Butterfly System

Butterfly System
Chapter 25 [Kelompok Naga Hitam!!]


"Ayah," Panggil Rian pada seorang pria tua yang duduk di sofa bersama beberapa gadis dengan pakaian minim.


Para gadis itu langsung pergi dan meninggalkan ruangan saat Baron mulai merasa marah melihat keadaan anaknya yang sudah penuh lebam. Rian segera menghampiri ayahnya dan mulai mengeluh tentang beberapa hal tentang Azura.


"Ada apa dengan wajahmu, nak?" Ujar Baron yang merupakan ayah Rian.


"Ada seseorang yang memukuliku. Ayah harus membalas dendam anakmu ini," Ujar Rian sambil memegangi pipinya yang bengkak.


"Siapa yang berani melakukan hal ini pada anakku?" Ujar Baron.


"Dia Azura, yah. Dia hanya anak miskin yatim-piatu. Ayah harus membalasnya, dia sudah membuat anakmu ini malu ke sekolah dalam keadaan bonyok," Ujar Rian.


"Ayah juga harus hati-hati, anak itu cukup kuat. Dia bahkan bisa mengalahkan para preman yang aku bawa," Ujar Rian.


"Tenanglah anakku, ayah pasti akan menghajar anak itu. Kau pergilah ke sekolah dulu," Ujar Baron dan Rian mengangguk paham.


Baron menekan sebuah nomor dalam ponsel kemudian berbicara dan memberikan perintah untuk mengumpulkan beberapa orang. Seorang pria masuk kedalam ruangan, pria itu memberikan beberapa dokumen biodata Azura.


"Hanya anak miskin, aku pikir ada seseorang yang mendukungnya dari belakang. Ternyata aku hanya khawatir sesaat," Ujar Baron sambil duduk di sofanya kembali dan menyalakan rokoknya.


Para gadis tadi kembali masuk saat Rian telah keluar dari ruangan. Baron tak pikir panjang ia langsung mengirim seseorang untuk membantu anaknya menghabis musuhnya. Pria tua itu kembali bersenang-senang dengan para gadis malam itu bersama anggurnya.


...โ˜„โ˜„โ˜„...


Sore hari, Azura duduk dengan gugup di kamar Devina. Nana dan Kiki sudah sejak tadi menemani Azura yang seperti sedang ketakutan masuk ke dalam kamar seorang gadis. Beberapa pelayan masuk dan menyajikan banyak sekali macam cemilan. Kiki sudah menganga saat melihat banyak macam rasa keripik di atas meja.


"Kalian makanlah," Ujar Devina yang baru saja masuk.


"Maaf, karna aku malah menyuruh kalian masuk kedalam kamarku. Aku punya beberapa alasan," Ujar Devina sambil duduk berhadapan dengan Azura.


"Jadi untuk menyembuhkan kamu, kau cukup makan pil ini dan," Ujar Azura namun ia malah menghentikan ucapannya.


"Dan apa?" Ujar Devina kemudian meminum teh di gelas.


"Aku harus mengatur ulang energi dalam tubuhmu dan aku harus menyentuh punggungmu. Harus bersentuhan langsung dan tidak boleh ada penghalang seperti kain pakaianmu," Ujar Azura dengan telinga yang sudah sangat merah.


Devina kaget dan membuat ia menyemburkan tehnya keluar hingga mengenai wajah Azura. Nana berusaha mati-matian menahan tawa sedang Kiki sudah ada di dunianya sendiri bersama berbagai macam rasa keripik. Azura hanya bisa menerima nasib sambil mengerikan wajahnya dengan tissue.


"Ehmmm... Maaf," Gumam Devina namun tak sampai di telinga Azura akibat suara tawa Nana yang terlanjur lepas.


"Kak Devina tenang saja, dia ini anak yang baik kok. Dia tidak akan mengambil kesempatan dari ini, kakak tenang saja. Aku akan di sini dan mengawasi dia. Kalau perlu matanya kita tutup saja aku punya alat yang bagus," Jelas Nana sambil mengeluarkan sebuah kain berwarna hitam.


Nana melipat kain itu menjadi lebih ramping kemudian menutup mata Azura dengan kain itu. Nana juga memasang kain pada Kiki yang masih sibuk makan kripik walau ada sedikit perlawanan pada Kiki yang merasa terganggu.


"Dengan ini mereka tidak akan bisa mengintip, bahkan jika menggunakan mata dewa sekali pun mereka tidak akan bisa," Ujar Kiki.


"Kau memiliki banyak benda ajaib ya Nana. Apa kau itu penyihir seperti aku?" Ujar Devina.


"Mungkin saja, tapi aku hanya bisa mengeluarkan benda ajaib saja. Kalau sihir aku hanya bisa membuat pola sihir biasa," Ujar Nana.


"Kau masih kecil tapi sudah sangat berbakat," Puji Devina.


"Eghmm... Maaf mengganggu pembicaraan kalian tapi aku tidak terlalu suka dengan posisi mata tertutup dan juga sekarang aku ada panggilan alam," Ujar Azura.


"Tahan bentar. Kak Devina juga udah siap tuh," Ujar Nana.


Nana membawa Azura duduk di lantai dengan Devina yang membelakanginya. Tangan Azura di tuntutan oleh Nana ke punggung Devina, beberapa saat setelah menyentuh punggung Devina telinga Azura kembali memerah. Nana yang melihat hal itu langsung memukul kepala Azura agar sadar kembali. Azura menghela nafas dan mulai fokus untuk mengatur energi dalam tubuh Devina.


Azura mengalirkan tenaga dalamnya masuk kedalam tubuh Devina dan mengatur kembali energi yang berhamburan. Azura mengerutkan keningnya saat ada sesuatu yang mencoba memakan tenaga dalamnya hingga membuat pria itu kesulitan mengatur semua energi yang seolah-olah sedang memakannya. Semakin Azura mengatur energi dalam tubuh Devina semakin ganas pula energi itu memakan tenaga dalam Azura.


'Sial!' Batin Azura.


Azura berhenti untuk mengatur energi dalam tubuh Devina. Kini dia hanya bisa mengatur lima titik perkumpulan energi dalam tubuh Devina sisanya sulit untuk Azura sentuh. Devina tiba-tiba batuk darah dan membuat Nana segera menghampirinya.


"Apa yang terjadi? Azura, apa yang kau lakukan?" Ujar Nana.


"Ada apa? Aku tidak melihat apapun?" Ujar Azura.


Nana melepaskan ikatan kain di kepala Azura juga Kiki. Azura melihat banyak darah yang keluar dari mulut Devina lewat batuk-batuk parahnya. Kiki yang mencium bau darah segera berbalik dan melihat Devina yang terlihat lemas. Azura kaget dan tak menyangka jika efek akibat memaksa energi untuk berkumpul di satu titik akan membuat tubuhnya kehilangan banyak pertahanan energi.


Azura membuka brankas pilnya dan memilih beberapa pil penyembuh yang bisa meningkatkan pertahanan tubuh Azura. Pria itu langsung menekan titik energi yang tidak sempat Azura atur. Devina berhenti batuk darah namun ia malah kesulitan untuk bernafas. Azura harus segera memberikan pil itu namun melihat kondisi Devina tidak memungkinkan untuk menelan sesuatu.


Azura langsung memasukkan pil-pil itu kedalam mulutnya kemudian mengunyahnya beberapa saat lalu berniat untuk memberikan pil itu lewat mulutnya. Nana tiba-tiba memukul punggung Azura dan membuat pria itu malah menelan pil itu sendiri.


"Jangan mencoba mengambil kesempatan! Aku pikir kau pria yang sopan ternyata," Ujar Nana sambil memasang wajah kecewa.


"Astaga Nana, aku sedang memberikan pil obat padanya. Dia butuh itu dengan cepat dan itu malah tertelan olehku," Ujar Azura.


"Apa? Ah, aku minta maaf. Aku tadi melihat ekspresi wajahmu yang aneh," Ujar Nana sambil memukul sendiri kepalanya.


"Bagaimana ini? Kita butuh pil penyembuh lainnya," Ujar Azura panik.


"Tuan, aku bisa membantunya memusnahkan energi gelap itu menggunakan api milikku." Kiki maju dengan api di tangannya.


Dengan tangan kecilnya, Kiki mengubah api yang tadinya berwarna merah menjadi api berwarna biru. Api biru itu lalu mengelilingi tubuh Kiki hingga akhirnya masuk ke dalam tepat di kepala Devina dan mengalir perlahan ke seluruh tubuhnya. Beberapa saat berlalu mata Devina perlahan terbuka.


"Eghmm... Apa yang terjadi?" Ujar Devina pelan.


"Apa kau sudah merasa baikan?" Ujar Nana sambil membantu Devina untuk duduk.


"Ya, hanya sedikit pusing. Aliran energiku mengalir deras, apa yang terjadi?" Ujar Devina.


"Kiki yang membantumu menghilangkan energi gelap," Ujar Azura.


"Terimakasih banyak Kiki dan Azura," Ujar Devina dengan senyumannya.


Setelah makan malam di rumah Devina. Ketiganya akhirnya pamit pulang, Kiki mendapatkan banyak sekali kripik dari Devina sebagai rasa terimakasihnya. Di sisi lain ada Rian dan beberapa preman, mereka sudah mengikuti Azura seharian ini. Kini sudah tiga jam lebih bersembunyi di dalam semak-semak menunggu Azura keluar.


"Bos, berapa lama lagi kita harus bersembunyi seperti ini? Aku bisa habis di makan nyamuk kalau begini terus," Ujar seorang pria tubuh berotot.


"Tunggu bentar, dia bakal keluar sebentar lagi. Nah, itu keluar kan. Kalian ingin rencananya ya," Ujar Rian sambil keluar dari semak-semak.


Baru saja Azura keluar dari pagar rumah Devina, Rian telah menyambutnya bersama tiga preman. Rian maju dengan wajah angkuhnya kemudian langsung menatap tajam Azura.


"Pecundang sialan! Kau hanya pecundang yang suka pamer bukan!" Ujar Rian dan Azura menatap datar pria di hadapannya.


Tanpa Rian sadari tangannya sudah gemetar hebat, ia sebenarnya sangat takut pada Azura akibat kejadian itu. Rian memberikan kode pada tiga preman di sebelahnya untuk segera menangkap dua anak kecil di sebelah Azura. Rian mendorong Azura untuk mundur dan segera berlari pergi setelah menangkap Kiki dan Nana.


"Ihh, paman botak bau ketek." Kiki menutup hidungnya.


"Kau jangan menyentuhku sialan!" Ujar Nana sambil menjambak rambut kriting preman itu.


"Aduh, berhenti menarik rambutku!" Ujar preman yang menggendong Nana.


Setelah sampai di sebuah bar Nana dan Kiki langsung di ikat di sebuah kursi kayu dalam ruangan. Pintu di tutup dan menyisakan Nana dan Kiki dalam ruangan, Azura sampai beberapa saat setelahnya dan mengedarkan pandangannya dalam sebuah bar mewah itu. Bau rokok dan alkohol menyambut hidung Azura dan membuat pria itu merasa mual.


"Selamat datang di markas kelompok naga hitam," Ujar seorang pria tua yang disebelahnya ada Rian.


"Di mana Nana dan Kiki?" Ujar Azura dingin.


"Ayah, dia yang sudah memukuli anakmu ini," Ujar Rian sambil menunjuk Azura.


"Pukuli anak ini hingga mati," Perintahnya dan Rian tersenyum puas.


Azura tertawa dan membuat tempat itu sunyi dan hanya terdengar suara tawa Azura dalam ruangan itu.


"Harusnya kau pergi dan tidak pernah terlihat di depanku Rian. Aku salah karna mengampunimu saat itu, kau sudah melakukan hal yang salah. Jangan salahkan aku tidak melepaskanmu kali ini," Ujar Azura dengan seringainya.


"Anak ini sudah gila ayah. Cepat habisi saja," Ujar Rian sambil berdiri di belakang ayahnya.


...TBC...


Hai pembaca yang terhormat๐Ÿค— suka Chapter ini? Yuk, dukung author untuk rajin up dengan like, rate, vote dan coment ๐Ÿ˜ sampai jumpa di episode selanjutnya ๐Ÿ˜˜


Salam manis,


Tirfa_ledina.