"Hufftt.. Aku jadi pusing, kenapa aku sangat bodoh?" Gumam Azura.
"Azura, kau dipanggil wali kelas. Katanya kau harus mengambil penghargaanmu," Ujar sang ketua kelas.
"Ah, baiklah. Aku akan pergi," Ujar Azura kemudian beranjak dari duduknya.
"Ibu Farah, dimana murid yang memenangkan banyak penghargaan itu? Anak jenius itu harus di perlakukan dengan baik," Ujar sang kepala sekolah.
"Ahh, murid itu ada di belakang anda pak. Namanya Azka Azura dari kelas 1-C," Ujar guru bernama Farah.
Sang kepala sekolah langsung menghampiri Azura yang hanya bisa tersenyum kikuk menanggapi setiap ucapan sang kepala sekolah baru tersebut. Benar, kepala sekolah yang ada di depannya ini baru saja di tunjuk sebagai kepala sekolah pengganti. Dia bukan orang yang dulu pernah di selamatkan oleh Azura hingga bisa bersekolah di sekolah elit ini.
"Bagaimana dengan ujianmu? Ah kenapa aku malah bertanya seperti itu? Bagi anak jenius sepertimu tentu menjawabnya sangat mudah bukan?" Ujar sang kepala sekolah.
"Bapak terlalu memuji saya," Ujar Azura.
"Bisakah saya kembali ke kelas? Ujian ipa akan segera dimulai," Ujar Azura.
Jujur saja, Azura tidak suka berada di dekat kepala sekolah baru itu. Tatapannya seolah-olah sedang melihat Azura sebagai hewan peliharaan yang harus mengikuti kemauan majikannya. Azura langsung pergi setelah membawa banyak piala itu di tangannya.
"Oi Azura. Mau aku bantuin nggak?" Ujar Gilang yang menemukan Azura.
"Kebetulan nah, ini bawa semua aja. Membantu itu nggak boleh setengah-setengah," Ujar Azura.
Azura pergi meninggalkan Gilang yang sedang mengumpat padanya. Azura hanya tersenyum simpul seraya melambaikan tangannya, meskipun kesal Gilang tetap membawanya walaupun di sepanjang jalan terus menggerutu.
Devina yang melihat Azura di koridor sekolah bersama Gilang segera menghampirinya.
"Azura," Panggil Devina hingga sang pemilik nama menoleh.
Devina kini berjalan bersebelahan dengan Azura, ia tak mengucapkan apapun dan memilih untuk diam. Berada di sebelah Devina membuat Azura bisa merasakan sudah berapa banyak roh yang ada di sekeliling Devina.
"Hufftt.. Ini semua salahku," Gumam Azura.
"Ada apa Azura?" Ujar Devina.
"Ah, bukan apa-apa."
"Aku akan kembali ke kerajaan Lord setelah ujian," Ujar Devina.
"Mungkin aku akan lama di sana," Ujar Devina.
"Berapa lama?" Tanya Azura.
"Mungkin satu tahun," Jawab Devina.
"Tidak bisa. Kau harus tetap di sini," Ujar Azura seraya memegang bahu Devina cukup kuat hingga Devina terlihat meringis.
"Eh, maaf. Aku terbawa emosi," Ujar Azura.
"Iya, tidak apa-apa. Aku akan pergi ke kelasku dulu," Ujar Devina.
Melihat kepergian Devina, Azura menghela nafas. Keadaan semakin rumit, ia jadi bingung jika Devina malah harus pergi. Ditambah lagi jumlah roh yang di tampung dalam tubuh Devina sudah tidak bisa diremehkan.
"Arggghhh.. Sial! Aku akan segera mencari jiwa yang bisa di tukar untukmu secepatnya. Kali ini aku tidak boleh gagal!" Ujar Azura.
"Duh, Azura. Woi, bantuin bawa dong. Eh, kok malah pergi sih? Dasar anak itu!" Ujar Gilang.