
"Tidak! Aku tidak akan membunuhmu! Aku tidak ingin lagi kehilangan orang yang aku sayangi," Ujar Azura.
Karena mendengar ucapan Azura, hati Elin sedikit tersentuh. Ia tersenyum pada Azura dan mengambil dengan cepat pedang di sebelah Azura. Perut Elin berhasil tertancap pendang, darah mulai menghiasi pedang itu. Azura melotot melihat tindakan Elin yang dia anggap ceroboh. Dengan sudut bibir yang mengalir darah Elin mencoba tersenyum untuk terakhir kalinya pada Azura.
"Selamat tinggal Azura," Ujar Elin dan akhirnya tubuhnya lemas hingga terjatuh ke lantai.
"Kenapa kau melakukan ini?" Ujar Azura dengan tatapan kosong melihat Elin yang terbaring di lantai berhiaskan darah.
Valen juga ikut panik melihat Elin yang terjatuh di lantai. Ia terlalu sibuk melawan ayahnya juga Darel sendirian hingga lupa pada Elin yang berhasil mengambil kembali kesadaran sang dewi iblis yaitu Rusi. Valen mengatupkan rahangnya rapat, Elin berhasil melukai Rusi. Darel menghadang Valen yang berniat pergi arah Azura dan Elin.
"Kenapa aku begitu bodoh? Aku membuat mereka menderita," Ujar Azura.
Mata Azura yang tadinya telah berubah menjadi warna biru kini di ganti menjadi warna merah gelap dengan aura keunguan di sekitarnya. Azura menggores tangannya sendiri dan membiarkan darahnya masuk ke dalam luka yang ada di perut Eli.
"Jangan lakukan itu Azura! Dewi iblis akan pulih kembali!" Peringat Darel.
Azura tak peduli, sebelah tangan memanggil sang pedang arwah untuk keluar. Dari pedang itu keluar energi murni dan langsung mengisi penuh energi di tubuh Elin. Sejak dulu iblis dan vampir murni memiliki sebuah ketergantungan satu sama lain, para iblis bisa hidup kekal hanya jika mendapatkan energi vampir murni yang telah hilang kendali atas pikirannya sendiri. Sedangkan vampir murni membutuhkan keberadaan para iblis agar menekan energi jahat dalam diri mereka.
"Apa kau bodoh Azura? Apa kau ingin menjadi iblis?" Teriak Levi sambil membantu Kiki untuk berdiri.
Azura masih enggan untuk mendengarkan ucapan Levi dan Darel. Darah di tangannya masih mengalir deras dan memulihkan hampir setengah tenaga Rusi sang dewi iblis. Adelion tak tinggal diam melihat energi vampir itu di berikan pada iblis. Ia lalu melirik Elena dan Rosse, dengan segera Adelion mencekik keduanya untuk mengambil kekuatan mereka hingga rambut Elena dan Rosse perlahan memutih.
"Ke-kenapa tu-tuan, melakukan ini?" Ujar Rosse dengan nada lemah.
"Kalian berdua adalah kantong energi darurat yang selama ini aku jaga dengan baik. Sudah saatnya aku mengambil kembali apa yang menjadi milikku," Ujar Adelion dengan mata yang berubah merah karena menyerap kekuatan Rosse.
Elena tidak pernah menyangka jika Adelion akan melakukan hal ini padanya. Ia sudah menganggap Adelion sebagai ayahnya selama ini. Elena memegang tangan Rosse kemudian menutup matanya hingga cairan bening membasahi pipinya, mereka menghembuskan nafas terakhirnya setelah itu. Tubuh kering Rosse dan Elin akhirnya jatuh lengkap dengan wajah menua dan rambut memutih. Tidak mau menunggu lagi, langsung saja Adelion melesat untuk menyerang Azura.
"Hahaha... Aku akan menjadi yang terkuat!" Ujar Adelion dengan kegirangan melihat Azura tidak melakukan apapun saat energinya ia serap.
Azura berbalik seraya menatap kosong pada Adelion. Pria itu mengores sedikit kulitnya dan membuat sebuah pedang tajam dengan darahnya itu. Tanpa menunggu Adelion untuk memahami pedang itu, sang pedang darah telah tertancap di jantung Adelion hingga tembus ke belakang. Dengan ekspresi menahan sakit, Adelion mengangkat kepalanya untuk melihat Azura yang berdiri kokoh di hadapannya.
"Ba-bagamain bisa? Kenapa aku bisa kalah dari makhluk yang telah punah sepertimu!!" Ujar Adelion tak terima dengan kekalahannya.
"Karna aku selalu berada di puncak tertinggi," Ujar Azura dengan tatapan kosong.
Dari mulut Adelion keluar banyak sekali darah. Pedang darah yang tertancap di perutnya menelan habis tubuh juga kekuatanya ini hingga hanya tersisa darah kental di lantai. Darel semakin cemas saat Azura sudah hampir tenggelam dalam kekuatan gelap dalam dirinya. Dengan langkah pincang Kiki berusaha mendekat pada Azura, ia menyentuh tangan Azura seraya berubah menjadi wujud anak-anaknya.
"Tuan berhentilah," Ujar Kiki dengan mata yang berkaca-kaca.
Azura berbalik dan melihat seorang anak yang menyentuh tangannya. Ucapan Kiki terus terulang di kepala Azura dan membuat pria itu harus merasakan sensasi nyeri di jantungnya. Azura menepis kasar tangan anak di sebelahnya itu, meskipun mendapatkan perlakuan seperti itu Kiki malah tidak kehilangan harapan dan memeluk Azura sedang erat.
"Pergi!" Bentak Azura.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan tuan menjadi orang jahat!" Ujar Azura.
"Aku tidak akan pergi. Nana dan Nenek akan sedih jika tuan menjadi orang jahat," Ujar Kiki dengan tangan mungilnya yang bergetar hebat karena tekanan yang di berikan Azura.
Deg..
Jantung Azura terasa berhenti, ia merasa sensasi sesak di dadanya semakin bertambah akibat terlalu banyak menggunakan energinya sendiri. Pandangan Azura memburam dan detik berikutnya semua menjadi hitam hingga menyisakan tubuhnya yang tak mampu lagi berdiri. Saat kesadaran Azura hilang, Elin terbangun dengan senyum jahatnya yang menandakan gadis itu bukan lagi Elin tapi Rusi.
Sambil terduduk, sebuah sayap berwarna hitam muncul di belakang punggung Rusi. Tanduknya juga ikut munculnya yang memberikan tanda jika wujudnya saat ini adalah bukti kekuatannya telah kembali. Senyum Rusi tak berhenti terukir, tubuhnya memang masih menggunakan tubuh Elin tapi kekuatannya menjadi lebih kuat dengan tubuh ini. Sebuah tato hitam di kedua tangannya muncul yang menandakan kekuasaannya telah bangkit.
Rusi mulai terbang ke sana kemari menikmati sayapnya yang telah kembali. Sudah ribuan tahun ia terkunci dalam kristal iblis dan hari ini ia telah berhasil mendapatkan kembali wujudnya ribuan tahun yang lalu. Rusi benar-benar sangat senang menikmati energi jahat dalam tubuhnya.
"Sudah puas menikmati kekuatanmu?" Ujar Valen seraya menatap Rusi.
Rusi turun dan berdiri di depan Valen. Sayapnya perlahan hilang, ia lalu berjalan menuju Valen dan sesekali melihat sekelilingnya. Kiki masih setia berada di samping Azura yang sudah tidak sadarkan diri. Valen melihat kearah Azura, senyum sinis mulai terukir di wajah tampan pria itu.
"Sudah waktunya membunuhnya," Ujar Valen dan membuat Rusi mengangguk kemudian terbang menuju Azura.
"Apa yang kau lakukan? Tidak akan kubiarkan kau menyentuh tuan!" Ujar Kiki seraya berdiri dan melindungi Azura.
"Kau cukup setia juga, aku suka itu. Begini saja, aku akan membiarkan kau hidup. Dengan satu syarat yaitu kau harus membunuh tuanmu yang sudah sekarat itu," Ujar Rusi sambil menunjuk tubuh Azura.
"Tidak akan pernah! Aku akan hanya mengikuti satu tuan saja dalam hidupku!" Ujar Kiki dengan nada yang di tekankan.
"Pufftt.. Kau sangat naif, sama seperti tuanmu itu. Baiklah biarkan aku mempertemukan kalian berdua di neraka!!" Ujar Rusi dengan kedua tangannya muncul sebuah pisau hitam.
Kiki menutup matanya, cukup lama ia menunggu untuk menerima serang itu. Kiki lalu membuka matanya dan kaget saat seseorang berjubah merah berdiri di depannya. Sosok itu terlihat tidak asing bagi Kiki hingga tak butuh waktu lama ia bisa mengenali orang itu.
"Kak Devina?!" Ujar Kiki.
"Kau?! Bagaimana bisa kau ada di sini?!" Ujar Rusi dengan wajah terkejut.
"Aku datang untuk menghabisimu, dewi iblis!" Ujar Devina seraya menyebutkan mantra yang membuat Rusi mundur.
"Sial, kenapa penyihir suci yang di takdirkan untuk menghabisiku muncul secepat ini?" Ujar Rusi.
...TBC...
Hai para pembaca sekalian 👋 Yuk dukung author dengan like, rate, vote dan coment ya. Sampai jumpa di episode selanjutnya 🥰
Salam manis,
Tirfa_ledina.