
Sebelum membaca yuk dukung author dengan like, rate, vote dan coment🥰
Salam manis,
Tirfa_ledina.
...Happy reading 😘...
Seorang pria dengan pakaian berwarna putih masih terdiam seraya melihat keluar jendela. Malam ini bulan sangat indah, angin malam yang sejuk masuk kedalam ruangan. Sensasi sejuk dan tenang mulai Azura rasakan, saat ini ia sedang memperbaiki energi dalam dirinya.
"Sistem, bagaimana keadaan Nana?" Ujar Azura.
Cahaya berwana biru muncul bersamaan dengan Seekor kucing hitam yang mengambang di udara. Tubuhnya masih terus di kelilingi oleh kupu-kupu berwarna biru yang perlahan menyembuhkan luka di tubuh sang kucing. Azura menghela nafas melihat kondisi Nana yang seperti.
[Sedang di deteksi...]
[Sistem Error... Saat ini masih dalam perbaikan]
"Apa?!" Ujar Azura yang terlihat terkejut melihat layar monitor.
Azura yang sadar jika ada sesuatu yang melesat menujunya langsung menghindar. Benda yang melesat itu ternyata adalah panah hitam, baru saja Azura akan mencabutnya. Panah itu langsung bergerak dengan sendirinya kemudian membelah diri menjadi ribuan panah. Semua panah itu secara bersamaan menyerang Azura. pria itu mulai menghindar, meskipun tempat ini cukup sempit Azura masih mampu untuk bergerak bebas mengindari semua panah itu.
Selain bergerak dengan sendirinya panah ini juga ternyata di lumuri oleh racun. Semua yang mengenai panah itu akan langsung meleleh, Azura lelah terus menghindar. Ia berhenti kemudian memejamkan matanya dan membiarkan semua panah semakin mudah menyerangnya. Azura membuka matanya dan menampilkan warna mata merah darah lengkap dengan taringnya yang tajam.
Semua panah berhasil di hentikan oleh kekuatan mental Azura satu detik sebelum panah itu menyentuhnya. Setelah tersadar beberapa jam yang lalu, energi dalam tubuhnya kosong dan berantakan namun anehnya ia sama sekali tidak mati karena energi ya g berantakan itu. Kekuatan vampir bahkan lebih mudah ia kendalikan dari pada yang sebelumnya.
"Hancur," Ujar Azura dan semua panah itu menjadi abu.
"Ternyata sulit juga menghabisi vampir murni," Ujar seseorang yang perlahan keluar dari kegelapan.
"Kau bukannya paman Devina?" Tebak Azura saat melihat orang itu adalah Erik.
"Kau benar," Ujar Erik.
"Kenapa kau menyerangku? Apa yang kau inginkan dariku?" Ujar Azura masih dengan sorot mata berwana merahnya.
Erik tersenyum miring, saat ini ia masih mengenakan pakaian khas seorang raja hanya saja tanpa mahkota. Erik duduk di salah satu kursi dalam ruangan itu, ia kemudian melihat Azura yang masih saja berdiri dan waspada. Sekilas Azura mengingatkan Erik pada seseorang yang sudah lama. Erik menghela nafas kemudian menginstruksikan Azura untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
"Apa kau ingin tau kenapa sistem milikmu Error?" Tanya Erik dan berhasil menarik perhatian Azura.
"Kau tau tentang Butterfly System?" Ujar Azura dan mendapatkan anggukan dari Erik.
"Ya, aku rasa begitu. Jika kau ingin tau cara menyelesaikan masalah Error itu duduklah," Ujar Erik.
Azura berfikir sejenak kemudian akhirnya duduk. Sebuah bola hitam muncul di belakang Erik, Azura menatap tajam pada Erik. Bola-bola hitam itu adalah ulahnya, ia tidak ingin ambil resiko lagi. Baginya sulit mempercayai orang yang baru saja berniat membunuhmu begitu saja. Erik tersenyum miring melihat bola-bola itu yang sedang mengawasinya.
"Sepertinya situs membuat kau jadi orang seperti ini, baguslah kalau kau sudah sadar. Celah yang ada padamu sudah cukup tertutupi," Ujar Erik.
"Langsung saja ke intinya," Ujar Azura.
"Kucing itu bisa mati kapan saja," Ujar Erik.
"Apa?! Bagaimana bisa? Semua lukanya sudah di obati," Ujar Azura yang sedikit terkejut dengan ucapan Erik tadi.
"Kau harus memperbaiki sistem itu segera selesaikan misimu yang sebelumnya, agar kucing itu bisa hidup." Erik langsung berdiri melihat Azura yang sudah tau maksudnya.
"Hikss... Aku kira. Hikss.. Tuan akan pergi hikss," Ujar Kiki yang masih berusaha berbicara di sela tangisnya.
Azura tersenyum lembut seraya mengelus punggung Kiki untuk menenangkannya. Devina meletakkan nampan berisi makanan di atas meja. Kiki masih saja belum menghentikan tangisnya, Azura lalu menangkup pipi berisi Kiki untuk menghapus air matanya.
"Dengarkan aku Kiki. Aku tidak akan meninggalkan kau, Nana dan nenek. Kita akan pulang setelah Nana pulih kembali." Azura menghapus air mata Kiki yang sudah meredakan tangisannya.
"Baik tuan," Ujar Kiki.
"Makanannya ada di atas meja," Ujar Devina seraya berniat pergi.
"Devina tunggu," Ujar Azura untuk menghentikan langkah Devina.
"Apa?" Ujar Devina yang tak berbalik untuk menatap Azura.
"Aku ingin menitipkan Kiki sebentar disini. Ada yang harus aku urus, jadi aku mohon lindungi dia selama aku tidak ada."
"Baiklah," Ujar Devina kemudian membuka pintu lalu pergi.
"Tuan mau kemana? Kiki ikut," Ujar Kiki yang menarik pakaian Azura.
Kiki terlihat berkaca-kaca, ia takut jika Azura sampai terluka. Azura mengusap lembut kepala Kiki, ia menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Kiki tadi. Azura berjalan dan membuat pintu, baru saja ia keluar sebuah mantel bulu telah berhasil dia tangkap. Azura melihat kesamping dan menemukan Devina yang telah berjalan pergi.
"Pakaian itu, diluar dingin." Devina terlihat enggan untuk berbalik dan melihat Azura dan Kiki.
Azura tersenyum pahit, ia terlihat merasa bersalah pada Devina. Azura kemudian mengintruksikan Kiki untuk mengikuti Devina, setelah Kiki menghilang dari balik pintu besar bersama Devina ia segera pergi dari sana. Saat ini ia jarak deteksi Azura menjadi jauh lebih luas. Dengan kecepatan maksimal, Azura melesat kearah timur untuk menemukan Alexander yang masih hidup.
Cuaca memang sedikit dingin kali ini. Hanya butuh beberapa jam Azura telah menempuh puluh kilometer. Saat ini telah berada di kastil tua yang sudah tidak berpenghuni, Brian baru saja menyadari keberadaan Azura saat ia hendak mengambil darah baru untuk Alexander.
"Bagaimana kau bisa sampai kesini?" Ujar Brian yang terkejut melihat Azura yang berdiri di hadapannya.
Azura tak menjawab ia langsung masuk dengan menghancurkan pembatas sihir pada salah satu ruangan hingga menampilkan Alexander yang sibuk meminum darah. Entah apa yang Brian lakukan hingga keadaan Alexander sudah bisa membaik dan jauh dari kata kritis.
"Wahhh, kita kedatangan tamu spesial. Apa kau datang untuk menyumbangkan darahmu padaku?" Ujar Alexander dengan tangan dan mulut yang di hiasi darah.
Alexander memang telah pulih tapi kekuatannya sudah sangat lemah. Kini ia terlihat seperti manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sama sekali. Brian melesat menuju Azura yang mencekik Alexander, tubuh Brian terasa membeku saat melihat tatapan berwarna merah milik Azura.
"Hentikan itu Azura," Ujar seseorang berjubah hitam dan membuat perhatian Azura tertuju padanya.
"Darel?! Kau mengikutiku?" Ujar Azura.
"Aku punya dendam dengan dia, biarkan aku yang membunuhnya. Aku akan lega setelah membunuh pria brengsek ini," Ujar Darel dengan sorot mata tajam melihat Alexander.
Azura melepas tangannya, ia paham dari sorot mata Darel yang penuh kebencian pada Alexander. Setelah Azura keluar, Alexander tertawa puas melihat hal itu.
"Hahahaha... Kau pikir kau bisa membunuhku? Meskipun aku tidak cukup kuat aku masih punya kantong cadangan. Ah, mengingatkan aku pada ayahmu?" Ujar Alexander seraya berjalan menuju Darel.
"Kecantikan ibumu juga masih teringat jelas. Ibumu benar-benar bodoh, dia lebih memilih mati dari pada menikah dengan aku. Bahkan dia meninggalkan kau yang masih bayi pada orang asing," Ujar Alexander hingga akhirnya ia mencapai Brian.
Darel mengatupkan rahangnya kuat, ingatan bagaimana keluarganya bisa hancur mulai terputar di kepalanya. Darel dan Alexander merupakan keluarga, ayah Darel dulunya adalah pemimpin keluarga Hazzel. Setelah ayah dan ibunya mati, ia kemudian di keluarkan dari daftar keluarga dengan alasan terkena kutukan.
Brian yang masih di serap berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Tak ada yang terjadi, pemberontakannya tidak memberikan hal yang bagus. Ia jadi teringat Rosse saat mereka masih memiliki hubungan kakak dan adik. Kematian Rosse setelah pertempuran dengan Azura sudah ia ketahui.
"Nasib kita memang sama. Kantong energi yang siap digunakan kapan saja kemudian di buang," Ujar Brian sambil menatap keatas saat nafasnya sudah hampir habis.