Butterfly System

Butterfly System
Chapter 37 [Penculikan Elin!!!]


Devina menatap ibunya dengan penuh keyakinan. Sherly menghela nafas panjang sambil memijat kepalanya, menolak Devina yang sedang sangat serius rasanya akan sulit. Erik memegang bahu Sherly yang terlihat frustasi dengan keputusannya.


"Biarkan saja. Suatu hari nanti dia juga akan menghadapi hal ini juga," Ujar Erik.


"Hufftt... Baiklah ibu izin kan tapi dengan satu syarat kau juga harus menjaga dirimu baik-baik, pakai jubah ibu selama perjalanan. Tidak akan ada monster tingkat rendah yang akan menyerangmu di perjalanan," Ujar Sherly sambil memakaikan jubah merahnya pada Devina.


Devina mengangguk paham kemudian pergi dari tempat itu. Erik dan Sherly hanya bisa menatap punggung Devina yang perlahan hilang dari balik pintu raksasa itu. Sherly takut jika saja kekutan gelap dalam diri Devina muncul, ia tidak ada di sebelahnya untuk meredakannya.


"Apa dia masih dalam pengaruh sihir gelap? Aku rasa sihir gelap dalam dirinya sedikit melemah, apa yang kau lakukan?" Ujar Erik.


"Aku hanya memberikan dia beberapa pil untuk menahan sihir hitam itu, aku juga tidak tau kenapa sihir hitam itu melemah. Apa ada seseorang yang membantunya?" Ujar Sherly.


"Ternyata bukan kau, aku rasa hubungan vampir murni dan anakmu cukup baik. Buktinya dia memberikan separuh energinya dalam tubuh Devina," Ujar Erik.


...☄☄☄...


Di ruang tamu, setelah Amora pergi. Levi kini telah bebas pergi kemana saja dalam rumah kecil ini. Kiki duduk di sebelah Azura sambil memakan kripik kesukaannya, sedangkan Nana duduk bersebelahan dengan Levi yang senyum-senyum sendiri. Saat ini mereka akan mendiskusikan tentang pertarungan dengan keluarga Hazzel dan Moca.


"Keluarga Moca dan Hazzel adalah dua keluarga yang cukup kuat dan selalu menyulitkan ayahku. Tapi mereka tidak bisa menyentuh ayah sama sekali, hal itu yang membuat mereka geram. Keduanya haus akan kekuasaan dan kekuatan," Jelas Levi.


"Mereka kuat dan licik. Hanya demi kekuasaan mereka bisa melakukan apapun untuk ha itu," Lanjut Levi.


Azura menyatukan tangan untuk menopang dagunya seraya berfikir peluang dari misi kali ini. Ia tau jika lawanya bukan lawan biasa, ia harus bertanya dengan seseorang yang cukup tau tentang dua keluarga itu. Azura berdiri saat teringat dengan seseorang, ia harus menemuinya malam ini.


"Mau kemana kau Azura?" Tanya Nana.


"Aku harus menemui seseorang. Kalian di sini saja," Ujar Azura.


"Biar aku ikuti tuan," Ujar Kiki.


"Tidak perlu Kiki. Kau disini dan jaga Nana," Ujar Azura dan langsung keluar dari tempat itu.


Azura memakai jaket berwarna abu dengan gambar kucing di depannya. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di depan gedung yang cukup tinggi, Azura mendongak melihat bagian atas dari gedung itu. Dalam sekejap mata Azura telah berdiri di atas gedung itu. Angin sejuk malam menerpa wajah Azura hingga memainkan rambutnya, bulan saat ini tertutup oleh awan.


Azura kini telah memiliki kecepatan yang sama dengan para Alfa. Raymond tidak memberitahukan Azura bahwa kekuatan yang ia pelajari darinya sebenarnya berasal dari dirinya sendiri sebagai vampir murni. Raymond hanya membantu untuk membangkitkannya saja.


"Sepertinya akan hujan," Gumam Azura.


"Kalo kau sudah datang, keluarlah." Azura masih setia menatap langit.


Darel dan Mira melepaskan jubah hitamnya. Azura dan Darel kini telah bersebelahan menatap langit dengan bulan yang telah tertutupi oleh awan gelap. Mira mundur dan membiarkan Darel dan Azura berbicara.


"Bagaimana? Apa kau mau menjadi sekutu?" Ujar Darel dan Azura menghela nafas kemudian tiba-tiba duduk di atas lantai.


"Aku punya syarat, kau tidak boleh menyentuh Devina. Aku tau kau sedang mengincar kekutan Devina juga bukan?" Ujar Azura dan membu sudut bibir Darel terangkat.


"Kekuatan gadis itu memang cukup unik dan hal itu membuat siapa saja akan menginginkannya." Darel menghentikan ucapannya saat tiba-tiba pedang milik Azura telah berada di leher.


"Sepertinya kau menyukai gadis itu," Ujar Darel tersenyum remeh.


Azura tak menjawab ia masih sibuk menatap tajam Darel sambil fokus dengan pedang di leher pria rambut silver itu. Merampas kekutan lewat jiwa yang di ambil paksa merupakan keahlian yang dimiliki oleh Darel. Meskipun geram dengan Azura, Mira terpaksa tidak melakukan apapun sesuai perintah Darel.


"Hufftt... Baiklah aku terima syaratmu itu," Ujar Darel dan Azura masih tak menurunkan pedangnya dari leher Darel.


"Apa yang kau tunggu? Turunkan pedangmu itu," Ujar Mira dengan nada kesal.


"Bagaimana aku bisa percaya padamu?" Ujar Azura.


"Apa kau punya pilihan? Kau tidak akan bisa melawan dua keluarga kuat itu," Ujar Darel kemudian tertawa.


"Cih, kau sudah berjanji. Jadi kau harus menepatinya," Ujar Azura seraya menurunkan pedangnya.


Darel ikut duduk bersama Azura, keduanya mulai membicarakan beberapa hal untuk menyerang lebih dulu dari keluarga Hazzel dan Moca. Cukup lama keduanya menyusun rencana hingga akhirnya memutuskan untuk bertemu kembali di tempat ini setelah tiga hari. Darel pergi bersama Mira, Azura memilih untuk tetap tinggal, ia masih harus memikirkan sesuatu.


Suara dering ponsel menyapu telinga Azura, pulang sekolah tadi ia sudah membeli ponsel baru. Azura merogoh kantong celananya untuk mencari benda persegi panjang itu, layar ponselnya kini telah menampilkan nomor yang tidak tersimpan dalam kontaknya.


"Ini sepertinya nomor Elin, dari mana dia tau nomorku secepat ini? Aku baru saja membeli ponsel ini," Ujar Azura seraya menekan tombol hijau yang di tampilkan di layar ponselnya.


Azura terdiam, belum sempat itu berbicara suara benturan cukup keras mengejutkannya. Suara teriakan yang Azura yakni pemiliknya adalah Elin membuat pikiran negatif memenuhi kepalanya. Sambungan terputus setelahnya dan meninggalkan Azura yang masih mencerna apa yang ia dengar tadi. Azura berdiri dan segera mencari keberadaan Elin yang sepertinya dalam masalah.


Beberapa menit sebelumnya, Elin sedang di sekolah bersama para anggota OSIS yang merapikan benda setelah rapat singkat tadi. Elin terpaksa pulang paling akhir kerena harus menyusun beberapa map yang biasanya Azura rapikan.


"Huh, Azura kenapa tidak ikut rapat kali ini, sih? Azura kenapa bisa mencari Devina? Apa dia mau mengajaknya kencan? Ah, untuk apa aku memikirkan itu?" Ujar Elin seraya menggeleng-gelangkan kepalanya.


"Fokus Elin. Kerjakan semua ini lalu pulang," Ujar Elin dengan semangat.


Setelah menerapi beberapa map itu, ia langsung meraih ponselnya. Elin tersenyum kecil menatap ponselnya. Elin tau nomor Azura karena pria itu membeli ponselnya di tokoh milik keluarganya. Tanpa Elin sadari satu senyuman terukir di wajahnya saat melihat foto wajah Azura di antara semua anggota OSIS.


Senyum Elin luntur saat melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang karena ketakutan. Darah mengalir deras di lantai, Elin baru saja sadar jika lampu koridor mati. Tubuhnya terasa membeku melihat sesuatu yang bergerak dalam kegelapan itu, mulut Elin terasa keluh untuk berteriak minta tolong.


Elin akhirnya sadar dari ketakutannya, ia segera berlari dan menjauh dari koridor. Ia berlari masuk kedalam ruang OSIS dan bersembunyi di bawah meja. Cairan bening kini membasahi pipi mulus Elin, tubuhnya bergetar hebat dan berusaha mati-matian untuk tidak bersuara.


Elin membuka ponselnya untuk mencari pertolongan disana. Dengan jari yang bergetar Elin menekan tombol panggilan pada nomor di ponselnya. Baru saja Elin ingin berbicara suara pintu yang di dobrak membuatnya harus menutup mulutnya. Pintu akhirnya terbuka.


'Aku mohon, siapa saja tolong aku!!' Batin Elin dengan air mata yang mengalir deras.


Jantung Elin seperti berhenti melihat seseorang yang berlumuran darah berdiri di depannya sambil menatapnya tajam. Elin berteriak ketakutan, ia berusaha memberontak saat di tarik paksa.


"Lepaskan aku!" Elin beberapa kali memukul dan menendang orang itu tapi tak ada reaksi apapun.


"Hikss... Lepaskan aku! Hikss... Siapa saja tolong aku," Tangis Elin pecah seketika.


Gadis itu berusaha memberontak, karena kesal dengan usaha Elin yang memberontak orang itu menjambak rambut gadis itu dan membenturkannya di dinding hingga cairan kental mengalir dari kepalanya. Elin kehilangan tenaganya, kepalanya benar-benar sakit dan pusing.


"Elin!!!" Teriak Azura dari ujung koridor.


"Tolong aku, hikss..." Ujar Azura dengan suara lemahnya.


Azura mengepalkan tangannya melihat Elin yang terluka, tanpa aba-aba Elin langsung di tarik kearah sebuah lingkaran sihir. Baru saja Azura melangkahkan kakinya tidak tiba-tiba ada banyak rantai keluar dan menahan tangan dan kakinya. Azura tak menyangka ada jebakan sihir di tempat ini, pria itu berusaha dengan sekuat tenaga menghancurkan rantai itu.


Mata Azura telah berubah merah melihat Elin dan orang itu akan pergi lewat pola sihir. Rahang Azura mengeras, setiap airmata yang jatuh dari mata Elin membuat hantinya Azura terasa sesak.


"Azura!!" Teriak Elin dan akhirnya menghilang bersama cahaya.


...TBC...


Hai semuanya👋 yuk dukung author dengan like, rate, vote dan coment ya. Kalo boleh kasih tip juga. Biar Author semangat nulisnya 🥰 Sampai jumpa di episode selanjutnya 😘


Salam manis,


Tirfa_ledina.